Arsip untuk Juli, 2013

Nonton Steve Vai di Jakarta

Posted: Juli 24, 2013 in Konser
Steve Vai mengajak penonton membuat lagu di panggung dalam Build Me A Song (Foto Denny Sakrie)

Steve Vai mengajak penonton membuat lagu di panggung dalam Build Me A Song (Foto Denny Sakrie)

Okay now Little Stevie Vai is going to play

A composition on the guitar
He wrote it all by himself
Okay Stevie Bring your three friends up
They can play with you
That Steve Vai, what a nice little boy
 
 
Narasi seorang ibu menjadi introduksi dari komposisi bertajuk “The Audience Is Listening” dari album “Passion and Warfare” (1990) yang dimainkan dengan tempo boogie woogie berbalut distorsi yang menyayat telinga.Gitaris virtuoso Steve Vai bersama dukungan Dave Weiner (gitar),Phillip Bynoe (bass),Michael Aarom (keyboards) dan Jeremy Colson (drums) pada paruh konsernya bertajuk “The Story Of Light Tour 2013” senin 22 Juli 2013 di Tennis Indoor Senayan Jakarta yang digagas Java Musikindo.Lagu ini memang semacam memoar seorang Steve Vai yang sejak kecil telah memperlihatkan kemampuan istimewa dalam bermusik terutama menggerayangi dawai-dawai gitar.
Jadi tak heran jika lagu ini kerap dibawakan saat Steve Vai tampil di panggung pertunjukan termasuk ketika Steve Vai tampil pertamakali di Hard Rock Café Jakarta pada bulan puasa tahun 1996. Di bulan puasa tahun 2013 Steve Vai kembali mengguyur penonton Jakarta dengan virtousitas permainan gitarnya dihadapan penonton yang rata-rata adalah pemusik terutama gitaris.17 tahun silam saat tampil di Hard Rock Café seingat saya yang dating menyaksikan Steve Vai juga didominasi kalangan pemusik.
Encore Fire Garden Suite IV : Taurus Bulba (Foto Denny Sakrie)

Encore Fire Garden Suite IV : Taurus Bulba (Foto Denny Sakrie)

Ketika memasuki halaman Tennis Indoor saya bersua dengan begitu banyak gitaris mulai dari Tepi Item,Andra ,Cella Kotak,Lilo Kla Project,Baron,Bengbeng PAS Band,Balawan,Yudha Prasetyo,Beben,Jaya Roxx dan banyak lagi. Tampaknya konser Vai ini lebih tepat disebut sebagai ajang silaturahmi para gitaris.
Steve Vai memang memiliki magnet yang kuat sebagai seorang gitaris yang memiliki jam terbang tinggi.Ketrampilan memainkan gitar Vai berbaur dengan menyajikan musiknya dalam tataran show yang sarat gimmick, kadang teaterikal kadang berselimut atmosfer humor. Ini semua memang merupakan pengaruh yang membungkus kredo bermusiknya sejak diajak Frank Zappa bergabung sebagai music transcriptionist yang bekerja menulis transkripsi karya karya Frank Zappa.Di tahun 1979 Steve  Vai mengirimkan transkripsi komposisi karya Zappa “Black Page” serta menyisipkan rekaman permainan gitarnya.Zappa terpukau, lalu mengajak Vai untuk menuliskan transkripsi solo-solo gitarnya mulai dari album “Joe’s Garage” hingga “Shut Up And Play Yer Guitar”. Selama dua tahun Vai lalu ikut mendukung Frank Zappa baik di atas pentas pertunjukan maupun studio rekaman.Karena kepiawaiannya bermain gitar secara cepat dan akurat,Zappa lalu menjuluki Vai sebagai “stunt guitar” yang secara luar biasa memainkan “impossible guitar parts”.Frank Zappa lalu menyebut Steve Vai sebagai Little Italian Virtuoso.
Karena virtuositas itulah Steve Vai masih tetap mengundang decak kagum dan pesona atas karya-karyanya baik di rekaman album solon maupun pentas pertunjukan. Ini ditunjang lagi dengan mengimbuh begitu banyak gimmick saat tampil di atas panggung. Dalam konser keduanya di Jakarta Steve Vai misalnya menggunakan busana futuristik bertabur LED disekujur tubuhnya serta jari jemari tangan kirinya yang dibungkus sinar laser saat memainkan dua komposisi dari album “The Ultra Zone” (1999) yaitu “The Ultra Zone” dan “Frank” sebuah tribute untuk sang mentor Frank Zappa. Bahkan dalam setiap konser yang
 
digelarnya dalam tur The Story of Light ini Steve Vai selalu memanggil sepasang penonton wanita dan pria ke atas panggung untuk membuat lagu bersama-sama dalam segmen yang disebutnya sebagai “Build Me A Song”.Sebuah gimmick lawas yang ternyata masih diminati sebagian besar penonton di tiap kota yang disinggahinya termasuk Jakarta.
For The Love Of God (Foto Denny Sakrie)

For The Love Of God (Foto Denny Sakrie)

Konser di Jakarta yang dimulai sekitar jam 21.00 langsung dibuka dengan dua komposisi bertajuk “Racing The World” dan “Velorum”  dari album terakhirnya “The Story of Light” (2012) dengan birama atau sukat  yang padat dan cepat.  Berlanjut dengan “Building The Church” dari album “Real Illusions : Reflections “(2005) yang bernuansa concept album.
Dan lagu-lagu yang paling banyak ditampilkan Steve Vai senin malam kemarin adalah dari album “Passion and Warfare”,yang banyak dipuji kritikus musik, yaitu “The Audience Is Listening”,”The Animal”,”Answers”,”Sisters” dan “For The Love of God”.
Steve Vai sadar betul akan alur pertunjukan yang akan tetap membuat penonton betah dan terkejap-kejap dengan berbagai surprising.Vai bahkan berganti pakaian hingga 5 kali.Semuanya tentu untuk menangkal kejenuhan penonton termasuk memberlakukan gitar elektriknya bagaikan seorang kekasih .Sebuah strategi yang banyak diraup dan dipelajarinya saat bergabung dengan Frank Zappa di era 80an.
Lihat saja saat Steve Vai kemudian mengganti aura panggung dengan melakukan set akustik.Saat memetik dawai gitar akustik pun Vai masih memendam pesona.Vai bahkan bernyanyi lewat lagu “Rescue Me Or Bury Me” yang dilanjutkan dengan scat singing.
Penonton tetap bergeming mengikuti alur konser Steve Vai.Dengan permainan gitarnya,Vai seperti bersabda dengan selaksa bunyi-bunyian gitar Ibanez dihadapan para jemaahnya.
 
 
Steve Vai lalu memainkan “For The Love Of God” dari album “Passion and Warfare” sebagai penutup konser yang dijalaninya lebih dari 2 jam.”For The Love Of God” adalah ballad yang menyentuh dan soulful.Lagu ini pernah terpilih sebagai salah satu best solo guitar of all time oleh majalah Guitar World.Menurut saya komposisi ini sangat melodius.Tak heran jika banyak penikmat musik yang terbuai dengan komposisi lagu ini.Konon, For The God Of Love telah 111 kali dimainkan Steve Vai dalam konsernya selama ini.
Jemaah Steve Vai tetap tak beranjak menantikan encore.Seperti sebahagian konser Steve Vai sebelumnya yang berlangsung di Australia dan New Zealand, konser yang digelar bulan Ramadhan ini diakhiri dengan komposisi Fire Garden Suite IV – Taurus Bulba.
Steve Vai memang penghibur sejati.Diujung pertunjukannya dengan memainkan sekitar 20 komposisi yang berakhir sekitar jam 23.00 WIB , Steve Vai masih terus berupaya merebut simpati jemaahnya dengan mengucapkan :”Assalamu alaikum”. Aplause tanpa jeda pun merebak di Tennis Indoor Senayan Jakarta.Apalagi saat Vai berucap :” I’m Gonna tell JoeSatriani , G3.. we should play here.. You hear that Joe..?!.
 
Setlist Steve Vai
 
1.Racing the World
2.Velorum
3.Building the Church
4.Tender Surrender
5.Gravity Storm
6.Dave Weiner Solo (Acoustic Guitar)
7.Weeping China Doll
8.Answers
9.The Animal
10.Whispering a Prayer
11.The Audience Is Listening
12.Michael Aaron Solo
13.Rescue Me or Bury Me
(Vai song)
14.Sisters
15.Treasure Island (with The Beast)
16.Pusa Road
17.Jeremy Colson Solo
18.The Ultra Zone
19.Frank
20.Build Me a Song
21.For the Love of God
Encore:
22. Fire Garden Suite IV : Taurus Bulba .
Steve Vai di Tennis Indoor Senayan Jakarta 22 Juli 2013 (Foto Denny Sakrie)

Steve Vai di Tennis Indoor Senayan Jakarta 22 Juli 2013 (Foto Denny Sakrie)

Mengiringi Anggun Di Suatu Masa

Posted: Juli 14, 2013 in Kisah
Anggun C Sasmi saat membawakan lagu Rock You Like A Hurricane (Scorpion) diiringi Exist Band di Gedung Kemanunggalan ABRI Rakyat Ujung Pandang tahun 1987 (Foto Koleksi Denny Sakrie)

Anggun C Sasmi saat membawakan lagu Rock You Like A Hurricane (Scorpion) diiringi Exist Band di Gedung Kemanunggalan ABRI Rakyat Ujung Pandang tahun 1987 (Foto Koleksi Denny Sakrie)

Anggun membawakan lagu Pijar karya Erns F Mangalo bersama Exist Band.Yang main drum itu saya lho (Foto Koleksi Denny Sakrie)

Anggun membawakan lagu Pijar karya Erns F Mangalo bersama Exist Band.Yang main drum itu saya lho (Foto Koleksi Denny Sakrie)

Barusan bongkar foto-foto lama ditumpukan kardus.Hmmmm…..debu menyelinap disan sini.Kardus yang satu ini memang nyaris tak pernah saya buka buka.Tapi entah kenapa tiba-tiba saya tertarik untuk membongkarnya.Isinya memang hanyalah kliping tulisan tulisan gua yang dulu pernah dimuat di majalah Gadis,Variasi Putera dan Vista serta segepok kumpulan foto-foto.Sebagian warnanya sudah memudar.Maklum ini adalah foto foto dokumentasi era paruh 80-an.Bahkan negatifnya pun entah tersimpan dimana.Udah gak jelas rimbanya.
Barang-barang monumental itu memang akhirnya jadi kocar kacir seperti pasukan Firaun yang terjebak belahan Laut Merah yang ditebas Nabi Musa.Raib entah kemana.
Tapi untunglah foto foto ini masih sempat terselamatkan.Diantaranya adalah foto foto yang saya perkirakan dijepret pada paruh tahun 1987.Saat itu band saya dapat job mengiringi penampilan Anggun C Sasmi.Saat itu,seingat saya,Anggun baru saja merilis album perdananya “Dunia Aku Punya” yang dirilis Billboard Indonesia dengan hitsnya “Tegang”.
Foto foto ini diambil ketika Anggun manggung diiringi band saya Exist Band di Geduing Balai Kemangunggalan ABRI-Rakyat Makassar tahun 1987.Saya duduk dibalik bangku drum.
Anggun C Sasmi memang masih bau kencur.Tapi suaranya memang dahsyat.Saya pikir itu modal utamanya,bahkan ketika dia berupaya menembus zona mancanegara.Dan memang berhasil.
Dalam konsernya itu Anggun membawakan lagu dari albumnya “Tegang” serta lagu “Pijar”,lagu karya Erns F Mangalo dan Bartje Van Houten dari ajang Festival Lagu Populer Indonesia 1987.
“Saya memang mengagugumi mbak Nicky Astria” itu kata yang diucapkan Anggun saat itu.
Selain itu Anggun pun membawakan dua lagu dari Europe “Final Countdown” dan “Carrie” serta lagu “Never Say Goodbye” nya Bon Jovi dan “Rock You Like A Hurricane” (Scorpions).

Kini Anggun telah menjadi artis internasional yang membanggakan.Bahkan Anggun pun telah pula berduet dengan penyanyi prog-rock favorit saya Peter Gabriel.Wuih……
Hmmm……..tanpa terasa kejadian itu telah silam 26 tahun lamanya.Untung saya masih menyimpan foto foto itu.Setidaknya kalo ada yang bilang “emang mas Denny bisa main musik ? atau ngeband ?”, saya punya buktinya.Bukankah no picture it means hoax ?

Betulkah Bimbo Menjiplak ?

Posted: Juli 14, 2013 in Opini

Apakah betul kelompok Bimbo  pernah menjiplak ?
Pasti banyak yang tidak tahu.Atau setidaknya tak akan menyangka hal semacam itu pun pernah dilakukan oleh kelompok sekaliber Bimbo.
Tapi apa daya hal itu pun terlanjur telah terjadi.Di tahun 1975 sebuah lagu Bimbo bertajuk “Telah Berdaun Kemabli Rimba Jati” ternyata merupakan plagiarisme atas sebuah komposisi klasik karya Joaquin Rodrigo,komposer Spanyol yang pernah membuat “Concerto de Aranjuez“,berjudul
Fanfare de la Cabellería de Nápoles (Fanfare for the Cavalry of Naples) yang kemudian dimanikan oleh gitaris Flamenco Andres Segovia.
Ketika kasus ini merebak,Sam Bimbo malah memberi argumen yang sangat aneh.Katanya,dia sengaja melakukan penjiplakan itu untuk menguji pengetahuan para wartawan musik yang sering sok tahu.Ironisnya,apa yang dilakukan Bimbo justeru diungkap oleh wartawan musik pula.
Dan setahun berselang,setelah kasus plagiarisme itu mereda dan menguap eh tiba tiba Bimbo di tahun 1976 merilis album “Bimbo Indonesia Antik Vol.2” yang salah satu lagunya kembali melakukan hal yang sama yaitu pada lagu “Diatas Jembatan Semanggi” pada urutan 2 side A karya Wandi Koeswandi,dedengkot kelompok One Dee and Lady Faces (ODALF) .

Album Bimbo Indonesia Antik Vol.2

Album Bimbo Indonesia Antik Vol.2

erulang lagi.Walaupun halm semacam ini,plagiasi,masih terus berulang.Bahkan mungkin saat sekarang ini orang malah justeru tak mau peduli lagi.
Di lagu ini secara jelas mengambil notasi pada lagu “Bohemian Rhapsody” nya Queen dari album “A Night At The Opera” (1975).Yang diambil adalah notasi pada lirik yang berbunyi :”open your eyes look at to the sky and see.….”,yang dalam lirik Bimbo berbunyi :“Bukan itu,bukan itu maksudku…….”.
Dan ketika Trans TV di tahun 2006 dalam acara “Kupas Tuntas” membahas kelompok Queen,dihadirkan pula Sam Bimbo sebagai salah satu pemusik Indonesuia yang mengagumi Queen.Dalam salah satu testimoninya Sam berucap : “Gak ada salahnya jika meniru sesuatu yang baik”.Absurd sekali pernyataan oom Sam Bimbo ini.Bukankah plagiasi apa pun alasannnya tetap merupakan sesuatu yang tak terpuji.Kecuali jika betulb betul menyebutnya sebagai sebuah inspirasi atau apalah.
Dan jika kita memeriksa sampul albumnya baik dalam bentuk piringan hitam maupun kaset yang diproduksi PT Remaco ,hal hal semacam itu,yaitu menyebut sumber atau inspirasi ,tak ditulis atau disebut sama sekali.
Memang ini adalah peristiwa lama.Nyarois 30 tahun lebih.Bukan berarti ingin mengungkit ungkit luka lama.Sama sekali bukan.Tapi ini diangkat untuk memberikan semacam penelaahan atas kenaifan kenaifan masa lalu yang dijadikan pemusik kita untuk tak terulang lagi.Walaupun hal semacam ini,plagiasi,masih terus berulang.Bahkan mungkin saat sekarang ini orang malah justeru tak mau peduli lagi.

Kita kembali ke 39 tahun silam, tepatnya hari selasa 9 juli 1974 ketika Soman Lubis mantan pemain keyboard God Bless yang kuliah di ITB Bandung bertandang ke rumah vokalis God Bless Achmad Albar di Kalibata Jakarta Selatan.Lelaki Tapanuli yang pernah memperkuat The Peels,Sharkmove dan God Bless ini ingin melepas kerinduan dengan para personil God Bless terutama drummer Fuad Hasan.Sejak kuliah di Teknik Industri ITB,Soman mengundurkan diri dari God Bless dan posisinya digantikan Debby Nasution dari Young Gipsy. Pertemuan Soman Lubis dengan Achmad Albar,Donny Gagola serta Fuad Hasan Hasan betul-betul menghapus kekangenannya dengan band yang diakuinya membesarkan dirinya sebagai pemusik rock. Seusai makan siang ternyata God Bless ada jadwal latihan di Jalan Pegangsaan Barat 12 Menteng Jakarta Pusat.Tempat itu adalah kediaman keluarga Hasyim Saidi Nasution, ayah dari Nasution Bersaudara : Gauri,Keenan,Oding dan Debby Nasution. God Bless latihan di Pegangsaan karena disitu memang tersedia seperangkat alat band yang komplit dan terlebih lagi Oding Nasution (gitar) dan Debby Nasution (keyboard) adalah anggota God Bless yang menggantikan Ludwig LeMans dan Soman Lubis.
Begitu mendengar God Bless akan latihan di Pegangsaan,Soman Lubis semakin bersemangat.”Eh gua pengen ikut latihan nih, tangan rasanya gatal, udah lama nggak main oregan” celoteh Soman Lubis.Di kediaman Achmad Albar telah siap 4 mobil yang akan membawa mereka ke Pegangsaan, namun Fuad Hasan ngotot untuk naik motor.Camelia Malik,isteri Fuad pun khawatir jika suaminya pergi mengendarai motor, karena Fuad baru saja sembuh dari sakit.Bahkan Fuad sebetulnya malah ingin berboncengan dengan Camelia tapi Fuad malah mengajak Soman Lubis berboncengan motor ke Pegangsaan. Achmad Albar,Donny Gagola serta Camelia Malik berangkat lebih dahulu menggunakan mobil melalui Cawang.Fuad dan Soman naik motor ke arah Pancoran karena harus mengisi bahan bakar. Achmad Albar dan yang lainnya lama menunggu di Pegangsaan untuk latihan, tapi Fuad dan Soman tak kunjung terlihat batang hidungnya.Mereka mulai khawatir dan curiga.Hingga akhirnya dating orang yang mengabarkan bahwa motor Yamaha yang dikendarai Fuad dan Soman baru saja mengalami tabrakan dahsyat dengan sebuah truk besar. Mereka pun segera ke Pancoran, namun baik Fuad maupun Soman sudah tak terlihat di tempat kejadian.Dalam kepanikan mereka mencari info kiri kanan mengenai keberadaan Fuad dan Soman yang naas mengalami kecelakaan lalu lintas. Akhirnya terbetik kabar bahwa Fuad Hasan telah dilarikan ke RS Cipto Mangunkusumo di Salemba, sementara Soman Lubis dibawa ke RS Fatmawati Cilandak.
Donny Gagola bertutur bahwa Fuad Hasan meninggal saat terjadi tabrakan maut.Tubuh Fuad ikut terseret sejauh 23 meter oleh truk.Kepala Fuad berada disela-sela roda truk.”Untuk mengangkat kepalanya terpaksa rambut Fuad yang gondrong harus dipotong dahulu” ujar Donny. Adapun Soman Lubis terpental sekitar 12 meter dan 3 jam kemudian meninggal setelah dibawa ke RS Fatmawati.Pada saat kritis sebelum menghembuskan nafas terakhir, di dada Soman terpampang secarik kertas bertuliskan “Pemain band yang memerlukan darah”. Sesampainya di RS Ciptomangunkusomo ,Achmad Albar dan Camelia Malik mendapat kabar dari petugas rumah sakit bahwa Fuad telah berada di kamar mayat.
Kejadian di hari selasa 9 juli 1974 ini sangat tragis dan naas.Musik rock Indonesia kehilangan dua pemusik terbaiknya, Fuad Hassan berpulang dalam usia 32 tahun dan Soman Galangan Gahara Lubis berpulang dalam usia 22 tahun. Majalah Aktuil Bandung lalu menyematkan predikata Pahlwan Musik Pop kepada kedua pemusik berbakat itu.Bahkan dalam majalah Aktuil No.149 edisi Agustus 1974 menempatkan foto Fuad Hasan dan Soman Lubis di kover depan.Berita tentang berpulangnya Fuad dan Soman ditulis sebanyak 9 halaman. Saat itu saya masih duduk di kelas 5 SD, membaca sampai habis seluruh tulisan yang ditampilkan majalah Aktuil dengan seksama. Meskipun saya yang masih kecil belum pernah nonton konser God Bless sekalipun tapi saya merasa sangat kehilangan dua tokoh musik rock penuh bakat ini.
Dari majalah milik paman saya itu saya mengetahui sepak terjang Fuad Hassan yang luar biasa dalam kancah musik. Fuad Hasan adalah salah satu drummer terbaik Indonesia mulai dari era 60an hingga 70an.Musik yang dimainkanya pun beragam mulai dari pop hingga rock.Pemusik turunan Arab ini juga dikenal sebagai penggemar sepakbola.Mulai bermain drum saat bergabung dengan band Pandawa di tahun 1962 atas ajak Amin Ivo .Setahun berselang Zaenal Arifin mengajak Fuad ikut bergabung dalam Zaenal Combo dan menjadi band pengiring dalam berbagai rekaman maupun tampil di pentas pentas pertunjukan.Di tahun 1964 bassist Dimas Wahab mengajak Fuad bergabung dalam band Medenaz yang antara lain mengiringi penyanyi pop Ernie Djohan dan Liesda Djohan di album rekaman. Tahun 1965 Fuad bergabung bersama May Sumarna dan Imran dalam band Diselina.Band ini merupakan cikal bakal dari The Steps kelak. Tahun 1966 hingga 1968 kembali Dimas Wahab mengajak Fuad Hasan menjadi drummer dalam The Pro’s, band yang dibentuk Dimas dan didukung oleh Pertamina.Bersama The Pro’s Fuad ikut mengiringi Bob Tutupoly dan Broery Marantika di bilik rekaman.Tahun 1968 Fuad Hasan bertolak ke Eropah, ketika bermukim di Italia Fuad sempat menjadi drummer band Black Bird. Tahun 1971 Fuad Hasan kembali ke Jakarta dan nongkrong di rumah Keenan Nasution di Jalan Pegangsaan Barat 12 A Menteng Jakarta Pusat.Saat itu Fuad sering ikutan bermain bersama Gipsy Band. Bahkan kerapkali Gipsy tampil dengan dua drummer yaitu Fuad Hasan dan Keenan Nasution. Di tahun 1971 Fuad membentuk Abstract Club Band dan mengajak penyanyi jazz Margie Segers sebagai vokalis utama.Di album Abstract Club Band yang dirilis Remaco ini, Fuad tak hanya bermain drum tapi menulis beberapa komposisi lagu seperti Manisku,Angin Selatan ,Pantai Sanur,Malam Sunyi.Fuad pun menulis lagu bersama Margie Segers bertajuk That’s Life. Tahun 1973 Achmad Albar yang baru kembali dari Belanda mengajak Fuad bergabung dalam God Bless, grup rock yang terdiri atas Achmad Albar (vokal),Donny Gagola (bass),Yockie (keyboard) dan Ludwig LeMans.Di tahun 1973 Deddy Dorres mengajak Fuad Hasan mendukung band The Road yang terdiri atas Donny Gagola dan Ludwig LeMans.The Road sempat rilis satu album bertajuk “Tinggal Kenangan” di tahun 1973 pada label Purnama Record.
Soman Lubis sejak kecil telah memperlihatkan bakat musik yang cemerlang.Saat SD membentuk band bocah bernama The Quizet.Di tahun 1967 bersama Buce Garna,Deddy Garna dan Gumilang membentuk The Peels yang kemudian merekam album di Singapore.The Peels antara tahun 1969-1970 dikontrak bermain di Singapore.Tahun 1973 The Peels membubarkan diri.lalu Benny Soebardja kembali mengajak Soman Lubis bergabung dalam Sharmove yang menghasilkan album “Gedechokra’s” (1973) yang kemudian di rilis ulang oleh Shadoks Record Jerman pada tahun 2007 lalu. Di tahun 1973 Achmad Albar yang sempat mengintip permainan keyboard Soman Lubis lalu merekrutnya bergabung di God Bless menggantikan posisi Deddy Dorres.

Aktuil menuliskan laporan tentang berpulangnya Fuad dan Soman (Foto Denny Sakrie)

Aktuil menuliskan laporan tentang berpulangnya Fuad dan Soman (Foto Denny Sakrie)

Album Broery & The Pro's,peninggalan almarhum Pomo yang berperan sebagai peniup saxophone

Album Broery & The Pro’s,peninggalan almarhum Pomo yang berperan sebagai peniup saxophone

Deasy Arisandi jadi cover majalah Aktuil di era 70an

Deasy Arisandi jadi cover majalah Aktuil di era 70an

Sepekan ini ada dua sosok dunia hiburan Indonesia era 70an yang berpulang kerahmatullah. Yaitu penyanyi Deasy Arisandi yang menghembuskan nafas terakhir pada 30 Juni 2013 .Lalu Soepomo atau lebih dikenal sebagai Pomo,peniup saxophone band The Pro’s dan juga pernah mendukung The Rollies di tahun 1978, berpulang kamis 4 Juli 2013.

Deasy Arisandi mulai berkarir saat berusia 15 tahun dengan mengikuti lomba nyanyi Pop Singer Anak-anak 15 tahun ke bawah di Taman Ria Monas tahun 1971 . Deasy  hanya masuk semifinalis. Tahun 1972 Deasy ikut lomba lagi , dan jadi juara satu. Dari situ pintu terbuka lebar bagi Deasy untuk jadi penyanyi profesional.Tahun 1973, Deasy merilis album debut bertajuk  Seuntai Bunga Tanda Cinta.

Deasy telah menghasilkan sebanyak 20 album termasuk tampil di layar lebar bersama Titiek Puspa dan Enny Haryono dalam film komedi Tiga Crewek Badung.

Soepomo adalah salah satu saxophonis terbaik negeri ini yang tergabung dalam The Pro’s bersama Dimas Wahab (bass),Broery Marantika (organ,vokal),Fuad Hasan (drums),Enteng Tanamal (gitar),juga Abadi Soesman (keyboard) dan Chrisye (bass).

Selain terampil meniup saxophone,Pomo juga kerap bernyanyi.Lagu yang paling sering dinyanyikannya adalah Timang Timang. Di tahun 1978 Pomo sempat masuk formasi The Rollies mengisi posisi Benny Likumahuwa yang mengundurkan diri.

Energi kreatif Iwan Fals tampaknya masih membara selaik magma.Dua tahun setelah rilis album “Keseimbangan” (2012) Iwan kembali merilis album baru ,sebuah album ganda bertajuk Raya.Riak riak gugat dalam karya terbaru Iwan Fals masih keras berdegup.Wajah Iwan boleh menua.Rambut dan alis matanya mulai memutih bagai salju. Tapi intuisi berkarya dalam musik serta respons terhadap keadaan sekelilingnya masih berdarah-darah.Iwan tetap sosok penyaksi yang tak pernah diam.Iwan adalah penyanyi gugat yang terus memompakan energi dalam lagu-lagunya.

Iwan Fals bersama isteri dan kedua anaknya saat peluncuran album Raya 25 Juni 2013 di Rolling Stone Cafe (Foto Denny Sakrie)

Iwan Fals bersama isteri dan kedua anaknya saat peluncuran album Raya 25 Juni 2013 di Rolling Stone Cafe (Foto Denny Sakrie)

Saya kaget dan kagum terhadap konsistensi Iwan yang tampak tak pernah lekang,putus maupun pupus.Setidaknya ketika menyimak suaranya bernyanyi yang terasa kian arif dan bijaksana tapi menohok pada lagu Rekening Gendut yang terdapat pada album Raya :

Angka angka terus memuai entah dari mana singgah dimana.
Transaksi gelap di dunia perbankan
Rahasia umum atas nama kepentingan umum.
PNS muda mungkin jugavyang tua
TNI Polri juga tak terkecuali.
Entah bagaimana dengan presidennya.
Wakil rakyatnya rekening gendut
Jaksa dan hakim rekening gendut
Wartawannya rekening gendut

Iwan betul-betul tak berubah.Dia tetap seperti Iwan yang dengan lantang menyanyikan Oemar Bakrie pada tahun 1981 atau secara anthemic menyanyikan “Surat Buat Wakil Rakyat” di sekitar tahun 1987.

Iwan masih mampu menuliskan deretan kalimat gugat dalam lagu-lagu terbarunya.Simak saja lagu “Katanya” :

Kalau orang miskin dilarang sakit
Tentulah makam akan bertambah sempit
Kalau orang miskin tak boleh pandai
Tentu serakah semakin menyeringai
Sempat aku bingung kenapa ini terjadi
Di negeri yang subur yang baik hati
Katanya zamrud khatulistiwa
Nyatanya kilau airmata
Katanya serpihan surga
Nyatanya ?

Ada 18 lagu yang termaktub di album Raya, album yang judulnya diambil dari puteranya yang ketiga Raya Rambu Rabbani.Lengkaplah sudah ketiga anaknya diabadikan dalam lagu dan judul album mulai dari “Galang Rambu Anarki” (1982),”Cikal” (1991) dan akhirnya “Raya” ( 2013).