Nonton Steve Vai di Jakarta

Posted: Juli 24, 2013 in Konser
Steve Vai mengajak penonton membuat lagu di panggung dalam Build Me A Song (Foto Denny Sakrie)

Steve Vai mengajak penonton membuat lagu di panggung dalam Build Me A Song (Foto Denny Sakrie)

Okay now Little Stevie Vai is going to play

A composition on the guitar
He wrote it all by himself
Okay Stevie Bring your three friends up
They can play with you
That Steve Vai, what a nice little boy
 
 
Narasi seorang ibu menjadi introduksi dari komposisi bertajuk “The Audience Is Listening” dari album “Passion and Warfare” (1990) yang dimainkan dengan tempo boogie woogie berbalut distorsi yang menyayat telinga.Gitaris virtuoso Steve Vai bersama dukungan Dave Weiner (gitar),Phillip Bynoe (bass),Michael Aarom (keyboards) dan Jeremy Colson (drums) pada paruh konsernya bertajuk “The Story Of Light Tour 2013” senin 22 Juli 2013 di Tennis Indoor Senayan Jakarta yang digagas Java Musikindo.Lagu ini memang semacam memoar seorang Steve Vai yang sejak kecil telah memperlihatkan kemampuan istimewa dalam bermusik terutama menggerayangi dawai-dawai gitar.
Jadi tak heran jika lagu ini kerap dibawakan saat Steve Vai tampil di panggung pertunjukan termasuk ketika Steve Vai tampil pertamakali di Hard Rock Café Jakarta pada bulan puasa tahun 1996. Di bulan puasa tahun 2013 Steve Vai kembali mengguyur penonton Jakarta dengan virtousitas permainan gitarnya dihadapan penonton yang rata-rata adalah pemusik terutama gitaris.17 tahun silam saat tampil di Hard Rock Café seingat saya yang dating menyaksikan Steve Vai juga didominasi kalangan pemusik.
Encore Fire Garden Suite IV : Taurus Bulba (Foto Denny Sakrie)

Encore Fire Garden Suite IV : Taurus Bulba (Foto Denny Sakrie)

Ketika memasuki halaman Tennis Indoor saya bersua dengan begitu banyak gitaris mulai dari Tepi Item,Andra ,Cella Kotak,Lilo Kla Project,Baron,Bengbeng PAS Band,Balawan,Yudha Prasetyo,Beben,Jaya Roxx dan banyak lagi. Tampaknya konser Vai ini lebih tepat disebut sebagai ajang silaturahmi para gitaris.
Steve Vai memang memiliki magnet yang kuat sebagai seorang gitaris yang memiliki jam terbang tinggi.Ketrampilan memainkan gitar Vai berbaur dengan menyajikan musiknya dalam tataran show yang sarat gimmick, kadang teaterikal kadang berselimut atmosfer humor. Ini semua memang merupakan pengaruh yang membungkus kredo bermusiknya sejak diajak Frank Zappa bergabung sebagai music transcriptionist yang bekerja menulis transkripsi karya karya Frank Zappa.Di tahun 1979 Steve  Vai mengirimkan transkripsi komposisi karya Zappa “Black Page” serta menyisipkan rekaman permainan gitarnya.Zappa terpukau, lalu mengajak Vai untuk menuliskan transkripsi solo-solo gitarnya mulai dari album “Joe’s Garage” hingga “Shut Up And Play Yer Guitar”. Selama dua tahun Vai lalu ikut mendukung Frank Zappa baik di atas pentas pertunjukan maupun studio rekaman.Karena kepiawaiannya bermain gitar secara cepat dan akurat,Zappa lalu menjuluki Vai sebagai “stunt guitar” yang secara luar biasa memainkan “impossible guitar parts”.Frank Zappa lalu menyebut Steve Vai sebagai Little Italian Virtuoso.
Karena virtuositas itulah Steve Vai masih tetap mengundang decak kagum dan pesona atas karya-karyanya baik di rekaman album solon maupun pentas pertunjukan. Ini ditunjang lagi dengan mengimbuh begitu banyak gimmick saat tampil di atas panggung. Dalam konser keduanya di Jakarta Steve Vai misalnya menggunakan busana futuristik bertabur LED disekujur tubuhnya serta jari jemari tangan kirinya yang dibungkus sinar laser saat memainkan dua komposisi dari album “The Ultra Zone” (1999) yaitu “The Ultra Zone” dan “Frank” sebuah tribute untuk sang mentor Frank Zappa. Bahkan dalam setiap konser yang
 
digelarnya dalam tur The Story of Light ini Steve Vai selalu memanggil sepasang penonton wanita dan pria ke atas panggung untuk membuat lagu bersama-sama dalam segmen yang disebutnya sebagai “Build Me A Song”.Sebuah gimmick lawas yang ternyata masih diminati sebagian besar penonton di tiap kota yang disinggahinya termasuk Jakarta.
For The Love Of God (Foto Denny Sakrie)

For The Love Of God (Foto Denny Sakrie)

Konser di Jakarta yang dimulai sekitar jam 21.00 langsung dibuka dengan dua komposisi bertajuk “Racing The World” dan “Velorum”  dari album terakhirnya “The Story of Light” (2012) dengan birama atau sukat  yang padat dan cepat.  Berlanjut dengan “Building The Church” dari album “Real Illusions : Reflections “(2005) yang bernuansa concept album.
Dan lagu-lagu yang paling banyak ditampilkan Steve Vai senin malam kemarin adalah dari album “Passion and Warfare”,yang banyak dipuji kritikus musik, yaitu “The Audience Is Listening”,”The Animal”,”Answers”,”Sisters” dan “For The Love of God”.
Steve Vai sadar betul akan alur pertunjukan yang akan tetap membuat penonton betah dan terkejap-kejap dengan berbagai surprising.Vai bahkan berganti pakaian hingga 5 kali.Semuanya tentu untuk menangkal kejenuhan penonton termasuk memberlakukan gitar elektriknya bagaikan seorang kekasih .Sebuah strategi yang banyak diraup dan dipelajarinya saat bergabung dengan Frank Zappa di era 80an.
Lihat saja saat Steve Vai kemudian mengganti aura panggung dengan melakukan set akustik.Saat memetik dawai gitar akustik pun Vai masih memendam pesona.Vai bahkan bernyanyi lewat lagu “Rescue Me Or Bury Me” yang dilanjutkan dengan scat singing.
Penonton tetap bergeming mengikuti alur konser Steve Vai.Dengan permainan gitarnya,Vai seperti bersabda dengan selaksa bunyi-bunyian gitar Ibanez dihadapan para jemaahnya.
 
 
Steve Vai lalu memainkan “For The Love Of God” dari album “Passion and Warfare” sebagai penutup konser yang dijalaninya lebih dari 2 jam.”For The Love Of God” adalah ballad yang menyentuh dan soulful.Lagu ini pernah terpilih sebagai salah satu best solo guitar of all time oleh majalah Guitar World.Menurut saya komposisi ini sangat melodius.Tak heran jika banyak penikmat musik yang terbuai dengan komposisi lagu ini.Konon, For The God Of Love telah 111 kali dimainkan Steve Vai dalam konsernya selama ini.
Jemaah Steve Vai tetap tak beranjak menantikan encore.Seperti sebahagian konser Steve Vai sebelumnya yang berlangsung di Australia dan New Zealand, konser yang digelar bulan Ramadhan ini diakhiri dengan komposisi Fire Garden Suite IV – Taurus Bulba.
Steve Vai memang penghibur sejati.Diujung pertunjukannya dengan memainkan sekitar 20 komposisi yang berakhir sekitar jam 23.00 WIB , Steve Vai masih terus berupaya merebut simpati jemaahnya dengan mengucapkan :”Assalamu alaikum”. Aplause tanpa jeda pun merebak di Tennis Indoor Senayan Jakarta.Apalagi saat Vai berucap :” I’m Gonna tell JoeSatriani , G3.. we should play here.. You hear that Joe..?!.
 
Setlist Steve Vai
 
1.Racing the World
2.Velorum
3.Building the Church
4.Tender Surrender
5.Gravity Storm
6.Dave Weiner Solo (Acoustic Guitar)
7.Weeping China Doll
8.Answers
9.The Animal
10.Whispering a Prayer
11.The Audience Is Listening
12.Michael Aaron Solo
13.Rescue Me or Bury Me
(Vai song)
14.Sisters
15.Treasure Island (with The Beast)
16.Pusa Road
17.Jeremy Colson Solo
18.The Ultra Zone
19.Frank
20.Build Me a Song
21.For the Love of God
Encore:
22. Fire Garden Suite IV : Taurus Bulba .
Steve Vai di Tennis Indoor Senayan Jakarta 22 Juli 2013 (Foto Denny Sakrie)

Steve Vai di Tennis Indoor Senayan Jakarta 22 Juli 2013 (Foto Denny Sakrie)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s