Sketsa Cinta Sang Pemimpi

Posted: Juni 5, 2013 in Uncategorized
Berlian Hutauruk dan Erros Djarot di Studio Aquarius Pondok Indah (Foto Koran Tempo)

Berlian Hutauruk dan Erros Djarot di Studio Aquarius Pondok Indah (Foto Koran Tempo)

Andai bulan tak bersinar lagi
Matahari tak terbit kembali
Entah apa yang terjadi
Pada makhluk hidup yang tinggal di dunia

Dengan notasi berkarakter Prancis, Farman Purnama, penyanyi tenor kelahiran 30 April 1977, menyenandungkan komposisi karya Erros Djarot, Andai Bulan, dalam album terbaru Erros bertajuk Karena Cinta Kita Ada, yang bakal dirilis pada Februari 2009.

Lagu berkarakter muram ini sesungguhnya bukan karya terbaru Erros. Karya ini pernah dinyanyikannya dalam album solo keduanya, Manusia Manusia (Musica Studio’s 1985). Lagu yang semula berperangai pop itu berubah menjadi klasikal. Andi Rianto, yang bertugas memoles musiknya, memberikan sentuhan orkestra yang classy.

Ini ditunjang pula dengan interpretasi Farman yang pas. Kesan dramatis sedikit mencuat ketika Farman mengekspresikannya dalam penafsiran yang tepat. Farman memang telah terbiasa membawakan karya-karya klasik milik komposer klasik legendaris, semisal Schubert, Rachmaninoff, Bach, hingga Ananda Sukarlan.

Kesan elegan dan classy memang tertatah dalam album yang didukung sederet penyanyi ini: selain Farman, ada Lea Simanjuntak, Lucky Octavian, Annisa B.V., Berlian Hutauruk, dan Slamet Rahardjo. Simaklah ekspresi dan dinamika vokal yang ditisik Berlian Hutauruk dalam lagu Ketika Cinta Kehilangan Kata, yang menjadi penguak isi album ini. Sepertinya Erros memang menulis lagu ini untuk range suara Berlian Hutauruk, yang melebihi tiga oktaf.

Berlian memberikan ruh pada kata demi kata yang dilantunkannya. Dengan pengalaman bernyanyi yang extravaganza, Berlian jelas tak gamang mengimbuh dinamika. Pada karya serupa, Lea Simanjuntak pun terlihat terampil menaklukkan lagu yang memang sulit ini. Meskipun, jika ditilik lebih jauh, Lea masih tertinggal jauh dalam membingkai ekspresi, walau secara teknis telah melampauinya.

Apa boleh buat, karya terbaru Erros dalam zona musik pop ini mesti dibanding-bandingkan dengan pencapaian Erros dalam album soundtrack film Badai Pasti Berlalu pada 1977. Setidaknya karena tema yang digurat, seperti halnya Badai Pasti Berlalu, masih tetap seputar cinta. Komposisi dan struktur notasi yang diangsurkan Erros berkarakter Eropa, seperti halnya pada lagu-lagu Semusim, Merpati Putih, atau Badai Pasti Berlalu, dalam album Badai Pasti Berlalu.

Pembedanya, yang utama, album Karena Cinta Kita Ada dibingkai dengan anasir orkestra serta gaya menyanyi yang lebih serius dan klasikal. Simaklah, lagu Bisikku, yang dinyanyikan Lucky Octavian, terasa lebih berat jika dibanding versi orisinalnya, yang dinyanyikan Erros bersama iringan Barong’s Band, dalam album soundtrack Kawin Lari (Nirwana Record, 1976). Erros, dengan dukungan Andi Rianto sebagai music director, tampaknya ingin melakukan pengayaan pada lagu bertema kasmaran itu.

Tapi kritik perlu disampaikan kepada penyanyi seperti Lucky Octavian maupun Anissa B.V., terutama dalam tafsir atas lagu yang mereka lantunkan. Mereka baru mencapai sebuah fase: menyanyi dengan benar. Bukan memberi ruh atau jiwa pada struktur lagu yang mereka senandungkan. Ini adalah masalah besar yang banyak diidap para penyanyi zaman sekarang.

Hal yang pasti: album ini jelas sekali sengaja menjauh dari kredo industri musik yang memberhalakan sensasi dan komersialitas belaka. Erros seperti tengah melakukan antitesis, saat hiruk-pikuk panggung industri musik pop dengan tema musik seragam dan tanpa jati diri.

Situasi semacam ini mengingatkan kita pada 1977, ketika kuantitas menindih kualitas bermusik dalam industri musik pop negeri ini, tiba-tiba muncul album Badai Pasti Berlalu dari komunitas musik yang dihuni Erros Djarot, Chrisye, Yockie Suryoprayogo, Berlian Hutauruk, Fariz R.M., Debby Nasution, dan Keenan Nasution.

Di era ring-back tone diperlakukan bagai raja ini, siapa sih yang berani mengedepankan karya seperti Sendiri Menembus Malam, yang dinyanyikan Slamet Rahardjo? Erros memang seolah ingin menantang gelombang arus besar. Lagu berkarakter laid back jazz karya Erros itu pasti akan dihindari media radio dan televisi yang tetap memancang pakem: hanya menayangkan musik pop arus besar.
Sebagai seniman, Erros nyatanya tak menghiraukan dogma pasar itu. Dia tetap menorehkan karya dengan hati.

Simaklah lagu-lagu lainnya, seperti Melayang, Heningnya Malam, Renungan Sendiri, Bunga Sedap Malam, Rindu, dan Maafkan Daku, yang seolah ingin meneladani pemusik era sekarang bahwa lagu cinta sesungguhnya tak harus berkonotasi cengeng dan mendayu-dayu.

Di tengah kian banyaknya pemusik pop yang bersikap pragmatis, Erros tetap kukuh mengekspresikan karya-karyanya. Dia bagaikan pemimpi yang tetap lelap dalam peraduan. ***

DENNY SAKRIE, pengamat musik

Tulisan ini dimuat di Koran Tempo  Senin, 19 Januari 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s