Slank Nggak Ada Matinya !

Posted: November 22, 2013 in Kisah, Musik Indonesia, profil

Dulu di era 70an, jika ditanya tentang siapakah band yang sangat dikenal oleh rakyat Indonesia ? , setidaknya 80 persen dari masyarakat Indonesia mengetahui dan mampu menyanyikan lagu-lagunya .Maka jawaban yang pasti adalah Koes Plus.Mulai dari akar rumput hingga menengah keatas mengetahui keberadaan mereka.Namun agaknya,kini kita harus menambah satu lagi band seperti yang saya sebut tadi, yaitu Slank yang sejak awal mulai menebar virus musiknya kemana-mana. Musik Slank memang bagai virus yang tak terhindarkan dan tak ada yang mampu menghalangi, mulai menembus ke sendi-sendi kehidupan.

Slank era 90an

Slank era 90an

Bahkan,diluar dugaan,Slank berhasil membentuk “rakyat” baru yang kemudian dikenal sebagai Slankers.Dalam sejarah industri musik di negeri ini, mungkin baru Slank, kelompok musik yang dianggap berhasil menghimpun jutaan penggemar fanatik dalam fanbase yang tertata dibawah panji Slankers. Band-band sebelum Slank memang memiliki banyak penggemar juga tapi tampaknya belum ada kesadaran untuk menghimpun diri secara lugas seperti Slankers.Jelas ini merupakan sebuah fenomena musik yang menarik tentunya.Mereka tak lagi sekedar mengagumi atau menempatkan Slank sebagai sosok idola, tapi bahkan jauh melesat melebihi batas antara penggemar dan idolanya.Slank dianggap sebagai panutan jalan hidup, semacam way of life yang diimani kredo dan petuah musikalnya secara takzim.

Slank sekarang

Slank sekarang

Slank akhirnya tumbuh sebagai komunal,sebagai wadah dari perjuangan dan penyatuan sikap hidup terutama pada kalangan working class,pada kalangan kaum marjinal yang terpinggirkan.Dalam sudut pandang mereka Slank adalah sahabat seperjuangan yang memperjuangkan atau menyuarakan nasib atau uneg-uneg mereka.Pendek kata,bagi para Slankers, Slank bukan hanya sebagai band rock yang mengisi ruang hati mereka saja.Slank dimata mereka adalah isme atau mazhab yang mereka taati petuah-petuahnya.

Slank formasi 13

Slank formasi 13

Dengan rakyat Slank yang jumlahnya jutaan itulah,mungkin yang menyebabkan banyak kalangan politik mulai membidik Slank sebagai ikon politik yang menurut pikiran dan perkiraan mereka bakal mampu “ menyumbangkan” banyak suara untuk kepentingan politik.Namun,untunglah Slank tak bergeming sedikitpun.Mereka tak tertarik untuk menjalin kemesraan terselubung dengan para pelaku dunia politik.Slank tetap merupakan kelompok musik dengan fanbase terbesar serta kesadaran politik yang tinggi tanpa harus ikut berkubang dalam dunia politik.Slank tetap menebar virus musik.Seperti tagline Slank : Selama Republik Ini Berdiri.Slank Gak Bakal Mati.Titik.
Dan inilah komentar mereka tentang Slank :

Glenn Fredly (pemusik) :
Slank ada dimana-mana mereka lebih dari sebuah band rock n’roll, mereka adalah gaya hidup generasi menolak lupa…..
Erros Djarot (politikus,seniman) :
Mengapa Slank tetap bersemayam di hati penggemarnya ? Karena Slank hadir dengan kepribadian musik yang mampu masuk dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang menghidupinya.Karenanya Slank dapat tumbuh dan mengakar.
Aldo Sianturi (mantan Ketua Slankers Jakarta tahun 1993) :
Slank adalah bola api yang bergulir sesuka hati. Dia mampu membakar dan menghibur dengan pijar api yang menggelora. Slank adalah Slank yang tidak pernah mau diatur dan direkayasa tetapi lentur dalam beradaptasi. Sejak awal, karya cipta yang digulirkan Slank berhasil membentuk anak tangga yang tiada berujung.
Setiawan Djody (Maecenas) :
Aku mendengar,melihat dan memahami musik Slank.Mungkin boleh saja kalau aku disebut Slanker juga he he he it’s fine for me .Melihat sosok Kaka mengingatkan kenangan saya pada Iggy Pop. Slank memunculkan ekpresionisme serta sikap berontak.Slank maju terus berkarya melahirkan produk kebudayaan lewat musik.
Sudjiwotedjo (Seniman,Budayawan) :
Slank itu disegani i …waktu saya tur ngabuburit bareng GIGI di Cirebon, massa ricuh, Armand Maulana lalu bilang, nanti kalian kubilang ke Slank lho”…langsung mereka tertib seketika ..Slank itu PeDe tapi tidak arogan. Terakhir aku seruang dengan mereka dan Bunda Ipet September bulan lalu waktu ada acara di Teater Tanah Air.Mereka ramah….
Indra Yudhistira (sutradara dan praktisi TV) :
Kalau ada virus yang efeknya membuat orang menjadi senasib sepenanggungan, virus itu bernama Slank. Ia bukan cuma musik tapi cara berpikir anak muda Indonesia

Akmal N Basral (sastrawan) :

30 tahun Slank mengisi semesta musik Indonesia adalah 30 tahun yang membuat telinga dan mata penduduk Indonesia terbuka bahwa generasi muda tidak cukup hanya dijejali pelajaran formal di sekolah. Mereka bisa mendapatkan inti nilai-nilai persaudaraan dalam kemanusiaan, kepedulian pada lingkungan, menjauhi sifat munafik dalam politik, selain romansa masa remaja, dari syair-syair Slank yang ditulis tanpa beban teori selain ungkapan hati yang murni. Itu sebabnya mengapa Slank terus bertahan menjadi salah satu dekorator terindah salam cakrawala musik kita. Selamat melangkah ke-30 tahun kedua bagi Slank.”
Peter F Gontha (Pengusaha) :
Waktu saya tampilkan Slank di Java Jazz tahun 2009 banyak yang kaget dan bilang gak salah tuh.Tapi Slank akhirnya tampil memikat,apalagi saya mengajak pemusik jazz Michael Paulo,Tom Luer,Jaques Voyemant dan Tony Monaco untuk berkolaborasi dengan Slank.Dan, ternyata masyarakat terhibur sekali dengan kehadiran Slank.

Budi Schwarzkrone (Insan Film dan TV) :

Sebuah group band bertahan 3 dekade…luar biasa, bisa melembagakan komunitas penggemar yang fanatik dan kreatif..fans yg dikenal dengan sebutan ‘slankers’ …dari anak2 sampai remaja..sangat luar biasa. The rolling stone adalah awal ‘mentor’ bimbim sebelum membentuk slank, bila stone memiliki identitas grafiti bibir dower dan lidah terjulur maka slanks memiliki identitas grafiti lambang kupu2 yg membetuk huruf slank. Perlahan slank membentuk dan menemukan musik identitasnya sendiri..album pertama Suit suit…hehehe..langsung jadi ‘enormous hit’..sangat luar biasa, popularitas melambung, pemasukan berlimpah. Dalam perjalanan slank, sebagaimana kelompok musik remaja pun tidak lepas dari masalah ‘defections’ berseberangan pendapat antar personilnya, terutama dalam hal creative decisions menyangkut pilihan kreatitifitas. Sekalipun dalam warna musik Slank sudah lepas dari the rolling stone selaku mentor idola awal perjalanan karir, namun slank terpaku pada pakem gaya hidup ‘extra ordinary’ idolanya.. termasuk mengkonsumsi suplemen ‘pendongkrak’ kreatifitas dan energi ketika beraksi di panggung. Dalam hal ini peran bunda Iffet lah yang sangat luar biasa, bunda kandung bimbim ini bisa diterima sebagai ‘ibunda’ sekaligus manajer bagi seluruh personil slank..boleh jadi bunda iffet lah ‘perekat’ slank hingga bisa bertahan selama 30 tahun . selama 3 dekade peran bunda iffet bukan sekedar manager atau chaveron pengantar tapi betul2 jadi bagian slank. Pengalaman pahit, ketika menghadapi kenyataan anak dan keponakan terjerat narkoba. tidak ada seorang orangtua pun di dunia yang tak terpukul melihat anaknya menjadi pemakai narkoba. Apalagi ia seorang ibu. Jenisnya putau lagi, yang biasanya berujung maut bagi para pemakainya. Menyerahkah melihat kenyataan ini? Bunda Iffet malah menghadapinya dengan sabar, sampai akhirnya anak dan keponakannya itu terbebas dari jerat narkoba yang mematikan ini. Selamat ulang tahun..selamat berkarya..kembali meluncurkan album2 ‘enormous hit’ lainnya.

Firman (Slankers Palembang) :
Yang gua kenal, Slank mempunyai solidaritas tinggi dibanding band-band yang lain.Semua orang juga tau lagunya Slank selalu merakyat dengan selalu merakyat dengan apa adanya.
Dahlan Iskan (Menteri BUMN) :
Slank berumur panjang adalah karakter Slank yang kuat, Jadi kalau Slank nggak ada matinya itu saya terjemahkan dengan nggak ada matinya terhadap relevansi. Slank tetap relevan karena bisa menyesuaikan dari lagu-lagu perlawanan terhadap keadaan sosial yang berat menjadi lagu-lagu tentang perlawanan kepada yang lebih universal.
Addie MS (pemusik) :
Banyak grup musik yang yang terkenal karena karya-karyanya. Tapi Slank menjadi besar dan bertahan karena karya dan sikapnya yang justeru menginspirasi.
Eggy Melqiansyah (Slankers Indramayu) :
Menurutku Slank bukan sekedar band biasa tapi sangat Luar biasa.Lewat karya-karyanya yang mengangkat soal kehidupan sehari-hari baik lingkungan,politk dan lainnya.Slank juga bias menyatukan para pemuda se Indonesia untuk selalu PLUR.

Ekky Imanjaya (dosen dan peneliti budaya pop)
Tidak hanya bertahan hidup, Slank melakukan lebih dari itu, mengembangkan gaya Sembari mempertahankan semangat independen dan lirik yang selengean dan apa adanya namun kritis dan menghujam. Yang tak kalah menarik adalah bagaimana Slank membentuk sebuah subkultur yang kuat, unik, dan aktif: para penggemarnya.

Naratama (VOA TV Program Director) :

“If Rolling stones plays British rock genre, Slank also has its own Indonesian rock genre. They both have local touch, that’s why their music never dies”.
Mahfud MD (mantan Ketua MK) :
Saya lihat Slank sekarang rasa nasionalismenya sudah tinggi. Dulu lagunya Slank untuk kritik sosial sangat tinggi, birokrasi juga disentuh, lagunya Slank yang kritis juga dicekal.Saya berharap Slank akan tetap konsisten dengan musiknya.
Ade (Slankers Jambi) :
Slank itu rumahku ,tempatku bermain,curhat,senang susah,tempat aku berbagi.Setiap lagu-lagu Slank mengandung arti dalam kehidupan sehari-hari kita.
JJ Rizal ( Sejarawan) :
Slank bukan hanya membuat musik, tetapi dokumentasi sosial-budaya sezaman dengan sikap keberpihakan yang nyata.

Iklan
Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s