40 tahun Summer’28

Posted: Agustus 16, 2013 in Sejarah

Pada paruh era 60an menyeruak sebuah fenomena sosial yang menggelembung dikalangan anak muda dibelahan Barat berontak menginginkan kebebasan,persamaan ender,anti perang,anti-establishment serta ketidakpercayaan terhadap kaum tua.Gerakan terbesar yang kemudian dikenal dengan tajuk Summer Of Love ini berlangsung tahun 1967, dimana sekitar 100.000 khalayak muda berkumpul di Haight-Ashbury,yang dekat dengan San Fransico,kota kiblat generasi bunga yang berselimutkan musik psychedelic dan tentunya pernak-pernik sex dan drugs.John Phillips dari The Mamas and The Papas menulis lagu “San Fransico (Be Sure To Wear A Flowers In Your Hair” untuk dinyanyikan sahabatnya Scott McKenzie.

God Bless tampil di Summer 28 (Dokumentasi Majalah Aktuil)

God Bless tampil di Summer 28 (Dokumentasi Majalah Aktuil)

Tahun 1967 ini jadi momentum penting geliat budaya pop.Aroma psychedelic berangsur dimana-mana.Di Inggris The Beatles merilis album fenomenal Sgt.Pepper’s Lonely Hearts Club Band,Pink Floyd merilis The Piper at The Gates Dawn,The Rolling Stones merilis Their Satanic Majestic atau Jimi Hendrix merilis “Are You Experinced ?” .Di tahun 1967 ini mulai terbit majalah Rolling Stone dan di Indonesia di tahun yang sama mulai muncul pula majalah Aktuil yang menjadi terompet anak muda saat pergantian rezim Orde Lama ke rezim Orde Baru dibawah kepimpinan Soeharto.

Berrmuara dari peristiwa budaya pop yang bernawaitu counterculture inilah yang kemudian menetaskan festival budaya pop yang hingga kini tergurat dalam sejarah mulai dari Monterey International Pop Festival yang berlangsung di 3 hari pada 16 hingga 18 Juni 1967 di kawasan Monterey California menampilkan Janis Joplin,Otis Redding,The ,Jefferson Airplane,The Mamas and The Papas ,Ravi Shankar dan Jimi Hendrix and The Experience hingg akhirnya gong peristiwa budaya pop ini adalah Woodstock Festival yang juga berlangsung selama 3 hari mulai dari 15 hingga 17 Agustus 1969 di kawasan Bethel,New York menampilkan banyak performer seperti Janis Joplin,The Who,Jefferson Airplane,Santana,Jimi Hendrix,Joe Cocker,Ravi Shankar,Melanie,Joan Baez,Arlo Guthrie,Sly & The Family Stone dan masih sederet panjang lainnya.Festival yang digagas Michael Lang ini pada akhirnya menjadi gong gerakan generasi bunga yang fenomenal dan inspratif.

Bisa jadi insprasi dari Summer Of Love,Monterey Pop Festival maupun Woodstock Festival inilah yang menggerakkan sutradara film Indonesia Wim Umboh dari PT Aries Raya International,A Soegianto dari PT Intercine Studio dan Nyoo Han Siang dari Bank Umum Nasional untuk menggelar konser sepanjang 12 jam dengan tajuk Summer’28.Konon,mereka bertiga ini secara serempak menggagas acara music puspa raga mini setelah melakukan perjalanan ke luar negeri diantaranya ke Amerika Serikat.Asumsi mereka pada bulan Agustus di Indonesia masih masuk musim kemarau yang kering kerontang.Pilihan nama akhirnya adalah Summer’28 yang merupakan akronim dari SUasana Menyambut keMERdekaa RI ke 28.Pemilihan nama acara ini merupakan usulan dari almarhum Wim Umboh yang namanya kian tenar setelah menyutradarai film Pengantin Remadja di tahun 1971 dengan bintang Sophan Sophiaan dan Widyawati.Acara Summer’28 ini pun diabadikan dalam bentuk film documenter seperti halnya Woodstock’69.Wim Umboh sang penggagas juga bertindak sebagai sutradara film.

Para performer dalam Summer 28 16 Agustus 1973

Para performer dalam Summer 28 16 Agustus 1973

Summer’28 memang tidak digelar sepanjang 3 hari berturut-turut sebagaimana halnya Monterey Pop Festival (1967) maupun Woodstock (1969), melainkan hanya dalam durasi 12 jam saja,yakni mulai dari jam 17.00 hingga jam 05.00.Dengan demikian jumlah performer dibatasi hanya sekitar 20 band saja.Band-band yang tampil adalah band yang dinilai punya nama dan kualifaid dari berbagai genre dan subgenre music.Diupayakan satu band bisa mewakili satu genre musik atau mewakili salah satu daerah di Indonesia misalnya Ternchem mewakili Solo,AKA dan Pretty Sisters mewakili Surabaya,Bentoel Band mewakili Malang dan seterusnya.Jadi sebetulnya niat penyelenggara Summer’28 ini memang cemerlang.Summer’28 bisa dianggap etalase perjalanan musik  Indonesia. Walaupun di satu sisi ada yang mengaitkan penyelenggaraan ini merupakan euphoria kebebasan bermusik di Indonesia.Patut diingat pada zaman Bung Karno dengan rezim Orde Lamanya sangat ketat dan keras melindungi warisan budaya bangsa agar tidak terkontaminasi dengan budaya asing yang sangat deras menyerang kantung budaya Indonesia melalui idiom musik dan film.Bung Karno dan Manipol Usdeknya yang diserukan pada akhir era 50an jelas sangat anti dengan budaya asing terutama budaya pop dari Barat.Musik rock and roll yang digetarkan Elvis Presley dituding sebagai musik ngak ngik ngok yang menginjak-injak harkat budaya bangsa.Di tahun 60an Bung Karno mencoba menggali budaya bangsa antara lain dengan memperkenalkan dan mempouplerkan Irama Lenso, salah satu ragam musik dan tari pergaulan yang berasal dari Maluku.Bung Karno lalu mengajak Jack Lemmers (sebelum berganti nama menjadi Jack Lesmana),Bing Slamet dan Idris Sardi meracik Irama Lenso yang kemudian direkam dalam piringan hitam Mari Bersuka Ria Dalam Irama Lenso yang dirilis Irama Record pada tahun 1965.Di tahun yang sama Koes Bersaudara dijebloskan kedalam penjara karena membawakan lagu-lagu The Beatles. Nah,pelarangan semacam itulah yang menjadi momok para pemusik dan juga penikmat musik.Namun ketika rezim Orde Baru berkuasa pelarangan musik asing seperti yang diberlakukan Bung Karno secara perlahan mulai pupus.Di tahun 1967 anak anak muda bereksperimen mendirikan pemancar radio secara illegal dan memutar lagu-lagu barat sepanjang hari.Koes Bersaudara pun merilis album yang judulnya sangat provoke “To The So Called The Guilties”,yang isinya banyak bercerita pengalaman saat dalam penjara misalnya Di Dalam Bui, tapi disisi lain Tonny Koeswoyo memperlihatkan kegeraman tiada tara lewat lagu bertajuk “Poor Clown”,lagu berlirik Inggris ini memang kuat pesan gugatnya,yang mengingatkan kita pada munculnya fenomena protest song di Amerika Serikat lewat Woody Guthrie maupun Bob Dylan.

Summer’28 tentu saja menurut hemat saya adalah pesta euphoria kebebasan bermusik anak muda Indonesia yang selama ini dibelenggu dalam aturan-aturan Pemerintah dalam persepsi  kacamata kuda   .Inspirasi dari gerakan generasi bunga Summer Of Love kemudian dicampurbaurkan dengan semangat kebebasan dalam bermain musik.

Maka berbondong-bondonglah anak muda Jakarta dan sekitanya sejak siang hari ke kawasan Ragunan Pasar Minggu Jakarta pada sebuah lahan seluas 4 hektar milik perusahaan film Intercine Studio.Di area ini telah dibangun sebuah panggung tunggal berukuran 15 X 10 meter persegi dengan tinggi sekitar 3 meter .Harga karcis yang dipatok saat itu berkisar Rp 1000.Ini harga yang relatif murah.Harga kaset saat itu sekitar Rp 400 hingga Rp 500.Majalah Aktuil yang jadi bacaan wajib anak muda harganya Rp 120.Dengan Rp 1000 ini penonton selama 12 jam bisa menonton sekitar 20 band mulai dari Koes Plus,Panbers,Mercy’s,The Rollies,Idris Sardi & The Pro’s,Los Morenos,Trio Bimbo,Remy Sylado Company,El Sipigo,Young Gipsy,Pretty Sisters,Broery Marantika,Gang Of Harry Roesli,The Singers ,Freedom termasuk God Bless band rock yang baru terbentuk pada 5 mei 1973 serta Flybaits sebuah band yang berasal dari Singapore.

Sayangnya acara yang dimulai sekitar jam 17.00 ini harus berakhir sekitar jam 3 dinihari karena terjadi kerusuhan.Pihak keamanan yang berjumlah 120 personil memang mampu mengatasi suasana tapi acara dinyatakan tidak dapat dilanjutkan lagi.Tidak jelas apa yang menyebakan terjadinya kerusuhan.Ada yang mengatakan keributan mulai terjadi ketika panitia mengumumkan bahwa band rock AKA dari Surabaya batal tampil di Summer’28.

Summer’28 adalah salah satu bagian sejarah musik pop Indonesia.Sayangnya film dokumentasi yang digarap Wim Umboh tak jelas rimbanya.Dimas Wahab,leader band The Pro’s yang juga terlibat sebagai panitia penyelenggara pun tidak tahu menahu keberadaan film Summer’28 tersebut.

Terlepas dari kekurangan yang menyelimuti penyelenggaraan Summer’28, acara ini pantas disebut sebagai cikal bakal acara musik bernuansa festival di Indonesia yang menampilkan puluhan band diatas pentas dari berbagai aliran atau genre musik.

Iklan
Komentar
  1. patricia berkata:

    Sayangnya saya baru lahir sebulan setelah Summer 28, coba ada dokumentasinya yaa 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s