Hari Ini, 62 Tahun Harry Roesli

Posted: September 10, 2013 in Uncategorized

Bersama almarhum Harry Roesli Agustus 1997 di Radio M9&FM (Foto Denny Sakrie)

Bersama almarhum Harry Roesli Agustus 1997 di Radio M9&FM (Foto Denny Sakrie)

Hari ini pemusik serba bisa Harry Roesli berulang tahun yang ke 62.Dilahirkan dengan nama  Djauhar Zaharsjah Fachruddin Roesli.Dia adalah cucu dari pujangga Marah Roesli yang menghasilkan karya sastra Siti Nurbaja dan Kasih Tak Sampai. Bagi saya Harry Roesli bukan hanya sekedar pemusik jenius tayang yang paham lekak lekuk music dalam berbagai ragam angle tapi Harry Roesli adalah pemikir yang banyak menjejalkan karya karya seni mulai dari seni musik,teater hingga hasil pembenturan-pembenturan dari berbagai cabang seni lainnya.Harry Roesli yang sejak era 70an kerap disebut Biang Bengal Bandung memang laksana petualang seni yang kerap gelisah dan selalu melakukan pencarian-pencarian dalam berbagai kemungkinan-kemungkinan yang terkadang mendahului zamannnya.  Garis turunan keluarganya memperlihatkan bahwa keluarga Roesli adalah turunan cerdik cendekia.Saudara saudara kandungnya adalah sarjana dari berbagai disiplin ilmu termasuk Harry Roesli yang pernah mengenyam pendidikan Teknik Mesin Penerbangan di Institut Teknologi Bandung.Namun karena keghelisahan akan eksplorasi seni yang kian berbuncah-buncah menyebabkan dia nekad meningglkan kampus ITB yang menjadi impian orang banyak ditahun 1975.Antara tahun 1975 – 1977 Harry Roesli malah pindah ke Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) yang kini dikenal sebagai Institut Kesenian Jakarta (IKJ) mengambil jurusan Komposisi Musik.Setahun berselang Harry malah memilih mengambil beasiswa musik yang ditawarkan  Ministerie Cultuur, Recreatie en Maatschapelijk Werk  di Rotterdam Conservatorium Belanda pada tahun 1978.

Sejak itulah Harry Roesli menghambakan dirinya pada seni.Kesenimanannya pun mebnjadi totalitras yang tak terbantahkan lagi.Harry Roesli selalu berada dalam peristiwa seni apa pun di negerin ini .Sebuah kelenturan dalam berkesenian yang rasanya jarang ditemukan dalam sosok seorang seniman di negeri ini.Harry Roesli kadang menjembatani antara seni arus besar dan oposisinya tanpa rikuh sedikit pun.Tak ada yang mencerca Harry Roesli ketika dia tampil sebagai juri dalam kompetisi vokal berbasis sms di layar kaca AFI Indosiar pada awal era 2000an.Tak sedikit penonton yang terpingkal-pingkal menyimak komentar Harry Roesli yang nyeleneh dan kerap diluar pakem atau kaedah-kaedah yang mainstream.Belum lagi ketika Harry Roesli selalu menampilkan alter ego bernama Drs.Arief.Sebetulnya tanpa kita sadari Harry Roiesli telah melakukan permainan ganda dalam tugasnya sebagai juri kompetisi vokal,yaitu kritik sosial. Kritik sosial berbalut humor adalah hal yang telah dilakukannya sejak era 70an

 

  Dimata saya sosok   Harry Roesli adalah seniman yang mengaduk aduk banyak dimensi seni,entah itu musik,teater hingga film menjadi medium untuk bercermin,medium untuk menera perilaku kita termasuk medium untuk kritisi.Walaupun banyak yang kerap tidak nyaman dengan idiom idiom Harry Roesli dalam mengkritik tapi dia tak pernah lelah melakoni sosok kesenimanannya untuk mengabarkan ketimpangan-ketimpangan serta berbagai telikung telikung yang berpendar diman-mana. , karya-karyanya masih tertoreh kuat dalam ingatan kita. Harry Roesli adalah sosok jenius yang banyak berkutat dalam pelbagai peristiwa budaya maupun sosial. Ketajaman intuisinya banyak melahirkan karya-karya fenomenal yang tak jarang cenderung ke pola kritik sosial. Ia acapkali melakukan gugat. Gugat terhadap ketimpangan sosial. Gugat terhadap kesewenangan. Gugat terhadap keculasan, dan seterusnya.
Lagu Jangan Menangis Indonesia itu sendiri tercetus setelah mencuatnya Peristiwa Malari pada 1974 yang banyak melibatkan protes dari para mahasiswa, termasuk Harry Roesli yang tengah mengenyam kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Harry Roesli yang kerap dijuluki biang Bengal Bandung ini juga sempat merasakan penjara yang pengap.
Jika menilik karya-karyanya yang terangkum pada sekitar 20-an lebih album, sederet karya musik panggung hingga teater, maka kita bisa menangkap benang merah kerangka berpikir Harry Roesli yang lugas, tegas, tanpa tedeng aling-aling, terhadap hipokritas, tapi disajikan dalam semangat bercanda. Harry Roesli memang akrab dengan bingkai yang satirikal. Kadang, ia mengungkap tematik dengan menjungkirbalikkan logika.
Rasanya tak jauh berbeda dengan tokoh musik Amerika Serikat yang dikaguminya, Frank Zappa. Semangat humor terus terpompa dalam karya karyanya yang sarat simbol-simbol beratmosfer parodi. Lihat bagaimana Harry Roesli memotret jalan kehidupan Ken Arok, tokoh dari Singosari yang dikenal dengan kredo menghalalkan segala macam cara untuk mencapai tujuan dalam rock opera bertajuk Ken Arok.
Ken Arok berselingkuh dengan Ken Dedes, isteri Tunggul Ametung. Ken Arok bahkan menghabisi nyawa Tunggul Ametung dengan menggunakan keris bikinan Empu Gandring. Simak penggalan liriknya ini :
Kubunuh suamimu
kurebut tahtanya
dan engkau kujadikan isteriku!
Kritik demi kritik menyemburat dalam sejumlah album-albumnya, seperti Phylosophy Gang (1973), Titik Api (1975), Ken Arok (1977), Gadis Plastik (1977), Tiga Bendera (1977), LTO (1978), Daun (1978), Jika Hari tak Berangin, (1978) dan masih banyak lagi.
Tahun 1978, Harry Roesli bertolak ke Belanda untuk menjalani studi musik di Rotterdam Conservaorium Den Haag, Belanda. .Setelah meraih gelar doktor  dalam bidang musik 1981 , semangat berkarya Harry Roesli seolah tak terbendung lagi.

Semangat berkarya Harry Roesli  menyemburat bagai keran yang telah dibuka katupnya. Beberapa karyanya memang mulai banyak memihak pada ragam kontemporer seperti Musik Rumah Sakit hingga Musik Sikat Gigi. Harry bahkan mulai berkolaborasi dengan beberapa kelompok teater, seperti Teater Koma milik N Riantiarno maupun Teater Mandiri yang dikelola Putu Wijaya. Harry secara serius terlibat dalam pementasan teater Opera Kecoa maupun Opera Ikan Asin yang menyedot banyak penonton.
Di samping itu, ekspresi musik dan teaternya diwujudkan dalam Depot Kreasi Seni Bandung yang bermarkas di rumahnya, di Jalan WR Supratman Bandung. Rumah besar milik keluarga Ruslan Roesli ini seolah menjadi mata air kegiatan seni di wilayah Bandung.
Di saat-saat terakhir, Harry Roesli yang pergi meninggalkan seorang isteri dan dua putra kembar sempat menitipkan pesan yang bisa bermakna luas: ‘Jangan matikan lampu di kamar kerja saya’. Dan, karya-karya Harry Roesli sesungguhnya memang tak pernah mati.Tetap hidup hingga akhir zaman.

Saya yakin Harry Roesli adalah seniman yang cinta negerinya.Harry Roesli,tak berlebihan jika saya sebut sebagai seorang nasionalis sejati.
Jangan menangis Indonesia kami berdiri membelamu Pertiwi.
Itulah penggalan lirik Jangan Menangis Indonesia, karya Harry Roesli yang berkumandang membelah langit nan mendung saat pemakaman tokoh musik Indonesia, Ahad 12 Desember 2004 di Ciomas, Bogor, Jawa Barat. Pemusik yang doyan bercanda,jahil dan jagoan makan  ini menghembuskan napas terakhirnya pada hari sabtu 11 Desember 2004 di Rumah Sakit Jantung Yayasan Harapan Kita Jakarta.
Seperti halnya banyak sosok sosok jenius dan berbakat lainnya,Harry Roesli telah cepat pergi meninggalkan kita semua.

 

Denny Sakrie

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s