Arsip untuk November, 2013

Roni Harahap memainkan piano akustik dikelilingi anggota Guruh Gipsy

Roni Harahap memainkan piano akustik dikelilingi anggota Guruh Gipsy

Ini peristiwa tahun 1975 dimana Guruh Soekarno Putera dan Roni Harahap hingga larut malam masih berkutat merampungkan sebuah lagu untuk album Guruh Gipsy dikediaman Guruh di Jalan Srwijaya 26 Kebayoran Jakarta Selatan.

”Saya sudah nggak sabar melihat Guruh yang menyenandungkan lagu ciptaannya tentang indahnya Indonesia.Mendayu dayu.Kurang semangat “ ujar Zahrun Hafni Harahap atau lebih dikenal dengan panggilan Roni Harahap pianis Gipsy yang tergila gila dengan Keith Emerson.

“Karena kesal,lalu saya mainkan intro lagu disko yang lagi ngetop saat itu “That’s TheWay I Like It dari KC & The Sunshine Band.Tapi aksentuasinya saya balik” ujar Roni Harahap .

“Wah,itu lagu ciptaanmu Ron ?” Tanya Guruh lirih.

“Iya……yang gini dong Gur biar lebih semangat” pancing Roni.

Alhasil Roni Harahap merampungkan seluruh melodi lagunya.Guruh kemudian beringsut menambahkan barisan lirik.Judulnya pun gagah : Indonesia Maharddhika.Sebuah lagu bercorak Bali rock pun menjelma.

Guruh yang gemar membaca memang terampil menyusun kata untuk lirik lagu.Guruh yang terpengaruh gaya penulisan  Ronggowarsito kemudian menuliskan lirik yang tak lazim..

“Ron,saya membuat lirik lagu dengan mengabadikan nama personil Guruh Gipsy nih” celutuk Guruh.Secara menakjubkan Guruh akhirnya berhasil memasukkan  nama pendukung Guruh Gipsy (Oding,Roni,Kinan,Abadi,Chris dan Guruh)  pada setiap huruf pertama lirik lagu “Indonesia Maharddhika”. :

Om awignam mastu DING aryan ring sasi karo

ROhini kanta padem NIshite redite pratame

KIlat sapte tusteng nante NANte wira megawi plambang

Aku dengar deru jiwa BAgai badai mahaghora DI nusantara raya

Cerah gilang gemilang Harapan masa datang Rukun damai mulia

Indonesia tercinta Selamat sejahtera

GUnung langit samudera RUH semesta memuja

Iklan

Mungkin berbeda dengan penyanyi-penyanyi sekarang yang sangat berambisi ingin menjadi penyanyi internasional dengan menggembar-gembirkan slogan Go Internasional namun tak berbuah bukti, maka Vina Panduwinata tanpa banyak gembar-gembor malah telah melakukan hal tersebut sekitar 35 tahun yang lalu lewat rilisan singles Java/Singles Bar pada label internasional RCA Jerman di tahun 1978.

Vinyl singles Vina Panduwinata di tahun 1978 "Java" yang dirilis RCA Record (Foto Denny Sakrie)

Vinyl singles Vina Panduwinata di tahun 1978 “Java” yang dirilis RCA Record (Foto Denny Sakrie)

 

 

 

 

 

 

Mungkin banyak yang tak mengetahui hal ini. Dan uniknya, Vina Panduwinata malah memilih untuk kembali ke Indonesia menekuni karir musiknya yang dimulai  sejak tahun 1980 lewat album “Citra Biru” yang dirilis Jackson Records and Tapes.Menurut Vina,ikhwal lembalinya ke Jakarta itu atas anjuran pemusik almarhum Mogi Darusman.Mogi yang juga pernah merilis beberapa rekaman di Austria dan Barcelona itu menganjurkan agar Vina kembali ke Indonesia.

M

 

 

Inilah singles internasional penyanyi (Indonesia Vina Panduwinata (Foto Denny Sakrie)

Inilah singles internasional penyanyi (Indonesia Vina Panduwinata (Foto Denny Sakrie)

ogi yakin bahwa Vina akan menjadi sosok yang lebih dibicarakan orang dalam khazanah musik Indonesia.Apa yang dianjurkan Mogi ternyata memang benar.Vina akhirnya meraih sukses gilang gemilang di negaranya sendiri,Indonesia.

Album ini ada yang mau jual seharga Rp 1,3 Milyar

Album ini ada yang mau jual seharga Rp 1,3 Milyar

Saya langsung ngakak terpingkal-pingkal seketika,saat melihat sebuah iklan terpasang di laman kaskus seperti tertera dibawah ini.Yuk kita lihat bersama isi iklan rada gemblung ini .Silakan  :

Piringan Hitam ‘Bersuka Ria Dengan Irama Lenso’ Ir. Soekarno

18-05-2013 08:22

Kondisi Barang : Second
Harga : Rp. 1.300.000.000
Lokasi Seller : Jawa Barat

Dijual cepat koleksi piringan hitam ‘Bersuka Ria Dengan Irama Lenso’ dengan tanda tangan Ir. Soekarno di belakang PH. Beserta koleksi kaset-kaset lama & antik dengan jenis musik Rock ’70, Jazz, Country, Oldiest, Pop Indonesia lama, dll. kurang lebih ada 20.000 pieces kaset. Barang ada di Bandung.

Dijual dengan harga 1,3 M.
untuk nego atau informasi lebih lanjut silahkan hubungi:
085314812323 atau (022) 70385820

cek lebih lanjut untuk koleksi kaset di:
tokobagus.com | search: Kaset Antik Bandung
kaset-antik.blogspot.com

 
Hmmmm………ini yang jual piringan hitam ini pasti orang baru dan ingin mendadak kaya seketika. Mungkin ketika menemukan piringan hitam ini naluri bisnisnya mencuat seketika karena menyangka tulisan serta tandatangan berwarna merah yang ada di sampul belakang album ini adalah tandatangan asli almarhum Bung Karno. Anda bayangkan jika ada kolektor naif yang berminat dan membeli album ini seharga 1 Milyar.
Beberapa waktu lalu di basemen Blok M Square, seorang pedagang piringan hitam bernama Omen menjual album “Mari Bersuka Ria Dengan Irama Lenso” seharga Rp 700.000.Ada yang bilang itu harganya telah melesat tinggi keatas.Tapi ada yang berargumen rasanya masih masuk akal karena album yang dirilis pada tanggal 14 April 1965 ini dalam kondisi mulus serta dilengkapi semacam buklet tipis tentang isi album yang didukung Jack Lesmana dan kawan-kawan itu.Biasanya jika ada pedagang yang menjual album ini sering tak menyertakan buklet kecil tersebut.
Disekitar tahun 1990an akhir album yang berisikan lagu Gendjer Gendjer yang kontroversial itu harganya masih sekitar 15 ribu atau paling tinggi sekitar 20.000 atau 25.000.
Memasuki era 200an di saat kian banyak orang yang berminat untuk mengumpulkan album-album Indonesia era masa lalu,harganya mulai naik antara Rp 50.000 hingga Rp 150.000 atau Rp 200.000 tergantung kondisi dari piringan hitam tersebut.
Dan akhirnya penawaran sebesar Rp 1,3 milyar di kaskus itu jadi bahan guyonan orang-orang.Ah……sudahlah
 
 

Ngak Ngik Ngok Versus Irama Lenso

Posted: November 25, 2013 in Sejarah
Sampul belakang album mari Bersukaria dengan Irama Lenso rilisan Irama tahun 1965 dengan tandatangan Presiden Soekarno pada 14 April 1965

Sampul belakang album mari Bersukaria dengan Irama Lenso rilisan Irama tahun 1965 dengan tandatangan Presiden Soekarno pada 14 April 1965

Apa boleh buat musik rock n’roll yang merupakan janin dari eksperimentasi musik blues yang dibawa kaum Afrika di Amerika pada akhirnya menjejal sebagai musik pergaulan yang mengharu-biru dunia di pelosok manapun termasuk Indonesia.Pada paruh era 50an negara kita pun tak kuasa menghadang derasnya arus rock n’roll yang jika ditelusuri ikhwal muasalnya merupakan tribal music dari Afrika.Rock n’roll yang sarat dinamika,lentur dan menjelmakan representasi kebebasan, memang memikat anak muda yang sedang berbuncah-buncah dalam berekspresi.

Saat itu pula Elvis Presley juga merebut simpati banyak anak muda Indonesia dengan sajian rock and rollnya.Budaya pop yang cenderung kebarat-baratan  ini menimbulkan inspirasi bagi anak muda yang kemudian keranjingan membentuk band yang saat itu popular dengan istilah Orkes. Beberapa kompetisi orkes pun mulai diadakan dimana-mana misalnya dengan nama Festival Irama Populer . Presiden Sukarno melihat gejala ini sebagai sesuatu yang meracuni jiwa dan budaya bangsa.Sukarno mengkhawatirkan budaya bangsa lama kelamaan akan terlupakan dan punah ditelan budaya Barat yang sarat kemilau itu.Untuk menangkalnya dalam perayaan Hari Proklamasi 17 Agustus 1959 dikeluarkanlah sebuah manifesto a yang diberi nama Manipol Usdek .Manifesto politik / Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia Pemerintah RI mengeluarkan keputusan untuk melindungi kebudayaan bangsa dari pengaruh asing terutama Barat.Sejak Oktober 1959 siaran Radio Republik Indonesia (RRI) ditegaskan untuk tidak lagi memutar atau memperdengarkan lagu-lagu rock and roll,cha cha,tango hingga mambo yang dinamakan musik ngak ngik ngok oleh presiden Sukarno. Manifesto Presiden Soekarno dan program acara RRI sebetulnya memperlihatkan sikap anti Barat  terutama budaya Barat yang muncul dari lagu-lagu Barat. Namun dengan adanya larangan senacam ini justru memecut kreativitas para seniman musik kita.Lihatlah bagaimana penyanyi Oslan Husein dengan iringan Orkes Teruna Ria yang dipimpin gitaris Zaenal Arifin  membawakan lagu Bengawan Solo karya Gesang dengan gaya bernyanyi ala Elvis Presley.Kejadian ini berlangsung di penghujung era 50an.

Inilah kelompok musik The Lensoist dari kiri Idris Sardi,Jack Lesmana,Munif Bahasuan,Loddy Item dan Maskan

Inilah kelompok musik The Lensoist dari kiri Idris Sardi,Jack Lesmana,Munif Bahasuan,Loddy Item dan Maskan

Disisi lain Presiden Soekarno tak hanya sekedar melarang memainkan musik-musik Barat,tetapi memberikan teladan dengan menggali budaya bangsa.Saat itu untuk menggantikan budaya dansa-dansi yang kerap berlangsung di berbagai Ballroom atau Klab, Bung Karno menggagas munculnya Irama Lenso yang digali dari khazanah seni budaya Maluku.Irama Lenso adalah semacam tarian pergaulan tradisional yang bermuasal dari Ambon Maluku.

Bung Karno dan isterinya Hartini tengah melakukan tarian Lenso

Bung Karno dan isterinya Hartini tengah melakukan tarian Lenso

Lenso adalah saputangan dalam bahasa Maluku.Dalam melakukan gerakan tari dengan iringan ritme musik bertempo medium, setiap orang memegag saputangan dalam genggaman.Tiga seniman musik Indonesia yaitu Jack Lemmers (kelak namanya berganti menjadi Jack Lesmana),Idris Sardi dan Bing Slamet diundang Bung Karno untuk menggali Irama Lenso. Bung Karno sendiri ikut terlibat dalam penggarapan lagu dalam irama Lenso tersebut. Satu diantaranya adalah lagu Bersuka Ria, yang merupakan galian Bung Karno dari khazanah musik daerah.Lagu Bersuka Ria ini kemudian dinyanyikan oleh Rita Zaharah,Nien Lesmana,Bing Slamet dan Titiek Puspa dalam album kompilasi bertajuk Mari Bersuka Ria Dengan Irama Lenso  pada label Irama yang dirilis pada tanggal 14 April 1965.Lagu-lagu yang terdapat di album ini memang sangat bernuansa Indonesia,mulai dari 3 lagu rakyat seperti Soleram,Burung Kakatua dan Gelang Sipaku Gelang, juga ada Bengawan Solo karya Gesang,Euis karya Trihanto,Malam Bainai karya Karim Nun dan Gendjer Gendjer karya Muhammad Arif. Lagu yang terakhir disebut ini kemudian menjadi kontroversi politik saat berlangsungnya Gerakan 30 September 1965 oleh Partai Komunis.

Bing Slamet dan Adikarso

Bing Slamet dan Adikarso

.Gendjer Gendjer yang ditulis oleh seorang seniman LEKRA ini diasosiasi kan sebagai salah satu piranti PKI. Pemerintah Orde Baru dibawah rezim Soeharto melarang lagu Gendjer Gendjer yang dinyanyikan dengan menawan oleh Bing Slamet.Lagu yang bercerita tentang sayur sayuran ini bahkan dianggap sebagai bagian dari ajaran komunisme.

Bung Karno lalu membawa sejumlah seniman musik dalam lawatannya ke Eropa dan Amerika Serikat antara tahun 1964-1965.Sederet pemusik ternama akhirnya disatukan dalam proyek yang diberinama The Lensoist.Mereka terdiri atas para penyanyi  mulai dari Bing Slamet,Titiek Puspa,Nien Lesmana hingga Munif A Bahasuan  serta sederet pemusik seperti Idris Sardi (biola) ,Jack Lesmana (gitar),Bubi Chen (piano) ,Darmono (vibraphone) ,Loddy Item (gitar),Maskan (bass) dan Benny Mustafa (drums).

Mari Bersuka Ria dengan Irama Lenso 1965

Dalam liner note album Mari Bersuka Ria Dengan Irama Lenso, pemusik Sjaiful Nawas menuliskan : “Pemimpin besar Revolusi kita selalu mengandjurkan , agar kita berani berdiri di atas kaki sendiri ,tentu andjuran beliau itu mentjakup bidang musik kita pula.Tadi kita menjebut tentang beat mengiringi Tari Lenso Gaja Baru ,apakah beat itu sudah diketemukan ?  . Kita telah menemukannja dan hasilnja sangatmemuaskan.Beat itu telah dapat didengar dengan njata melalui rekaman terbaru Orkes Irama pimpinan Jack Lesmana bersama penjanji2 tenar seperti  : Titiek Puspa,Nien,Rita Zaharah dan Bing Slamet “.

 

Chamber Jazz – Cair dan Intim

Posted: November 22, 2013 in Konser

Iwan Hasan adalah nama yang kerap dikonotasikan dengan gerakan musik rock progresif terutama ketika dia bermain bersama kelompok yang dibentuknya Discus.Andien sendiri adalah nama yang selalu diingat orang ketika melantunkan lagu-lagu beratmosfer jazz pop.Keduanya lalu membaur dalam sebuah pertunjukan bertajuk “Chamber Jazz” yang baru berlangsung malam ini di Bentara Budaya Jakarta Kamis 17 Desember 2009.Baik Iwan maupun Andien juga didukung oleh pianis Merry Kasiman,seorang sarjana musik jebolan Insitut Musik Daya serta Enggar Widodo,peniup tuba sekaligus trombone.Tugas Enggar terasa berat karena dengan tuba,Enggar harus melakukan fungsi pengganti instrumen bass.

Chamber Jazz Iwan Hasan di Bentara Budaya (Foto Denny Sakrie)

Chamber Jazz Iwan Hasan di Bentara Budaya (Foto Denny Sakrie)

Jazz yang ditampilkan Iwan Hasan memang tidak ruwet.Cenderung manis,tertata rapih meskipun di panggung Iwan dengan kecanggungannya kerap menimbulkan tawa penonton.”Esensi jazz adalah improvisasi” kilah Iwan berapologi.Bahkan untuk lagu “Invitation” dalam latihan hingga reherseal sering nyaris dianaktirikan.Itu celoteh Andien dan Iwan dipanggung.Walhasil penampilan “Chamber Jazz” memang terasa cair bahkan intim.Penonton pun tampaknya terbawa dengan atmosfer semacam ini.
Dan tadi sederet komposisi standar dimainkan oleh Iwan Hasan dan kawan-kawan.”Kami senang diberi kesempatan main di Bentara Budaya ini” ungkap Andien sumringah.”Biasanya saya sering membawakan lagu-lagu yang ngepop,tapi ada kepuasan tersendiri membawakan musik semacam ini disini” imbuh Andien.”Ya musik musik yang nggak laku” tambah Iwan bercanda.
Andien pun mengalunkan “Invitation” karya Bronislau Kaper dan Paul Francis Webster yang terdapat dalam film “Invitation” (1952) yang dibintangi Dorothy McGuire dan Van Johnson.Atmosfer yang “lush” merendam permukaan lagu ini.Suara Andien patut di puji malam ini bersama “Chamber Jazz”.Vokal Andien hanya diiringi oleh gitar Gibson hitam yang dipetik Iwan Hasan.

ih2
“My Favorite Things” yang bermuasal dari soundtrack film “Sound Of Music” oleh Julie Anndrews (1965) dilantunkan dengan gaya yang menggemaskan oleh Andien .
Cream colored ponies and crisp apple streudels
Doorbells and sleigh bells and schnitzel with noodles
Wild geese that fly with the moon on their wings
These are a few of my favorite things
Penonton yang memenuhi ruangan Bentara Budaya pun memberi aplause.Termasuk ketika Iwan Hasan dengan gitar akustik berduet dengan tiupan trombone Enggar dalam komposisi “Blue Bossa” karya Kenny Dorham.Di lagu ini Iwan bahkan mencoba berscat singing sambil memetik gitar.Komposisi ini memang banyak memberikan ruang untuk berimprovisasi.Sebuah karya standar dengan kekuatan pada melodi yang ajaib.
Andien pun memperlihatkan kelenturannya menyanyikan lagu karya Alan Jay Lerner dan Frederick Loewe “My Fair Lady :Wouldn’t Be Loverly ?” :
All I want is a room somewhere
Far away from the cold night air
With one enormous chair
Oh, wouldn`t it be lovely ?

Lots of chocolate for me to eat
Lots of coal makin` lots of heat
Warm face, warm hands, warm feet
Oh, wouldn`t it be lovely ?
Di kesempatan lain Iwan Hasan pun memamerkan ketrampilannya memetik gitar harpa bersenar 21 yang dibuat khusus untuknya oleh John Doan,guru Iwan Hasan saat mengenyam pendidikan musik di Amerika Serikat.

IH3
Andien yang pernah lama dibimbing Elfa Secioria melantunkan dua lagu yang dipopulerkan Sergio Mendes yaitu “So Many Stars” dan “Water of March” dengan aroma musik Brazillian yang eksotis.Lagu “Water of March” itulah yang mengunci sajian “Chamber Jazz” di Bentara Budaya Jakarta.Sebuah sajian langka di tengah riuhnya belantara industri musik pop belakangan ini.Sekeluarnya dari ruangan Bentara Budaya Jakarta,terasa oase yang segara menyelubungi benak penonton.Bahwa ternyata Iwan Hasan tak harus dikonotasikan dengan musik yang komplikatif atau Andien tak mesti harus berdesah ala smooth jazz

School Of Rock : Perguruan Cikini

Posted: November 22, 2013 in Kisah, Sejarah

Ada dua hal yang membuat saya seketika jadi teringat dengan Sekolah Yayasan Perguruan Cikini atau lebih dikenal dengan sebutan Percik yang terletak di Jalan Cikini Raya,Menteng Jakarta Pusat.Pertama, saat saya lagi menyelesaikan buku bertajuk “Jejak Musik Anak Pegangsaan”, yang isinya menuturkan tentang perjalanan musik anak band yang nongkrong di Jalan Pegangsaan Barat Menteng Jakarta. Kedua, saat beberapa pecan lalu saya lagi menyelesaikan buklet tentang Slank dalam rangka peringatan 30 tahun Slank berkarir “Slank Nggak Ada Matinya” . Pada saat menulis dua naskah tersebut,saya menemukan benang merah yang sama yaitu baik Gang Pegangsaan maupun Gang Potlot,keduanya merupakan rumah mampir bagi anak-anak band di eranya.Jika Gang Pegangsaan yang terletak di Jalan Pegangsaan Barat 12 A adalah rumah keluarga Nasution yang menjadi rumah mampir anak-anak band era paruh 60an hingga paruh 80an.Maka Gang Potlot terletak di Jalan Potlot III No.14 Duren Tiga Jakarta Selatan adalah rumah keluarga Sidharta,orang tua Bimbim yang menjadi rumah mampir anak-anak band era 80an hingga sekarang ini.

Sebagian besar personil Gipsy bersekolah di Perguruan Cikini

Sebagian besar personil Gipsy bersekolah di Perguruan Cikini

Nah, dari penggarapan dua tulisan yang saya sebut diatas ternyata menyertakan sebuah sekolah yang pada zamannya sering disebut sekolah anak pejabat, karena ternyata murid-muridnya banyak berasal dari orang tua yang berada dalam jabatan tertentu dalam pemerintahan.Jika membolak balik lembaran sejarah,Yayasan Perguruan Cikini ini telah berdiri sejak tanggal 1 Agustus 1942 dengan nama Sekolah Rakyat Pertikelir Mayumi yang awalnya adalah sebuah tempat kursus bahasa Indonesia yang digagas oleh Pandu Suradiningrat. Pamor Yayasan Perguruan Cikini kian harum ketika ternyata  putra-putri Presiden Soekarno seperti Guntur Sukarno Putra,Megawati Sukarno Putri dan si bungsu Guruh Sukarno Putra bersekolah disitu. Termasuk pula anak-anak beberapa menteri RI saat itu juga bersekolah disitu.Singkatnya ,Sekolah Yayasan Perguruan Cikini yang terdiri atas Sekolah Rakyat yang kemudian berubah jadi Sekolah Dasar,SMP dan SMA itu menjadi semacam sekolah favorit.

 

Menariknya lagi, ternyata di Yayasan Perguruan Cikini ini secara tak sengaja menjadi tempat persemaian pemusik Indonesia.Saya sebut secara tidak sengaja, karena sekolah ini toh bukan sekolah musik, tetapi justuru di sekolah-sekolah yang berada dibawah naungan Yayasan Perguruan Cikini banyak menghasilkan pemusik-pemusik mumpuni dari era ke era.

Pada paruh dasawarsa  60an hingga akhir  dasawarsa 70an, Yayasan Perguruan Cikini dikenal sebagai salah satu sekolah favorit, ini disebabkan karena mulai dari anak-anak  Presiden Soekarno hingga Presiden Soeharto dan para pejabat tinggi maupun menteri serta pengusaha terkenal semua bersekolah di Yayasan Perguruan Cikini.
Tapi yang patut dicatat adalah bahwa di Sekolah Yayasan Percik ini semuanya bergaul tanpa membedakan status sosial,karena  bukan hanya anak-anak pejabat atau kalangan atas saja yang bersekolah disitu , misalnya ada juga anak penjual kembang di pasar Cikini yg kesohor bersekolah disana,Juga anak dari  penjaga sepeda yg kini menjadi dosen di Malaysia.

Achmad Albar murid SD Perguruan Cikini (Foto Koleksi Achmad Albar)

Achmad Albar murid SD Perguruan Cikini (Foto Koleksi Achmad Albar)


Perguruan Cikini juga merupakan tempat berkumpulnya para pemusik sohor mulai dari penyanyi rock turunan Arab Achmad Albar hingga  Nasution Bersaudara yang terdiri atas Zulham Nasution,Gauri Nasution,Keenan Nasution,Oding Nasution dan Debby Nasution.Di rumah keluarga Nasution,murid-murid Percik ini lalu berkumpul bermain musik.Pontjo Sutowo putra Direktur Utama Pertamina Ibnu Sutowo lalu membeli seperangkat alat band mewah dan sengaja ditaruh di Jalan Pegangsaan Barat.Kejadian itu berlangsung pada paruh era 60an.Dengan alat-alat band yang disediakan Pontjo Sutowo, lalu terbentuklah Sabda Nada yang kemudian berubah nama menjadi Gipsy di tahun 1967.Nasrul Harahap atau yang kerap dipanggil Atut lalu diangkat menjadi vokalis Gipsy sepulangnya dari Belanda pada akhir era 60an.Atut yang ayahnya adalah Menteri Keuangan pada cabinet pemerintahan Soekarno ini sejak kelas 1 SD hingga kelas 3 SMP satu kelas dengan Rada Krisnan Nasution yang lebih dikenal dengan panggilan Keenan Nasution. 

Putra tertua pasangan Soekarno dan Fatmawati juga membentuk band.Guntur awalnya tergabung dalam band Aneka Nada bersama Samsudin Hardjakusumah yang kemudian membentuk Trio Bimbo di tahun 1967.Di awal era 60an Aneka Nada merilis album debut di Lokananta Solo.

Guntur yang memainkan drum serta gitar itu lalu diajak  gitaris dan penulis lagu soshor Jessy Wenas membentuk Kwartet Bintang dan menghasilkan rekaman di Remaco.

Guruh Soekarno Putera ,adik kandung Guntur malah membentuk band dengan nama The Flower Poetman bersama sahabat dekatnya seperti Wibowo Soemadji dan Tjalik R.British Invasion banyak mempengaruhi Guruh dan kawan-kawan dalam bermain band.Di tahun 1975 Guruh Sukarno Putra lalu mengajak sahabat-sahabatnya di Perguruan Cikini yang saat itu aktif ngeband dengan nama Gipsy untuk membuat proyek musik eksperimen dengan nama Guruh Gipsy.

Pemusik lain yang ada di Percik saat itu adalah Harry Sabar dan Doddy Sukasah, mereka berdua adalah adik kelas dari Keenan Nasution dan Atut Harahap serta Guruh Sukarno Putra.Lalu ada dua bersaudara Adi Ichsan dan Firman Ichsan yang membentuk band The Beagle dan kemudian juga membentuk The Lords bersama Tammy Daudsyah.Tammy akhirnya ikut bergabung dengan Gipsy sebagai peniup flute dan saxophone.Firman Ichsan sendiri lalu meninggalkan perangkat drum dan lebih tertarik mendalami dunia fotografi.

Di era 70an murid-murid Percik kian banyak yang memperlihatkan bakat musik,satu diantaranya adalah Prasetyo, putra dari Pak Kasur tokoh anak-anak serta penulis lagu anak-anak.Adapun murid-murid era 70an ini ternyata lebih tertarik menghasilkan karya musik opera.Mungkin karena saat itu lagi booming dengan karya-karya opera rock seperti Tommy dari The Who,Jesus Christ Superstars karya Andrew Lloyd Weber dan Tim Rice atau karya musikal Hair yang ditulis James Rado,Gerome ragni dan Galt McDermot atau karya-karya opera rock Harry Roesli seperti Sangkuriang dan Ken Arok.Murid-murid Percik ini lalu membentuk Operette Cikini yang kemudian menginterpretasikan karya-karya pewayangan menjadi operette seperti Ramayana hingga Mahabarata.

Salah satu murid SMA Percik yang ikut dilibatkan dalam penggarapan musik Operette Cikini ini adalah Eet Syahranie, putra seoarang Gubernur di Kalimantan yang menuntut ilmu di Perguruan Cikini.”Saat itu saya sudah tergabung dalam band sekolah namanya Cikini Rock Band” cerita Eet Syahranie yang sekarang dikenal sebagai gitaris EdanE.Eet Syahranie disegani di Percik karena berhasil terpilih sebagai gitaris terbaik dalam ajang Festival Band Antar SLTA Se Jakarta.
“Saat itu Cikini Rock Band mungkin satu-satunya band yang main rock,sementara hampir semua band tendensinya memainkan music jazz.Musik jazz saat itu memang lagi booming” ungkap Eet Syahranie yang kemudian direkrut menjadi gitaris Operette Cikini dengan memainkan karya Mahabarata.”Seingat saya Operette Cikini itu tampil playback,jadi kita rekaman dulu di Tala & Co Studio yang ada di Jalan Kesehatan.jadi kalo bisa dibilang, Operette Cikini adalah saat saya pertamakali merekam permainan gitar saya di studio rekaman” imbuhnya lagi.

Di era 80an ada Cikini Stones Complex yang kemudian berubah menjadi Slank

Di era 80an ada Cikini Stones Complex yang kemudian berubah menjadi Slank

Memasuki dekade 80an, musik rock tetap bergaung di Yayasan Perguruan Cikini  .Sekitar Desember 1983 terbentuklah band rock dengan kiblat musik The Rolling Stones yaitu Cikini Stones Complex yang disingkat CSC.Mereka adalah murid-murid SMA Percik yang terdiri atas  Bimo “Bimbim” Setiawan (drum), Boy (gitar), Kiki (gitar), Abi (bas), Uti (vokal) dan  Welly (vokal).Saat itu Cikini Stones Complex kerap kali main diberbagai pertunjukan dengan membawakan sejumlah repertoar lagu milik The Rolling Stones.Mereka tampil mulai dari Taman Ismail Marzuki (TIM) hingga di Balai Sidang Senayan Jakarta.Inilah band yang menjadi cikal bakal munculnya Slank, band yang kini memiliki komunitas terbesar di negara ini.

Di era 90an Yayasan Perguruan Cikini masih menghasilkan sederet pemusik-pemusik yang memiliki kiprah dan karya dalam khazanah musik Indonesia, mulai dari Sore, hingga Superglad.

Empat dari personil Sore semuanya sekolah di Perguruan Cikini jakarta Pusat

Empat dari personil Sore semuanya sekolah di Perguruan Cikini jakarta Pusat

Seperti halnya pertemanan antara Keenan Nasution dan Guruh Sukarno Putra di era 60an saat mengenyam pendidikan di Percik, maka di era 90an setidaknya hal itu juga terjadi pada keempat personil band Sore yaitu Ade Paloh,Ramondo Gascaro,Awan Garnida serta Echa. “Saat itu kami berempat menjadi sahabat karena suka musik.Oh iya kami adalah angkatan 1995 di Percik “ tutur Ade Paloh lagi.

Menurut Ade Paloh,murid murid Percik dianggap kuat pada sisi musik karena program musiknya didukung oleh para alumnus Yayasan Percik itu sendiri..”Yang saya ingat adalah prakarsa dari guru  musik kami saat itu Pak Hari Purwanto.Pak Hari ini juga yang mengajar musik ketika kami masih duduk dibangku SD “ ungkap Ade Paloh.Pak Hari Purwanto ini selain berperan sebagai guru musik, dia juga yang bertindak sebagai leader dalam Cikini Ensembles.
“ Pak Hari itulah yang membuat aransemen orchestra sekaligus memimpin orkestrasi pada album debut Sore di tahun 2005 Centralismo” papar Ade Paloh.

Meskipun bukan sekolah musik.tapi tanpa kesengajaan ternyata Yayasan Perguruan Cikini bisa menjaga benang merah peta musik yang terbentang begitu panjang dari era awal 60an hingga era saat sekarang ini.   

 

 

Slank Nggak Ada Matinya !

Posted: November 22, 2013 in Kisah, Musik Indonesia, profil

Dulu di era 70an, jika ditanya tentang siapakah band yang sangat dikenal oleh rakyat Indonesia ? , setidaknya 80 persen dari masyarakat Indonesia mengetahui dan mampu menyanyikan lagu-lagunya .Maka jawaban yang pasti adalah Koes Plus.Mulai dari akar rumput hingga menengah keatas mengetahui keberadaan mereka.Namun agaknya,kini kita harus menambah satu lagi band seperti yang saya sebut tadi, yaitu Slank yang sejak awal mulai menebar virus musiknya kemana-mana. Musik Slank memang bagai virus yang tak terhindarkan dan tak ada yang mampu menghalangi, mulai menembus ke sendi-sendi kehidupan.

Slank era 90an

Slank era 90an

Bahkan,diluar dugaan,Slank berhasil membentuk “rakyat” baru yang kemudian dikenal sebagai Slankers.Dalam sejarah industri musik di negeri ini, mungkin baru Slank, kelompok musik yang dianggap berhasil menghimpun jutaan penggemar fanatik dalam fanbase yang tertata dibawah panji Slankers. Band-band sebelum Slank memang memiliki banyak penggemar juga tapi tampaknya belum ada kesadaran untuk menghimpun diri secara lugas seperti Slankers.Jelas ini merupakan sebuah fenomena musik yang menarik tentunya.Mereka tak lagi sekedar mengagumi atau menempatkan Slank sebagai sosok idola, tapi bahkan jauh melesat melebihi batas antara penggemar dan idolanya.Slank dianggap sebagai panutan jalan hidup, semacam way of life yang diimani kredo dan petuah musikalnya secara takzim.

Slank sekarang

Slank sekarang

Slank akhirnya tumbuh sebagai komunal,sebagai wadah dari perjuangan dan penyatuan sikap hidup terutama pada kalangan working class,pada kalangan kaum marjinal yang terpinggirkan.Dalam sudut pandang mereka Slank adalah sahabat seperjuangan yang memperjuangkan atau menyuarakan nasib atau uneg-uneg mereka.Pendek kata,bagi para Slankers, Slank bukan hanya sebagai band rock yang mengisi ruang hati mereka saja.Slank dimata mereka adalah isme atau mazhab yang mereka taati petuah-petuahnya.

Slank formasi 13

Slank formasi 13

Dengan rakyat Slank yang jumlahnya jutaan itulah,mungkin yang menyebabkan banyak kalangan politik mulai membidik Slank sebagai ikon politik yang menurut pikiran dan perkiraan mereka bakal mampu “ menyumbangkan” banyak suara untuk kepentingan politik.Namun,untunglah Slank tak bergeming sedikitpun.Mereka tak tertarik untuk menjalin kemesraan terselubung dengan para pelaku dunia politik.Slank tetap merupakan kelompok musik dengan fanbase terbesar serta kesadaran politik yang tinggi tanpa harus ikut berkubang dalam dunia politik.Slank tetap menebar virus musik.Seperti tagline Slank : Selama Republik Ini Berdiri.Slank Gak Bakal Mati.Titik.
Dan inilah komentar mereka tentang Slank :

Glenn Fredly (pemusik) :
Slank ada dimana-mana mereka lebih dari sebuah band rock n’roll, mereka adalah gaya hidup generasi menolak lupa…..
Erros Djarot (politikus,seniman) :
Mengapa Slank tetap bersemayam di hati penggemarnya ? Karena Slank hadir dengan kepribadian musik yang mampu masuk dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang menghidupinya.Karenanya Slank dapat tumbuh dan mengakar.
Aldo Sianturi (mantan Ketua Slankers Jakarta tahun 1993) :
Slank adalah bola api yang bergulir sesuka hati. Dia mampu membakar dan menghibur dengan pijar api yang menggelora. Slank adalah Slank yang tidak pernah mau diatur dan direkayasa tetapi lentur dalam beradaptasi. Sejak awal, karya cipta yang digulirkan Slank berhasil membentuk anak tangga yang tiada berujung.
Setiawan Djody (Maecenas) :
Aku mendengar,melihat dan memahami musik Slank.Mungkin boleh saja kalau aku disebut Slanker juga he he he it’s fine for me .Melihat sosok Kaka mengingatkan kenangan saya pada Iggy Pop. Slank memunculkan ekpresionisme serta sikap berontak.Slank maju terus berkarya melahirkan produk kebudayaan lewat musik.
Sudjiwotedjo (Seniman,Budayawan) :
Slank itu disegani i …waktu saya tur ngabuburit bareng GIGI di Cirebon, massa ricuh, Armand Maulana lalu bilang, nanti kalian kubilang ke Slank lho”…langsung mereka tertib seketika ..Slank itu PeDe tapi tidak arogan. Terakhir aku seruang dengan mereka dan Bunda Ipet September bulan lalu waktu ada acara di Teater Tanah Air.Mereka ramah….
Indra Yudhistira (sutradara dan praktisi TV) :
Kalau ada virus yang efeknya membuat orang menjadi senasib sepenanggungan, virus itu bernama Slank. Ia bukan cuma musik tapi cara berpikir anak muda Indonesia

Akmal N Basral (sastrawan) :

30 tahun Slank mengisi semesta musik Indonesia adalah 30 tahun yang membuat telinga dan mata penduduk Indonesia terbuka bahwa generasi muda tidak cukup hanya dijejali pelajaran formal di sekolah. Mereka bisa mendapatkan inti nilai-nilai persaudaraan dalam kemanusiaan, kepedulian pada lingkungan, menjauhi sifat munafik dalam politik, selain romansa masa remaja, dari syair-syair Slank yang ditulis tanpa beban teori selain ungkapan hati yang murni. Itu sebabnya mengapa Slank terus bertahan menjadi salah satu dekorator terindah salam cakrawala musik kita. Selamat melangkah ke-30 tahun kedua bagi Slank.”
Peter F Gontha (Pengusaha) :
Waktu saya tampilkan Slank di Java Jazz tahun 2009 banyak yang kaget dan bilang gak salah tuh.Tapi Slank akhirnya tampil memikat,apalagi saya mengajak pemusik jazz Michael Paulo,Tom Luer,Jaques Voyemant dan Tony Monaco untuk berkolaborasi dengan Slank.Dan, ternyata masyarakat terhibur sekali dengan kehadiran Slank.

Budi Schwarzkrone (Insan Film dan TV) :

Sebuah group band bertahan 3 dekade…luar biasa, bisa melembagakan komunitas penggemar yang fanatik dan kreatif..fans yg dikenal dengan sebutan ‘slankers’ …dari anak2 sampai remaja..sangat luar biasa. The rolling stone adalah awal ‘mentor’ bimbim sebelum membentuk slank, bila stone memiliki identitas grafiti bibir dower dan lidah terjulur maka slanks memiliki identitas grafiti lambang kupu2 yg membetuk huruf slank. Perlahan slank membentuk dan menemukan musik identitasnya sendiri..album pertama Suit suit…hehehe..langsung jadi ‘enormous hit’..sangat luar biasa, popularitas melambung, pemasukan berlimpah. Dalam perjalanan slank, sebagaimana kelompok musik remaja pun tidak lepas dari masalah ‘defections’ berseberangan pendapat antar personilnya, terutama dalam hal creative decisions menyangkut pilihan kreatitifitas. Sekalipun dalam warna musik Slank sudah lepas dari the rolling stone selaku mentor idola awal perjalanan karir, namun slank terpaku pada pakem gaya hidup ‘extra ordinary’ idolanya.. termasuk mengkonsumsi suplemen ‘pendongkrak’ kreatifitas dan energi ketika beraksi di panggung. Dalam hal ini peran bunda Iffet lah yang sangat luar biasa, bunda kandung bimbim ini bisa diterima sebagai ‘ibunda’ sekaligus manajer bagi seluruh personil slank..boleh jadi bunda iffet lah ‘perekat’ slank hingga bisa bertahan selama 30 tahun . selama 3 dekade peran bunda iffet bukan sekedar manager atau chaveron pengantar tapi betul2 jadi bagian slank. Pengalaman pahit, ketika menghadapi kenyataan anak dan keponakan terjerat narkoba. tidak ada seorang orangtua pun di dunia yang tak terpukul melihat anaknya menjadi pemakai narkoba. Apalagi ia seorang ibu. Jenisnya putau lagi, yang biasanya berujung maut bagi para pemakainya. Menyerahkah melihat kenyataan ini? Bunda Iffet malah menghadapinya dengan sabar, sampai akhirnya anak dan keponakannya itu terbebas dari jerat narkoba yang mematikan ini. Selamat ulang tahun..selamat berkarya..kembali meluncurkan album2 ‘enormous hit’ lainnya.

Firman (Slankers Palembang) :
Yang gua kenal, Slank mempunyai solidaritas tinggi dibanding band-band yang lain.Semua orang juga tau lagunya Slank selalu merakyat dengan selalu merakyat dengan apa adanya.
Dahlan Iskan (Menteri BUMN) :
Slank berumur panjang adalah karakter Slank yang kuat, Jadi kalau Slank nggak ada matinya itu saya terjemahkan dengan nggak ada matinya terhadap relevansi. Slank tetap relevan karena bisa menyesuaikan dari lagu-lagu perlawanan terhadap keadaan sosial yang berat menjadi lagu-lagu tentang perlawanan kepada yang lebih universal.
Addie MS (pemusik) :
Banyak grup musik yang yang terkenal karena karya-karyanya. Tapi Slank menjadi besar dan bertahan karena karya dan sikapnya yang justeru menginspirasi.
Eggy Melqiansyah (Slankers Indramayu) :
Menurutku Slank bukan sekedar band biasa tapi sangat Luar biasa.Lewat karya-karyanya yang mengangkat soal kehidupan sehari-hari baik lingkungan,politk dan lainnya.Slank juga bias menyatukan para pemuda se Indonesia untuk selalu PLUR.

Ekky Imanjaya (dosen dan peneliti budaya pop)
Tidak hanya bertahan hidup, Slank melakukan lebih dari itu, mengembangkan gaya Sembari mempertahankan semangat independen dan lirik yang selengean dan apa adanya namun kritis dan menghujam. Yang tak kalah menarik adalah bagaimana Slank membentuk sebuah subkultur yang kuat, unik, dan aktif: para penggemarnya.

Naratama (VOA TV Program Director) :

“If Rolling stones plays British rock genre, Slank also has its own Indonesian rock genre. They both have local touch, that’s why their music never dies”.
Mahfud MD (mantan Ketua MK) :
Saya lihat Slank sekarang rasa nasionalismenya sudah tinggi. Dulu lagunya Slank untuk kritik sosial sangat tinggi, birokrasi juga disentuh, lagunya Slank yang kritis juga dicekal.Saya berharap Slank akan tetap konsisten dengan musiknya.
Ade (Slankers Jambi) :
Slank itu rumahku ,tempatku bermain,curhat,senang susah,tempat aku berbagi.Setiap lagu-lagu Slank mengandung arti dalam kehidupan sehari-hari kita.
JJ Rizal ( Sejarawan) :
Slank bukan hanya membuat musik, tetapi dokumentasi sosial-budaya sezaman dengan sikap keberpihakan yang nyata.