Tio Tek Hong , Label Rekaman Pertama di Indonesia.

Posted: September 22, 2013 in Sejarah

Sejak kapankah mulai berlangsung industri musik di Indonesia ? Lalu siapakah yang mempeloporinya.

Piringan Hitam produksi Tio Tek Hong Record di awal abad ke 20.

Piringan Hitam produksi Tio Tek Hong Record di awal abad ke 20.

Namun sebetulnya jika menilik lebih jauh,sebelum menginjak ke era 50an yang secara politis kerap disebut era Orde Lama, di zaman kolonialisme Pemerintah Hindia Belanda cikal bakal industri hiburan musik telah memperlihatkan keberadaannya. Saat itu phonograph Colombia buatan Amerika Serikat telah diimpor ke Hindia Belanda pada awal abad 20 tepatnya di tahun awal 1900an .Di tahun 1903 beberapa album rekaman phonograph mulai masuk ke Indonesia dengan berbagai label rekaman seperti  BeKa Record,HomoKord Record dan Parlophone Record  . Dimasa itu setidaknya ada 3 saudagar Tionghoa yang menggeluti dunia musik dengan mendirikan perusahaan rekaman.Dua pengusaha rekaman itu berada di Batavia yaitu Tio Tek Hong di Pasar baru dan Lie A Kon di Pasar Senen dan satu lagi di Surabaya , meskipun sebetulnya ruang lingkup pasarnya sangatlah  terbatas yaitu pada kaum urban elit saja . Phonograph dan Grammophone adalah perangkat pemutar rekaman yang mewah dengan harga yang relatif sangat mahal tentunya.Salah satu dari pedagang Tionghoa yang tersohor saat itu adalah Tio Tek Hong yang berdagang aneka ragam barang kelontong .

Gedung Tio Tek Hong di zaman Pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1905 di daerah Passer Baroe

Gedung Tio Tek Hong di zaman Pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1905 di daerah Passer Baroe

Musik-musik yang berasal dari rekaman phonograph itu lalu dimainkan oleh  para pemusik Belanda ,Tionghoa,Ambon dan Manado  melalui berbagai pertunjukan panggung.Lagu-lagu Amerika yang populer dimainkan saat itu antara lain adalah Lazy Moon  yang dinyanyikan Oliver Hardy dalam film Pardon Us (1901), atau  Mother O’Mine lagu yang diangkat dari puisi karya Rudyard Kipling . Saat itu patut diakui kiblat bermusik adalah ke Amerika Serikat.Para penyanyi wanita yang ada di zaman Hindia Belanda disebut crooner bukan singer bahkan di depan nama para penyanyi wanita di beri embel-embel seperti Miss Tjitjih,Miss Riboet,Miss Roekiah,Miss Dja dan seterusnya. Dan ini berlangsung hingga akhir era 1940an.Mungkin hampir sama dengan keadaan sekarang ini dimana hampir semua penyanyi wanita bersematkan predikat diva.

Suara mendayu para miss ini lalu direkam oleh perusahaan rekaman seperti Tio Tek Hong yang berlokasi di Passer Baroe. Tio Tek Hong memulai bisnis rekaman di sekitar tahun 1904, dimana saat itu saudagar kaya ini mulai mengimpor phonograph  dengan memakai roll lilin.Setahun kemudian,tahun 1905, perusahaan rekaman Tio Tek Hong mulai merilis plaatgramofoon  atau piringan hitam ke seluruh Indonesia dari Sabang hingga Merauke.Adapun lagu-lagu yang direkam Tio Tek Hong mencakupi jenis Stambul,Keroncong,Gambus,Kasidah,Musik India,Swing hingga Irama Melayu.

Gedung Tio Tek Hong di Passer Baroe September 2013 (Foto Denny Sakrie)

Gedung Tio Tek Hong di Passer Baroe September 2013 (Foto Denny Sakrie)

Penyanyi dan kelompok musik yang direkam Tio Tek Hong Record cukup beragam.Untuk musik keroncong ada Orkest Krontjong Park,Orkest Moeridskoe ,Krontjong Sanggoeriang,Kerontjong Aer Laoet,Krontjong Deca Park .Untuk musik Kasidah ada Kasida  Sika Mas,Orkese Gamboes Metsir,Kasida Rakbie Mas,Gamboes Boea Kana  serta Gamboes Turkey. Lagu-lagu yang populer saat itu antara lain  Tjente Manis,Boeroeng Nori,Djali Djali, Tjerai  Kasih,Paioeng Patah,Dajoeng Sampan,Kopi Soesoe,Sang Bango,Inang Sargie,Gelang Pakoe Gelang dan masih banyak lagi.Lagu-lagu ini direkam dalam bentuk vinyl berukuran 10 inci.Disamping itu Tio Tek Hong Record juga merekam sandiwara Njai Dasima yang dikemas dalam boxset berisikan sebanyak  5 keping  piringan hitam.

Tio Tek Hong ini memiliki trademark tersendiri pada album-album rekaman yang diproduksinya. Pada setiap vinyl produksi Tio Tek Hong di setiap sebelum lagu pada track pertama berkumandang, terdengar suara rekaman Tio Tek Hong : Terbikin oleh Tio Tek Hong, Batavia”. Pembeli piringan hitam saat itu memang sangat terbatas,karena harganya relatif mahal. Belum lagi harga gramophone yang hanya terjangkau oleh kalangan menengah keatas.Karenanya masyarakat sebagian besar bisa  menikmati rangkaian lagu-lagu populer Inonesia saat itu justeru  dengan menonton pertunjukan yang digelar dan berlangsung di panggung-panggung hiburan yang berada  di Pasar Gambir,Globe Garden,Stem En Wyns,Maison Versteegh dan Prinsen Park,

Iklan
Komentar
  1. saiful berkata:

    Sangat bagus pemberitaannya untuk referensi

  2. Kelik berkata:

    Tulisan ini sangat bernilai. Penelusuran sejarah industri musik era gramaphone ini saya kira yang pertama di Indonesia. Terimakasih Kang Denny.

  3. admin berkata:

    Salut, penelusuran yang detil.. trims infonya om denny sakrie..

  4. […] memberikan cerita menarik tentang perkembangan sejarah piringan hitam di Indonesia. Penasaran? Klik Disini dan […]

  5. Tony Ahmad berkata:

    Bang Denny, kalau boleh usul, teliti grup-grup musik di Indonesia yang memiliki label rekaman sendiri, misal SONETA GROUP yang memiliki label SONETA RECORD yang masih eksis hingga kini.

    Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s