Tabuhan Sang Empu Tabuh-tabuhan (In Memoriam Innisisri 1951 – 2009)

Posted: Desember 20, 2013 in Obituari

Dunia musik Indonesia kembali menunduk dalam duka.Innisisri,empu tabuh-tabuhan yang bermain musik dari zona rock,pop,hingga etnikal ini telah menutup lembaran karya musiknya pada Rabu 30 September 2009 untuk selama-lamanya karena mengidap kanker usus sejak setahun silam.Kehilangan,jelas membayangi kepergian lelaki gondrong berkumis tebal bernama Sri Kadaryatmo.Betapa tidak dalam sepanjang karir musiknya dia telah menorehkan begitu banyak kreativitas dari berbagai perangai musik.Innisisri seolah ditakdirkan selalu hadir dalam ajang musik apapun dibalik perangkat tabuh tabuhan,baik dari Barat maupun Timur,yang ditabuhnya.Pemahaman musiknya,akhirnya berkembang secara eklektik.dari yang berkonotasi hiburan hingga yang apresiatif. Sungguh sebuah etos kerja seni yang membutuhkan dan menguras energi.Darah Innisisri,tak diragukan lagi,telah berbaur dengan musik.Terus bergulir hingga nafas terakhirnya.Di mata saya Innisisri tak hanya seorang drummer.Tak hanya seorang perkusionis.Juga tak hanya seorang komposer saja.Tapi dia adalah empu yang tak habis-habisnya menabuh genderang musik. Sukma musik menitis dari keluarganya yang menggemari musik keroncong.Masa kecilnya di Semarang diisi dengan ritual musik yang membuatnya kepayang tiada alang.

INNI

Karir musik Sri Kadaryatmo bermula saat masih duduk dibangku SMA di tahun 1968,di saat generasi bunga mulai merekah diberbagai penjuru jagat termasuk Indonesia.Instrumen bass pun dipetiknya bersama sebuah band sekolahan.Namun kegandrungannya terhadap John Bonham,drummer adidaya grup rock Inggeris Led Zeppelin menbuat Sri yang tengah terhipnotis pesona music rock berpindah memainkan drum.Pola drummingnya pun dipatut-patutkan dengan gaya Bonham yang memadukan energi dan presisi bermain.Euphoria ngerock ditumpahkan Sri dalam kelompok The Lheps di Yogyakarta.Masuk era 70-an,Sri kembali ke Semarang dan membentuk grup rock Spider yang mulai menyembulkan nama dalam keriuhan musik panggung beratmosfer rock.Di paruh 70-an,untuk pertamakalinya Sri masuk ke bilik rekaman bersama kelompok vokal bernama Amudas (Anak Muda Semarang).Sri lalu diajak bergabung dalam “Kelompok Kampungan”,kelompok music yang dibentuk Bram Makahekum dari komunitas Bengkel Teater WS Rendra.Kelompok ini sering menautkan diri dalam kegiatan panggung Bengkel Teater,diantaranya mendukung drama “Sekda” di tahun 1977.Kelompok Kampungan yang kemudian merilis album “Mencari Tuhan “ (Akurama,1980) selalu tampil dengan gaya yang mbeling dan lirik lirik yang bermuatan kritik sosial.

Bersama dengan anggota Kelompok Kampungan Areng Widodo, Sri lalu banyak ikut menggarap album rock dalam bentuk rekaman antara lain album bertajuk “Dunia Huru Hara” dari Achmad Albar (Ski Record ,1982).Pola drummingnya yang menjejalkan detak rock,memang sangat diperlukan di album ini.Ketukannya pun khas dan sukar ditiru.

Lalu dalam kurun waktu tahun 1982 hingga 1990, Innisisri tergabung dalam kelompok “Sirkus Barock” yang digagas Sawung Jabo.Denyut rock pun masih terasa dalam kelompok yang juga banyak bertumpu pada lagu lagu beratmosfer kritik sosial.Jika menelusuri kiprah Sri saat bergabung dalam Kelompok Kampungan maupun Sirkus Barock,mau kita akan menemukan sebuah proses persemaian musik semacam kredo “east meet west” yang menghasilkan music rock dengan rasa Indonesia yang kental,mulai dari racikan arransemen hingga cara bertutur.Sebuah asimilasi musik pun telah mencuat.Proses saling serap atau campur mencampur aura bermusik ini memang hal lumrah.Dia dalah proses menuju kukuhnya sebuah jatidiri.Kredo seperti inilah yang kelak melatari berbagai proyek musik yang diikuti Sri entah itu Kantata Takwa,Swami,Dalbo hingga Kahanan,eksperimentasi musik yang digeluti Sri hingga akhir hayatnya.

Sosok Innisisri kemudian lebih lekat dengan Kahanan,yang mengangkat khazanah musik tradisional dalam peta musik kontemporer terutama perangkat perkusi sebagai primadona.Menurut Sri,Kahanan itu adalah bahasa Jawa yang bisa diartikan sebagai sebuah keadaan.Sebuah keadaan dalam kehidupan,baik kehidupan manusia secara invidual maupun secara sosial yang terikat dan terkait dalam kehidupan alam semesta secara luas.

Konsep Kahanan mulai terlihat dalam “Tragedi” karya Sawung Djabo pada ajang “Jakarta International Festival Of The Performing Art” (1992) .Dua tahun berselang Innisisri mulai menetaskan Kahanan dalam wadah Hadrah,sebuah komunitas musik Banyuwangi,bedrbentuk Orkestrasi Perkusi yang sempat dipentaskan dalam “Mundial Festival” di Tilbrug Belanda pada tahun 2001.

Kahanan yang digagas Sri,akhirnya tak hanya berkutat dalam dimensi musik belaka,melainkan menjadi semacam interaksi budaya.Kahanan pun menjadi sebuah peristiwa budaya yang gegap gempita.Kahanan pun menjadi seperti lembaran budaya yang representatif.Tak berlebihan rasanya jika saya menyebut Kahanan sebagai miniatur dari Indonesia yang majemuk itu.Ini semua digagas oleh sang empu tabuh-tabuhan,Innisisri.

Selamat jalan mas Sri.Tabuh tabuhanmu masih tetap bertalu di sanubari kami.

(Tulisan ini dimuat di majalah budaya “Gong” Yogyakarta)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s