Mencari Kelompok Kampungan

Posted: Juni 5, 2013 in Kisah, Opini

Penampilan Kelompok Kampungan (Foto Dokumentasi Bram Makahekum)

Penampilan Kelompok Kampungan (Foto Dokumentasi Bram Makahekum)

Bram Makahekum dan Sawung Djabo (Foto Dokumentasi Bram Makahekum)

Bram Makahekum dan Sawung Djabo (Foto Dokumentasi Bram Makahekum)

Saat bertemu dengan Bram Makahekum di tahun 2011 (Foto Agus Susanto)

Saat bertemu dengan Bram Makahekum di tahun 2011 (Foto Agus Susanto)

Saya yakin banyak yang tak mengenal atau pernah mendengar kelompok musik yang menamakan dirinya Kelompok Kampungan.Padahal sesungguhnya kelompok musik inilah yang menjadi cikal bakal Sirkus Barock,Kantata Takwa,Dalbo hingga Swami.Kelompok musik yang tampil dengan aura sangat Indonesia ini lahir dari komunitas Bengkel Teater WS Rendra di Yogyakarta.  Ketika Rendra dan Bengkel Teater melakukan pentas pertunjukan teater, selalu ada sekelompok barisan pemusik yang menjadi barikade scoring musiknya yang dinamai Nyai Pilis.dalam Nyai Pilis ini terdapat Sunarti Rendra,isteri Rendra yang terampil nyinden, juga ada beberapa nama lain seperti Sawung Djabo ,Edi Haryono serta Bram Makahekum. Pada paruh era 70an dari Nyai Pilis menyeruaklah kelompok musik lainnya yang kemudian diberi nama Kelompok Kampungan. Kenapa disebut Kelompok Kampungan ? Bram Makahekum (62 tahun) sang penggagas melontar jawab : “Di masyarakat kita hal-hal yang disharmonis,norak atau lugu disebut kampungan.Tapi menurut kami kampungan memiliki makna yang lain,kampungan adalah kejujuran,menerima apa adanya,tapi tetap memiliki semangat kreatif.”.

Secara panjang lebar Bram Makahekum yang berasal dari Flores ini menyebutkan bahwa apabila pemuda pemuda kampung berkumpul dan mencoba berkreasi dalam bidang kesenian bisa jadi keseniannya menjadi Kampungan.

Kampungan lahir dari orang orang kota yang mengartikan Kampungan sebagai ungkapan dari ketidaksiapan, naif, bodoh, atau  kurang ajar,

“ Kelompok ini bernama Kampungan karena bagaimanapun juga kami berasal dari kampung, kesenian kami bertolak dari spontanitas dalam menanggapi situasi yang mengelilingi dan melibatkan kami dalam permasalahan hidup sehari-hari

Permasalah hidup yang menantang adalah masalah kebudayaan, masalah pergaulan antar manusia, masalah ekonomi, masalah sosial politik, ilmu pengetahuan yang kami serap semampu kami. Musik sebagai letusan pengalaman, lahir begitu saja dan menjadi tanggung jawab kami.

Kami tidak berpretensi menggali musik tradisi ini dan itu, mencipta musik yang berkepribadian nasional, tapi yang jelas Kelompok Kampungan mencoba bikin musik berjiwa Kampungan, artinya kami siap dalam ketaksiapan, memanfaatkan peralatan yang bisa dijangkau, mempertanyakan keadaan sekarang dan masa depan. Lirik kami tidak manis manis, tinggi tinggi, seadanya saja.” Itu yang ditulis Bram Makahekum sebagai prakata  di sampul kaset “Mencari Tuhan” yang dirilis Akurama Record 33 tahun  yang lalu .

Dan ketika kita menyimak penampilan musik Kelompok Kampungan maka aura vang sangat kita rasakan adalah sebuah musik folk Indonesia yang membenturkan instrument Barat dan tradisional.Dialektikanya berlaras Indonesia.Ketika Jason Connoy dari Strawberry Rain Record sebuah label asal Kanada berminat untuk merilis ulang album Mencari Tuhan dan  menghubungi saya untuk menjadi penghubung dengan Kelompok Kampungan, saya  lalu balik bertanya pada Jason Connoy :

”Apa yang membuat anda tertarik untuk merilis ulang album Kelompok Kampungan ini ? “.

Jason Connoy menimpali :”Musiknya unik,sebuah karya folk yang progresif dan original.Karena saya sama sekali belum menemukan padanan musik dari Kelompok Kampungan ini.Mereka berusaha menampilkan bunyi bunyian musik yang natural.” 

Disimak dari perpaduan antara musik dan lirik terlihat bahwa disamping menempatkan medium  sebagai penyaksi,Kelompok Kampungan pun menempatkan aura berkeseniannya sebagai penggugat.Iman mereka mungkin hampir sama dengan Woody Guthrie atau Bob Dylan sekalipun yang dengan medium musik  folk melontarkan gugat.

Saya mengenal Jason Connoy melalui dunia maya.Awalnya dia kontak saya melalui inbox Facebook, menawarkan ketertarikan untuk merilis beberapa album album klasik Indonesia.Tapi saya saat itu entah kenapa tidak pernah merespon maksud Connoy yang punya obsesi ingin membuat katalog musik Indonesia terutama era 70an.Akhirnya saya mendengar Connoy ikut terlibat merancang kompilasi Those Shocking Shaking Day bersama Egon Now Again Record yang mendapat tanggapan positif dari pencinta musik mancanegara.Syahdan,Connoy lewat labelnya sendiri Strawberry Rain kemudian merilis album kompilasi AKA Hard Beat disusul 3 album solo Benny Soebardja.Kesemuanya dibikin dalam format CD dan vinyl.

Tahun 2011 Jason Connoy meminta bantuan saya untuk menghubungi Kelompok Kampungan yang sudah lama tercerai berai sekaligus meminta saya menuliskan liner notes untuk album Mencari Tuhan yang akan dirilis ulang.

Saya menyanggupi tawaran Jason Connoy.Nah,yang jadi persoalan sekarang  adalah bagaimana menemui dedengkot Kelompok Kampungan yaitu Bram Makahekum.Menurut kabar mas Bram ini masih hidup dalam aura kesenimanan yang kuat.Dia bahkan tak tersentuh teknologi.Bayangkan alamat email dan rekening bank saja dia tak punya.Saya cari informasi kiri kanan tentang keberadaan Bram Makahekum.Saya teringat,setelah Reformasi 1998,Bram Makahekum sempat merilis ulang album Mencari Tuhan terutama lagu Bung Karno atas permintaan sebuah Partai Politik.Saat peluncuran album itu sebetulnya saya diundang oleh almarhum Innisisri drummer Kelompok Kampungan.Namun sayangnya,saat itu saya tak sempat untuk menghadirinya.

Lalu saya menghubungi mas Otig Pakis,seniman yang berasal dari komunitas Bengkel Teater yang kerap nongkrong pula di kediaman Yockie Surjoprajogo.dari mas Otig Pakis inilah akhirnya saya mendapatkan nomor handphone Bram Makahekum. Beberapakali saya menelpon mas Bram Makahekum tapi tak pernah diangkat.Menurut Otig, Bram itu masih tetap berkelana walaupun sebetulnya dia masih menetap di Yogyakarta.Hingga suatu hari Bram Makahekum lalu menghubungi saya.Selanjutnya saya utarakan pesan dari Jason Connoy yang ingin merilis ulang album Mencari Tuhan.Bram terperanjat.”Hah…..album kayak gitu kok ada yang mau rilis.Bule lagi ?” sergah Bram dengan logat Jawa yang medok,padahal Bram ini asli Flores.Mulailah saya menyampaikan tawaran nominal yang diajukan Jason ke Bram Makahekum.Setelah beberapa kali negosiasi  akhirnya muncul kesepakatan .Pucuk dicinta ulam tiba, Bram Makahekum dengan perantara saya menyetujui tawaran reissue album dari Jason Connoy.

Setelah dua tahun berselang ,barulah di tahun 2013 ini album Mencari Tuhan dari Kelompok Kampungan dirilis oleh Strawberry Rain dalam bentuk cakram padat dan piringan hitam.Ternyata cukup lama bagi Jason Connoy untuk mencari sound yang paling bagus dari sekian banyak materi piringan hitam yang dibelinya di Jakarta sebagai materi album reissue itu. ”Saya tidak berhasil mendapatkan reel masternya yang asli” ungkap Jason Connoy.Menurut Bram Makahekum,materi asli rekaman Kelompok Kampungan ikut terbakar pada saat terjadi kerusuhan besar pada tahun 1998 silam.Kini album Mencari Tuhan dari Kelompok Kampungan itu dirilis Strawberry Rain Record sebanyak 1000 copy CD dan juga vinyl.Sepenggal sejarah musik Indonesia yang nyaris pudar ditelan zaman masih bisa kita simak, walaupun gagasan merestorasi dokumentasi rekaman musik Indonesia apa boleh buat masih datang dari orang asing yang terpesona dengan karya-karya kita.

Denny Sakrie

 

Komentar
  1. Guk Seta mengatakan:

    terima kasih atas tulisan yang mengulas ayah saya ini…🙂

  2. Prie GS mengatakan:

    Mas Denny, terimakasih atas tulisan Anda. Ini mengobati kerinduan saya pada musik yang saya kagumi. Apakah rekaman versi Jason ini sudha rilis?
    Maturnuwun.
    Salam
    Prie GS

  3. MartoArt mengatakan:

    Idola saya mengulas idola saya. Trims bung.😉 Kangen juga sama Bang Bram. Terakhir ketemu dia, kami ngedan bareng nyanyi di ulang tahun Hariman Siregar. Dan itu sekitar lima tahun yang lalu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s