Java Jazz, Sebuah Deja Vu Fusion

Posted: Desember 20, 2013 in Konser

Sekitar Jam 15.10 saya memasuki ruang Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Cikini Jakarta kamis 10 Desember 2009.Di atas pentas terlihat Indra Lesmana,Dewa Budjana,Gilang Ramadhan,AS Mates dan Donny Suhendra tengah melakukan final reherseal untuk konser “Java Jazz” yang akan disajikan jam 20.00 WIB.

Indra Lesmana (Foto Djajusman Joenoes)

Indra Lesmana (Foto Djajusman Joenoes)

Saat itu mereka berlima tengah memainkan komposisi yang ditulis Indra Lesmana pada awal dekade 90-an “Bulan Di atas Asia”.

Dewa Budjana (Foto Djajusman Joenoes)

Dewa Budjana (Foto Djajusman Joenoes)

Geletar komposisi yang seolah merangkum nuansa etnik musik Asia ini seolah mencubit kuping saya.Saya seperti terjerembab ke kawah deja vu.Kenapa ? karena atmosfer musik seperti ini,mungkin lebih tepat disebut fusion,syahdan dahulu antara paruh 80-an hingga awal 90-an pernah mengguncang degup nurani saya.

Gilang Ramadhan (Foto Djajusman Joenoes)

Gilang Ramadhan (Foto Djajusman Joenoes)

Saat itu juga,saya seolah telah merasakan keriaan apa yang akan saya peroleh dari persembahan Java Jazz yang seperti kebanyakan band-band era sebelumnya,pada giat melakukan ritual reuni.
Dan untungnya Java Jazz bisa menyelamatkan perahu mereka dari tudingan :”ah……sekedar nostalgia aja “.Mereka seolah menjahit kembali kain dan benang yang sempat terkoyak dalam rentang 11 tahun.Karena dalam kekiniannya,Java Jazz menyempatkan diri merekam komposisi komposisi baru yang sebahagian dibawakan dalam konser bahkan sudah terangkum dalam album terbaru mereka bertajuk “Joy Joy Joy”
Dalam kekiniannya pula,Java Jazz terlihat seperti menyeruakkan ambience baru dalam permukaan tata musiknya.Ada kesan bahwa mereka ini ingin lebih cenderung meniupkan ruh anasir musik rock terutama jika menyimak duo dynamic gitar yang dipintal Dewa Budjana dan Donny Suhendra.
Kesan itu telah terasa saat Java Jazz memulai pertunjukan pada jam 20.27 WIB dengan komposisi “Drama” yang diambil dari album “Java Jazz” di tahun 1993 silam.

Donny Suhendra

Donny Suhendra

Java Jazz tampil lugas dan ketat.Rhythm section-nya padu dan pipih.Gilang Ramadhan menampilkan aura seorang rock star mengingatkan kita pada gaya Tony Williams dalam proyek berbasisa rock atau Bill Bruford yang mengimbuh jazz dalam bingkai rock.Kurang lebih seperti itula analoginya.
Keputusan untuk meniadakan ruang untuk bunyi saxophone yang dulu diisi oleh almarhum Embong Rahardjo merupakan keputusan berani dan sarat ranjau spekulatif.Tapi toh dengan konsep yang agak bergeser,meski tak sampai menguburkan jatidiri yang tertoreh sejak awal,membuat tampilan Java Jazz lebih bernas,bergairah dan bermagnet pula.

Java Jazz

Java Jazz

Di sektor keyboard Indra Lesmana memang banyak menyeruakkan sound vintage dari perangkat piano elektrik Lender Rhodes Stage 73 maupun miniMoog synthesizers,Little Phatty Moog,Hammond XB2 termasuk Hammond Melodica.Dalam beberapa segmen Indra Lesmana pun tak pernah lepas dengan breathe controller-nya,sesuatu yang mungkin dilakukan untuk sedikit mengisi ruang yang pernah diisi almarhum Embong Rahardjo.
Dewa Budjana sendiri banyak mengdopsi riffing yang beratmosfer rock lewat gitar Parker-nya serta menggerayangi dawai Hofner Banjo yang kadang membuat saya jadi teringat dengan sosok Bela Fleck dengan Flecktones-nya itu.Kenapa ? karena oleh Bela Fleck maupun Budjana,mampu menepiskan imaji bahwa banjo hanya tepat untuk musik country,bluegrass atau dixieland belaka.

jj6
Musik Java Jazz relatif bisa diterima oleh bukan penyimak jazz advanced.Mungkin karena Java Jazz masih hirau dengan keramahtamahan notasi yang melodik.Mereka pun kerap melakukan repetisi.
Serta beat yang masih “masuk akal”.Walau terkadang pergeseran dari multi-tempo yang terecerabut dalam sebuah komposisi seperti “Exit Permit”,sebuah lagu baru karya Indra Lesmana dan Gilang Ramadhan yang terdapat dalam album “Joy Joy Joy”,kadang bisa membuat penonton Java Jazz terkejut.Semisal pergeseran dari pola 7/8 lalu kemudian menukik lagi ke dalam pola normal 4/4.Bahkan di sini bassline yang dihadirkan Mates seperti membawa kita pada lagu “Do It Again” nya Steely Dan di paruh era 70-an.Degup jantung kita seolah diaduk disini.
Java Jazz pun terampil menata set list,dengan memperhitungkan dinamika dan mood .Ini terlihat ketika Jav Jazz yang kemudian memainkan The Seeker,karya lama mereka yang mengingatkan kita pada lagu-lagu jazz friendly yang kerap diputar di radio-radio dengan bersematkan label smooth jazz.

jj7
Pengaruh rock,terasa lagi pada komposisi baru karya Dewa Budjana dan Indra Lesmana bertajuk “Border Line” yang membawa imaji penonton pada adegan kejar kejaran dalam film layar lebar.
Riffing gitar berbingkai distorsi yang digetarkan Budjana terasa adalah bentuk adopsi Budjana terhadap karakter gamelan Bali yang agresif.Ini mungkin seperti ingin meneruskan tradisi adopsi musik etnikal yang terjadi pada lagu “Bulan Di Asia” : mereka menghasilkan atmosfer etnik tanpa harus menyemaikan instrumen tradisional.Hal ini juga pernah dikembangkan Indra Lesmana dan Gilang Ramadhan dalam proyek Kayon beberapa waktu silam.
Dalam “I Wish”,Java Jazz terasa sekali ingin memperlihatkan bahwa mereka tak sekedar hanya ingin mengulang jejak yang pernah ditapak beberapa tahun silam.Setidaknya bagi generasi sekarang yang mungkin telah berakrab akrab dengan Medeski Martin & Wood mampu menyelami kaarkter Java Jazz disini.Namun,dalam beberapa sajiannya Java Jazz justeru mengingatkan saya pada Steps Ahead atau setidaknya Weather Report.Mulai dari penelusuran departemen keyboard,bass line hingga kemitraan duo gitarnya.Strumming gitar Budjana terasa tajam,bagaikan strumming gitar yang kerap diperlihatkan oleh band-band beraliran prog-met seperti Dream Theater misalnya.
Unsur funk yang fun pun terasa merembes dalam komposisi “Joy Joy Joy”.Penonton pun ikut terseret dalam pola riang yang dikedepankan Java Jazz.
Terlebih saat menyimak encore “Java’s Weather” yang ditampilkan dipenghujung konser Java Jazz.Karya Indra Lesmana ini memang diperuntukkan buat almarhum Josep Zawinul,dedengkot Weather Report,salah satu band fusion berpengaruh di dekade 70-an.

Setlist

1.Drama
2.Exit Permit
3.Lembah
4.The Seeker
5.I Wish
6.Crystal Sky
7.Border Line
8.Bulan Di Atas Asia
9.Violation
10.Joy Joy Joy

Encore :

11.Java’s Weather

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s