Kayon Jazz (Berdialek) Indonesia

Posted: Desember 20, 2013 in Konser

Jari jemari Indra Lesmana secara perlahan menggerayangi tuts grand piano Yamaha.Lamat-lamat gaung piano merembes,berbaur dengan geraman bass slendro Prasaja Budidarma yang dikawal sebuah ritme yang mengingatkan kita pada gandrung Banyuwangi yang tercerabut dari musik tradisional Jawa Timur .Ritme pun semakin kuat membahana,namun secara tak sadar trio ini malah merengsek ke pola ritme western.Terciumlah anasir modal jazz yang merupakan ruh dari genre hard bop maupun post bop.Itulah komposisi yang ditulis Indra Lesmana bertajuk “Kayon” sekaligus merupakan judul album bernuansa etno jazz yang dirilis Demajors Records.

Trio Kayon di Salihara

Trio Kayon di Salihara

Entah untuk yang keberapa kalinya,musik jazz bersanding dengan pesona musik etnik penampilan trio Indra Lesmana (piano,melodica),Prasaja Budidarma (bass slendro) dan Gilang Ramadhan (perkusi) pada jumat malam 7 September 2007 di Gedung Kesenian Jakarta tampaknya melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Tony Scott & Indonesian All Stars pada tahun 1967 lewat album “Djanger Bali” (MPS,1967) dan konser jazz di Berlin Jerman.

Kebetulan,trio ini tampil pula dalam acara “Asia Pacific 2007” pada tanggal 13 September 2007 di Berlin atas undangan dari “House of World Culture”. Menurut Indra Lesmana,tema yang ditentukan penyelenggara adalah pengaruh Be Bop atau Hard Bop dalam aura musik di sekitar Asia Pasifik.
Persenyawaan antara bop dan musik etnik Indonesia akhirnya menjadi pilihan trio yang sebetulnya telah terbentuk di sekitar tahun 1986.
Dalam konser yang menyuguhkan 8 komposisi dari album “Kayon” itu,stigma keterpaksaan menyatunya konsep east meets west menjadi lumer disini.
Mungkin karena ketrampilan ketiga instrumentalis mandraguna ini justeru mencuatkan polarisasi aura musik kutub timur dan kutub barat.
Jika mencermati perhelatan musik Indra Pra Gilang ini,maka kita akan menyingkap siasat mereka dalam memadu musiknya.Walau memendam muatan musik etnik,trio ini terlihat tetap hirau pada instrumen Barat seperti piano,bass dan drum.Meskipun untuk bass telah dilakukan modifikasi secara slendro.Sementara drum kit Gilang Ramadhan dilengkapi ragam perkusi seperti kenong,kecrek dan ceng ceng.
Instrumentasi Barat memang dihadirkan dengan feel etnik yang kuat.Misalnya pada lagu “Mumang”, mereka menyerap pengaruh musik dari ranah Aceh.Gilang Ramadhan mengeksplorasi bunyi-bunyian perkusi Aceh yang repetitif.Indra terkadang mengimbuh dengan ketukan piano secara single not .

Jika membandingkan pencapaian yang dilakukan Indonesian All Stars di tahun 1967 yang terdiri atas Jack Lesmana (gitar),Bubi Chen (piano),Benny Mustafa (drums),Jopi Chen (bas) dan Maryono (saxophone),maka terlihat kemiripan.Saat itu Jack Lesmana,ayah Indra,hanya memetik senar gitar dalam nada rendah untuk menghasilkan bunyi gong maupun kenong.
Indra sendiri menyentuh bagian string piano untuk meniru bunyi kenong ketika Gilang Ramadhan tengah memainkan solo drumming.
Beruntung ketiga pemusik ini sebelumnya sudah seringkali melakukan persenyawaan dengan musik etnik.Gilang Ramadhan bersama kelompoknya Nera banyak menjelujur ragam musik Timor hingga Papua.Pra Budi Dharma bersama kelompok
Krakatau banyak menyerap anasir musik Karawitan Sunda dan Nanggroe Aceh Darussalam.Indra Lesmana pernah menyusupkan musik Jegog dari Bali dalam konser “Megalitikum Kuantum” dua tahun silam.
Mereka paham betul bagaimana menyelinapkan tema dalam pola ritme yang baur
itu. Dalam lagu “Pangheurepan” Indra Lesmana meniup melodica dengan struktur
melodi Sunda menggantikan bunyi seruling.
Rentak tifa yang repetitif dihasilkan Gilang Ramadhan melalui perangkat drumnya pada lagu “Mademato Kamaki Sawosi”.Sementara dari permainan bass Pra terasa unsur funk yang groovy.
Pada komposisi “Little Jakarta”,Indra Lesmana memainkan ritme piano dengan
nuansa Gambang Kromong. Nuansa Qasidah dan musik Melayu terendus pada lagu “First Dawn”.Di lagu ini Gilang menghadirkan pola ritme rebana yang diikuti gemerincing piano Indra Lesmana.
Karakteristik musik etnik seperti dari Jawa,Bali,Sumatera dan Papua yang bersanding dengan karakter modern jazz memang tak saling mengintimidasi.Tepatnya lebih bertumpu pada kredo saling isi.Unsur unsur jazz seperti swingin maupun bop tetap menancap kuat.Siasat seperti pergeseran chord banyak membantu menampilkan kemasan etno-jazz yang mengalir.Dan rasanya inilah yang membedakannya dengan world music.
Jazz berdialek Indonesia,mungkin inilah jawaban yang tepat jika ada yang berupaya menelisik musik seperti apakah yang kali ini diusung Indra Lesmana Pra Budidarma Gilang Ramadhan.

Denny Sakrie,pengamat musik

(tulisan ini di muat di Koran Tempo 11 September 2007)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s