Ngawur Itu Tedjo (yang) Jujur

Posted: Agustus 16, 2013 in Uncategorized

Pertama kali mendengar nama Sudjiwo Tedjo ketika dia bekerja sebagai jurnalis di harian Kompas.Saya mulai mengakrabi tulisan Tedjo terutama yang menyangkut perihal budaya maupun sosial.Di akhir era 90an Tedjo sempat pula menulis tentang M97FM radio tempat saya bekerja, radio untuk lelaki dewasa yang menggilai classic rock era generasi bunga. Namun saat itu saya sudah mendengar bahwa jurnalis yang berambut gondrong ini juga menekuni karir sebagai seoarang dalang.Saya juga mendengar, karena saya belum pernah nonton Tedjo mendalang, bahwa dia kerap mengotak atik pakem pewayangan.Tokoh baik jadi jahat,tokoh jahat jadi baik.Orang menjulukinya Dalang Edan.Jelas saat itu saya penasaran dengan kredo berkesenian Tedjo dalam kancah pewayangan, apalagi dengan kejahilannya mengoprak-oprek pakem yang sudah menjadi tradisi.Tapi saya belum pernah sedikitpun memperoleh kesempatan untuk menyaksikan Tedjo mendalang.Karena kecenderungan Tedjo melawan arus besar itu rasanya hampir sama ketika kita melepas semua busana tata krama dalam tubuh kita dan telanjang dalam kejujuran yang hakiki.Kenapa anak muda memilih musik rock dalam aktualisasi diri ? Karena dogma kebebasan termasuk melawan kemapanan ada dalam deru musik rock yang menggelegak.

Sudjiwo Tedjo

Sudjiwo Tedjo

Suatu hari ditahun 1998 akhirnya saya mendengar Sudjiwo Tedjo merilis album rekaman.Bah, tampaknya jurnalis gondrong ini mulai melakukan ekspansi berkesenian, mulai dari dalang wayang hingga menjadi penyanyi.Dan Tedjo ,seperti saat mendalang, memiliki sikap yang kuat, ingin tampil berbeda.Dia bukan mengincar posisi penyanyi yang dielu-elukan jutaan penggemar serta didera kerlap-kerlip cahaya .Tedjo bernyanyi karena ingin menyampaikan sesuatu.Itu bisa saya maknai ketika mendengar lagunya yang diberi judul “Pada Suatu Ketika”yang liriknya menggunakan bahasa Jawa lengkap dengan cengkok Jawa yang kental tapi musikal.Liriknya bertutur tentang keinginan agar angkara murka di negeri segera berakhir.Tedjo pun mengentaskan musik tradisi Banyuwangi, kawasan yang konon banyak terpengaruh musik Cina dan Jepang. Semangat eklektik dalam mengolah musik jelas tercermin dari album perdana Tedjo itu .Dengan menggamit sosok bassist jazz Bintang Indrianto dalam menata musik, Tedjo seperti ingin menelusuri genre dan subgenre musik,yang melintas dari Barat hingga ke Timur. Saat itu pula saya  teringat Harry Roesli,pemusik yang sejak paruh 70an kerap dijuluki Biang Bengal Bandung. Saat itu pula saya mulai membanding-bandingkan sosok Harry Roesli dan Sudjiwo Tedjo. Ternyata ada beberapa kemiripan dalam sosok mereka berdua kecuali fisik, karena Harry Roesli agak gempal dan Sudjiwo Tedjo kurus.Pertama,keduanya memiliki multi talenta dalam musik.Harry Roesli terampil memainkan instrumen musik  apa saja mulai dari drum,bass,gitar,keyboard hingga perkusi.Sudjiwo Tedjo mampu memainkan cello,biola hingga saxophone.Keduanya menulis komposisi lagu dan arransemen.Keduanya pun tampil sebagai penyanyi dengan gaya yang seenaknya dan urakan.Dalam menulis lirik lagu, baik Harry Roesli maupun Sudjiwo Tedjo sama nakalnya,sama jahilnya atau kalau pinjam istilah Remy Sylado sama-sama mbeling.Keduanya memiliki sikap yang kritis terhadap situasi sosial hingga politik, namun tetap berbalut selimut satir yang cair.

Dan yang kedua, baik Harry Roesli dan Sudjiwo Tedjo sama sama pernah mengenyam pendidikan di ITB Bandung dan keduanya akhirnya mundur dari dunia kampus karena keinginan yang menderu-deru berkiprah di dunia musik.Musik,dalam sudut pandang Tedjo, merupakan karunia Tuhan yang tak ada habis-habisnya untuk digali.Ini saya rasakan manakala menyimak album per album yang dirilis Sudjiwo Tedjo.Kredo menolak pakem arus besar menjadikan tiap album Sudjiwo Tedjo selalu dalam bingkai yang berbeda.Dalam album Syair Dunia Maya,Tedjo menata barisan kata-kata menjadi bunyi musikal yang paling natural. Pengaruh mendalang pun tertuang dalam lagu “Saya dan Punakawan”dimana Tedjo secara simultan memerankan tokoh Semar,Gareng,Petruk hingga Togog.

Entah kenapa saat menyimak album ini saya menyebut Tedjo sebagai Zappa Jawa.Apalagi saat menyimak lagu Tingkah-Tingkah.Bisa jadi Tedjo terilhami Frank Zappa, seperti halnya Harry Roesli yang mengaku banyak menyerap nuansa Zappa dalam karya-karyanya.Dalam benak saya antara Sudjiwo Tedjo,Harry Roesli dan Frank Zappa memang berada dalam frekuensi dan mindset yang sama.Mereka bermain musik atau berkesenian lainnya dengan ekspresi “ngawur” dan kerap menempatkan elemen humor dan seksualitas  dalam idiom-idiom liriknya. Saya jadi teringat quote Tedjo :”Ketika yang ilmiah,sistematis,dan formal itu hanya kedok belaka yang justru banyak membohongi.Sekarang sudah saatnya ngawur saja.Ngawur karena benar “  .Dan ngawur itu sikap Tedjo yang jujur.

 Kata Jancuk yang dianggap tabu,dipilih Tedjo untuk menangkal kemunafikan yang telah menjadi pupur keseharian kita. Jancuk pada akhirnya menjadi idiom ekspresi yang bisa meluluhlantakkan basa-basi yang tak perlu. Dan Tedjo pun bersenandung :

 ada otak kosong kasih awalan Jan
kasih akhiran cuk otakmu..JANCUK
ayo tanpa dasar biar hidup dalam
ayo kosong-kosong biar gampang ngisi
hidup pakai dasar itu cetek cetek cetek
kalau otakmu full susah ngisi ngisi ngisi
lebih gampang kalau hidupmu JANCUK
lebih gampang kalau JANCUK

 

Jakarta 14 Agustus 2013

 

Iklan
Komentar
  1. dimassku berkata:

    Jancuk is not the fucking at all..
    Sukses selalu untuk idola saya yg satu ini.. heuheu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s