Setelah Dua Dasawarsa,Akhirnya Bersua (Lagi) Dengan Leo Kristi

Posted: Oktober 31, 2013 in Sosok

leoTanpa direncanakan,tanpa dijadwalkan akhirnya saya bertemu kembali dengan sosok Konser Rakyat Leo Kristi. Kejadian ini berlangsung  jumat malam pada tanggal 30 Agustus 2013 di Museum Nasional Jalan Medan Merdeka Jakarta. Pertemuan ini menariknya justru di museum dalam sebuah peristiwa budaya dimana Dewa Budjana meluncurkan buku tentang gitar-gitarnya bertajuk Dawai-Dawai Dewa Budjana yang ditulis Bre Redana.

Setelah Dewa Budjana melakukan ritual musik dan tari sebagai simbol peluncuran bukunya, para undangan kemudian diajak untuk mengitari ruangan eksibisi dimana terpajang 34 gitar milik Dewa Budjana yang mendapat sentuhan seni dari sederet perupa seperti I Nyoman Gunarsa,Jeihan Sukmantoro ,Putu Sutawijaya serta Srihadi Soedarsono. Sayapun ikut berkeliling di ruangan itu melihat-lihat gitar-gitar milik gitaris Dewa Budjana telah didandani secara artistik oleh para perupa ternama itu.Tiba-tiba dari jauh mata saya tertumbuk pada sosok seorang lelaki dengan gaya yang kasual, mengenakan kaos berwarna biru muda lengkap dengan topi dan kacamata yang trendy. Saya sangat mengenal sosok ini. Saya lalu datang menyambangi lelaki separuh baya yang tampak lebih muda dari usia sesungguhnya ini.Tak syak lagi dia adalah Leo Kristi.

“Mas Leo apakabar…….” saya menyapa.

“Eh……baik baik.Lama juga ya kita tidak ketemu” timpal Leo Kristi sembari tersenyum

“Iya mas hampir dua dasawarsa…….. ya……” ujar saya sambil menyalami Leo Kristi.

Leo Kristi masih tetap seperti dahulu.Malah kini Leo terlihat kian segar.Dia seperti highlander yang tak pernah bertambah usianya sedetik pun.

“Saya menjalani hidup tanpa neko-neko.Mengalir aja tanpa beban” itu jawaban yang diungkap Leo ketika saya menanyakan perihal tak segarispun garis ketuaan terlihat dari raut mukanya.

Saya mengenal karya Leo Kristi di sekitar tahun 1977, saat itu saya masih duduk di bangku kelas 2 SMP di Makassar.Melalui majalah Aktuil saya membaca sepak terjang Leo Kristi disaat Indonesia tengah dilanda demam folk songs.Bahkan majalah Aktuil pun merilis album debut Leo Kristi bertajuk “Nyanyian Malam“.Gagasan musik yang dilontarkan Leo Kristi terasa lebih Indonesia.Mengambil idiom musik rakyat,Leo meracik musiknya dalam pola melodi dan lirik yang menggetarkan terutama saat lirik-lirik lagu Leo menyelusupkan semacam semangat patriotisme dan nasionalisme yang bercampur dengan kritik sosial atas ketimpangan-ketimpangan yang masih saja terjadi disekitar kita. Dengan berbekal gitar,biola,recorder serta harmonisasi vokal para penyanyi latar,suara Leo Kristi yang menggelegar seolah menampar pikiran kita tentang kehidupan.

Sejak saat itulah saya mengikuti karya-karya Leo Kristi dengan membeli kaset-kasetnya.

Leo Kristi memang meletup-letup. Dia adalah salah satu dari sedikit seniman musik negeri ini yang tetap konsisten dengan konsep musiknya yang berembel-embel ‘Konser Rakyat’. Lelaki yang lahir di kota Pahlawan, Surabaya, sekitar 11 minggu menjelang hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia itu kini telah berusia 68 tahun. Hampir tak ada perubahan yang berarti dalam jejak-jejak musiknya. Leo Kristi tetap dalam konsep musiknya yang ditorehnya di pertengahan era 70-an.

Pemilik nama lengkap Leo Imam Soekarno ini masih tetap berkelana dan mengembara ke pelosok-pelosok daerah. Melakukan workshop musik dengan khalayak setempat. Lalu menjelmalah serangkaian lagu-lagu yang berformat kesaksian.

Leo memang menempatkan dirinya sebagai penyaksi, bukan sebagai penggugat. Apa yang dilihatnya, apa yang dirasakannya, dan apa yang bergejolak dalam nadinya. Semuanya dituangkan dalam torehan lirik dan sebongkah nada. Dia ibarat trubadur yang berkelana dari satu daerah ke daerah yang lain. Hari ini di pedesaan Bulukumba Sulawesi Selatan, bulan depan di Kalimantan, setahun kemudian melangkah di Jimbaran, Bali dan entah dimana lagi.

Dan, tampaknya Leo memang menikmati hidup sebagai seorang bohemian. Teman-teman dekatnya bahkan tak tahu atau tak bisa menebak kapan Leo Kristi akan berlabuh di suatu tempat. Gagasan-gagasannya bertualang kesana-kemari.

Untuk pertamakali saya berjumpa dengan Leo Kristi saat Leo Kristi menggelar konser di Makassar tahun 1984.Saat itu Leo Kristi tampil bersama Konser Rakyatnya di Artis Theater yang terletak di ujung Jalan Gunung Lompobattang. Untuk pertamakalinya saya melihat secara langsung konser Leo Kristi yang berdinamika tinggi dengan eksplorasi vokal yang dahsyat.Suara Leo Kristi m,enggelegar disetiap sudut gedung Artist Theater yang sehari-harinya adalah sebuah bioskop.

Beberapa pekan sebelum pertunjukan di Artis Theater itu,Leo Kristi telah menghabiskan waktunya di Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan bersama dengan para pembuat perahu Phinisi.Di pedalaman suku Makassar itu Leo Kristi berbaur bersama rakyat kecil, mendulang arti kehidupan.Hal semacam ini memang kerap dilakukan Leo Kristi diberbagai daerah yang tersebar dipenjuru Nusantara.Pengalaman-pengalaman itulah yang kemudian tertuang dalam karya-karyanya.Leo Kristi tak pelak lagi adalah seorang penyaksi. Sebagian besar lagu-lagu berdasarkan pengalaman nyata itulah yang kemudian disenandungkannya penuh ekspresi diatas panggung pertunjukan.

Saya terpana,saya terbawa larut dengan penampilan musik Leo Kristi yang menurut hemat saya terasa sangat Indonesia.Terbersit dalam benak saya mungkin musik Leo Kristi inilah yang tepat disebut Folk Indonesia.

Usai pertunjukan saya mencegat Leo Kristi dibelakang panggung.Peluh masih berderai di dahi dan menjuntai ke leher.Saya memberanikan diri berbicara dengan Leo Kristi,sosok yang sangat tegar saat di panggung pertunjukan. Berbeda saat Leo tampil di panggung, saat berbicara dengannya Leo bertutur lembut dan lirih. Petikan petikan perbincangan saya yang singkat kemudian saya tulis dalam sebuah tulisan .

Leo pun bertutur ikhwal tentang dirinya dan tentang musiknya. Menurut Leo, dia mengenal musik sejak kecil. Titisan bakat bermusik itu turun dari  sang ayah, Raden Ngabehi Iman Soebiantoro, yang mempunyai hobi bermusik. Kemampuan bermusik tertular ke Leo yang selain mampu bernyanyi juga pintar memainkan pelbagai instrumen musik mulai dari gitar, flute, piano, hingga biola. Menurut Leo, ”Musik adalah sahabat, dan nyanyian adalah kecintaan”.

Tampaknya falsafah itulah yang terus dikepitnya hingga sekarang ini. Seperti lazimnya anak kecil, ia gandrung terhadap musik. Leo pun mengambil kursus gitar pada Tony Kardijk,  Selain itu ia merasa perlu untuk memperdalam teknik memetik gitarnya pada dua musisi lainnya yaitu Oei Siok Gwan dan Poei Sing Gwan.

Untuk teknik vokal, pria ini menyerap ilmu vokalia pada John Topan dan Nuri Hidayat. Di sini Leo mendapatkan berbagai teknik bernyanyi mulai phrasering, vibrato, falsetto, breathing, dan entah apa lagi.

Leo mulai menjejakkan kaki di pentas pertunjukan saat membentuk Lemon Trees bersama almarhum Sudjarwoto yang lebih dikenal sebagai Gombloh dan Franky Sahilatua yang kemudian dikenal dengan duo Franky & Jane. Leo pun sempat membentuk duet dengan seorang penyanyi wanita bernama Kristi. Keduanya lalu dikenal sebagai Leo Kristi. Ketika duo ini bubar, Leo tetap menggunakan nama Leo Kristi sebagai jatidirinya. Terkadang Leo mengaku bahwa Kristi itu adalah nama gitar hitam yang selalu diusungnya jika manggung. ”Kristi itu adalah singkatan Keris Sakti,” tuturnya. Dan, memang gitar itulah senjata utama Leo sebagai seorang trubadur yang telah melangkah dalam empat dasawarsa.

Tulisan tentang Leo Kristi pun akhirnya dimuat di koran Makassar Pedoman Rakyat serta dimuat di kolom Nama dan Peristiwa harian Kompas Jakarta. Dalam setiap kesempatan Leo Kristi selalu berujar, ”Kita selalu mengharapkan, kebudayaan bisa menjadi jembatan hubungan menghubungkan cinta kasih sayang sesama manusia.”

Suasana di seitar ruang pameran gitar Dewa Budjana di Gedung Museum Nasional kian ramai.Pengunjung hilir mudik menyimak dengan takzim pameran gitar yang unik itu.Saya dan Leo Kristi masih tetap berbincang.

“Apakah mas Leo masih bermusik,masih bikin lagu ?” sergah saya.

Dia tersenyum lalu menjawab : “Masih mas……sebagai pemusik takdir saya ya bikin musik” jawabnya tangkas.

Tiba tiba saya merasa seolah-olah suara Leo Kristi menggelegar di ruangan Gedung Museum Nasional :

Ayo nyalakan api hatimu,
seribu letupan pecah suara,
sambut dengan satu kata: merdeka…!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s