Ketika Soneta Group Bersepanggung Dengan God Bless

Posted: Desember 22, 2013 in Kisah, Konser, Opini

28 tahun silam tepatnya tanggal 22 Desember 1985 untuk kedua kalinya Soneta Group,orkes dangdut yang dibentuk Rhoma Irama bersepanggung dengan God Bless, band rock yang dimotori Achmad Albar.Pertamakali God Bless diskenariokan tampil bersama Soneta Group pada perayaan malam tahun baru yang berlangsung di Istora Senayan Jakarta pada tanggal 31 Desember 1977. Tampilnya God Bless dan Soneta Group merupakan konser yang banyak menyerap minat penonton.Massa penonton rock dan dangdut bisa dikatakan seimbang.Bahkan bukan tak mungkin ada penikmat rock yang juga menyukai dangdut, demikian juga sebaliknya. Secara jujur harus diakui rock dan dangdut adalah musik yang memiliki karakter dan dinamika yang dekat semangat anak muda atau yang berjiwa muda.Rock dengan kredo kebebasan berekspresi nyaris memiliki persamaan dalam sudut ekspresi yang dimiliki dangdut, dimana dangdut juga merupakan ekspresi kebebasan bagi kaum akar rumput yang menurut pengamatan saya lekat dengan bunyi-bunyian musik dangdut.Mereka, yang kerap terpinggirkan,menemukan ekspresi kebebasan saat rentak dan ritme  dangdut membahana.Bahkan kemungkinan besar justru musik dangdutlah yang justru memiliki jumlah penggemar lebih banyak dibanding musik rock.Disatu sisi,penikmat musik rock kebanyakan berkembang dari kalangan menengah keatas,yang masih menaruh kepercayaan yang tinggi terhadap budaya barat.Dimana musik rock,sebagai produk budaya pop barat dianggap memiliki kekuatan sebagai upaya eskalasi status sosial.

Achmad Albar berduet dengan Rhoma Irama di Istora Senayan jakarta 31 Desember 1977 (Foto Majalah Aktuil edisi 1978)

Achmad Albar berduet dengan Rhoma Irama di Istora Senayan jakarta 31 Desember 1977 (Foto Majalah Aktuil edisi 1978)

Rhoma Irama sadar bahwa meskipun dangdut banyak dicintai oleh kalangan bawah, tetapi kerap menjadi cemoohan orang sebagai musik kelas bawah,kampungan,musik babu dan sederet julukan yang bernada menghina dan  sarat ejekan.Rhoma Irama yang sebelum terjun total menyelami dangdut sebetulnya banyak berkutat menyanyikan lagu-lagu pop bahkan yang berbahasa Inggris seperti Paul Anka maupun Tom Jones, ini pun menyadari “kekurangan” dangdut dalam pamor.Sebagian besar masyarakat yang merasa dirinya modern pun kerap mengusik-usik dangdut seolah najis tak berampun.TVRI pun pernah mengharamkan penampilan dangdut di layar kaca.Bahkan rocker Benny Soebardja dari band Giant Step Bandung mencerca dangdut sebagai musik tai anjing.Pernyataan ini kontan menuai perseteruan panas yang mengemuka melalui majalah pop anak muda bernama Aktuil.Polemik ini kian memanas, antara Benny Soebardja dan Rhoma Irama, bahkan antar penikmat rock dan dangdut itu sendiri. Dipertengahan era 70an Benny Soebardja yang sarjana pertanian ini kembali jadi sorotan publik saat mencerca musik Dangdut sebagai musik maaf…tai anjing. Komentar panas Benny Soebardja ini ditanggapi frontal oleh Oma Irama dari kubu dangdut. Polemik yang kian memanas ini seperti diberi tempat oleh majalah pop Aktuil yang terbit di Bandung.

Disisi lain,antara tahun 1973 dan 1974 musik dangdut makin berkibar.Sukses yang dicapai Oma Irama bersama Soneta Group terutama lewat lagu Begadang, sempat menggoyang kedudukan musik pop.Eugene Timothy,pemilik label Remaco lalu bikin strategi untuk bisnis musiknya.Timothy lalu meminta band-band yang berada dibawah naungan Remaco untuk membuat album dangdut atau Pop Melayu, dimulai dari Koes Plus,Bimbo,The Mercy’s,D’Lloyd ,Favorite’s Group hingga AKA, band rock asal Surabya yang baru bergabung di Remaco.Dangdut memang menjadi primadona musik populer di Indonesia.

Namun pertikaian maupun perseteruan antara rock versus dangdut tak terelakkan dan berlangsung bertahun-tahun. Saat itu tahun 1970-an sudah mafhum bila penggemar rock tawuran dengan penggemar  dangdut. Korban terluka tak terbilang jumalhnya. Panggung Soneta Group bahkan pernah dikencingi seorang rocker. Rhoma Irama konon,  saat itu mengejarnya dengan kabel setrum. Caci-maki di panggung sampai umpatan di media bertubi-tubi.

Untungnya polemik yang meruncing tajam ini berakhir dengan perdamaian antara kedua kubu musik, baik rock maupun dangdut. Apalagi muncul fakta baru, ternyata baik Benny Soebardja maupun Oma Irma sama-sama berasal dari Tasikmalaya. Perseteruan lintas musik ini berakhir dengan happy ending.

Benny Soebardja yang menyadari arogansi dan kekeliruannya menyatkan niat bulat untu bersepanggung dengan Soneta Group tapi batal, dan akhirnya Giant Step justru sepanggung dengan penyanyi dangdut wanita Lies Saodah. Dalam solo album Benny Soebardja yang didukung band Lizzard, Benny Soebardja memasukkan unsur tabla, instrumen tabuh India yang menjadi inspirasi musik dangdut.

Tahun 1977 lewat album Hak Azazi yang dirilis Yukawi Record,Rhoma Irama bersama Soneta Groupnya mulai memasukkan elemen rock dan funk dalam sajian arransemen musiknya.Style petikan gitar elektrik Rhoma Irama mulai cenderung mengekor pada sound gitar Ritchie Blackmore, gitaris Deep Purple.Dalam lagu “Santai”,Rhoma Irama terlihat menyerap gaya funky rock ala James Gang seperti pada lagu Kick Back Man.Kostum personil Soneta Group pun mulai terlihat ngerock dengan kostum ala Spaceman.Jelas ini semua adalah upaya upaya yang ditempuh Rhoma Irama untuk menghapus stigma kampungan yang telah disematkan sebagian masyarakat kita.

Di ujung tahun 1977, akhirnya ada konser yang menyatukan God Bless dan Soneta Group.Acara sarat sensasi ini bisa juga dianggap sebagai pertanda bahwa antara musik dangdut dan rock tak ada pertikaian atau perseteruan lagi.Bahkan Rhoma Irama dengan tanpa malu-malu lagi mengadopsi gaya rock ala Deep Purple dalam sajian musik Soneta Group. Konser yang berlangsung 31 Desember 1977 itu berlangsung dengan riuh tanpa insiden sama sekali.Achmad Albar berduet dengan Rhoma Irama menyanyikan lagu Begadang serta hits dari Duo Kribo bertajuk Neraka Jahanam.

Di tahun 1979,Achmad Albar dengan musik yang digarap gitaris God Bless Ian Antono merilis album dangdut bertajuk Zakia.Album ini sukses di pasaran.Achmad Albar bahkan sempat merilis sekitar 4 album bercorak dangdut.Achmad Albar bahkan mengikuti jejak Rhoma Irama bermain dalam dua film bertema dangdut yaitu “Irama Cinta” dan “Cubit Cubitan” bersama Elvy Sukaesih.

Rhoma Irama sendiri mengajak Ucok Harahap dedengkot AKA bermain dalam film “Darah Muda” (1977) dimana di film ini Rhoma Irama yang mewakili dangdut menundukkan Ucok Harahap yang mewakili rock.Cerita sejenis ini pun berulang lagi dalam film Menggapai Matahari dan sekuelnya Menggapai Matahari II di tahun 1986, kali ini Ikang Fawzi memerankan penyanyi rock yang berseteru dengan Rhoma Irama.

Di tahun 1985 akhirnya Rhoma Irama bersepanggung dengan God Bless dalam acara bertajuk “Apresiasi Musik Anak Muda 1985” yang digelar di Stadion Utama Senayan 22 Desember mulai jam 19.00 WIB.

Leaflet acara Apresiasi Musik Anak Muda 1985 yang menampilkan God Bless dan Soneta Group 22 Desember 1985

Leaflet acara Apresiasi Musik Anak Muda 1985 yang menampilkan God Bless dan Soneta Group 22 Desember 1985

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s