Buka Bukaan Tentang Album Badai Pasti Berlalu dan Guruh Gipsy

Posted: Desember 30, 2013 in Kisah, Opini

Dimas Ario,mantan bassist Ballad of Cliche suatu hari menghubungi saya dan meminta saya untuk menjadi moderator diskusi musik yang akan membedah album fenomenal Indonesia yang secara kebetulan dirilis pada tahun 1977 yaitu Badai pasti Berlalu yang merupakan album soundtrack yang diinspirasikan dari film karya Teguh Karya “Badai pasti Berlalu” dan album Guruh Gipsy, sebuah proyek musik rock progresif yang menyandingkan musik tradisional Bali dan Rock. Kedua album ini bahkan berada di peringkat teratas dalam 150 Album Indonesia Terbaik Sepanjang Masa yang dilakukan majalah Rolling Stone Indonesia pada akhir tahun 2007.Dalam polling tersebut Badai pasti Berlalu berada di posisi nomor 1 dan album Guruh Gipsy berada dibawahnya di peringkat 2.Kebetulan saya juga ikut dalam Tim Penilai pemilihan 150 Album Terbaik Indonesia tersebut bahkan kemudian saya juga diminta untuk menuliskan perihal ikhwal musabab kedua album yang secara kebetulan adalah pemusik-pemusik yang di era akhir era 60an hingga era 70an sering nongkrong di rumah milik bapak Hasjim Saidi Nasution,ayah dari empat pemusik bersaudara Gauri Nasution,Keenan Nasution,Oding Nasution dan Debby Nasution.

Inilah pembicara dalam diskusi musik kaset Badai pasti Berlalu dan Guruh Gipsy 15 Desember 2013 (Foto Asranur)

Inilah pembicara dalam diskusi musik kaset Badai pasti Berlalu dan Guruh Gipsy 15 Desember 2013 (Foto Asranur)

Karena saya telah mengakrabi kedua kaset  tersebut, dimana pertamakali saya beli dulu saat masih duduk di kelas 2 SMP dengan menabung dari uang jajan yang dikasih ortu .Dan saya kerap kali mengulas dan menulis tentang kedua album tadi di berbagai media massa, maka ajakan Dimas Ario itu saya terima dengan senang hati.

Peserta diskusi datang dari keragaman usia dan era (Foto Asranur)

Peserta diskusi datang dari keragaman usia dan era (Foto Asranur)

Termasuk secara senang hati saya ikut pula membantu Dimas dan kawan-kawan untuk menghubungi narasumber yang rada-rada susah dan bandel saat dihubungi. Awalnya direncanakan yang akan tampil sebagai narasumber adalah Erros Djarot dan Yockie Surjoprajogo mewakili Badai Pasti Berlalu serta Guruh Sukarnoputra dan Keenan Nasution yang mewakili Guruh Gipsy.Keenan akhirnya batal karena jadwalnya bertabrakan dengan muhibahnya ke negeri Cina.Sedangkan Guruh Sukarnoputra membatalkan kehadiran karena memiliki sederet kegiatan yang bernuansa politik.Akhirnya 3 pembicara yang tampil yaitu Erros Djarot,Yockie Surjoprajogo dan Roni Harahap pianis yang menulis dua komposisi dalam Guruh Gipsy bersama Guruh yaitu Indonesia Maharddhika dan Chopin Larung.

Peserta diskusi mengikuti diskusi dengan tekun dan takzim (Foto Asranur)

Peserta diskusi mengikuti diskusi dengan tekun dan takzim (Foto Asranur)

Tujuan diskusi ini sebetulnya ingin menguak tentang proses kreativitas saat penggarapan album disamping membahasa paradigma yang tengah berlangsung di era paruh 70an serta begitu banyaknya misteri-misteri yang belum terkuak dari pembuatan album ini.Contoh terbesar adalah begitu banyaknya kasus-kasus yang penuh konflik diantara para pendukung album Badai Pasti Berlalu atau tentang kenapa album Guruh Gipsy di era 2000an bisa jadi perbincangan dunia terutama lewat dunia maya.Apalagi di tahun 2006 album Guruh Gipsy malah dibajak oleh sebuah label di Jerman bernama Shadoks Record.

Tak bisa dimungkiri banyak yang merasa penasaran dengan kisah-kisah dari kedua album ini. Makanya tak heran ketika diskusi dilangsungkan pada hari minggu 15 Desember 2013 mulai jam 16.00 di One Fifteenth Cofffe, peminat diskusi terlihat memadati ruangan diskusi yang berlangsung di lantai 2.Menariknya peminat diskusi yang datang usianya beragam mulai dari yang muda hingga yang tua.Bahkan terlihat seorang ayah dan bersama anaknya.Ini merupakan pemandangan menarik,sebuah apresiasi yang bagus untuk karya musik seniman musik negeri ini.

BB5

Sebagai introduksi saya menguak diskusi sore itu dengan narasi tentang iklim industri musik Indonesia di era 70an yang nyaris seragam,hampir tak jauh beda dengan sekarang bahkan dari pengalaman saya dulu, anak muda Indonesia jarang yang menyukai musik Indonesia .Menurut Erros Djarot,  di era itu banyak yang menyepelekan musik Indonesia dengan sebutan Najis.Erros yang membentuk Barong’s Band saat kuliah di Koeln Jerman pada era 70an terusik rasa nasionalisme untuk membuat musik berbahasa Indonesia.”Saya saat pulang ke Jakarta tahun 1976 sempat nonton konser God Bless yang hanya menyanyikan lagu-lagu bule” cerita Erros Djarot.Meskipun mungkin jelek,Erros bertekad untuk menulis musik Indonesia.Lalu bersama Barong’s Band,Erros menulis sejumlah lagu yang kemudian dirilis dalam dua kaset di tahun 1976 “Barong’s Band” dan “Kawin Lari”.”Saat proses rekaman saya minta pada teman teman di Barong’s Band agar tidak mendengar lagu-lagu Barat.Sebaliknya saya memborong sekitar 60 kaset Indonesia yang lagi hits saat itu.Kami lalu mendengar musiknya ,juga liriknya sebagai perbandingan”.Secara cair Erros bertutur tentang proses kreativitas dalam bermusik mulai dari bersama Barong’s Band hingga Badai pasti Berlalu.”Saya bahkan ikut juga terlibat dalam penggarapan Guruh Gipsy” ungkap Erros yang pernah tinggal di salah satu kamar di rumah Guruh Sukarnoputra di Jalan Sriwijaya Raya 26 Jakarta Selatan.

BB6

Proses bermusik itu Erros berlanjut ke dunia film layar lebar.Eros Djarot pun mulai disibukkan sebagai peñata musik beberapa film garapan sutradara almarhum Teguh Karya seperti “Perkawinan Dalam Semusim” dan “Kawin Lari”.

Keterlibatan Erros dalam illustrasi musik film justeru berawal dari kemarahan sutradara Teguh Karya.Erros yang dijuluki big mouth oleh sohib terdekatnya memang selalu melontarkan kritik yang tajam dan pedas.Entah untuk musik hingga film.Suatu hari Teguh Karya yang selalu menjadi sasaran kritik Erros malah menyergah Erros :”Kalau lu ngerti,coba deh lu aja yang bikin illustrasi musik film gua nanti.Gua pengen tau tuh hasilnya kayak apa”.

Menurut Erros beberapa lagu-lagu karyanya banyak yang tercipta saat berada di Jalan Pegangsaan Barat 12 maupun di Jalan Sriwijaya 26. Lagu-lagu itu kemudian men jadi bagian dari album Barong’s Band serta album soundtrack “Badai Pasti Berlalu” .

BB7

Beberapa lagu dengan tema romansa pun tercipta yaitu “Angin Malam”,”Khayalku”dan “Cintaku”.”Ketiga lagu ini memang tercipta saat saya intens bermain di Pegangsaan.sedangkan lagu “Pelangi” dan “Semusim” justeru tercipta ketika saya main di rumah Guruh di Jalan Sriwijaya” ungkap Eros Djarot perihal gagasan awal munculnya album Badai Pasti Berlalu yang menjadi soundtrack film”Badai Pasti Berlalu” besutan Teguh Karya.

Erros bahkan menampilkan torehan lirik lagu yang romantis tanpa terjebak dengan pola-pola yang standar: patah hati berkepanjangan, meratap-ratap, dan cengeng.Pada akhirnya Badai Pasti Berlalu menjadi fenomenal.Menjadi album tonggak dalam sejarah musik pop Indonesia.”Saya bahkan tak menyangka Badai Pasti Berlalu bisa  menjadi album yang terus diperbincangkan orang” tukas Erros .

BBBBBBBB

Yockie yang diajak Erros Djarot mengerjakan Badai Pasti Berlalu lalu bertutur cukup panjang dengan berapi-api.”Saya diajak Erros dan Chrisye mengerjakan Badai Pasti Berlalu” kisah Yockie.

“Saat mengerjakan album itu tak ada pikiran macam-macam bahwa album ini akan meledak atau apalah. . Semua dikerjakan secara suka rela dan rasa kebersamaan , rasa persahabatan dan kekeluargaan. Seperti yang saya katakan disana , kondisi menjadi berubah 180 derajat ketika modernisasi hadir mengusung sistim management modern yg juga didukung oleh tehnologi yang semakin pesat. Lahirnya industri-industri modern yang mampu merancang metode baru eksploitasi bagi pendistribusian produk musik yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Jelas bahwa hak-hak tentang nilai2 ekonomis dari setiap orang lah yang kemudian menjadi problem mendesak untuk harus segera diatasi dan diselesaikan. Artinya itu adalah masalah aturan yaitu regulasi atau Hukum” papar Yockie berapi-api.

GUA

Yockie kemudian menambah lagi tuturnya tentang paradigma bermusik.Paradigma pemusik,kata Yockie, kerja pada saat itu hanyalah berbekal semangat , etos menghasilkan karya yg bisa terbaik tanpa pretensi apapun. Hal ini menjadi paradoks ketika hasil terbaik yang pernah kita kerjakan ternyata tidak mendapatkan perlindungan apa-apa agar kami bisa turut merasakan jerih payah dari keringat kami sendiri.

Roni Harahap pemain keyboard dan pianis Guruh Gipsy ini menuturkan tentang proses penggarapan lagu Indonesia Maharddhika dan Chopin Larung.”Ide dan melodi kedua lagu tadi dari saya,lalu ditambah lirik oleh Guruh”.

Di  tahun 1975  Guruh Soekarno Putera dan Roni Harahap hingga larut malam masih berkutat merampungkan sebuah lagu untuk album Guruh Gipsy dikediaman Guruh di Jalan Srwijaya 26 Kebayoran Jakarta Selatan.”Saya dan Guruh tidur sekamar bahkan seranjang saat itu.Tapi saya gak pernah disentuh dia” ucap Roni berseloroh.

Roni Harahap tengah bertutur tentang ikwal penulisan lagu Indonesia Maharddhika (Foto Asranur)

Roni Harahap tengah bertutur tentang ikwal penulisan lagu Indonesia Maharddhika (Foto Asranur)

”Saya sudah nggak sabar melihat Guruh yang menyenandungkan lagu ciptaannya tentang indahnya Indonesia.Mendayu dayu.Kurang semangat .Liriknya aku bermimpi……aku bermimpi…..“ ujar Roni Harahap pianis Gipsy yang tergila gila dengan Keith Emerson dan Chopin.

“Karena kesal,lalu saya mainkan intro lagu disko yang lagi ngetop saat itu “That’s TheWay I Like It dari KC & The Sunshine Band.Tapi aksentuasinya saya balik” ujar Roni Harahap .

“Wah,itu lagu ciptaanmu Ron ?” Tanya Guruh lirih.

“Iya……yang gini dong Gur biar lebih semangat” pancing Roni.

Alhasil Roni Harahap merampungkan seluruh melodi lagunya.Guruh kemudian beringsut menambahkan barisan lirik.Judulnya pun gagah : Indonesia Maharddhika.Sebuah lagu bercorak Bali rock pun menjelma.

Ketiga pembicara Erros,Yockie dan Roni menuturkan semuanya dengan detil.Banyak pencerahan-pencerahan yang muncul saat mereka bertiga tampil dalam diskusi yang berlangsung hangat dan meriah itu.Tanpa terasa diskusi berlangsung sekitar 3 jam lebih.Dan yang mencengangkan peserta diskusi tak satu pun yang meninggalkan tempat.Mereka,para peserta diskusi . rasanya memang haus dengan kisah-kisah dibalik pembuatan kedua album fenomenal itu.Setidaknya kisah-kisah yang dibeberkan dalam diskusi ini bisa menjadi semacam pembelajaran dalam upaya pembenahan kondisi bermusik di negeri ini termasuk pemahaman aspek hukum dalam karya-karya yang tercipta.

YER

Ketiga pembicara memang berupaya untuk berbicara apa adanya.Blak-blakan dan tak ada yang ditutupi.”Disini kita tidak lagi ingin tuding menuding,saling menyalahkan.Chrisye bisa salah,Yockie juga bisa salah,apa lagi saya.Ini kesalahan kolektif yang harus kita sikapi dengan arif.Dan bisa dipetik hikmahnya.Dan hari ini kita anggap case close” pungkas Erros Djarot.

Akhirnya saya pun menutup diskusi yang penuh dinamika itu.Banyak hal yang bisa dipetik dari kisah kisah mereka, saat menggarap sebuah karya seni yang bernama musik.

Iklan
Komentar
  1. wahyu prasetyo berkata:

    Kedua album itu sangat membantu dalam wawasan saya dalam ber musik….salut

  2. enkoos berkata:

    Banyak cerita beredar mengenai album Badai Pasti Berlalu. Apakah ini penyebab mendinginnya hubungan antara Chrisye dan Yockie? Di salah satu artikel yang pernah aku baca, semasa alm. Chrisye akan konser, dari jauh terlihat Yockie. Bukannya mereka saling menghampiri untuk menyapa, tapi menatap dari kejauhan. Saat itu katanya Yockie pengen menghampiri begitu juga Chrisye. Saling peluk untuk kangen2an. Tapi entah kenapa gak dilakukan mereka berdua.

    Kalau dibandingkan dengan musiknya anak anak muda sekarang, kualitas mereka memang yahud, liriknya puitis. Mungkin bisa dibandingkan dengan KLA Project dan Padi, dari segi lirik.

    Aku punya album Badai Pasti Berlalu. Sayang sekali, cuwil. Pernah jatuh pas kecelakaan mobil (CDnya). Setiap kali mudik ke Indonesia, nyari ke toko toko, gak ada. Tapi malah asik soalnya nemu versi aslinya yg dimaster ulang. Yang versi baru (apa ya istilahnya), gak ketemu ketemu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s