86 Tahun Bing Slamet

Posted: September 27, 2013 in Ulang Tahun Pemusik

Jika Bing Slamet masih hidup, hari ini 27 September 2013 dia akan merayakan hari ulang tahunnya yang ke 86.Beda satu tahun dengan usia Tony Bennet crooner legendaris yang beberapa pekan silam menggelar konser di sebuah tempat mewah di Jakarta.Saat menyaksikan Tony Bennet yang berpendar dalam benak saya justru sosok Bing Slamet, seniman besar negeri ini yang salah satu kemampuannya adalah bernyanyi.Bing Slamet memiliki suara emas.Tak syak lagi Bing adalah crooner terbaik Indonesia yang hingga saat sekarang ini belum ada yang menandingi.Ketika Tony Bennet melantunkan I Left My Heart In San Fransisco dengan aksentuasi suara yang elegan, yang ada dalam benak saya adalah sosok Bing Slamet.Ah senadainya Bing Slamet masih hidup,mungkin dia akan berduet dipanggung dengan Tony Bennet yang berusia 87 tahun.Bing dan Tony jelas sepantaran.Mereka dibesarkan dalam aura musik yang sama dalam bingkai orkestra maupun big band  .Zaman mereka berdua adalah era golden voice, dimana seorang penyanyi harus memiliki teknik vokal yang mumpuni, sesuatu yang saat sekarang ini bias diselesaikan dengan kecanggihan teknologi.

Bing Slamet dan Idris Sardi di acara Festival Film Asean Tahun 1973

Bing Slamet dan Idris Sardi di acara Festival Film Asean Tahun 1973

Anak muda sekarang mungkin akan bergidik jika menelaah lika liku perjalanan seorang Bing Slamet dalam menapak dunia seni tanpa memanfaatkan aji mumpung tapi kerja keras dalam arti harafiah.Bisa jadi bakat hanya 10 persen, sisanya adalah kerja keras.Bing Slamet dibesarkan dalam suasana negara yang tengah bergejolak.Asap mesiu masih mengepul dimana-mana.Negeri ini masih mencari jatidiri.Dan disaat yang krusial seperti itu Bing Slamet tetap kokoh dalam dunia hiburan.Bing bernyanyi,bermusik,berakting bahkan melawak.Suatu pencapaian yang rada muskil,bahkan Bing Crosby yang diidolakan Bing Slamet mungkin tak memiliki kemampuan seni yang beragam seperti Bing Slamet.Semua ditekuninya dengan sungguh-sungguh.Sekali lagi,bukan aji mumpung.

Karya karya Bing Slamet terukir dalam kelebat adegan film layar lebar,piringan hitam,kaset serta layar kaca.Sejak wafatnya Bing Slamet pada 17 Desember 1974, jejak karya-karya Bing Slamet sempat pupus dikarenakan kita semua adalah bangsa yang kurang telaten,kurang menghargai sosok seniman yang sebetulnya begitu berjasa menghibur kita disaat mereka masih hidup.Era putus generasi memang selalu menjadi bagian dalam apresiasi seni di negeri ini, salah satu contoh konkretnya adalah karya karya Bing Slamet yang nyaris hilang ditelan zaman begitu saja. Namun untunglah masih ada segelintir orang yang masih berupaya untuk menghadirkan Bing Slamet sebagai salah satu saksi sejarah budaya pop Indonesia.Beberapa karya karya Bing Slamet dalam dunia musik,film dan komedi mulai terlihat bertebaran di kanal Youtube.Ini tentu sebuah fenomena menarik,pusaka budaya pop masalalu Indonesia sedikit demi sedikit mulai mengemuka.

Bing Slamet dalam film Koboi Cengeng (1974) bersama Vivi Sumanti,Iskak dan Mieke Wijaya

Bing Slamet dalam film Koboi Cengeng (1974) bersama Vivi Sumanti,Iskak dan Mieke Wijaya

Beberapa anak muda,meski tak terlalu banyak, mulai menafsir ulang karya-karya musik Bing Slamet.Jika menuliskan keyword Bing Slamet pada kolom Google kita mulai banyak menemukan arsip arsip perihal Bing Slamet meski tak terlalu banyak.Sekitar 5 tahun sebelumnya banyak yang kecewa tak menemukan data siapa itu Bing Slamet saat melakukan googling pada mesin pencari yang canggih itu.

Bing Slamet (Foto Dokumentasi Irama )

Bing Slamet (Foto Dokumentasi Irama )

Kini orang mulai mengetahui bahwa nama lengkap Bing Slamet adalah Raden Slamet dilahirkan di Cilegon Jawa Barat 27 September 1927.Dan Bing adalah nama depan yang dipasangnya sebagai jatidiri dalam dunia hiburan yang diambil dari nama Bing Crosby seniman serba bisa Amerika yang digandrunginya.

Kita pun mulai mengetahui bahwa Bing Slamet telah bermain film layar lebar sejak tahun 1950 lewat film bertajuk Irawati dan ditahun yang sama Bing untuk pertamakali masuk studio rekaman di Singapore menyanyikan lagu bertajuk Cemas.Bahkan sebetulnya sejak tahun 1939 saat masih berusia 12 tahun Bing Slamet telah bergabung dalam kelompok musik Terang Boelan pimpinan Husin Kasimun atau yang lebih dikenal dengan nama Husin Bangka dan ditahun 1944 bergabung dalam kelompok sandiwara Pantja Warna.

Seni adalah kehidupan Bing Slamet. Bing menampik keinginan orang tuanya agar dia menjadi dokter maupun insinyur. Meski sempat bersekolah di  HIS Pasundan, HIS Tirtayasa, Sjugakko, dan STM Pertambangan. Tekad Bing bulat: mengabdi untuk seni. Bing Slamet lalu bergabung pula pada Divisi VI Brawidjaja sebagai Barisan Penghibur. Di sini, kemampuannya bermusik dan melawak mulai terasah. Seolah tanpa pamrih, Bing lalu bersedia ditempatkan di kota mana saja. Bing yang mulai masuk Radio Republik Indonesia (RRI) kemudian ditempatkan di Yogyakarta dan Malang. Ia pun sempat bergabung di Radio Perjuangan Jawa Barat. Di tahun 1949, untuk pertamakali suara baritone Bing Slamet menghiasi soundtrack film Menanti Kasih yang dibesut Mohammad Said dengan bintang A Hamid Arief dan Nila Djuwita .

Karya karya musik Bing Slamet (Foto Denny Sakrie)

Karya karya musik Bing Slamet (Foto Denny Sakrie)

Kariernya di bidang tarik suara sebetulnya terlecut ketika memasuki dunia radio. Di RRI, Bing Slamet banyak menyerap ilmu dan pengalaman dari pemusik Iskandar dan pemusik keroncong tenar, M Sagi, serta sahabat-sahabat musikal lainnya seperti Sjaifoel Bachrie, Soetedjo, dan Ismail Marzuki. Dan, yang banyak memengaruhinya adalah penyanyi Sam Saimun yang dikenalnya sejak bertugas di Yogyakarta pada tahun 1944. Bagi Bing, Sam Saimun adalah tokoh penyanyi panutannya.

Antara tahun 1950 sampai 1952, Bing Slamet aktif pada Dinas Angkatan Laut Surabaya dan Jakarta. Di tahun 1952 saat Bing ditempatkan lagi di Jakarta, dia bergabung di RRI Jakarta dan mulai aktif mengisi acara bersama Adi Karso. Bakat dan kemapuan musiknya mulai memuncak saat bergabung di RRI hingga tahun 1962.

Rekaman rekaman single Bing Slamet di era 50-an diiringi oleh Orkes Keroncong M Sagi dan Irama Quartet yang didukung Nick Mamahit (piano), Dick Abell (gitar), Max Van Dalm (drum), dan Van Der Capellen (bas). Bing Slamet pun membangun sebuah kelompok musik yang diberi nama Mambetarumpajo, merupakan akronim dari Mambo, Beguine, Tango, Rhumba, Passo Double, dan Joged, yang saat itu adalah jenis musik untuk mengiringi dansa.

Tahun 1962, Bing bersama sahabatnya sejak kecil Amin Widjaja sang pemilik label Bali Record  membentuk sebuah grup musik yang diberi nama Eka Sapta dengan pendukungnya, antara lain Bing Slamet (gitar, perkusi, vokal), Idris Sardi (bass,biola), Lodewijk ‘Ireng’ Maulana (gitar, vokal), Benny Mustapha van Diest (drum), Itje Kumaunang (gitar), Darmono (vibraphone), dan Muljono (piano). Eka Sapta menjadi fokus perhatian, karena keterampilannya memainkan musik yang tengah tren pada zamannya. Eka Sapta lalu merilis sejumlah album pada label Bali Record, Canary Record, dan Metropolitan Records, yang kelak berubah menjadi Musica Studio’s. Eka Sapta adalah kelompok musik pop yang terdepan di negeri ini pada era 60-an hingga awal 70-an.Bing Slamet hebatnya mampu membagi konsentrasi antara bermain musik, menyanyi, bikin lagu, melawak, dan main film layar lebar. Setidaknya ada 20 film layar lebar yang dibintanginya, mulai dari era film hitam putih hingga berwarna. Bing pun tercatat beberapa kali membentuk grup lawak antara era 50-an hingga 70-an di antaranya Trio Los Gilos, Trio SAE, EBI, dan yang paling lama bertahan adalah Kwartet Jaya bersama Ateng, Iskak, dan Eddy Soed.

Bing Slamet dan Adi Karso bermain musik di pesta yang diadakan Soejoso Karsono pemilik label Irama (Foto Dokumentasi Keluarga Soejoso Karsono)

Bing Slamet dan Adi Karso bermain musik di pesta yang diadakan Soejoso Karsono pemilik label Irama (Foto Dokumentasi Keluarga Soejoso Karsono)

Untuk pengabdian dalam seni budaya , Bing, pada 10 Juni 1972 menerima Piagam Penghargaan dari Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. Dan baru pada  pemerintahan Presiden Megawati Soekarno Puteri, Bing Slamet memperoleh Anugerah Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma di Istana Negara tanggal 7 November 2003.

Dan hari ini,27 September 2013, kita kembali merayakan hari lahir Bing Slamet yang ke 86

Iklan
Komentar
  1. Rizky Septian berkata:

    bukannya nama asli Bing Slamet itu Ahmad Syech Albar, ya om?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s