Searching For Sarong Man

Posted: Oktober 2, 2013 in Tinjau Album

Melalui surat elektronik saya dihubungi Jason Connoy, lelaki kelahiran tahun 1977 yang bermukim di Ontario Kanada.Connoy yang berambut gondrong ini adalah pemilik label kecil Strawberry Rain.Label ini mengkhususkan diri merilis album-album reissue yang langka dan telah lama hilang diperedaran. Banyak karya-karya pemusik yang berasal dari berbagai belahan dunia dirilis oleh Strawberry Rain.Isi surat elektronik Connoy itu meminta bantuan saya untuk menjadi penghubung kepada Kelompok Kampungan, kelompok musik  folk etnik asal Yogyakarta yang pernah merilis album “Mencari Tuhan” lewat label Akurama Record tahun 1980.Saya lalu bertanya pada Jason Connoy :”

Bram Makahekum Kepala Suku Kelompok Kampungan (Foto Dahlan Rebo Pahing)

Bram Makahekum Kepala Suku Kelompok Kampungan (Foto Dahlan Rebo Pahing)

”Apa yang membuat anda tertarik untuk merilis ulang album Kelompok Kampungan ini ? “. Jason Connoy yang pernah membantu Now Again Record merilis kompilasi Those Shocking  Shaking Day yang berisikan lagu-lagu rock dan folk band Indonesia era 70an lalu menjawab :

“ Well, Musiknya unik,sebuah karya folk yang progresif dan original.Karena saya sama sekali belum menemukan padanan musik dari Kelompok Kampungan ini.Mereka berusaha menampilkan bunyi bunyian musik yang natural.”  .

Tukang Tabuh Kelompok Kampungan InniSiSri (Foto Dahlan Rebo pahing)

Tukang Tabuh Kelompok Kampungan InniSiSri (Foto Dahlan Rebo pahing)

 

Apabila kita menyimak  perpaduan antara musik dan lirik-lirik lagunya  terlihat bahwa disamping menempatkan medium  sebagai penyaksi,Kelompok Kampungan pun menempatkan aura berkeseniannya sebagai penggugat.Iman mereka bisa jadi setara  dengan Woody Guthrie atau Bob Dylan sekalipun yang dengan medium musik  folk melontarkan gugat terhadap apapun,baik dalam tata kehidupan hingga sosial dan politik.

Saya mengenal Jason Connoy melalui media sosial .Awalnya Connoy menghubungi  saya melalui inbox Facebook, menawarkan ketertarikan untuk merilis beberapa album album klasik Indonesia.Tapi saya saat itu entah kenapa saya tak tertarik dan  tak pernah merespon maksud Connoy yang punya obsesi ingin membuat katalog musik Indonesia terutama era 70an. Tak lama berselang  saya mendengar Jason Connoy ikut terlibat merancang kompilasi Those Shocking Shaking Day bersama Egon dari  Now Again Record yang mendapat tanggapan positif dari pencinta musik mancanegara.Berbagai review baik di media online maupun media cetak diberbagai belahan dunia memuji album kompilasi tersebut. Lalu saya juga mendengar Connoy lewat labelnya sendiri Strawberry Rain kemudian merilis album kompilasi AKA Hard Beat disusul 3 album solo Benny Soebardja.Kesemuanya dibikin dalam format CD dan vinyl.

Jason pun meminta saya untuk membuat liner notes album reissue Kelompok Kampungan “Mencari Tuhan” itu.Ternyata Connoy diam diam melakukan browsing atas berbagai tulisan-tulisan musik yang saya tulis di beberapa blog pribadi saya. Saya menyanggupi tawaran Jason Connoy.Nah,yang jadi persoalan sekarang  adalah bagaimana menemui dedengkot Kelompok Kampungan yaitu Bram Makahekum. Saya betul-betul tak mengetahui keberadaannya secara pasti.Yang saya ingat Bram bermukim di Yogyakarta.Antara tahun 2011 dan 2012 saya ke Yogyakarta dalam rangka diskusi dan workshop musik, kesempatan ini saya gunakan untuk menelusuri keberadaan Bram Makahekum.Ternyata komunitas pemusik di Yogyakarta malah banyak yang tak mengenal beliau. Tapi saya tetap berusaha mencari si Sarong Man, lelaki yang kerap menggunakan sarung itu.  Menurut kabar mas Bram ini masih hidup dalam aura kesenimanan yang kuat.Dia bahkan tak tersentuh teknologi.Bayangkan alamat email dan rekening bank saja dia tak punya.Saya cari informasi kiri kanan tentang keberadaan Bram Makahekum.Saya teringat,setelah Reformasi 1998,Bram Makahekum sempat merilis ulang album Mencari Tuhan terutama lagu Bung Karno atas permintaan sebuah Partai Politik di Jakarta .Saat peluncuran album itu sebetulnya saya diundang oleh almarhum Innisisri drummer Kelompok Kampungan.Namun sayangnya,saat itu saya tak sempat untuk menghadirinya.        

Kelompok Kampungan di TVRI tahun 1981 (Foto Dahlan Rebo pahing)

Kelompok Kampungan di TVRI tahun 1981 (Foto Dahlan Rebo pahing)

                    

Saya yakin banyak yang tak mengenal atau pernah mendengar kelompok musik yang menamakan dirinya Kelompok Kampungan.Padahal sesungguhnya kelompok musik inilah yang menjadi cikal bakal Sirkus Barock,Kantata Takwa,Dalbo hingga Swami.Kelompok musik yang tampil dengan aura sangat Indonesia ini lahir dari komunitas Bengkel Teater WS Rendra di Yogyakarta.  Ketika Rendra dan Bengkel Teater melakukan pentas pertunjukan teater, selalu ada sekelompok barisan pemusik yang menjadi barikade scoring musiknya yang dinamai Nyai Pilis.dalam Nyai Pilis ini terdapat Sunarti Rendra,isteri Rendra yang terampil nyinden, juga ada beberapa nama lain seperti Sawung Djabo ,Edi Haryono serta Bram Makahekum. Pada paruh era 70an dari Nyai Pilis menyeruaklah kelompok musik lainnya yang kemudian diberi nama Kelompok Kampungan. Kenapa disebut Kelompok Kampungan ? Bram Makahekum (64 tahun) sang penggagas melontar jawab : “Di masyarakat kita hal-hal yang disharmonis,norak atau lugu disebut kampungan.Tapi menurut kami kampungan memiliki makna yang lain,kampungan adalah kejujuran,menerima apa adanya,tapi tetap memiliki semangat kreatif.”.

Secara panjang lebar Bram Makahekum yang berasal dari Flores ini menyebutkan bahwa apabila pemuda pemuda kampung berkumpul dan mencoba berkreasi dalam bidang kesenian bisa jadi keseniannya menjadi Kampungan.
Kampungan lahir dari orang orang kota yang mengartikan Kampungan sebagai ungkapan dari ketidaksiapan, naif, bodoh, atau  kurang ajar,
“ Kelompok ini bernama Kampungan karena bagaimanapun juga kami berasal dari kampung, kesenian kami bertolak dari spontanitas dalam menanggapi situasi yang mengelilingi dan melibatkan kami dalam permasalahan hidup sehari-hari
Permasalah hidup yang menantang adalah masalah kebudayaan, masalah pergaulan antar manusia, masalah ekonomi, masalah sosial politik, ilmu pengetahuan yang kami serap semampu kami. Musik sebagai letusan pengalaman, lahir begitu saja dan menjadi tanggung jawab kami.
Kami tidak berpretensi menggali musik tradisi ini dan itu, mencipta musik yang berkepribadian nasional, tapi yang jelas Kelompok Kampungan mencoba bikin musik berjiwa Kampungan, artinya kami siap dalam ketaksiapan, memanfaatkan peralatan yang bisa dijangkau, mempertanyakan keadaan sekarang dan masa depan. Lirik kami tidak manis manis, tinggi tinggi, seadanya saja.” Itu yang ditulis Bram Makahekum sebagai prakata  di sampul kaset “Mencari Tuhan” yang dirilis Akurama Record 33 tahun  yang lalu .

Kelompok Kampungan (Foto Dahlan Rebo Pahing)

Kelompok Kampungan (Foto Dahlan Rebo Pahing)

Lalu saya menghubungi mas Otig Pakis,seniman yang berasal dari komunitas Bengkel Teater yang kerap nongkrong pula di kediaman Yockie Surjoprajogo dibilangan Bumi Serpong Damai .dari mas Otig Pakis inilah akhirnya saya mendapatkan nomor handphone Bram Makahekum. Beberapakali saya menelpon mas Bram Makahekum tapi tak pernah diangkat.Menurut Otig, Bram itu masih tetap berkelana ke berbagai daerah.Darah kesenimanannya masih menggelegak walaupun sebetulnya dia masih menetap di Yogyakarta.Hingga suatu hari Bram Makahekum lalu menghubungi saya melalui telepon genggamnya . Pencarian Sarong Man tampaknya segera berakhir  Selanjutnya saya utarakan pesan dari Jason Connoy yang ingin merilis ulang album Mencari Tuhan.Bram terperanjat.”Hah…..album kayak gitu kok ada yang mau rilis.Bule lagi ?” sergah Bram dengan logat Jawa yang medok,padahal Bram ini asli Flores.Mulailah saya menyampaikan tawaran nominal yang diajukan Jason ke Bram Makahekum.Setelah beberapa kali negosiasi  akhirnya muncul kesepakatan .Pucuk dicinta ulam tiba, Bram Makahekum dengan perantara saya menyetujui tawaran reissue album Kelompok Kampungan  dari Jason Connoy.

Ketika saya bersiap-siap berangkat ke Yogyakarta untuk melakukan pembayaran royalty yang dititipkan Connoy, tiba-tiba Bram Makahekum menelpon saya dan mengatakan bahwa besok dia tiba di Jakarta dengan menggunakan kereta api.Saya lalu mengajak Bram Makahekum untuk bertemu di sebuah mall di Jakarta Selatan tapi dia menolak.”Kita bertemu di Wapres (Warung Apresiasi) Bulungan aja Den” ujar Bram Makahekum.

Saya akhirnya bersua dengan Bram Makahekum si Sarong Man di Bulungan.Tubuhnya terlihat ringkih, dan kerap terbatuk-batuk.Rambutnya yang luruh pun tertutup topi.Sosoknya di era 70an yang gagah perkasa,bertelanjang dada,berambut gondrong dan mengenakan sarung tak terlihat lagi.Bram mengaku sering keluar masuk rumah sakit karena didera penyakit.Tapi semangatnya masih bersemayam dalam jiwanya yang berapi-api.

Setelah dua tahun berselang ,barulah di tahun 2013 ini album Mencari Tuhan dari Kelompok Kampungan dirilis oleh Strawberry Rain dalam bentuk cakram padat dan piringan hitam.Ternyata cukup lama bagi Jason Connoy untuk mencari sound yang paling bagus dari sekian banyak materi piringan hitam yang dibelinya di Jakarta sebagai materi album reissue itu. ”Saya tidak berhasil mendapatkan reel masternya yang asli” ungkap Jason Connoy.Menurut Bram Makahekum,materi asli rekaman Kelompok Kampungan ikut terbakar pada saat terjadi kerusuhan besar pada tahun 1998 silam.Kini album Mencari Tuhan dari Kelompok Kampungan itu dirilis Strawberry Rain Record sebanyak 1000 copy CD dan 700 copy  vinyl.Sepenggal sejarah musik Indonesia yang nyaris pudar ditelan zaman masih bisa kita simak, walaupun gagasan merestorasi dokumentasi rekaman musik Indonesia apa boleh buat masih datang dari orang asing yang terpesona dengan karya-karya kita. 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s