Indie Pop di Upper Room

Posted: Desember 20, 2013 in Konser

Tulisan saya ini pernah dimuat di Koran Tempo kamis 26 Juli 2007 .

I’ll never find another way .

to say I love you more each day

It’s quite romantic I know .

That’s how I wanna feel today .

I wanna feel this way today .

Can you feel my heartbeat .

Can you feel my heartbeat.

Can you feel my heartbeat .

When I’m close to you

Sekitar 2.000 penonton yang menjejali Upper Room, Hotel Nikko, di Jalan Thamrin, Jakarta, Sabtu lalu, ikut bernyanyi bersama Tahiti 80. Kelompok indie-pop asal Prancis ini mengumandangkan Heartbeat, lagu dari debut album mereka bertajuk Puzzle (2000).

Sebuah pemandangan yang menakjubkan. Lantaran Tahiti 80 adalah kelompok musik yang tercerabut dari komunitas indie. Jika Tahiti 80 adalah kelompok mainstream dari gugus musik industrial, hal demikian merupakan sesuatu yang wajar. Nyaris dalam sepanjang pertunjukan Tahiti 80, yang dibuka oleh penampilan kelompok indie lokal, seperti Sore dan Pure Saturday, penonton–yang rata-rata berusia 17-25 tahun–menjadi choir tak resmi.

HH

Alhasil, Tahiti 80 tak perlu lagi mengajak atau menghasut penonton untuk bernyanyi. Lagu-lagu bertempo medium-up beat dan catchy dari album terakhirnya, Fosbury, seperti Big Day dan Matter of Time, pun akhirnya dinyanyikan secara massal.

Come and get it,come and get it now
There’s a big day waiting for you

Tak pelak, grup yang terdiri atas Xavier Boyer (vokal utama dan keyboard), Pedro Resende (bas), Mederic Gontier (gitar), serta Sylvain Marchand (drum) terpesona dan semringah melihat polah tingkah penonton Indonesia yang responsif. Dan konser Tahiti 80 ini tampaknya mengulang lagi sukses yang dicapai beberapa kelompok indie yang manggung di Upper Room beberapa waktu lalu, seperti Kings of Convenience, Club 8, dan Sondre Lerche. Tak berlebihan jika Upper Room pada akhirnya bisa dianggap venue yang mempertemukan kelompok musik indie dengan para penggemarnya.

Menariknya, kelompok musik indie yang manggung di Upper Room justru banyak terpengaruh oleh musik pop era terdahulu. Sebut saja, misalnya, Kings of Convenience, yang justru mengingatkan kita pada pola harmoni vokal ala Simon & Garfunkel; Sondre Lerche, yang dipengaruhi Nick Drake dan Elvis Costello; Club 8, yang terpengaruh The Smith ataupun Antonio Carlos Jobim. Kings of Convenience dan Sondre Lerche berasal dari Norwegia, sedangkan Club 8 berasal dari Swedia.

BB

Kelompok-kelompok musik dari Eropa ini memang memendam kekaguman terhadap pencapaian musik pop era masa silam. Serpihan-serpihan musik masa lalu itu lalu diracik dengan semangat kekinian.

Pola semacam itu jualah yang ditapaki oleh kelompok musik indie negeri ini, seperti White Shoes & Couples Company, The Adams, Mocca, ataupun Sore, yang malam itu didapuk menjadi salah satu band pembuka konser Tahiti 80. Mereka, para pemusik muda, seolah hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang sebetulnya justru tak pernah mereka alami. Sebuah upaya pseudo dalam ranah musik yang bisa dianggap menjembatani gap generation.

Karakter vokal Xavier Boyer terasa elastis. Timbre vokalnya seolah menjejak pada dua sekat berbeda, antara atmosfer yang manis dan lembut hingga geraman yang terasa menggigit. Setidaknya timbre vokal Boyer mengingatkan kita pada Eric Carmen dari The Raspberries ataupun John Waite dari The Babys. Terkadang warna yang mencuat seolah merupakan gabungan antara perangai vocal Paul McCartney dan John Lennon. Dalam Your Love Shines, Boyer malah terdengar seperti embusan lirih dari penyanyi berkulit hitam Smokey Robinson.

Tahiti 80 dibentuk oleh dua mahasiswa Universitas Rouen, Paris, Prancis, pada 1993, yaitu Xavier Boyer dan Pedro Resende. Kedua sahabat ini sangat terpukau oleh era British Invasion pada 1960-an. Mereka menggandrungi The Beatles hingga The Kinks.

Setahun berikutnya masuk gitaris Mederic Gontier serta drumer Sylvain Marchand. Lalu keempatnya memilih Tahiti 80 sebagai jati diri kelompok musiknya. “Tahiti 80 itu kami ambil dari tulisan yang tertera pada kaus yang dikenakan ayah saya ketika pulang berlibur dari kepulauan Hawaii pada 1980-an,” ujarnya sambil tersenyum. Tahiti 80 telah merilis beberapa album, seperti Puzzle (2000), Wallpaper for the Soul (2002), A Piece of Sunshine (2004), dan Fosburry (2005).

Dan para penggemar Tahiti 80 di sini justru menyimak dan mengakrabi repertoar Tahiti 80 dari Internet hingga i-Pod.

Paduan suara penonton di Upper Room pun terdengar membahana.

I know we can work it out
It just a matter of a time
Baby can’t you see
The look on my face
Won’t you give me a try

Denny Sakrie, pengamat musik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s