Ketika Semut Politik Mengerubungi Gula Musik

Posted: Desember 17, 2013 in Opini

 Telah dua kali saya terpaksa batal untuk menyaksikan konser Slank.Pertama,ketika Slank tampil sebagai salah satu performer dalam ajang Jakarta Blues Festival 2013 yang berlangsung di Istora Senayan 16 November 2013.Kedua, ketika Slank menggelar konser akbar untuk pertamakali dalam rangka ulang tahun yang ke 30 di Gelora Bung Karno Senayan 13 Desember 2013 lalu. Kenapa saya batal nonton konser Slank ? Bukan karena hujan atau bukan karena macet yang belakangan ini kerap membatalkan appointment orang-orang di kota metropolitan ini.Tapi karena konser Slank sudah terkontaminasi polusi politik dengan munculnya cameo politik dari para politikus yang tiba-tiba mendadak Slank,mendadak memuja-muji Slank,mendadak satu visi,satu wawasan,satu perjuangan dengan Slank.Phuihhhh……Semua narsisme politik berlatar dengan pernak-pernik Slank itu kemudian disebar dalam format pencitraan paling menjijikkan yang tersebar di media massa hingga media sosial.

Konser Slank dengan cameo politikus (Foto Tribunews)

Konser Slank dengan cameo politikus (Foto Tribunews)

Penampilan Slank dengan menggunakan cameo politikus ini menjadi semakin memualkan karena jika kita teliti secara seksama, bahwa sosok politikus yang tiba-tiba merasa seperti bersaudara dan seperjuangan dengan Slank ini memang memiliki agenda politik yang kuat yaitu mencalonkan  diri sebagai Presiden Republik Indonesia dalam Pemilu 2014.

Anak kecil juga paham kok,kenapa sosok seperti Gita Wirjawan yang  tiba-tiba merasa seia-sekata dengan Slank.Slank,band rock and roll dengan komunitas terbesar di negeri ini pastilah menjadi angan-angan vote getter pak Menteri yang lulusan Berklee Music Of College itu.

Jika sang politikus itu memang berjiwa Slank, kenapa baru sekarang membaur dengan Slank dalam pentas-pentas pertunjukan massal ?.Ketika Slank dirundung kemalangan yang berkepanjangan dengan adanya larangan manggung dan dicekal dimana-mana, dimanakah sang pemain kibor tamu itu ?.

Nah dengan alasan-alasan yang saya kemukakan diatas itulah pangkal persoalan saya membatalkan niat untuk nonton konser Slank.Saya bukan anti Slank.Tapi rasanya mata kepala saya tak rela dan tak ikhlas Slank menjadi tameng dan topeng politikus.Slank pada akhirnya ibarat gula yang dikerubuti oleh para semut politikus yang ingin mencapai tujuan politik mereka.

Apalagi dari media sosial dan media massa akhirnya terbetik kabar bahwa Konser Slank Nggak Ada Matinya itu dipenuhi dengan cameo-cameo politik mulai dari Menpora yang memimpin menyanyikan lagu Indonesia Raya (padahal beberapa waktu sebelumnya Pak Menpora sempat lupa syair lagu kebangsaan yang ditulis oleh WR Supratman itu),Gubernur Jokowi yang membacakan Manifesto 13 Ajaran Slank hingga Gita Wirjawan yang seolah Billy Preston dalam The Beatles maupun The Rolling Stones bermain keyboard sekitar 5 lagu.

Secara pribadi saya merasakan dua konser Slank ini sudah tak murni konser rock yang slenge’an tetapi sebuah konser sarat rekayasa dengan aura simbiose mutualisme yang sangat kuat menjerat.

Saat Slank menggelar konser di GBK 13 Desember 2013, komentar-komentar bernada penyesalan dengan sikap Slank yang manggung dengan cameo politik bertebaran di media sosial dan twitter.Sejujurnya,memang banyak yang menyayangkan konser ini bertaburan pernak-pernik cameo politik.

Namun hal semacam ini patut diakui bukan terjadi untuk pertamakali di negeri ini tapi telah berlangsung berkali-kali apalagi jika telah mulai memasuki masa musim kampanye Pemilu yang sudah pasti setiap kandidat atau partai partai politik peserta Pemilu membutuhkan banyak dukungan suara.Slank adalah kelompok musik yang kesekian yang mungkin telah menjadi tameng kepentingan suara politik. Bahwa sebetulnya musik sudah dianggap sebagai sebuah kekuatan  dalam membentuk opini politik,bahkan menggalang kekuatan politik.

Agaknya jemaah penonton konser musik yang tumpah ruah ,juga merupakan sebuah inspirasi bagi para politisi untuk menggalang massa.Para frontman musik atau sang vokalis memang terlihat bagai pemimpin informal yang menakjubkan. Tampil bagaikan sosok messiah yang mampu menggerakan jemaahnya dengan  jumlahnya alang kepalang itu.

Tak heran jika dalam setiap kampanye,sosok artis atau pemusik pun didekati oleh para politisi.Karena mereka yakin sosok para penghibur merupakan magnet kuat untuk menggalang massa sebanyak-banyaknya.

Di Negara kita itu telah terlihat pada arena kampanye Pemilu di tahun 1971,disaat Orde Baru mulai mengambil tampuk kekuasaan yang berlanjut hingga lebih dari 3 dasawarsa.

Bing Slamet lalu menyanyikan lagu “Pohon Beringin” yang dikemas dalam piringan hitam bertajuk “Souvenir Pemilu 1971”.Pemujaan terhadap Golkar menyeruak dalam lirik lirik pretensius yang dinyanyikan Bing Slamet. .

Sejak itulah fenomena sederet partai politik meminang sejumlah artis untuk dijajakan di garda depan mulai mencuat.Karena mereka mahfum kalangan selebritas ini memiliki massa kuat.Lewat nyanyian mereka yang mencandu khalayak atau tampilan wajah yang good looking akan menyihir benak khalayak untuk memilih partai partai mereka.

Dan formula semacam ini masih terus dipergunakan hingga sekarang ini.Bahkan.sekarang,para selebritas tak lagi dipakai sebagai pajangan namun diberi peluang menjadi caleg  walau dengan kapasitas intelektual yang sering dipertanyakan.Ini sebuah simbiose mutulisme yang sarat dengan aroma kekonyolan.

Musik ,pada galibnya ,akhirnya justeru merupakan komoditas yang  luar biasa laris hingga menjadi bagian dari sebuah kegiatan  ekonomi berskala raksasa di seluruh dunia. Patut pula dicatat bahwa  selain berfungsi ekonomis, secara politis musik berfungsi pula sebagai medium  yang jitu untuk menggalang solidaritas komunitas atau kelompok yang mengajak orang untuk bersatu padu menjadi sebuah kesatuan. Jadi semakin yakinlah kita bahwa sebuah  lagu kebangsaan yang anthemic menjadi media untuk mengingatkan rakyat agar setia terhadap  negara dan bangsanya serta memompa nasionalisme yang lunglai terkulai.Musik memang memiliki sihir lewat notasi lagu serta torehan lirik.

Deretan lirik lagu atau syair merupakan anasir vital dalam struktur komposisi lagu. Tanpa lumuran  lirik, makna musikal sebuah lagu bisa jadi seolah tanpa nyawa.Walupun sebetulnya lewat bunyi-bunyian instrumen musik saja sebetulnya mampu memvisulaissasikan visi sang pencipta lagu.Namun kekuatan lirik justeru lebih dahsyat,lebih menohok karena konteks verbalisme nya itu.Lirik adalah mantra yang mempengaruhi benak siapa saja yang mendengar atau menyimaknya. Penulis lirik yang indah dan bernas bisa disetarakan dengan para  penulis pidato-pidato yang inspiratif. Penyanyi  yang tampil di medium  panggung pertunjukan rasanya memiliki pesona yang  sama dengan para  orator kawakan yang siap menyihir massa.

Sebuah lagu dengan lirik yang memukau baru memilki arti jika disampaikan oleh penyanyi yang tepat.Peran penyanyi atau frontman sama dan sebangun dengan keanggunan dan wibawa seorang pemimpin.Bob Dylan,John Lennon,Johhny Rotten hingga Mick Jagger bisa dideretkan dengn Kennedy,Castro,Mao atau Obama sekalipun.Harry Roesli,Iwan Fals atau Slank pun tak bisa dibedakan lagi dengan Bung Karno,Bung Tomo atau siapa saja.

Idealnya,sosok pemusik atau politikus tetap harus menjalin sebuah komunikasi dengan para penggemar atau penyanjungnya.Obama atau Dylan hanyalah sebuah sosok kosong.Demikian juga Bung Karno atau Rhoma Irama,tanpa adanya para jemaah,tanpa eksistensi dari para pengikutnya yang senantiasa mengelu-elukannya : rakyat.

Politisasi  terhadap musik mungkin lebih berkembang di belahan bumi sana.Bukan disini.Maraknya gerakan protest song di Amerika Serikat misalnya di era 60-an hingga awal 70-an,merupakan sebuah kontribusi mengenai pentingnya musik tak hanya sebagai sebuah medium penghibur belaka.Protest songs ini berkumandang mengcounter isu abolisi,gerakan buruh,gerakan hak zazi manusia,anti perang ,gerakan feminis,gerakan lingkungan hidup dan entah apa lagi.

Bob Dylan lalu menyanyikan “Blowin’ In The Wind”,John Lennon meneriakkan “Give Peace Us Chance” hingga penyanyi kulit hitam Marvin Gaye mendendangkan “What’s Going On” untuk memprotes keterlibatan Amerika Serikat dalam kancah Perang Vietnam.Di bagian dunia yang lain tercatat nama nama seperti pemusik protes Victor Jara di Chili,Silvio Rodriguez di Kuba,Karel Kyryl di Ceko,Jacek  Kacmarzki di Polandia ataupun Vuyusile Mini di Afrika Selatan yang melantankan protest anti-apartheid.

Di Indonesia,Tonny Koeswoyo sekeluarnya dari penjara Glodok pada tahun 1965 setelah dipenjara karena memainkan musik ngak ngik ngok telah berteriak lantang pada tahun 1967 lewat lagu “To The So Called Guilties :

They judge the right against the wrong

While you don’t know what happened behind

Bahkan di tengah kejayaan rezim Orde Baru yang cenderung represif,Iwan Fals telah melantangkan “Surat Buat Wakil Rakyat” :

Wakil rakyat seharusnya merakyat
jangan tidur waktu sidang soal rakyat
jangan tidur waktu sidang soal rakyat
wakil rakyat bukan paduan suara
hanya tahu nyanyian lagu “setuju……”

Dan Slank pernah membuat kuping para wakil rakyat di Senayan memerah karena lirik lagu “Gossip Jalanan ” :

Mau tau gak mafia di Senayan.

Kerjanya tukang buat peraturan.

Bikin UUD ujung-ujungnya duit

Jelas sudah,bahwa pemusik bukanlah boneka pemikat dan bukan magnet penarik ummat.Pemusik adalah seniman yang punya sikap.Sesunguhnya,para pemusik memiliki kontribusi besar untuk menggiring khalayak ke sikap yang benar.Pemusik memiliki kekuatan yang sama dengan para pemimpin atau para politisi.

Salah besar jika seorang pemusik,seorang frontman,justeru membiarkan diri dan karya-karyanya  menjadi bagian dari politisasi oleh para politisi untuk mendukung Pemilu .Ingat musisi bukan politisi.Karena,seyogyanyalah,posisi politik atau sikap politik mereka justeru independen.Tidak berpihak kesana kemari.

Saya jadi teringat dengan sikap Yok Koeswoyo dari Koes Plus yang menolak untuk tampil bersama bersama SBY.”Koes Plus kan milik semua partai” kilah Yok Koeswoyo.Dan itu sebuah sikap yang harus dihormati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s