Membongkar Harta Karun Remaco

Posted: Desember 7, 2013 in Kisah

Telah sekian lama saya berhasrat ingin mengunjungi ruangan tempat penyimpanan pita-pita master rekaman yang pernah dirilis oleh label terbesar di Indonesia mulai paruh era 50an hingga paruh era 70an, namun tampaknya saya belum menemukan celah yang tepat.Padahal saya mengenal Sheila Timothy putri dari pemilik Remaco almarhum Eugene Timothy. Beberapa kali saya bertemu dengan Lala,demikian panggilan akrabnya, tapi bukan dalam suasana musik tapi obrolan tentang film, mengingat Lala adalah insan film yang cukup aktif dalam dunia perfilman tanah air.Lala adalah produser dari beberapa film-film Indonesia era kini seperti Pintu Terlarang hingga Modus Anomali.

Piringan Hitam produksi Remaco di era 1960an (Foto Denny Sakrie)

Piringan Hitam produksi Remaco di era 1960an (Foto Denny Sakrie)

Akhir November 2013 lalu saya bertemu David Tarigan dari Irama Nusantara.Kami berbincang tentang rilisan-rilisan monumental dari Remaco.David lalu mengatakan bahwa dia tengah membuat janji dengan Lala Timothy untuk bertemu sekaligus berkunjung ke gedung dimana sejumlah master rekaman Remaco tersimpan.

Disaat yang bersamaan Alan Bishop pemilik label Sublime Frequencies dari Seattle Amerika Serikat yang beberapa tahun lalu sempat merilis ulang album-album Dara Puspita,Koes Bersaudara hingga Koes Plus tengah berada di Jakarta.Pucuk dicinta ulam tiba kami bertiga membuat janji untuk bertemu dengan Lala Timothy sebagai ahli waris dari Remaco. Janjipun disepakati pada tanggal 5 Desember 2013.Sayangnya di hari itu saya mendadak ada meeting hingga tak sempat bertemu dengan Lala.Namun David dan Alan akhirnya bertemu dan ngobrol panjang dengan Lala.Saya hanya bisa melihat twit Lala di twitter : Just had an awesome discussion about old Indonesian music. Passion will live forever.

Salah satu album produksi Remaco dengan hits Nonton Bioskop yang dinyanyikan Bing Slamet (Foto Denny Sakrie)

Salah satu album produksi Remaco dengan hits Nonton Bioskop yang dinyanyikan Bing Slamet (Foto Denny Sakrie)

Wow……mereka terlibat pembicaraan perihal musik Remaco rupanya.Agaknya seru.Dan akhirnya saya dapat kabar dari David via BBM bahwa  jumat 6 Desember Lala mengajak mereka untuk berkunjung ke Jalan Taman Kebon Sirih 2 untuk melihat pita-pita rekaman milik Remaco yang disimpan disana.Yes…….saya kian bersemangat untuk melihat dan merasakan langsung tumpukan harta karun musik yang mewarnai dentam musik Indonesia selama lebih dari 3 dekade.Bisa dibayangkan begitu banyak penyanyi,pemusik,kelompok musik hingga pencipta lagu dari beragam genre dan subgenre musik yang musiknya direkam pada Republic Manufactur Company alias Remaco ini. Nama nama seperti Ernie Djohan,Alfian,Enteng Tanamal,Pattie Bersaudara,Bob Tutupoly,Koes Plus,Bimbo,Panbers,The Mercy’s,Favorites Group,D’Lloyd,Muchsin & Titiek Sandhora,Arie Koesmiran,Benyamin S,Oma Irama,Elvy Sukaesih,Rofiqoh Darto Wahab,Eddy Silitonga,Ade Manuhutu dan masih sederet panjang lainnya.Tak berlebihan jika saya mengatakan bahwa Remaco memberi warna dalam gugus musik Indonesia.

Saya, David Tarigan dan Alan Bishop serempak berseru : Wow ! ketika Lala Timothy mengajak kami ke lantai 3 rumah sekaligus kantor milik Luki Wanandi, suami Lala Timothy.Di ruangan ini pita reel bermerk Scoth menebar dimana-mana berdampingan dengan setumpuk can film produksi Lala Timothy seperti Pintu Terlarang maupun Modus Anomali.

Pita pita rekaman itu teronggok dengan seutas tali raffia yang membelit kotak pitanya.Dari kotak reel itu kami melihat tulisan spidol seperti Koes Plus Hard Beat Volume 1, Gambang Kromong Benyamin S,Pop Melayu D’Lloyd Vol.1 dan seterusnya.Gila……ini semua adalah rekaman-rekaman yang pernah saya dengar sejak masih kecil, sejak tahun 1969 hingga akhir tahun 1979.

Menurut Lala, sejak ayahnya  Eugene Timothy berpulang pada  tahun 2000, pita master rekaman itu masih tergeletak dan bertumpuk tak terurus di garasi rumahnya . Dua tahun kemudian Lala bersama Luki Wanandi suaminya  dipercaya untuk mengurus,menyimpan dan merawat harta karun musik Indonesia yang tiada ternilai itu dengan kondisi  sebagian besar kardus pembungkusnya telah kusam dan lusuh, malah   sebagian telah dimakan rayap.

Akhirnya Luki dan Lala berinisiatif memilih memindahkannya di salah satu ruang kantornya di Jalan Taman Kebon Sirih 2 Jakarta Pusat dengan tingkat kelembaban yang terjaga.Mereka sadar itu bukan barang rongsokan yang harus disingkirkan begitu saja.Namun benda-benda itu adalah legacy atau harta karun yang menjadi saksi dunia hiburan di negeri ini.

Beberapa diantara pita reel master itu memang telah dirilis ulang ke dalam bentuk kaset dan CD bekerja sama dengan label Virgo Ramayana Record yang beralamat di Jalan Cideng.Beberapa album-album reissue itu antara lain adalah katalog Koes Plus serta kompilasi album nostalgia.

“Kami tak menutup kemungkinan untuk merilis ulang album-album yang pernah dirilis di masa lalu itu” pungkas Lala Timothy.

Jawaban yang muncul dari bibir Lala itu ibarat angin semilir yang menyejukkan jiwa.

Bersama Alan Bishop pemilik label Sublime Frequencies (Kanada),David Tarigan (kurator dari Irama Nusantara) dan Sheila "Lala" Timothy di ruangan tempat penyimpanan pita pita reel Remaco (Foto Lala Timothy)

Bersama Alan Bishop pemilik label Sublime Frequencies (Kanada),David Tarigan (kurator dari Irama Nusantara) dan Sheila “Lala” Timothy di ruangan tempat penyimpanan pita pita reel Remaco (Foto Lala Timothy)

Iklan
Komentar
  1. Mamen Bplus berkata:

    benar benar fantastis … pengen rasanya kebagian kesempatan liat master2 rekaman artis2 jaman dlu…sy sebagai anak muda musisi yang ga sempat ngalamin masa masa jaya remaco dlu saya penasaran dengan remaco record….sy brapa kali browsing pengen liat kaya gmn gedung atau tempat keadaan remaco jaman dlu saat mengeluarkan album artis kaya koes plus,d’loyd mercys panbers dll yang merajai musik indonesia saat itu..tapi hasilnya ga ada satu pun data foto nya….kalo mas denny ada foto foto remaco jaman dlu boleh dong di share biar anak muda kaya saya bisa tau yang kaya gimana remaco record itu.. 🙂

  2. dennysakrie63 berkata:

    Sebetulnya studio Remaco itu pernah dipakai oleh Koes Plus dalam salah satu cover albumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s