Superdigi, Suara Perangkat Digital,

Posted: Desember 8, 2013 in Kisah, Musik Indonesia

Di paruh era 80an mencuat tren baru dalam khazanah musik Indonesia yaitu merebaknya teknologi MIDI yang merupakan singkatan dari Musical Instruments Digital Interface.Teknologi yang diterapkan dalam instrumen musik berbasis digital ini bisa dihubungkan satu dengan yang lainnya melalui perangkat komputer.

SuperDigi

SuperDigi

Teknologi MIDI ini mulai distandarisasikan pada tahun 1983.Teknologi MIDI dalam bermain musik ini menjadi isu hangat pada sepanjang dasawarsa 80an.Fariz RM adalah salah satu pemusik Indonesia yang cepat menanggapi kehadiran teknologi MIDI ini.Apalagi sejak tahun 1986 Fariz RM mulai tertarik untuk lebih banyak memainkan musik dalam sejumlah rekaman-rekaman albumnya dengan menggunakan instrumen musik digital yang programmable.

Super Digi dalam pentas udara terbuka, dari kiri Dandung Sandewa,Eet Sjahranie,Fariz RM dan Sonny Subowo

Super Digi dalam pentas udara terbuka, dari kiri Dandung Sandewa,Eet Sjahranie,Fariz RM dan Sonny Subowo

Beberapa keistimewaan dari teknologi MIDI adalah penerapan software sequencer yang sangat membantu seorang pemusik menghasilkan musik secara akurat dan paripurna.

Super Digi terdiri atas Eet Sjahranie,Fariz RM dan Sonny Subowo

Super Digi terdiri atas Eet Sjahranie,Fariz RM dan Sonny Subowo

Piranti-piranti seperti looping,quantization,randomization dan transposition inilah yang menjadi elemen basis teknologi MIDI.

SuperDigi diatas pentas pertunjukan

SuperDigi diatas pentas pertunjukan

Sejak album solo “Living In Western World” (1987) Fariz RM mulai cenderung menggunakan instrumen musik digital dalam bentuk keyboard programming. Di album yang menghasilkan hits “Barcelona” ini Fariz RM mengendalikan semua perangkat keyboard dalam membuat arransemen dan rhythm section.Fariz hanya ditemani Eet Sjahranie yang memainkan gitar akustik dan elektrik.

Superdigi tampil live di stadion olahraga

Superdigi tampil live di stadion olahraga

Album yang dirilis Grammy Record  inilah yang bisa dianggap cikal bakal terbentuknya kelompok musik yang diberi nama Super Digi, dan merupakan akronim dari Suara Perangkat Digital.Selain gitaris Eet Sjahranie,Fariz RM juga didukung pemain keyboard dan juga programmer bernama Sonny Subowo.Ketiga orang inilah yang kemudian mendeklarasikan diri sebagai Super Digi.Dalam kaset kompilasi Indonesia’s Top 10’89, Superdigi tampil bersama Malyda lewat lagu “Kencan” serta bersama penyanyi asal Malaysia Fairuz dalam lagu “Night In Barcelona“.Superdigi di kaset ini terdiri atas Fariz RM (keyboard),Dandung Sadewa (keyboard,vokal),Eet Sjahranie (gitar) dan Sonny Subowo (keyboard programming).

Eet Sjahranie dan Fariz RM

Eet Sjahranie dan Fariz RM

Album-album yang mereka hasilkan antara lain album solo Fariz RM “Cover Ten” yang dirilis tahun 1989 maupun “Fashionova” (1990) dengan hits Susie Bhelel dan Sungguh .Superdigi juga merilis album solo Nourma Yunita “Malam Dansa” (1990) serta album solo Malyda bertajuk “Awas”.

Di awal era 90an Superdigi termasuk padat jadwal manggungnya termasuk paling produktif dalam menghasilkan rekaman baik dalam bentuk album maupun album kompilasi yang mengandalkan singles.

Saya beruntung sempat menyaksikan salah satu konser Superdigi yang berlangsung di Gedung Kemanunggalan ABRI Rakyat Ujung Pandang pada sekitar tahun 1990.Saat itu Superdigi didukung oleh Fariz RM (vokal,keyboard),Eet Sjahranie (gitar),Sonny Subowo (programming) dan Budi Bhidun (keyboard). Superdigi tampil tanpa pemain drum dan juga pemain bass.Di pentas terlihat 3 pemusik yang masing-masing mencangklong keytar Yamaha KX 1 dan Roland.

Struktur dan karakter  musik yang dimainkan Super Digi memang tetap berada di zona musik pop, namun tetap secara lentur bisa mengarah ke R&B,funk bahkan rock sekalipun.Meskipun nuansa rock yang dihasilkan dari bunyi gitar elektrik yang dimainkan Eet Sjahranie tidak terlalu dominan, namun distorsi gitar khas Eet ini memberikan aksentuasi tersendiri dalam tatanan musik SuperDigi.

Setiap Superdigi tiba di sebuah kota untuk  menggelar konser, hal pertama yang menjadi titik fokus mereka adalah melakukan setting terhadap perangkat keyboard digital myang menjadi tulang pungung pertunjukan mereka.”Jika setting nya meleset,maka program bisa kacau balau berantakan” ujar Fariz RM menguraikan pengalamannya saat membentuk kelompok Super Digi ini.

Eet Sjahranie dan Fariz RM tengah melakukan setting equipment sebelum konser berlangsung

Eet Sjahranie dan Fariz RM tengah melakukan setting equipment sebelum konser berlangsung

Pemusik pemusik yang banyak mengandalkan keyboard digital seperti Thomas Dolby dan Howard Jones merupakan inspirasi dari kelompok Superdigi ini.Sayang Super Digi tak berusia panjang terutama ketika Eet Sjahranie lebih memilih ingin menjadi gitaris rock dengan bergabung bersama God Bless menggantikan posisi gitaris Ian Antono serta membentuk kelompok EdanE di sekitar tahun 1992. Fariz RM sendiri lalu membentuk Fariz RM Group dan mulai meninggalkan konsep band berbasis teknologi MIDI.

Komentar
  1. lddi mengatakan:

    Artis zaman dulu ngeset perangkat sendiri, zaman sekarang serba enak buat artis…dateng tinggal nyayi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s