Arsip untuk Desember, 2013

Banyak sekali komentar-komentar tentang tutupnya gerai musik Aquarius yang terletak di Jalan Mahakam Jakarta Selatan.tapi anehnya banyak komentar yang terlalu berlebihan hingga menyebut bahwa denagn tutupnya gerai musik Aquarius adalah kiamat bagi musik Indonesia.Ini jelas pernyataan paling dungu dan tidak memiliki analisa yang tepat.Asal ngejeplak. Mari kita coba melihat akar masalahnya,apa yang membuat Aquarius mengambil keputusan untuk menutup gerai musik yang telah terbentuk sejak tahun 1987 itu.Secara kasat mata yang bisa kita lihat adalah bahwa sejak dua tahun terakhir ini jumlah pembeli rekaman musik dengan format CD kian hari kian menurun secara drastis.Penyebabnya adalah pertama kegiatan pembajakan yang tak ada habis-habisnya dan tak bisa diberantas secara tuntas oleh pemerintah, kedua adalah mencuatnya distribusi secara digital yang sesuai dengan kekinian zaman.Nah ,menurut saya,dua hal inilah yang kian hari mencekin bisnis retail musik rekaman seperti yang dilakukan Aquarius selama 26 tahun.Dan ingat kurun waktu lebih dari dua dasawarsa ini bukanlah waktu yang singkat.Ini juga berarti bahwa bisnis musik memang pernah berjaya,pernah menguntungkan dan tak pernah mati.dari indikasi ini saja sudah mematahkan asumsi bahwa akan terjadi kiamat musik Indonesia.

Gerai musik Aquarius Mahakam ini berdiri sejak tahun 1987 (Foto Denny Sakrie)

Gerai musik Aquarius Mahakam ini berdiri sejak tahun 1987 (Foto Denny Sakrie)

Permasalahan dalam Aquarius secara internal sesungguhnya adalah masalah global yang telah terjadi dimana-mana.setidaknya 3 hingga 4 tahun belakangan ini.Bukanlah gerai musik rakasasa seperti Tower Record,Virgin Music Store hingga HMV secara perlahan telah tutup buku.Menurunnya pembeli rekaman musik ini penyebabnya adalah menggelegaknya paradigma atau platform musik digital.Banyak pihak yang tak menyikapi hal ini kecuali menganggap bahwa kemajuan teknologi IT ini hanya bentuk lain dari kegiatan pembajakan atau piracy di zaman modern. Jika kita jeli cikal bakal mencuatnya distribusi musik secara digital ini telah terlihat ketika Napster mempopulerkan file sharing musik yang membuat sebagian penikmat musik bersorak sorai tapi disisi lain menghukam pelaku bisnis musik serta para kreator musik dalam hal ini pemusik.Npaster yang digagas oleh Shawn Fanning,John Fanning dan Sean Parker ini sebetulnya adalah cikal bakal paradigma musik masa depan yang pasti akan kita hadapi.Pola yang dicetak Napster inilah yang kelak akan kita kenal sebagai online music store seperti i-Tunes dan semacamnya.Selama kurun waktu Juni 1999 hingga Juli 2001,Napster telah melakukan pelayanan yang menguntungkan para penikmat musik namun masih belum memiliki ikatan yang jelas dalam perlindungan HAKI.

Di Indonesia sendiri penikmat dan penggemar MP3 kian menjamur.Para pembajak berpesta pora dengan keuntungan yang berlapis-lapis.dampaknya jelas berbentur langsung dengan industri musik.Kesalahan utama industri musik adalah mengamggap pola distribusi secara digital ini adalah mengganggu atau bahkan memakan pola penjualan secara fisik.Idealnya adalah bahwa platform baru itu justru harus digamit bukan dijauhi. Meskipun demikian industri musik di Indonesia sempat mencicipi kejayaan Ring Back Tone (RBT) sejak tahun 2005 yang semula hanya sebuah gimmick marketing tapi ternyata memiliki potensi yang cenderung menguat seiring menjamurnya penggunaan telepon seluler dan gadget seperti i-Pod dan semacamnya dikalangan masyarakat.

Selama 26 tahun Aquarius menjalani bisnis gerai musik di Jakarta (Foto Denny Sakrie)

Selama 26 tahun Aquarius menjalani bisnis gerai musik di Jakarta (Foto Denny Sakrie)

Dalam buku bisnis musik bertajuk “Appetite For Self Destruction” yang ditulis oleh kolumnis musik Steve Knopper jelas-jelas dipaparkan perihal industri rekaman atau label musik yang menyatakan perang terhadap distribusi musik digital namun pada kenyataannya justeru musik digital inilah yang muncul sebagai pemenangnya.Dalam buku tersebut,Knopper yang dikenal sebagai kontributor majalah Rolling Stone membeberkan secara lugas kesalahan-kesalahan yang dilakukan industri musik terutama saat terjadinya pergeseran paradigma musik, dimulai dari menghilangnya fisik piringan hitam yang kemudian berganti dengan format kaset dan berganti lagi dengan munculnya teknologi cakram padat atau CD di tahun 1983 hingga menyeruaknya teknologi digital pada era 90an.

Steve Knopper tetap menyalahkan perbuatan para rippers atau burners yang mengambil seenaknya karya-karya musik orang secara membabi buta tanpa menghiraukan sisi HAKI.Sebaliknya Knopper secara kritis menyayangkan pihak label musik yang tak mau melakukan penyesuaian dengan perkembangan teknologi.

Nah, kembali ke soal tutupnya Aquarius Mahakam pada tanggal 31 Desember 2013 disaat kita merayakan Malam tahun Baru ini juga banyak melakukan kesalahan-kesalahan seperti apa yang dipaparkan Steve Knopper dalam bukunya yang best seller itu.Aquarius kurang jeli menyikapi tren yang berlangsung dalam tren bisnis gerai musik.Setidaknya mungkin Aquarius bisa melihat bagaimana maraknya gerai musik Amoeba Music sebuah jaringan gerai musik independen di Amerika Serikat yang tersebar di Berkeley,San Fransisco dan Hollywood Los Angeles California, ditengah tengah ambruknya jaringan Tower Record dan semacamnya .Amoeba Music berupaya memikat konsumen musik dengan menyediakan rekaman rekaman musik baik yang baru maupun lama atau kerap disebut back catalog dalam berbagai format mulai darfi vinyl atau piringan hitam,kaset hingga compact disc.Saat gerai musik Amoeba dibuka, mereka telah menyiapkan sekitar 250.000 judul album dari berbagai genre dan subgenre musik.Amoeba juga menyediakan venue untuk game musik seperti Guitar Hero Tour.Bahkan paul McCartney malah sempat tampil secara live di Amoeba pada 27 Juni 2007 dan kemudian rekamannya dirilis dengan judul “Amoeba’s  Secret”  .

Rak rak CD yang kosong di Aquarius tanggal 30 Desember menjelang tutup secara resmi pada tanggal 31 Desember 2013 (Foto Denny Sakrie)

Rak rak CD yang kosong di Aquarius tanggal 30 Desember menjelang tutup secara resmi pada tanggal 31 Desember 2013 (Foto Denny Sakrie)

Terobosan semacam Amoeba Music ini tampaknya terlihat pada gerai musik lainnya di Jakarta yaitu Musik Plus dan Duta Suara, dimana sekitar dua tahun belakangan ini,kedua gerai musik yang memiliki banyak outlet ini juga mulai menyediakan vinyl.Tampaknya kedua gerai ini mencoba merespon tren Back To Vinyl yang merebak di Amerika Serikat, hal mana justeru tak dilakukan oleh Aquarius.

Tapi akhirnya Aquarius Mahakam memang harus kita relakan kepergiannya.Bukan dengan ekspresi sedih yang dibuat- buat seperti yang banyak terlihat di sosial media seperti Twitter dan Facebook.Bahkan banyak yang menyatakan sedih justru tak pernah berbelanja CD di Aquarius. Dan berpulangnya Aquarius,sekali lagi, bukanlah Kiamat bagi Musik Indonesia.

Dimas Ario,mantan bassist Ballad of Cliche suatu hari menghubungi saya dan meminta saya untuk menjadi moderator diskusi musik yang akan membedah album fenomenal Indonesia yang secara kebetulan dirilis pada tahun 1977 yaitu Badai pasti Berlalu yang merupakan album soundtrack yang diinspirasikan dari film karya Teguh Karya “Badai pasti Berlalu” dan album Guruh Gipsy, sebuah proyek musik rock progresif yang menyandingkan musik tradisional Bali dan Rock. Kedua album ini bahkan berada di peringkat teratas dalam 150 Album Indonesia Terbaik Sepanjang Masa yang dilakukan majalah Rolling Stone Indonesia pada akhir tahun 2007.Dalam polling tersebut Badai pasti Berlalu berada di posisi nomor 1 dan album Guruh Gipsy berada dibawahnya di peringkat 2.Kebetulan saya juga ikut dalam Tim Penilai pemilihan 150 Album Terbaik Indonesia tersebut bahkan kemudian saya juga diminta untuk menuliskan perihal ikhwal musabab kedua album yang secara kebetulan adalah pemusik-pemusik yang di era akhir era 60an hingga era 70an sering nongkrong di rumah milik bapak Hasjim Saidi Nasution,ayah dari empat pemusik bersaudara Gauri Nasution,Keenan Nasution,Oding Nasution dan Debby Nasution.

Inilah pembicara dalam diskusi musik kaset Badai pasti Berlalu dan Guruh Gipsy 15 Desember 2013 (Foto Asranur)

Inilah pembicara dalam diskusi musik kaset Badai pasti Berlalu dan Guruh Gipsy 15 Desember 2013 (Foto Asranur)

Karena saya telah mengakrabi kedua kaset  tersebut, dimana pertamakali saya beli dulu saat masih duduk di kelas 2 SMP dengan menabung dari uang jajan yang dikasih ortu .Dan saya kerap kali mengulas dan menulis tentang kedua album tadi di berbagai media massa, maka ajakan Dimas Ario itu saya terima dengan senang hati.

Peserta diskusi datang dari keragaman usia dan era (Foto Asranur)

Peserta diskusi datang dari keragaman usia dan era (Foto Asranur)

Termasuk secara senang hati saya ikut pula membantu Dimas dan kawan-kawan untuk menghubungi narasumber yang rada-rada susah dan bandel saat dihubungi. Awalnya direncanakan yang akan tampil sebagai narasumber adalah Erros Djarot dan Yockie Surjoprajogo mewakili Badai Pasti Berlalu serta Guruh Sukarnoputra dan Keenan Nasution yang mewakili Guruh Gipsy.Keenan akhirnya batal karena jadwalnya bertabrakan dengan muhibahnya ke negeri Cina.Sedangkan Guruh Sukarnoputra membatalkan kehadiran karena memiliki sederet kegiatan yang bernuansa politik.Akhirnya 3 pembicara yang tampil yaitu Erros Djarot,Yockie Surjoprajogo dan Roni Harahap pianis yang menulis dua komposisi dalam Guruh Gipsy bersama Guruh yaitu Indonesia Maharddhika dan Chopin Larung.

Peserta diskusi mengikuti diskusi dengan tekun dan takzim (Foto Asranur)

Peserta diskusi mengikuti diskusi dengan tekun dan takzim (Foto Asranur)

Tujuan diskusi ini sebetulnya ingin menguak tentang proses kreativitas saat penggarapan album disamping membahasa paradigma yang tengah berlangsung di era paruh 70an serta begitu banyaknya misteri-misteri yang belum terkuak dari pembuatan album ini.Contoh terbesar adalah begitu banyaknya kasus-kasus yang penuh konflik diantara para pendukung album Badai Pasti Berlalu atau tentang kenapa album Guruh Gipsy di era 2000an bisa jadi perbincangan dunia terutama lewat dunia maya.Apalagi di tahun 2006 album Guruh Gipsy malah dibajak oleh sebuah label di Jerman bernama Shadoks Record.

Tak bisa dimungkiri banyak yang merasa penasaran dengan kisah-kisah dari kedua album ini. Makanya tak heran ketika diskusi dilangsungkan pada hari minggu 15 Desember 2013 mulai jam 16.00 di One Fifteenth Cofffe, peminat diskusi terlihat memadati ruangan diskusi yang berlangsung di lantai 2.Menariknya peminat diskusi yang datang usianya beragam mulai dari yang muda hingga yang tua.Bahkan terlihat seorang ayah dan bersama anaknya.Ini merupakan pemandangan menarik,sebuah apresiasi yang bagus untuk karya musik seniman musik negeri ini.

BB5

Sebagai introduksi saya menguak diskusi sore itu dengan narasi tentang iklim industri musik Indonesia di era 70an yang nyaris seragam,hampir tak jauh beda dengan sekarang bahkan dari pengalaman saya dulu, anak muda Indonesia jarang yang menyukai musik Indonesia .Menurut Erros Djarot,  di era itu banyak yang menyepelekan musik Indonesia dengan sebutan Najis.Erros yang membentuk Barong’s Band saat kuliah di Koeln Jerman pada era 70an terusik rasa nasionalisme untuk membuat musik berbahasa Indonesia.”Saya saat pulang ke Jakarta tahun 1976 sempat nonton konser God Bless yang hanya menyanyikan lagu-lagu bule” cerita Erros Djarot.Meskipun mungkin jelek,Erros bertekad untuk menulis musik Indonesia.Lalu bersama Barong’s Band,Erros menulis sejumlah lagu yang kemudian dirilis dalam dua kaset di tahun 1976 “Barong’s Band” dan “Kawin Lari”.”Saat proses rekaman saya minta pada teman teman di Barong’s Band agar tidak mendengar lagu-lagu Barat.Sebaliknya saya memborong sekitar 60 kaset Indonesia yang lagi hits saat itu.Kami lalu mendengar musiknya ,juga liriknya sebagai perbandingan”.Secara cair Erros bertutur tentang proses kreativitas dalam bermusik mulai dari bersama Barong’s Band hingga Badai pasti Berlalu.”Saya bahkan ikut juga terlibat dalam penggarapan Guruh Gipsy” ungkap Erros yang pernah tinggal di salah satu kamar di rumah Guruh Sukarnoputra di Jalan Sriwijaya Raya 26 Jakarta Selatan.

BB6

Proses bermusik itu Erros berlanjut ke dunia film layar lebar.Eros Djarot pun mulai disibukkan sebagai peñata musik beberapa film garapan sutradara almarhum Teguh Karya seperti “Perkawinan Dalam Semusim” dan “Kawin Lari”.

Keterlibatan Erros dalam illustrasi musik film justeru berawal dari kemarahan sutradara Teguh Karya.Erros yang dijuluki big mouth oleh sohib terdekatnya memang selalu melontarkan kritik yang tajam dan pedas.Entah untuk musik hingga film.Suatu hari Teguh Karya yang selalu menjadi sasaran kritik Erros malah menyergah Erros :”Kalau lu ngerti,coba deh lu aja yang bikin illustrasi musik film gua nanti.Gua pengen tau tuh hasilnya kayak apa”.

Menurut Erros beberapa lagu-lagu karyanya banyak yang tercipta saat berada di Jalan Pegangsaan Barat 12 maupun di Jalan Sriwijaya 26. Lagu-lagu itu kemudian men jadi bagian dari album Barong’s Band serta album soundtrack “Badai Pasti Berlalu” .

BB7

Beberapa lagu dengan tema romansa pun tercipta yaitu “Angin Malam”,”Khayalku”dan “Cintaku”.”Ketiga lagu ini memang tercipta saat saya intens bermain di Pegangsaan.sedangkan lagu “Pelangi” dan “Semusim” justeru tercipta ketika saya main di rumah Guruh di Jalan Sriwijaya” ungkap Eros Djarot perihal gagasan awal munculnya album Badai Pasti Berlalu yang menjadi soundtrack film”Badai Pasti Berlalu” besutan Teguh Karya.

Erros bahkan menampilkan torehan lirik lagu yang romantis tanpa terjebak dengan pola-pola yang standar: patah hati berkepanjangan, meratap-ratap, dan cengeng.Pada akhirnya Badai Pasti Berlalu menjadi fenomenal.Menjadi album tonggak dalam sejarah musik pop Indonesia.”Saya bahkan tak menyangka Badai Pasti Berlalu bisa  menjadi album yang terus diperbincangkan orang” tukas Erros .

BBBBBBBB

Yockie yang diajak Erros Djarot mengerjakan Badai Pasti Berlalu lalu bertutur cukup panjang dengan berapi-api.”Saya diajak Erros dan Chrisye mengerjakan Badai Pasti Berlalu” kisah Yockie.

“Saat mengerjakan album itu tak ada pikiran macam-macam bahwa album ini akan meledak atau apalah. . Semua dikerjakan secara suka rela dan rasa kebersamaan , rasa persahabatan dan kekeluargaan. Seperti yang saya katakan disana , kondisi menjadi berubah 180 derajat ketika modernisasi hadir mengusung sistim management modern yg juga didukung oleh tehnologi yang semakin pesat. Lahirnya industri-industri modern yang mampu merancang metode baru eksploitasi bagi pendistribusian produk musik yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Jelas bahwa hak-hak tentang nilai2 ekonomis dari setiap orang lah yang kemudian menjadi problem mendesak untuk harus segera diatasi dan diselesaikan. Artinya itu adalah masalah aturan yaitu regulasi atau Hukum” papar Yockie berapi-api.

GUA

Yockie kemudian menambah lagi tuturnya tentang paradigma bermusik.Paradigma pemusik,kata Yockie, kerja pada saat itu hanyalah berbekal semangat , etos menghasilkan karya yg bisa terbaik tanpa pretensi apapun. Hal ini menjadi paradoks ketika hasil terbaik yang pernah kita kerjakan ternyata tidak mendapatkan perlindungan apa-apa agar kami bisa turut merasakan jerih payah dari keringat kami sendiri.

Roni Harahap pemain keyboard dan pianis Guruh Gipsy ini menuturkan tentang proses penggarapan lagu Indonesia Maharddhika dan Chopin Larung.”Ide dan melodi kedua lagu tadi dari saya,lalu ditambah lirik oleh Guruh”.

Di  tahun 1975  Guruh Soekarno Putera dan Roni Harahap hingga larut malam masih berkutat merampungkan sebuah lagu untuk album Guruh Gipsy dikediaman Guruh di Jalan Srwijaya 26 Kebayoran Jakarta Selatan.”Saya dan Guruh tidur sekamar bahkan seranjang saat itu.Tapi saya gak pernah disentuh dia” ucap Roni berseloroh.

Roni Harahap tengah bertutur tentang ikwal penulisan lagu Indonesia Maharddhika (Foto Asranur)

Roni Harahap tengah bertutur tentang ikwal penulisan lagu Indonesia Maharddhika (Foto Asranur)

”Saya sudah nggak sabar melihat Guruh yang menyenandungkan lagu ciptaannya tentang indahnya Indonesia.Mendayu dayu.Kurang semangat .Liriknya aku bermimpi……aku bermimpi…..“ ujar Roni Harahap pianis Gipsy yang tergila gila dengan Keith Emerson dan Chopin.

“Karena kesal,lalu saya mainkan intro lagu disko yang lagi ngetop saat itu “That’s TheWay I Like It dari KC & The Sunshine Band.Tapi aksentuasinya saya balik” ujar Roni Harahap .

“Wah,itu lagu ciptaanmu Ron ?” Tanya Guruh lirih.

“Iya……yang gini dong Gur biar lebih semangat” pancing Roni.

Alhasil Roni Harahap merampungkan seluruh melodi lagunya.Guruh kemudian beringsut menambahkan barisan lirik.Judulnya pun gagah : Indonesia Maharddhika.Sebuah lagu bercorak Bali rock pun menjelma.

Ketiga pembicara Erros,Yockie dan Roni menuturkan semuanya dengan detil.Banyak pencerahan-pencerahan yang muncul saat mereka bertiga tampil dalam diskusi yang berlangsung hangat dan meriah itu.Tanpa terasa diskusi berlangsung sekitar 3 jam lebih.Dan yang mencengangkan peserta diskusi tak satu pun yang meninggalkan tempat.Mereka,para peserta diskusi . rasanya memang haus dengan kisah-kisah dibalik pembuatan kedua album fenomenal itu.Setidaknya kisah-kisah yang dibeberkan dalam diskusi ini bisa menjadi semacam pembelajaran dalam upaya pembenahan kondisi bermusik di negeri ini termasuk pemahaman aspek hukum dalam karya-karya yang tercipta.

YER

Ketiga pembicara memang berupaya untuk berbicara apa adanya.Blak-blakan dan tak ada yang ditutupi.”Disini kita tidak lagi ingin tuding menuding,saling menyalahkan.Chrisye bisa salah,Yockie juga bisa salah,apa lagi saya.Ini kesalahan kolektif yang harus kita sikapi dengan arif.Dan bisa dipetik hikmahnya.Dan hari ini kita anggap case close” pungkas Erros Djarot.

Akhirnya saya pun menutup diskusi yang penuh dinamika itu.Banyak hal yang bisa dipetik dari kisah kisah mereka, saat menggarap sebuah karya seni yang bernama musik.

Selayang Pandang Folk Indonesia

Posted: Desember 28, 2013 in Kisah, Sejarah

Siapakah penyanyi folk Indonesia yang pertama  ? Saya berasumsi bahwa almarhum Gordon Tobinglah orangnya.Bersama vokal grup yang dibentuknya dengan nama Impola, Gordon Tobing menyanyikan hampir seluruh lagu-lagu rakyat Indonesia.Gordon Tobing dan Impola acapkali dikirim ke luar negeri untuk misi kebudayaan Indonesia untuk seni musik.Musik folk yang dimainkan Gordon Tobing tampaknya memang menjadi representasi negeri ini, Indonesia.

Lalu siapakah Gordon Tobing ?.

Piringan Hitam Gordon Tobing dan Impola Vokal Grup (Foto Denny Sakrie)

Piringan Hitam Gordon Tobing dan Impola Vokal Grup (Foto Denny Sakrie)

Gordon Tobing dilahirkan  di Medan, Sumatera Utara,pada tanggal  25 Agustus 1925

Gordon Tobing yang berbakat musik,belajar musik secara otodidak.Dia  tak pernah mempelajari musik secara formal,.Di  tahun 1950 Gordon merantau ke Jakarta. Gordon sempat membentuk Kelompok Vokal bernama  Sinondang bubar. Ketika Sinondang bubar,Gordon kemudian  membentuk Vokal Grup “Impola”.Impola adalah bahasa Tapanuli yang artinya  inti yang terbaik dari yang terbaik. Vokal Grup Impola inilah yang membuat Gordon dan istrinya Theresia Hutabarat menjadi sangat terkenal sejak tahun 1960 an. Bersama VG Impola, dia mengunjungi berbagai  negara di dunia.
Pada tahun 1965 Gordon Tobing dan Impola  dipilih oleh suatu Panitia Jerman untuk turut serta dalam Press Fest di Jerman. Impola juga dipilih oleh Tim Ahli Seni Australia  untuk mewakili Asia  pada Art Festival of Perth  yang berlangsung tahun 1969.

Folk Songs dengan berbasis lagu-lagu rakyat tradisional ini memang merebak pada era 50an hingga 60an yang kemudian dibawakan dengan format vokal grup atau kelompok vokal. Tapi disamping itu  musik Folk dengan nuansa kontemporer mulai pula berkembang sejak akhir dasawarsa 60an.Salah satu inspirasi timbulnya musik folk yang berkembang diantara anak muda adalah musik-musik Folk Amerika yang digagas oleh Bob Dylan,Joan Baez,Melanie,Peter Seeger,Phil Ochs  hingga kelompok Crosby,Stills,Nash & Young.

Lagu-lagu folk kontemporer yang mulai memikat pendengar muda di Indonesia antara lain adalah “Blowin’ In The Wind” (1963)  dari Bob Dylan,”Donna Donna” (1960) dari Joan Baez hingga “Our House”(1970) dari Crosby Stills,Nash and Young yang mulai di putar di radio-radio anak muda yang menjamur pada akhir era 60an hingga awal 70an. Penikmat musik folk saat itu dari kalangan pelajar hingga mahasiswa.Mereka mulai mengakrabi musik folk dengan memetik gitar akustik sambil bernyanyi.

Kelompok folk bernuansa Latin Bimbo jadi laporan utama majalah Tempo

Kelompok folk bernuansa Latin Bimbo jadi laporan utama majalah Tempo

Setidaknya ada 3 (tiga) kota besar yang memiliki kepioniran dalam memperkenalkan musik folk di Indonesia yaitu Jakarta,Bandung dan Surabaya.Di ketiga kota ini komunitas penggemar musik folk mulai terlihat.Di Jakarta mulai terdengar Kwartet Bintang yang dimotori Guntur Sukarnoputra putra sulung Presiden Sukarno, Noor Bersaudara hingga Prambors Vokal Group.Di Bandung sejak tahun 1967 telah berkiprah  Trio Bimbo hingga Remy Sylado.Sedangkan di Surabaya sejak tahun 1969 telah terdengar nama Lemon Trees yang didukung oleh Gombloh dan Leo Imam Soekarno yang di era paruh 1970an dikenal dengan nama Leo Kristi.Beberapa diantaranaya bahkan telah merilis album rekaman seperti Trio Bimbo yang merekam album lewat label Fontana di Singapore pada tahun 1971 .Di album ini Trio Bimbo muncul dengan hits sebuah folk ballad bertajuk Melati Dari Jayagiri karya Iwan Abdurachman.

Remy Sylado pertamakali merekam album di tahun 1975 dengan tajuk Folk Rock Vol.1

Remy Sylado pertamakali merekam album di tahun 1975 dengan tajuk Folk Rock Vol.1

Iwan Abdurachman (Foto Djajusman Joenoes)

Iwan Abdurachman (Foto Djajusman Joenoes)

Pada tanggal 8 Juli  1973 diadakan acara Parade Folk Songs yang berlangsung di Youth Center Bulungan Jakarta Selatan dengan menampilkan sederet kelompok folk seperti Remy Sylado Company yang didukung 26 siswa SPG St.Angela Bandung,Noor Bersaudara,Gipsy dan Prambors Vokal Group dibawah pimipinan Iwan Martipala.Lalu pada tanggal  25 Agustus 1973 digelar Pesta Folk Songs Se Jawa yang berlangsung di Gedung Merdeka Jalan Asia Afrika Bandung menampilkan Noor Bersaudara dan Prambors Vokal Grup dari Jakarta.Kemudian ada Manfied,Vraliyoka dan Lemon Never Forget dari Surabaya, Azwar AN & The Ones dari Yogyakarta,Daniel Alexey dari Semarang, serta Singing Student Bandung (Double SB),The Gangs,The Mad,Numphist Group,Hande Bolon,GPL Unpad dan Remy Sylado Company.

Kemudian di Surabaya pada Mei 1974 berlangsung Parade Folk Songs di Kampus Universitas Airlangga Surabaya yang diikuti sekitar 16 kelompok folk antara lain Vraliyoka,Franky & Gina,Leo & Christie,Remaja Yudha,Manneke Pelenkahu & Manfied,Bengkel DKS serta 19 Nervous Breakdown.

Beberapa kelompok folk terdepan seperti Trio Bimbo,Noor Bersaudara hingga Remy Sylado Company juga ikut tampil dalam perhelatan musik terbesar Summer ’28 yang berlangsung di Ragunan Pasar Minggu pada 16 Agustus 1973.

Remy Sylado dengan lirik lagu yang mbeling pertamakali memproklamirkan diri sebagai kelompok Folk Rock

Remy Sylado dengan lirik lagu yang mbeling pertamakali memproklamirkan diri sebagai kelompok Folk Rock

Di kampus ITB Bandung selama dua tahun berturut-turut 1973 dan 1974 berlangsung diskusi musik tentang musik folk yang menghadirkan pula para musikolog dan kritikus musik  seperti Frans Haryadi dan JA Dungga.Pada paruh 70an di Bandung kerap diadakan acara Musik Akustik yang menampilkan sederet para pemusik dan kelompok folk seperti Monticelli Group,Singing Student Bandung,GPL Unpad,Jan Hartland,One Dee Group,Harry Roesli,Mythos Group,Pahama, dan masih banyak lagi.Bahkan di tahun 1977 Monticelli yang dipimpin Dini Soewarman merilis kompilasi musik folk Musik Akustik Monticelli yang dirilis Hidayat Audio.

Kelompok folk Heygress yang merekam album di Tala & Co tahun 1979

Kelompok folk Heygress yang merekam album di Tala & Co tahun 1979

Bimbo sendiri kemudian menghasilkan sederet pengikut dalam gaya bermusik mulai dari Geronimo II,Nobo,Pahama Group, Mythos Group,Kharisma Alam,Amudas dan banyak lagi lainnya.

Di Surabaya beberapa kelompok folk juga mulai merekam lagu-lagunya seperti Gombloh dan Lemon Tree’s Anno ’69 dan Manfied.Bahkan Leo Imam Soekarno yang awalnya tampil lewat duo Leo and Christie, mulai membentuk kelompok folk dengan nama Konser Rakyat Leo Kristi dan merilis album debut bertajuk Nyanyian Fajar pada label Aktuil Musicollection yang dikelola majalah music Aktuil di Bandung.

Remy Sylado dengan Remy Sylado Company juga merekam album bertajuk Folk Rock Vol.1 pada label Gemini Record.

Karena demam folk songs yang merebak dimana mana, akhirnya membuat Eugene Timothy dari Remaco meminta agar Koes Plus merilis album Folk Songs pada tahun 1976.

Memasuki  akhir dasawarsa  70an dan 80an, musik folk songs kian berkembang dengan munculnya sosok-sosok baru seperti duo Franky & Jane,Mogi Darusman,Tara & Jayus,Tika & Sita,  Iwan Fals,Wanda Chaplin,Tom Slepe,Doel Sumbang,Ritta Rubby Hartland,Elly Sunarya hingga Ully Sigar Rusady , Ebiet G Ade serta Kelompok Kampungan dari Yogyakarta . Kebanyakan mereka tampil dengan pola singer/songwriter yang membawakan lagu karya sendiri sambil memetik gitar akustik. Tema lirik lagunya berkisar dari tema alam dan lingkungan serta kritik sosial yang terkadang dibumbui dengan aura humor yang menggelitik.

Kelompok Geronimo 2 dari Yogyakarta

Kelompok Geronimo 2 dari Yogyakarta

Franky & Jane ,Iwan Fals dan Ebiet G.Ade muncul di posisi terdepan.Ketiganya bahkan menjadi protipe inspirasi  dari sederet pemusik yang muncul setelah mereka .Gaya bermusik Iwan Fals diikuti oleh Doel Sumbang,Tom Slepe dan Wanda Chaplin. Franky & Jane diikuti pula oleh duo Frans & Yenny,Nana Bodi,Jelly & Diana dan banyak lagi. Bahkan gaya bernyanyi Ebiet G Ade diikuti sederet follow seperti Endar Pradesa,Tommy J Pisa,Jamal Mirdad,Ade Putra,Jamil Mirzad .Bahkan Ritta Rubby Hartland  kerap dijuluki Ebiet G Ade wanita.

Sawung Jabo yang pernah bergabung dengan Kelompok Kampungan mulai terdengar kiprahnya dengan membentuk Sirkus Barock hingga Genggong. Sawung Jabo juga ikut mendukung Kantata Takwa,Swami dan Dalbo.

Di era 90an Iwan Fals,Ebiet G Ade dan Franky Sahilatua tetap berkibar membawakan musik folk.Iwan Fals juga ikut bergabung dalam Kantata Takwa dan Swami .Di tahun 1993 muncul seorang singer/songwriter berbakat Oppie Andaresta lewat album “Albumnya Oppie” yang menghasilkan hits “Cuma Khayalan”,”Inilah Aku” atau “Cuma Karena Aku Perempuan”. Oppie berlenggang sendirian sebagai penyanyi folk wanita dengan lirik yang lugas dan apa adanya.Ini terlihat jelas lewat album keduanya “Bidadari Badung” (1995) dengan lagu seperti “Ingat Ingat Pesan Mama” dan “Bidadari Badung”.

Payung Teduh menampilkjan Folk dengan rasa Kroncong (Foto Denny Sakrie)

Payung Teduh menampilkjan Folk dengan rasa Kroncong (Foto Denny Sakrie)

Di era 2000an, justeru semakin banyak kelompok-kelompok musik folk yang bermunculan dalam khazanah musik Indonesia seperti Endah N Rhessa,Dialog Dinihari,Payung Teduh,Deugalih & Folks,Frau,Harlan Boer,Sir Dandy,Payung Teduh,Tigapagi,Adhitia Sofyan,Teman Sebangku,Nada Fiksi,Semakbelukar,Rusa Militan.

Jika melihat kemasan kaset ini pasti banyak orang yang terkecoh.Di sampul album hanya tertera font “Sepercik Air” – Deddy Stanzah Pop  rilisan DD Record dirilis di sekitar tahun 1980 .Apakah betul almarhum Deddy Stanzah pernah mempunyai album solo dengan tajuk “Sepercik Air”  ?. Jawabannya sudah pasti : tidak pernah sama sekali. Lalu kenapa ada kaset bertajuk Sepercik Air ?.

Kaset Sepercik Air Deddy Stanzah (Foto Denny Sakrie)

Kaset Sepercik Air Deddy Stanzah (Foto Denny Sakrie)

Nah mari kita kuak misteri kaset ini.Sebetulnya ini hanya akal-akalan label belaka.Lagu “Sepercik Air” karya Iman A .Bharata ini sebetulnya dirilis tahun 1979 dalam kaset “10 Pencipta lagu Remaja” dengan iringan Prambors Band pimpinan Mochammad Noer Arumbinang.Di album yang memuat lagu-lagu hasil semi final LCLR Prambors 1978  itu Deddy Stanzah menyanyikan dua lagu yaitu Sepercik Air dan Masa Depan Ditanganmu karya Benny E.Gagola.

Akhirnya kita mengeathui bahwa lagu “Sepercik Air” kemudian menjadi hits di akhir 1979 hingga awal 1980. Mungkin dengan maksud ingin menangguk laba,label DD Record merilis ulang lagu “Sepercik Air” dan “Masa Depan Ditanganmu” yang dinyanyikan Deddy Stanzah seolah-olah sebagai album solo Deddy Stanzah.

Di kaset ini, selain dua hits Deddy Stanzah yang diiringi Prambors Band tersebut, ditambahkan pula dengan lagu-lagu dari album Superkid “Preman” yang dirilis Purnama Record pada tahun 1978.

Betul-betul ingin mengecoh pembeli kaset yang tak jeli……..

Ketika Para Jurnalis Mendiskusikan Chrisye

Posted: Desember 28, 2013 in Kisah

Banyak sekali kenangan saya bersama almarhum Chrisye mulai dari nonton konser Badai Band pertamakali di tahun 1979, lalu mewawancarai Chrisye,juga mengajak Chrisye jadi tamu siaran saya di radio.Salah satu diantara yang masih saya ingat adalah ketika Forum Komunikasi Wartawan Hiburan Media Cetak dan Cyber mengadakan acara Diskusi Terbuka bertajuk ” Chrisye Dalam Perspektif Seni,Budaya dan Musik” yang berlangsung di EKI Studio Jalan Padang 30 Manggarai pada hari kamis 31 Maret 2005 mulai jam 14.00 hingga 17.00 WIB. Oleh teman-teman jurnalis hiburan saya diminta untuk menjadi salah satu pembicara untuk menelaah kiprah seorang Chrisye dalam dunia musik.Ludi Hasibuan dari majalah anak-anak Bobo meminta saya untuk menjadi pembicara.Ajakan ini saya sambut dengan senang hati, terutama karena saya adalah salah penggemar Chrisye yang mulai menyukai warna suara Chrisye sejak tahun 1977, saat suara Chrisye muncul dalam tiga kaset yang berbeda yaitu album Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Dasa Tembang Tercantik 1977 lewat lagu Lilin-Lilin Kecil karya James F Sundah,kaset eksperimen Bali Rock Guruh Gipsy dan kaset Badai Pasti Berlalu.

dari kiri saya,Fariz RM,moderator Akmal N Basral dan Keenan Nasution (Foto Ludi Hasibuan)

dari kiri saya,Fariz RM,moderator Akmal N Basral dan Keenan Nasution (Foto Ludi Hasibuan)

Selain saya, pembicara yang tampil dalam diskusi yang terbuka untuk umum ini adalah Keenan Nasution,sahabat dekat Chrisye dalam band Gipsy hingga Badai Band .Keenan adalah tetangga Chrisye di era 70an saat mereka masih bermukim di Jalan Pegangsaan Barat.Pembicara lainnya adalah Fariz RM yang pertamakali mengiringi suara Chrisye sebagai drummer dalam album soundtrack fenomenal Badai Pasti Berlalu.Fariz RM yang kemudian diajak bergabung dengan Badai Band lalu diajak juga menjadi pendukung musik album solo Chrisye di tahun 1979 “Percik Pesona”.Saat Fariz RM membuat album solo “Selangkah Ke Seberang” (Pramaqua 1979),Chrisye pun diajak Fariz RM ikut bermain bass dalam lagu “Mega Buana”. Nah pengalaman Keenan Nasution dan Fariz RM dalam berolah kreativitas bermusik inilah yang dituturkan saat diskusi berlangsung.

Baik Keenan maupun Fariz RM secara bergantian menuturkan pengalaman kreatif mereka saat bermain musik baik di pentas pertunjukan maupun studio rekaman.Keenan bercerita tentang musikalitas Chrisye bahkan ketika mereka berdua saat tergabung dalam Gipsy mendulang pengalaman bermusik di Restaurant Ramayana di New York Amerika Serikat tahun 1973. Sepulang dari Amerika,Chrisye dan Keenan mulai berkonsentrasi menggarap album eksperimental Guruh Gipsy bersama Guruh Sukarnoputra,Roni Harahap,Abadi Soesman dan Oding Nasution.

Disesi terakhir almarhum Chrisye akhirnya diminta ke forum untuk berbagi cerita perihal karir musiknya (Foto Ludi Hasibuan)

Disesi terakhir almarhum Chrisye akhirnya diminta ke forum untuk berbagi cerita perihal karir musiknya (Foto Ludi Hasibuan)

Lalu saya meretropeksi perjalanan karir musik Chrisye mulai dari saat bergabung sebagai bassist Sabda Nada yang kemudian berubah jadi Gipsy di tahun 1967  , sempat gabung sebagai bassist The Pro’s 1973-1975  dan berlanjut dengan Guruh Gipsy serta solo karir yang panjang sejak tahun 1977.

Suka duka mereka saat bermain musik di rumah Keenan di Jalan Pegangsaan Barat No.12 A menjadi fokus pembicaraan yang menyita perhatian segenap peserta diskusi yang dipandu Akmal Nasery Basral dari majalah Tempo.Terlihat Indrawati Widjaja dari Musica Studios sebagai label yang mengontrak Chrisye sejak tahun 1978 serta Adjie Soetama, komposer yang mulai bekerjasama menggarap album Chrisye pada tahun 1985-1987.

Di sesi terakhir Akmal lalu meminta Chrisye maju ke forum untuk berbagi cerita tentang perjalanan karirnya yang panjang dalam khazanah musik Indonesia.

Sebuah kenangan yang tak mungkin terlupakan.

1.Warung Kopi Prambors (Cangkir Kopi)                                Pramaqua,1979

Kaset Warkop Prambors pertama di tahun 1979 (Foto Denny Sakrie)

Kaset Warkop Prambors pertama di tahun 1979 (Foto Denny Sakrie)

   Ini album pertama Warung Kopi Prambors dengan kover secangkir kopi yang dirilis Pramaqua pada tahun 1979.Terdiri atas Nanu,Kasino,Dono dan Indro.Diangkat dari pertunjukan Warkop di Palembang pada tahun 1979 serta di studio Gelora Seni dengan peñata suara Alex Kumara  dan Dannes Item .Joke reading mendominasi isi kaset ini.Mereka terampil melempar folklorik bernuansa  etnik.Pihak Pramaqua memberi  flatpay  sebesar Rp 10 juta untuk Warkop.Jumlah yang besar jika dibandingkan saat Pramaqua membayar album  perdana  God Bless (1976) sebesar Rp 5 juta.Kaset ini laku sebanyak 260 ribu keping melampaui penjualan LCLR Prambors 1977 dan Badai pasti Berlalu. Disini tampil pula musik dangdut lewat pemunculan Orkes Melayu Rindu Order yang dipimpin Pak Djumadi .Kenapa bernama Rindu Order ? .”Abis tiap hari pak Djumadi selalu nelpon ke kita ada job lagi gak buat kite-kite.Langsung kite namain aja OM Rindu Order” jelas Indro yang terampil meniup suling bambu itu.

Covernya yang dirancang oleh Lesin  pun terlihat  artistik.Menampilkan sebuah cangkir dengan kopi yang mengepul.

 

 

2.Warung Kopi Prambors (Warung Tenda)      Pramaqua,1979

Kaset Warkop Prambors Warung Tenda (Foto Denny Sakrie)

Kaset Warkop Prambors Warung Tenda (Foto Denny Sakrie)

Dengan illustrasi  sebuah WarungTenda yang kembali ditoreh  perancang grafis Lesin , album kedua Warkop Prambors kian memantapkan diri sebagai  kelompok lawak dengan ketrampilan melahirkan sindiran dalam bentuk jokes.

Baron Ahmadi menuliskan beberapa kisah humor.Warkop pun mulai melakukan parodi lagu diantranya memplesetkan lagu “Kidung” karya Chris Manusama..”Karena di lagu Kidung kami memplesetkan kata kelabu menjadi Callebout,maka kami pun meminta izin terlebih dahulu pada mbak Doris Calebout.Musik digarap Abadi Soesman dan Ian Antono  dari God Bless serta Orkes Keroncong Irama Jemblem.Warkop bereksperimen memadukan musik  rock dan keroncong.Introduksi menampilkan solo gitar rock yang meraung raung dari jari jemari Ian Antono lalu bersambung dengan gaya keroncong yang khas dari Orkes Keroncong Irama Jemblem mengiringi Kasino yang mendendangkan “Jenang Gulo” dengan syahdu. Di album ini Pramaqua menaikkan harga Warkop menjadi Rp 25 juta per album.Sebuah pembayaran yang cukup fantastik.Di tahun yang sama Achmad Albar merilis album dangdut bertajuk “Zakia” yang kabarnya juga dibayar sekitar Rp.25 juta.Kaset kedua Warkop ini digawangi oleh 4 penata suara handal Jakarta saat itu yaitu Alex Kumara,In Chung,Stanley dan Dannes Item.

Rekaman di muka A adalah saat Warkop tampil secara live di Jakarta dan Bandung.Lalu di muka B menampilkan rekaman live Warkop di kota Pontianak dan sisanya di Studio Irama Mas yang terletak di kawasan Pluit  Jakarta.Kasino menyanyikan lagu “John Tra La La” karya Chris Manusama yang diiringi Abadi Soesman Band.Intronya mengingatkan kita pada komposisi karya Billy Preston “Nothing From Nothing” (1972)

 

 

3.Warung Kopi & OM PSP                                                 DD Record 1979

 

 

Diangkat dari acara memperingati Hari Ulang Tahun ke 16  TVRI pada tahun 1978 yang mempertemukan Warkop Prambors dan Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks.Kolaborasi ini seperti reuni almamater Universitas Indonesia.Kasino dan Dono berduet lewat lagu “Saudara” yang pernah dipopulerkan  penyanyi dangdut Ellya Khadam serta lagu “Siksa Kubur” yang dipopulerkan Ida Laila.Nanu malah menyanyikan lagu dangdut milik Koes Plus yang dipopulerkan Elvy Sukaesih “Cubit Cubitan” dengan aksen Tapanuli yang khas dan sudah pasti bikin gerrr.OM PSP sendiri menyanyikan lagu lagu seperti “Seiya Sekata”,”Milikmu” dan “Karena Lirikan”.

Mungkin karena sama sama satu almamater,kolaborasi humor antara Warkop Prambors dan OM PSP terdengar lebih menyatu dan tek-tok.Kerap menyentil peristiwa aktual saat itu .Sebuah formula lawak dan musik yang bersenyawa dengan bagus.

 

 4.Mana Tahan                                                       Purnama Record , 1980

Walaupun muka Nanu terlihat pada sampul kaset yangdiambil dari poster film perdana Warkop Prambors “Mana Tahaaan” ,namun ini merupakan kali pertama Warkop Prambors tampil bertiga setelah Nanu Mulyono  bersolo karir dengan membintangi film “Rojali dan Juleha”.”Sebetulnya saat itu Nanu absen bersama kita karena harus menyelesaikan mata kuliahnya yang banyak terbengkalai di kampus” ungkap Indro.Kaset ini pun tetap menampilkan puspa ragam lelucon yang dipadu lagu-lagu yang diangkat dari soundtrack film “Mana Tahan” dengan musik yang digarap Yockie Suryoprayogo dan Abadi Soesman.Penulis humor Arwah Setiawan bersama Yusuf Lubis,Tejo dan Kasino didapuk sebagai tim penulis naskah humornya

Yockie  Suryoprayogo yang saat itu tengah melejit sebagai pasangan Yockie Chrisye dalam menghasilkan album “Sabda Alam” dan “Percik Pesona” menampilkan sebuah warna musik dangdut kontemporer di kaset “Mana Tahan” ini.Simak permainan Solina String Yockie pada introduksi dan interlude lagu “Andeca Andeci” karya Oslan Husein  lewat duet Kasino dan ratu dangdut Elvy Sukaesih yang bernuansa progresif rock.Teknik glissando Yockie  Suryoprayogo terasa banyak dipengaruhi gaya jawara keyboard asal Switzerland Patrick Moraz yang pernah mendukung Yes dan The Moody Blues

Abadi Soesman malah menulis lagu dangdut “Mana Tahaaan” yang dinyanyikan secara keroyokan oleh Dono,Kasino dan Indro.Ternyata diam diam dua pemain keyboards yang pernah tergabung dalam band rock God Bless ini piawai  pula berlenggok dangdut.Mana Tahaaan !

Dokter Masuk Desa (Foto Denny Sakrie)

Dokter Masuk Desa (Foto Denny Sakrie)

 

5.Dokter Masuk Desa                                           Purnama, 1981

Dikaset ini untuk pertama kali Warkop Prambors hadir dengan naskah humor yang tematik.Mereka tidak lagi mengandalkan joke reading.Dengan tajuk “Dokter Masuk Desa”,Warkop menggali kisah lucu diseputar dokter yang melayani masyarakat desa.Warkop meniru gaya Sambrah yang melibatkan spontanitas penonton sebagai bagian dari cerita.Perubahan gaya lawak Warkop Prambors ini memang telah termaktub pada liner notes yang terpancang di bagian dalam sampul kasetnya :” Begitu suara ini sampai di gendang telinga anda,anda akan menemukan warna Warung Kopi yang lain.Kami tak lagi menghadirkan penggalan-penggalan jokes seperti sebelumnya.Alasannya ? Kami mencoba berimprovisasi dengan meninggalkan patokan-patokan naskah atau perencanaan yang selalu kami tulis sebelum muncul.Spontanitas ! Itu yang ingin kami sampaikan seperti model “sambrah” yang melibatkan juga penonton secara verbal waktu kaset ini dibuat.Keterlibatan verbal itulah yang kami harapkan bisa dinikmati sebagai sebuah kaset.

Musik disuguhkan oleh band bocah Irama Teler “Pengantar Minum Racun” yang kelak akan dikenal sebagai Orkes Moral Pengantar Minum Racun dengan frontman-nya Johnny Iskandar.Mereka mengiringi Kasino menyanyikan lagu “Just The Way You Are” nya Billy Joel dalam irama dangdut dan liriknya pun diubah menjadi “Modal Asing”.Kelompok “Pengantar Minum Racun” ini pun menyodorkan dua lagu ciptaannya yaitu “Gengsi Anak Muda” dan “Pelajaran Bahasa Inggeris Jilid Dua” yang dinyanyikan oleh siapa lagi kalau bukan Kasino.

Gerhana Asmara Gepeng Srimulat  dan Warung Kopi (Foto Denny Sakrie)

Gerhana Asmara Gepeng Srimulat dan Warung Kopi (Foto Denny Sakrie)

 

 

6.Gerhana Asmara (Warkop dan Sri Mulat)    JAL Record 1982

Warkop berkolaborasi dengan  kelompok lawak tradisional Sri Mulat yang menurunkan pemain seperti Gepeng,Tarsan,Asmuni,Basuki dan Jujuk.Cerita yang mengambil kisah romansa ini memperlihatkan ketrampilan dua kelompok lawak ini dalam pola interaksi yang responsive,walau keduanya memiliki latar belakang gaya humor yang berbeda

Rekamanlawak  ini berlangsung didua kota yaitu Jakarta dan Solo.Di Solo berlangsung di Sahid Jaya Hotel Solo yang didukung Gepeng,Indro dan Kasino.Saat itu Gepeng “dipinjam” dari Lembaga Pemasyarakatan Solo karena memiliki senjata api .Rekaman lainnya berlangsung di Jakarta yang melibatkan Dono dan Tarsan.Kolaborasi ini ternyata memang gerrrr……

Pengen Melek Hukum (Foto Denny Sakrie)

Pengen Melek Hukum (Foto Denny Sakrie)

 

7.Pengen Melek Hukum                                       Insan Record,1983

 

Indro berperan sebagai mahasiswa Fakultas Hukum yang aktif memberikan penyuluhan hukum pada masyarakat.Sindiran terhadap dunia hukum serta masalah korupsi menjadi materi humor yang memenuhi lakon cerita.Penulis humor Tri Sakeh dan kartunis Johnny Hidayat menuliskan naskah ceritanya.Salah satu lakon lawak terbaik Warkop.

Musik digarap oleh Gatot Sudarto yang kerap membuat illustrasi musik untuk film-film layar lebar.Gatot menulis dua lagu di kaset ini yaitu “Obrolan Warung Kopi” yang liriknya ditulis oleh Gatot Sudarto,Tris Sakeh dan Yudhie NH.Lagu ini dibawakan dengan gaya folk yang segar.Bahkan harmonisasi suara Kasino dan Indro sepintas seolah meniru gaya The Everly Brothers.Lagu lainnya adalah “Jakarta Jakarta” yang liriknya pun ditulis trio Gatot Sudarto,Tris Sakeh dan Yudhie  NH.Namun yang menarik adalah saat Gatot dengan jahil memedleykan lagu “Jula Juli” dengan lagu “Maybe” nya Thom Pace yang menjadi tema lagu serial televise sohor saat itu Grizzly Adams.

Gatot Sudarto memang tak ingin setengah setengah dalam menata arransemen music untuk Warkop Prambors ini antara lain dengan menyusupkan elemen instrument musik tiup dan gesek.

 

Kaset Semua Bisa Diatur (Foto Denny Sakrie)

Kaset Semua Bisa Diatur (Foto Denny Sakrie)

 

8.Semuanya Bisa Diatur                                       JAL Record , 1984

Dengan mengambil jargon yang saat itu kerap diucapkan Wakil Presiden Adam Malik “Semua Bisa Diatur”,Warkop kali ini bertutur tentang seorang Lurah yang baru diangkat sebagi Lurah Desa.Indro berperan sebagai Lurah.Kasino dan Dono memerankan orang desa yang lugu tapi jahil.Humor bernuansa kritik sosial  bertebaran disana-sini. Karena saat itu tengah demam Michael Jackson,Kasino pun memplesetkan lagu “Beat It” menjadi “Cepirit”.Di saat bersamaan lagu Michael Jackson itu pun diplesetkan oleh penyanyi Weird Al Yankovic menjadi “Eat It”.Al Yankovic tercatat sebagai penyanyi parody,pelawak dan satirist .Kemungkinan besar Kasino terpengaruh dengan musik  parodi yang diusung oleh Weird Al Yankovic dari Amerika Serikat itu.

Kaset Pokoknya Betul (Foto Denny Sakrie)

Kaset Pokoknya Betul (Foto Denny Sakrie)

 

 

 

9.Pokoknya Betul                                                  JAL Record , 1984

Indro dan Dono berlibur ke Bali dan bersua dengan Kasino yang berperan sebagai orang Bali.Kasino berhasil memerankan orang Bali dengan bagus terutama meniru kegagalan sebagian besar orang Bali saat melafalkan kata yang dimulai dengan  huruf T secara sempurna.Untuk kedua kalinya  muncul OM Pengantar Minum Racun sebagai pengiring Warkop memparodikan lagu “Flashdance What A Feeling” yang dipolulerkan Irena Cara  dan “I Don’t Want To Talk About It” nya rocker berambut jabrik Rod Stewart.

 

10.Sama Juga Bohong                                           Sokha 1986

Album ini berisikan soundtrack yang terdapat pada film “Sama Juga Bohong” yang musiknya digarap Franki Raden.Selain Warkop,sederet penyanyi sohor saat itu ikut tampil disini seperti Gito Rollies,Farid Hardja dan Nuri Amalia.Franki Raden bahkan menulis lagu khusus untuk Warkop bertajuk “Robot Robot”.

Di kaset Warkop ini banyak bertebaran pemusik berbakat seperti Dodo Zakaria yang sebetulnya juga berperan sebagai pemain keyboardspada  band yang mengiringi  Warkop tampil di pentas pertunjukan.Ada juga drummer Symphony Ekki Soekarno  Bahkan pemusik jazz seperti Gilang Ramadhan (drums)  dan Mates (bass) serta Yoyok (saxophone) ikut mendukung musiknya.

Kaset Makin Tipis Makin Asyik (Foto Denny Sakrie)

Kaset Makin Tipis Makin Asyik (Foto Denny Sakrie)

 

11.Makin Lama Makin Tipis                                Union Artis  1987

Untuk pertamakali Warkop melepas nama Prambors dan menggantinya dengan Warkop DKI,sesuai dengan inisial ketiga anggotanya Dono Kasino dan Indro.Warkop bercerita tentang seorang guru yang mengajar dihadapan murid-muridnya yang usil dan jahil.Kali ini musik Warkop DKI  dipercayakan pada Rezky Ichwan pemusik jebolan Berklee Music of College Boston Amerika Serikat.Pilihan musiknya mengarah ke gaya jazz fusion yang saat itu ngetren. Banyak mengambil music programming yang telah deprogram terlebih dahulu tata musiknya.

Ada 2 lagu yang bisa disimak di kaset yang judulnya mengisyaratkan pada alat kontrasepsi kondom yaitu “Nggak Janji Deh Ya” (ciptaan Rezky Ichwan dan Adjie Soetama)  dan “Makin Tipis Makin Asyik” (ciptaan Rezky Ichwan dan Budi Adrian Singawinata). 

Kaset Kunyanyikan Judulku (Foto Denny Sakrie)

Kaset Kunyanyikan Judulku (Foto Denny Sakrie)

 

12.Kunyanyikan Judulku                                      Harpa 1987

Di album ini Warkop DKI lebih banyak tampil sebagai penyanyi dengan sedikit selingan lawak.Yang menarik mereka membawakan gaya blues pada lagu “Blues Derita” yang ditulis Sonny Soemarsono dan Warkop sebagai penulis lirik.Lagu Oddie Agam diplesetkan menjadi “Antara Anyer dan Panarukan”.Setelah merilis album ini,Warkop  DKI justeru tak pernah menghasilkan sebuah kaset lawak lagi.Entah kenapa.

Yang menarik juga  adalah lirik lagu “Kunyanyikan Judulku” yang diambil dari sederet judul judul film layar lebar yang pernah dibintangi Warkop :

Gantian dong,tau diri dong

  Masa situ melulu

  Pokoknya beres pokoknya beres

  Semua bias diatur

  Eh Mister Chips

  Itu Bis Tingkat

  Atas Boleh Bawah Boleh

  Mana tahan mana tahan

  Dongkrak lu antik

  Maju kena mundur kena”

 

Musiknya digarap oleh Sonny Soemarsono yang di tahun 70-an pernah tergabung dalam band Scorchless dan Sri Mulat .

Suket adalah rumput.Menurut Yockie Surjoprajogo suket itu bisa tumbuh (liar) dimana-mana.Bisa jadi Yockie tengah berfilosofi dengan Suket, sebuah proyek musik di tahun 1993 yang melibatkan banyak nama seperti Naniel (flute,suara latar),Jalu (kendang,perkusi),Edi Kemput (gitar),Rere (drums),Didiet Shaksana (bass),Ancha Haiz (vokal) .

Kaset Suket (Foto Denny Sakrie)

Kaset Suket (Foto Denny Sakrie)

Suket adalah proyek musik Yockie setelah keterlibatannya dalam Kantata Takwa maupun Swami.Dan mau tidak mau penyimak album yang sampulnya didominasi warna hijau lumut ini akan melakukan komparasi dengan kedua proyek musik Yockie bersama Iwan Fals,Sawung Jabo dan Setiawan Djody itu.Seluruh komposisi lagu ditulis oleh Yockie Surjoprajogo, sedang untuk divisi lirik ditulis oleh Naniel Kusnulyakin serta dua wartawan musik Remy Soetansyah dan Fajar Budiman.

suket2

Dari judul albumnya Potret Zaman,setifaknya kita bisa mereka-reka kearah mana konsep musiknya bergulir.Dibagian dalam kaset tertera tagline Hati Yang Tulus dan jiwa yang meredeka, hanya itulah semangat danpedomanku semoga dapat kau terima apa adanya .

Suket menebar kesaksian dan memotret sekeliling apa adanya lewat tutur lagu.Simak lirik Potret Zaman :

Kalau kebodohan dianggap kecelakaan

Akan semakin banyak pohon yang tumbang

Wajah wajah letih berjejer di tepi

hanya menanti  .

Suket juga menulis tentang fenomena jalan pintas tanpa mau bekerja dalam lagu Spekulasi :

Oh ambil jalan paling pintas

Membeli harapan yang semu

Bernafsu

susun nomer rejeki

Pada akhirnya Suket adalah seperti kumpulan opini keresahan atas kegalauan sosial yang tumbuh dan muncul dimana-mana disekitar kita.

suket3

Tracklist

1.Kontradiksi

2.Potret Zaman

3.Nyanyian Urban

4.Renungan

5.Spekulasi

6.Dunia Asmara

7.Doa Pada Cinta

8.Harapan Sang Fajar

9.tangkiwood

10.Oksigen Hitam