Arsip untuk Januari, 2014

Bintang Radio bisa dianggap sebagai ajang kompetisi  pertama yang tumbuh di Indonesia dalam upaya mencari bakat-bakat dalam dunia seni suara.Kompetisi seni suara ini digagas oleh Radio Republik Indonesia. Acara Bintang Radio pertama kali diadakan pada tahun 1951 dalam rangka memperingati Hari Radio pada tanggal 11 Desember ,  dengan melombakan 3 (tiga)  kategori jenis lagu yaitu Keroncong,Seriosa dan Hiburan. Pada saat itu musik pop kerap disebut sebagai musik Hiburan.

Setelah menjadi juara Bintang Radio,penyanyi Sam Saimun mendapat tawaran rekaman

Setelah menjadi juara Bintang Radio,penyanyi Sam Saimun mendapat tawaran rekaman

Elemen utama yang menjadi penilaian Bintang Radio ini adalah kemampuan vokal secara prima dan ekspresi bernyanyi.Saat itu kemampuan menyanyi secara Golden Voice  adalah tuntutan utama dan mutlak.Tak heran jika kualitas vokal para penyanyi tempo dulu sangat unggul dan bernas.

Bing Slamet juara Bintang Radio tahun 1953

Bing Slamet juara Bintang Radio tahun 1953

Presiden Soekarno bahkan menaruh harapan yang sangat tinggi terhadap penyelenggaraan Bintang Radio ini. Menurut Bung Karno, Dalam tingkatan revolusi seperti sekarang ini para bintang radio umumnja seniman seniwati radio diperlukan guna  membina dan  membentuk apresiasi musik  jang sehat dan baik.

Juara-Juara Bintang Radio Tahun 1959.

Juara-Juara Bintang Radio Tahun 1959.

Mereka termasuk  seniman jang harus mengembangkan music revolusioner melawan  pengaruh asing jang dekaden.Lagu-lagu jang didengungkan  haruslah lagu-lagu jang membawa  kepribadian kita  .

 

Penyanyi penyanyi yang berhasil mengukir prestasi di ajang Bintang Radio ini mulai dari era 50an hingga 70an  antara lain adalah Sam Saimun,Bing Slamet,Norma Sanger,Ping Astono,Pranadjaja,Ade Ticoalu, Mariati,Waldjinah,Ivo Nilakrisna,Masnun Satoto,Toto Salmon,Rose Pandanwangi,Sylvia Then,Ismijati,FX Rusmin,,Dedy Tupamuhu,Lies Sidik,,Benno Tatuhey,Rusli, Abdullah Sidjaja,Titiek  Puspa,Eddy Silitonga,Andi Meriam Mattalatta,Hetty Koes Endang,Ira Puspita,Murtini Suharto,Yan Berlin  dan masih banyak lagi.

Sebagian besar penyanyi-penyanyi yang telah mengukir prestasi di ajang Bintang Radio ini kemudian melangkah ke studio rekaman dan menghasilkan album rekaman melalui label-label rekaman terkemuka saat itu seperti Irama,Lokananta,Mesra dan Remaco.

Para Juara Bintang Radio era 50an Toto Mudjiharto,Sam Saimun dan Bing Slamet

Para Juara Bintang Radio era 50an Toto Mudjiharto,Sam Saimun dan Bing Slamet

Ini adalah jenjang yang menghantar mereka ke jenjang ketenaran.Walaupun harus diakui bahwa tak semuanya berhasil bergelimang dalam ketenaran .Hanya beberapa nama yang bisa tercatat meraih keberhasilan dalam industri rekaman diantarnya Sam Saimun,Bing Slamet,Waldjinah,Ivo Nilakrisna.Norma Sanger,Titiek Puspa,Eddie Silitonga,Hetty Koes Endang hingga Andi Meriem Mattalatta.

Memasuki era 70an ajang Bintang Radio semakin memperluas ruang geraknya setelah bersinergi dengan TVRI yang kemudian mengubah nama menjadi Bintang Radio dan Televisi sejak tahun 1974 . Bahkan di tahun 1976, ajang ini semakin meluaskan jangkauan peminatnya dengan mengadakan Pemilihan Bintang Radio dan Televisi Remaja yang kemudian menghasilkan nama-nama peraih juara seperti Harvey Malaiholo,Rafika Duri,Sundari Soekotjo,Binu N Dalip,Lex’s Trio,Pahama,Soraya Togas,Nouval Trio.Acara kompetisi vokal ini terus berlanjut hingga ke era 80an yang menghasilkan para juara seperti Sandro Tobing,Ricky Johannes,Trio Libels dan masih sederet panjang lainnya.

Harvey Malaiholo dan Rafika Duri,Juara Bintang Radio Remaja Tahun 1976 (foto Martha Boerhan)

Harvey Malaiholo dan Rafika Duri,Juara Bintang Radio Remaja Tahun 1976 (foto Martha Boerhan)

Sejak memasuki era 1990an hingga 2000an  para juara ajang Bintang Radio dan Televisi tak lagi terdengar gaungnya.Fenomena kompetisi nyanyi  yang dimulai sejak tahun 1951 ini mulai tergeser oleh munculnya ajang serupa yang  bermunculan di stasion TV Swasta misalnya acara Asia Bagus maupun Cipta Pesona Bintang. Acara kompetisi nyanyi ini kian membahana di era 2000an terutama karena konsep acaranya tak hanya mencari bakat bernyanyi tapi dibumbui dengan drama reality show.Bahkan acara seperti Akademi Fantasi Indosiar,Indonesian Idol,X Factor hingga The Voice yang merupakan program berlisensi ini juga menyertakan penonton sebagai voter melalui medium layanan pesan pendek atau SMS.

Walaupun demikian RRI hingga kini tetap menyelenggarakan kompetisi Bintang Radio.Di tahun 2013, final Bintang Radio berlangsung di Papua dan menghasilkan juara yaitu Bening Septaria dan Priyo Renandi.


Sejak tahun 1974 Bintang Radio dikembangkan lagi dengan bersinergi dengan TVRI menjadi Bintang Radio & Televisi.Dua tahun berselang di tahun 1976 acara lomba menyanyi ini dikembangkan lagi untuk peserta remaja dengan nama Bintang Radio dan Televisi Remaja. Adapun para juaranya antara lain Harvey Malaiholo,Rafika Duri,Lex’s Trio,Pahama hingga Trio Libel’s di era 1980an.

Selain itu sejak era 70an juga ada ajang Pop Singer dan Festival Penyanyi Pop Indonesia yang menghasilkan sederet penyanyi berbakat seperti Broery Marantika,Grace Simon,Hetty Koes Endang,Tina Roy,Deddy Damhudi,Ira Puspita dan banyak lagi.

Para juara yang muncul dari ajang lomba nyanyi ini seanjutnya mendapat peluang rekaman di berbagai perusahaan rekaman.Bintang Radio jelas merupakan tiket bagi penyanyi yang ingin mengembangkan karir dalam industri rekaman di Indonesia.Hal yang kelak kemudian diikuti dengan munculnya acara-acara semacam ini di berbagai TV Swasta sejak era 90an seperti Cipta Pesona Bintang,Asia Bagus,Akademi Fantasi Indosiar,Indonesian Idol,Mama Mia,X Factor atauThe Voice.

 

 

Iklan

100 Pencipta Lagu Indonesia Terbaik

Posted: Januari 30, 2014 in Sejarah, Sosok
 

           Rhoma Irama

RI

Rhoma Irama adalah sosok pemusik  pembaharu dalam musik dangdut diantaranya memasukkan elemen rock dalam sajian musiknya sejak tahun 1974 lewat hits terbesarnya Begadang.Sekitar 700 lagu telah ditulis Rhoma Irama dari kurun waktu 1970 hingga saat sekarang ini. Menurut William H. Frederick, doktor sosiologi Universitas Ohio, Amerika Serikat  yang meneliti tentang kekuatan popularitas serta pengaruh Rhoma Irama pada masyarakat dalam telaah ilmiah  bertajuk “Rhoma Irama and the Dangdut Style : Aspects of Contemporary Indonesia Popular Culture” pada tahun 1982, menulis : Since much of Oma  songwriting was leading in escapably toward both storytelling and moralizing, he was naturally intrigued with the notion of integrating story line more closely with the music, and making of the whole something
more “serious.”.
Pesan moral serta kritik sosial  memang banyak ditemui dalam lirik-lirik lagu karya Rhoma Irama  seperti “Begadang”,”Darah Muda”,”Hak Azasi”,”,Adu Domna”,”Rupiah”,”Judi” dan masih sederet lagu-lagu lainnya.Namun Rhoma juga piawai menulis lagu bertema romansa seperti “Kegagalan Cinta”,”Syahdu”,”Bahtera Cinta” maupun “Dawai Asmara”.

 

      Yovie Widianto

YW

       Hitmaker kelahiran 21 Januari 1968 ini unggul dalam menuturkan narasi cinta dalam karya-       karyanya.Konon kabarnya hampir setiap lagu yang ditulisnya berdasarkan cerita nyata.Tapi yang jelas lagu-lagu karya Yovie banyak meluluhkan rasa pendengarnya, entah itu saat dibawakan bersama kelompoknya Kahitna atau Yovie and The Nuno maupun yang dinyanyikan banyak penyanyi mulai dari Ruth Sahanaya, Dea Mirella,Chrisye,Glenn Fredly,Audy,Rio Febrian,Hedi Yunus,Yana Julio,Pinkan Mambo,Rida Sita Dewi,Lingua,Astrid ,Bening,Monita Tahalea,Delon,Ihsan   hingga Rossa.

 David Foster adalah pemusik yang banyak mengilhami Yovie Widianto saat mulai memilih berkarir di dunia musik pop pada tahun 1986.Menurut Yovie,David Foster itu memiliki kepekaan luarbiasa dalam menulis lagu serta saat menjadi produser musik. Disamping itu Yovie pun mengakui banyak meraup ilmu musik pada Elfa Secioria.Tahun 2005, Yovie Widoanto  merilis album A Portrait of Yovie, kumpulan lagu-lagu terbaiknya yang dibawakan oleh berbagai penyanyi sohor dengan berbagai karakter.Album ini memang mengacu pada gagasan yang dilakukan David Foster.

      

     Ian Antono

Ian Antono (Foto NinoyNine)

Ian Antono (Foto NinoyNine)

Bermula dengan menulis lagu-lagu bernuansa rock untuk grupnya sendiri God Bless di tahun 1976, lalu merambah menulis lagu bergaya pop  hingga dangdut.Gitaris bernama lengkap Jusuf Antono Djojo yang dilahirkan di Malang  29 Oktober 1950 telah menulis banyak hits mulai dari Gadis Binal (God Bless),Biarawati (Sylvia Saartje) hingga Neraka Jahanam (Duo Kribo) di era 70an.

Sejak itu karya-karya  Ian Antono yang juga sempat membentuk Gong 2000,  mulai sering dibawakan oleh banyak penyanyi dan berhasil menjadi hits diantaranya Nicky Astria,Achmad Albar,Berlian Hutauruk,Hetty Koes Endang,Ikang Fawzi,Dolf Wemay,Anggun C Sasmi, hingga Iwan Fals.Ian Antono bahkan menulis lagu bergaya dangdut “Zakia” yang sukses dinyanyikan Achmad Albar pada tahun 1979. Dari sekian banyak lagu-lagu karya Ian Antono,lagu yang monumental adalah “Panggung Sandiwara” yang ditulisnya bersama sastrawan Taufiq Ismail sebagai penulis lirik.

Katon Bagaskara.

Puitis dan romantik adalah penanda sebagian besar lirik-lirik lagu yang ditulis Katon Bagaskara.Sebagian besar lagu-lagu karya lelaki kelahiran Magelang 14 Juni 1966 ini memang bermuara pada tema-tema romansa yang menggugah dengan barisan kata-kata bak pujangga.Katon kerap mengangkat thesaurus yang sudah jarang dipakai lagi dalam penulisan lirik ke dalam lirik-lirik lagunya.Sejak kecil Katon memang menggemari puisi.Ketika duduk di kelas IV SD Katon telah menulis lagu untuk mengenang kepergian sang kakek tercinta dengan menggunakan piano kecil.Setelah belajar gitar pada Andre Manika  kakaknya, Katon mulai terpicu untuk menulis lagu.Katon mengaku terinspirasi dengan penulisan lirik-lirik lagu Ebiet G Ade disamping mengagumi karya-karya Fariz RM. Keintiman Katon Bagaskara pada  puisi secara langsung banyak  memberi andil dalam  pola penulisan lagu-lagunya.Karya Katon yang monumental adalah Negeri Di Awan.

 

Yockie Surjoprajogo

Yockie Surjoprajogo

Yockie Surjoprajogo

Tak hanya piawai memainkan keyboards,tapi Yockie Surjoprajogo adalah sosok komposer mumpuni yang banyak menghasilkan karya-karya monumental baik dalam genre rock maupun pop .Pengalaman Yockie yang kerap hadir sebagai music director maupun arranger mulai saat merekam album bersama God Bless,menata musik album Badai Pasti Berlalu serta menjadi music director album Lomba Cipta Lagu Remaha Prambors di tahun 1977-1978 rasanya lebih melempangkan kemampuannya sebagai seorang komposer.Lagu-lagu karya Yockie yang monumental antara lain Jurang Pemisah (Chrisye),Juwita (Chrisye),Biar Semua Hilang (Nicky Astria),Kehidupan (God Bless) dan Kesaksian (Kantata Takwa).

   Di komunitas Kantata Takwa ini, Yockie bertemu dengan dimensi musik yang berbeda. Di sini dia berbaur dengan sosok-sosok seniman mulai dari WS Rendra hingga Sawung Jabo. Ada dialektika baru dalam karya-karya Yockie seperti terlihat pada lagu Orang Orang Kalah, Kantata Takwa, Kesaksian, Paman Doblang, Air Mata, Rajawali, Nocturno, dan Balada Pengangguran.

 

Erros Djarot

Erros Djarot

Erros Djarot

Saat membuat album soundtrack film Kawin Lari di tahun 1976 bersama bandnya Barong”s Band Erros berdisiplin tidak mau mendengar lagu-lagu Barat.”Saat itu saya membeli semua kaset Indonesia dan menyimak semua lirik-lirik lagunya.Ini untuk referensi saya menulis lagu dalam bahasa Indonesia” ungkap Erros Djarot yang dilahirkan di Rangkasbitung 22 Juli 1950.

.Dan Erros beserta  Barong’s pada akhirnya memang berhasil menampilkan sebuah soundtrack walau dengan latar musik Barat tapi memiliki rasa Indonesia.Sosok Erros kemudian mencuat saat membuat album soundtrack film Badai Pasti Berlalu di tahun 1977 yang berhasil sukses dan mengubah paradigma musik pop Indonesia kedalam tatanan penulisan lirik yang lebih terjaga kualitasnya.Erros Djarot memilih kata-kata puitik yang bersahaja tapi memiliki makna yang dalam.Dalam metafora Erros Djarot melukiskan romansa yang kadang menggelora,kadang merajuk tapi tidak terjebak dalam kecengengan.Lagu-lagu seperti Badai Pasti Berlalu,Pelangi,Merpati Putih ,Matahari atau Angin Malam adalah contoh kekuatan Erros Djarot dalam menata kata-kata.Karya-karya Erros Djarot tampaknya tetap bersemayam di benak penikmatnya hingga saat sekarang ini.

 

Franky Sahilatua

Franky & Jane Sahilatua

Franky & Jane Sahilatua

Kehadiran duo Franky & Jane di tahun 1977 dengan musik folk country membawa nuansa baru dalam gugus musik Indonesia. Lirik lagu-lagu  karya Franky pada masa Franky & Jane cenderung pada pemujaan alam pada awalnya, misalnya pada lagu Musim Bunga dan Kepada Angin dan Burung Burung.Saat itu Franky  yang dilahirkan di Surabaya 16 Agustus 1953 , kerap meminta bantuan  sastrawan Yudhistira ANM Massardi sebagai penulis lirik lagu-lagunya.Tak hanya tema alam dan lingkungan yang ditoreh Franky  Sahilatua dalam lagu-lagunya melainkan  juga tentang keseharian masyarakat marginal dan kritik sosial.Terlebih lagi ketika Franky berrnyanyi sendiri tanpa melibatkan Jane adiknya, sosaknya cenderung hadir sebagai protest singer yang kritis terhadap problematika sosial misalnya lagu “Perahu Retak” yang berkolaborasi dengan budayawan Emha Ainun Najib..Namun demikian Franky bersama adiknya Johnny Sahilatua mampu menuliskan sebuah lagu dengan lirik yang menyejukkan yaitu “Kemesraan” yang dinyanyikan oleh Iwan Fals,Chrisye,Rafika Duri dan beberapa penyanyi lainnya.

 

 Gombloh

Martin Hatch seorang peneliti dari Cornell University mempelajari lagu lagu dalam album Gombloh Berita Cuaca (1982) dan mengangkatnya dalam sebuah karya ilmiah bertajuk Social Criticsm In The Songs Of 1980′s Indonesian Pop Country Singers dan dipresentasikan dalam seminar musik The Society of Ethnomusicology yang berlangsung di Toronto Kanada pada 2 hingga 5 November 2000 silam. Dalam makalahnya Martin Hatch meneliti kekuatan dan nilai lagu-lagu karya Gombloh dalam perspektif kehidupan sosial seperti Berita Cuaca, Hong Wilaheng Sekareng Bawono Langgeng, Denok-Denok Debleng, Ujung Kulon Baloran, 3600 Detik, Kebayan-Kebayan, Hitam Putih dan Kami dan Alam.

Gombloh yang dilahirkan 14 Juli 1948 dengan nama asli Soedjarwoto Soemarsono mengawali karir musiknya di Surabaya tahun 1968 dengan memainkan musik folk bersama kelompok Lemon Tree’s  yang dibentuknya dengan Leo Kristi. Gombloh fasih menuturkan sketsa kehidupan rakyat jelata sehari-hari dalam lagu-lagu ciptaannya. Disisi lain, Gombloh justru tak bergeming ketika harus menghasilkan lagu seperti Kugadaikan Cintaku yang berhasil terjual diatas jumlah 1 juta keping pada paruh era 80an.Namun hal yang mungkin tak terpikirkan Gombloh adalah  ketika menulis lagu Kebyar Kebyar  dipertengahan era 70-an yang akhirnya dianggap sebuah anthem kebangsaan seperti halnya lagu Padamu Negeri karya Kusbini.

 

Sam Bimbo

Suatu saat di tahun 1973,Samsudin Hardjakusuma atau lebih dikenal dengan nama Sam Bimbo menunaikan sholat jumat di Masjid Salman ITB Bandung.Saat itu Sam mendapat ilham berupa melodi lagu serta sekaligus dengan liriknya.

“ Saya waktu itu habis sholat Jumat, begitu imam mengajak jamaah untuk berdoa, lirik lagu  itu keluar dengan sendirinya” ungkap Samsudin yang dilahirkan di Kuningan 6 Mei 1942.

Tak lama berselang Sam menulis ilham yang muncul dibenaknya.Lalu lahirlah lagu Tuhan yang kemudian dinyanyikannya bersama Bimbo, kelompok musik yang dibentuk Sam bersama dua adiknya Acil dan Jaka pada tahun 1967.Tuhan adalah karya terbesar Sam disepanjang karir musiknya bersama Bimbo.Sam tak hanya menulis lagu-lagu bertema religious saja,dia juga menulis lagu-lagu dengan tema yang beragam, mulai dari lagu-lagu bertema romansa asmara,jenaka hingga kritik sosial.Bahkan lagu “Surat Untuk Reagan dan Brezhnev” yang mengkritik tentang Perang Dingin, justru menerima penghargaan dari Ronald Reagan dan Leonid Brezhnev pada tahun 1982.Tapi lagu  karya Sam Bimbo lainnya yakni “Tante Sun” yang menyindir bisnis ibu-ibu pejabat malah dicekal di TVRI pada tahun 1977.

 

 

Glenn Fredly

Glenn Fredly masih ingat betul dimana dan kapan saat dia mendapat ilham untuk menulis lagu. “Waktu itu saya lagi di rumah petakan saya sendiri di kawasan Dapur Susu. Temen-temen saya lagi pada pergi.Lalu saya duduk di depan piano.Jari jari saya mulai mengetuk-ngetuk tuts piano berulang-ulang dan eh saya menemukan introduksi .Dan akhirnya jadilah lagu “Januari” “ tutur Glenn Fredly tentang lagu yang mengangkat popularitasnya dalam industri musik.Lagu “Januari” yang kemudian menjadi hits besar itu akhirnya menjadi lagu unggulan dari albumnya bertajuk “Selamat Pagi Dunia” (2003). Album solo Glenn Fredly yang ketiga itu memang banyak menghasilkan hits seperti “Sekali Ini Saja” dan “Belum Saatnya (Berpisah).Bahkan ketika album ini dirilis dalam bentuk repackage,masih menghasilkan hits sepertiSedih Tak Berujung dan Akhir Cerita Cinta.Sejak itu Glenn Fredly menjadi sosok singer/songwriter yang memiliki banyak penggemar.Selain memiliki suara yang berkarakter dan ekspresif, Glenn Fredly yang lahir 30 September 1975  bisa dianggap terampil menjalin nada dengan lirik-lirik romansa yang romantik.  Glenn Fredly pun menulis lagu untuk penyanyi lain juga mulai dari Joy Tobing,Pasto hingga Fariz RM.

 

Piyu

Lelaki kelahiran Surabaya 15 Juli 1973 ini bisa dianggap motor utama dari band Padi yang terbentuk tanggal 8 April  1997.Sebagian besar lagu-lagu Padi ditulis oleh gitaris yang bernama lengkap  Satriyo Yudi Wahono.Lagu pertama karya Piyu yang dibawakan Padi dalam album kompilasi Indie Ten adalah Sobat.Tema lagu yang ditulis Piyu pada awal-awal pemunculan Padi memang masih diseputar romansa meski dengan struktur melodi dan pendekatan musik yang lebih elegan dan terasa elemen rocknya.Pada album Lain Dunia (1999) muncul hits seperti Mahadewi dan Begitu Indah.Lirik lagu yang ditulis Piyu memiliki gereget, apalagi tak jarang dia kerap menyusupkan makna yang bernuansa filosofis.Lagu “Mahadewi” menurut pengakuan Piyu,memiliki nilai-nilai spiritual yang dalam.” Saya sendiri sering menangis jika mendengar lagu Mahadewi itu” ujar Piyu mengisahkan.

Puncak keberhasilan karya Piyu bersama Padi adalah saat merilis album “Sesuatu Yang Tertunda” (2001)  yang banyak menghasilkan hits seperti “Bayangkanlah”,”Kasih Tak Sampai”,”Semua Tak Sama” maupun “Sesuatu Yang Indah”.

 

 

 

Bimbim

Hampir 90 persen lagu-lagu Slank ditulis oleh  Bimo Setiawan Almachzumi Sidharta yang lebih dikenal dengan nama Bimbim ,drummer sekaligus pendiri Slank.Lirik-lirik lagu Slank yang ditulis Bimbim memang diangkat dari keseharian anak muda yang berkesan slenge’an,nakal ,apa adanya tanpa gincu kata dan lugas.Justru dengan pola penulisan lirik semacam ini justru menjadikan Slank seolah tak berjarak dan tak bersekat dengan para penggemarnya.Idiom-idiom yang berkembang diantara anak muda inilah yang diadopsi Bimbim ke dalam lirik-lirik lagu yang ditulisnya sejak album debut Slank “Suit…Suit…He…He…(Gadis Sexy) di tahun 1990 hingga album terbaru “Slank Nggak Ada Matinya (2013).

Pola penulisan lirik Slank yang lugas dan gamblang ini menjadi fenomena tersendiri dalam khazanah music Indonesia.Selain bertutur tentang keseharian,problematika anak muda dan asmara, Slank juga banyak menulis tentang kepedulian terhadap lingkup sosial hingga politik.Bahkan beberapa lagu Slank seperti Gossip Jalanan justru membuat gerah para pejabat dan politikus lantaran liriknya yang tajam menghujam.Namun menurut lelaki kelahiran 25 Desember 1966 ini, Slank bertanggung jawab dan siap menerima resiko apapun terhadap lagu-lagu yang ditulis termasuk pencekalan yang kerap terjadi pada kelompok musik yang telah berusia 30 tahun ini.Dan pada akhirnya,Slank memang didukung oleh siapa saja yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran. 

 Oetje F Tekol

Oetje F Tekol

Oetje F Tekol

Sejak kecil bassist The Rollies ini telah terbiasa menulis lagu sendiri.Kebiasaan ini terus berlangsung hingga Oetje mulai bermain band saat duduk dibangku SMA.”Saya masih ingat ketika saya minta bantuan ibu saya untuk membuat lirik lagu dengan bahasa Inggeris.Judulnya kalo gak salah Forget Your Problem” cerita Oetje F Tekol tentang pengalamannya dalam menulis lagu.Tapi lagu karya Oetje untuk pertamakali direkam adalah lagu “Keadilan” oleh The Rollies di tahun 1977.”Bahkan lagu itu pun dijadikan judul album The Rollies Keadilan” kenang Oetje F.Tekol.Sejak itu Oetje banyak memberikan kontribusi lagu-lagu untuk The Rollies.Di tahun 1978 lagu “Hari Hari” yang dinyanyikan Gito Rollies menjadi hit The Rollies.Bahkan di tahun 1979 lagu “Kemarau” karya Oetje justru mendapat anugerah Kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup karena lirik lagunya dianggap memiliki keterkaitan dengan masalah lingkungan hidup terutama tentang pengrusakan hutan secara semena-mena.

 Saat melakukan perjalanan Bandung – Jakarta, Oetje sering melihat penebangan pohon pohon secara membabi buta sejauh mata memandang. Kiri kanan jalan yang biasanya terlihat hijau kini berubah muram kecoklatan.Di koran maupun majalah Oetje pun sering membaca soal penebangan hutan secara liar.Ini dialami Oetje di tahun 1977.Mendadak Oetje pun tersentak.Sebentuk melodi pun secara tiba tiba menyembul dari alam imajinasinya.

 

 

Dian Pramana Putra

Tak pelak lagi,Dian Pramana Putra adalah seorang kreator yang produktif dalam ranah musik pop.Selain dikenal sebagai penyanyi, Dian yang dilahirkan 2 April 1961 ini  telah menghasilkan sederet hits yang dinyanyikan para penyanyi sohor mulai dari Chrisye, Vina Panduwinata, Utha Likumahuwa, Sheila Madjid, Harvey Malaihollo, Fariz RM, Broery Pesolima, Ruth Sahanaya, Trie Utami,Malyda, January Christy, Syaharani, Glenn Fredly dan masih berderet panjang lagi.

Di tahun 1980, lagu karya Dian Pramana Putra  bertajuk “Pengabdian” berhasil menempati juara 3 dalam Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia, Dian pun menyanyikan lagu “Pengabdian” bersama Bourest Vokal Grup dalam kaset Dasa Tembang Tercantik LCLR 1980 . Ini merupakan kali pertama suara Dian direkam dalam sebuah album.

Memasuki paruh dasawarsa 80-an, kegiatan musik Dian Pramana Putra semakin bercabang,antara lain bersekutu dengan Deddy Dhukun dalam menulist lagu. ”Biasanya saya menemukan melody, dan Deddy mulai menuliskan lirik lirik yang catchy.” jelas Dian Pramana Putra. Pasangan ini pun lalu kebanjiran pesanan membuat lagu dari sederet artis-artis rekaman diantaranya “Biru” yang dinyanyikan Vina Panduwinata dan “Aku Ini Punya Siapa” yang dinyanyikan January Christy.

 

 

Donny Fattah

Jika menyimak album debut God Bless yang dirilis Pramaqua tahun 1976, maka sosok Donny Fattah mendominasi penulisan lagu-lagu God Bless mulai dari hits Huma Diatas Bukit,Sesat,Setan Tertawa hingga She Passed Away.Saat itu Donny Fattah yang dilahirkan di Makassar 24 September 1949 memang memiliki referensi yang paling komplit.Donny tak hanya menyukai musik rock, tapi juga menyimak jazz hingga folk dan country.Dalam D & R,proyek rekaman yang digagas Donny dan adik kandungnya Rudy Gagola memperlihatkan kemampuan menulis lagu Donny yang luas.Di album ini Donny bersama Rudy menulis lagu dalam berbagai corak music mulai dari rock,pop hingga country folk, diantaranya lagu Cindy yang dipopulerkan Keenan Nasution dan Mimpi yang dinyanyikan Ida Noor lalu dipopulerkan lagi oleh Eddy Silitonga dan  Ira Puspita di tahun 1977.Lagu Mimpi  juga dibawakan secara instrumental oleh Jack dan Indra Lesmana di tahun 1978, kemudian diremake oleh band indie pop Klarinet di tahun 1999.Di tahun 1990 Nicky Astria mempopulerkan lagu karya Donny Fattah “Cinta Di Kota Tua”.Di tahun yang sama,dua lagu karya Donny Fattah dibawakan oleh kelompok Power Metal dalam album “Power One” yaitu “Pengakuan” dan  Mas & Mis Merozoth.Dalam album Gong 2000,Donny menulis lagu-lagu seperti Basa Basi ,Mulut-Mulut dan Penantian.Donny juga menulis lagu untuk  Freddy Tamaela bertajuk “Lari dan Lari” di album “Tetangga” (1985).

 

 

Indra Lesmana

Usai bermain bola, Indra Lesmana yang masih berusia 9 tahun lalu mengambil ukulele.Jari jemari Indra yang mungil lalu memetik dawai ukulele yang berjumlah 4 .Tak sekedar memetik,tapi dari ukulele muncul melodi lagu.Dan itulah lagu pertama yang ditulis Indra Lesmana,putra pemusik jazz Jack Lesmana dan penyanyi Nien Lesmana.Jack Lesmana menganggap lagu karya putra bungsunya itu layak untuk direkam.Nien Lesmana sang ibu kemudian menorehkan lirik liriknya .Lagu itu diberi judul Terlena dan dinyanyikan penyanyi jazz Margie Siegers di album “Semua Bisa Bilang” (Hidayat Audio 1975).Saat itu Indra banyak menulis lagu dengan menggunakan ukulele.”Waktu itu saya belum bisa main piano,jadi bikin lagu pake ukulele” ungkap Indra Lesmana yang lahir 28 Maret 1966. Sejak itu gairah Indra menulis lagu kian menggebu.Apalagi lagu ciptaannya Kabur yang berbentuk instrumental jazz dimasukkan Jack Lesmana dalam album Noor Bersaudara di tahun 1977.

Disaat berusia 12 tahun,Indra mulai menulis lagu dengan menggunakan piano dan merekam album debutnya bertajuk “Ayahku Sahabatku” (1978) dengan membawakan lagu ciptaannya “Anak Melamun”,”Terlena” dan “Ayahku Sahabatku”.Di tahun 1984 Indra mengajak kakaknya Mira Lesmana untuk menulis lirik-lirik lagunya.Kebersamaan Indra dan Mira ini menghasilkan banyak hits seperti “Nostalgia” hingga “Aku Ingin” termasuk saat menulis lagu buat Krakatau seperti “Sayap Sayap Beku”,”Dirimu Kasih” serta “Ekspresi” yang dipopulerkan Titi DJ.

Bagoes AA

Sosok komposer,arranger dan penyanyi  Bagoes A.Aryanto  tercatat banyak mendukung keberadaan Dian Pramana Putra dan Iwan Fals.banyak karya-karya Bagoes yang berkaitan dengan kedua penyanyi tersebut.Bagoes yang dilahirkan 29 April ini memang bersahabat karib dengan kedua penyanyi tersebut apalagi Bagoes serta Dian Pramana Putra dan Iwan Fals pernah bergabung dalam Bourest Vokal Group, kelompok vokal yang terbentuk di akhir era 70an .Menurut Bagoes, pertamakali menulis lagu terjadi saat masih duduk di bangku SMP.Saat itu dengan memainkan organ Farfisa, Bagoes menulis lagu bertajuk “Mawar”.Lagu itu tak pernah direkamnya.”Tapi tahun ini saya malah merekam lagu “Mawar” dalam bentuk instrumental secara sederhana.Hanya untuk kenang-kenangan saja” papar Bagoes A.Ariyanto yang di tahun 1978-1979 sempat menimba ilmu musik di Koeln Muziek Conzervatory Jerman.Sepulangnya dari Jerman, Bagoes kemudian mengikutserakan lagu-lagu ciptaannya pada ajang Lomba Cipta Lagu Remaja yang diadakan Radio Prambors Rasisonia.Diluar dugaan lagu karya Bagoes “Mahajana” berhasil meraih juara 1 dan kemudian direkam dengan penyanyi Louise Hutauruk.Tahun 1980 kembali lagu karya Bagoes bertajuk “Maheswara” masuk 10 besar Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors.Kali ini Bagoes menyanyikan sendiri lagu karya ciptanya. Setelah itu,Bagoes mulai aktif terjun dalam industri rekaman antara lain mendukung album solo Dian Pramana Poetra,Vina Panduwinata,January Christy,Tito Sumarsono,Chrisye,Lina Subardja serta Iwan Fals.Tahun 80an merupakan tahun tersibuk Bagoes sebagai komposer,arranger dan penyanyi.Apalagi saat itu Bagoes A.Aryanto  tergabung dalam Kelompok 3 Suara bersama Dian Pramana Putra dan Deddy Dhukun.

 

Iwan Abdurachman

            Iwan Abdurachman yang lahir 3 September 1947 di Karangnangka, Sumedang, Jawa Barat, ini dalam sejarah   musiknya memang tak bisa dipisah dengan kelompok Bimbo.Sejak usia 17 tahun Iwan telah menulis komposisi lagu.

Sejak kecil, Iwan telah menunjukkan rasa cinta yang tinggi pada alam dan lingkungannya dengan  sering masuk-keluar hutan dan aktif dalam organisasi Pramuka.Lalu sejak tahun 1964 ia bergabung dengan Wanadri, yakni organisasi penempuh rimba dan pendaki gunung tertua di Indonesia.Lagu karyanya yang pertama, Balada Seorang Kelana ditulis saat berada  di puncak Gunung Burangrang 25 Desember 1964 .Lagu ini kemudian direkam Trio Bimbo pada album “Mawar Terbiru” yang dirilis Remaco pada tahun 1972.

Karya monumental Iwan Abdurachman “Melati Dari Jayagiri” dan “Flamboyan” dibawakan Trio Bimbo pada debut album mereka yang direkam pada label Fontana di Singapore pada tahun 1971.Di paruh era 70an Iwan akhirnya bergabung sebagai pemain bass dalam Bimbo bersama Indra Rivai (keyboards) dan Rudy Soeparma (drums).Di penghujung era 70an,Iwan mundur dari Bimbo dan mendirikan Kali Kausar bersama Wandi Koeswandi dan Indra Rivai,dua pemusik yang banyak mendukung Bimbo pada era 70an.

 

 

Keenan Nasution

Keenan Nasution & Fariz RM (Foto Denny Sakrie)

Keenan Nasution & Fariz RM (Foto Denny Sakrie)

Tahun 1977 drummer dan penyanyi Keenan Nasution mengikut sertakan beberapa lagu karyanya yang ditulis bersama dr.Rudi Pekerti ke ajang Festival Lagu Populer Indonesia.Ternyata lagu karyanya bertajuk “Di Batas Angan-Angan” terpilih sebagai finalis.Lagu itu kemudian direkam dan dinyanyikan sendiri oleh Keenan Nasution bersama Hutauruk Sisters sebagai penyanyi latar.Lagu ini memang tidak berhasil menjadi juara 1,namun dengan terpilihnya sebagai finalis justru member semangat pada Keenan untuk lebih banyak menulis lagu-lagu sendiri.Setahun kemudian, mantan drummer God Bless ini telah memiliki puluhan lagu yang ditulisnya bersama penulis lirik Rudi Pekerti.”Kita berdua seperti Elton John dan Bernie Taupin lah ha ha ha” ujarnya terkekeh.Sekitar 14 lagu karya Keenan bersama Rudi Pekerti kemudian direkam pada album debutnya bertajuk “Di Batas Angan Angan” (Gelora Seni 1978) diantaranya adalah lagu karya Fariz RM “Cakrawala Senja” .Menariknya di album ini Keenan nyaris memainkan seluruh alat musik mulai dari drum,piano,synthesizers dan gitar, disamping dibantu oleh rekan-rekannya sendiri seperti Junaedi Salat,Harry Minggoes,Narry,Yanto,Trio Bebek,Abadi Soesman dan ketiga saudaranya yaitu Gauri,Oding dan Debby Nasution.Album ini mencuatkan hits besar Nuansa Bening.Lagu ini kemudian dinyanyikan kembali oleh Eddy Silitonga,Lucky Octavian serta Vidi Aldiano.Di tahun 1992 Keenan Nasution malah sempat menulis lagu untuk Benyamin S dengan judul “Seliweran”

 Younky  Soewarno

Younky Soewarno adalah keyboardis,arranger dan juga komposer  yang banyak terlibat dalam sejumlah rekaman musik pop Indonesia pada dasawarsa 80an hingga 90an.  Pengagum David Foster ini tercatat banyak menulis lagu-lagu hits yang dinyanyikan Chrisye,Atiek CB, AB Three, Ita Purnamasari,Oddie Agam,Jacky,  Trio Libels, Nike Ardilla, Chintami Atmanegara, Novia Kolopaking ,Ina Rawie ,Ismi Aziz,Fariz RM,Deddy Dhukun,Trie Utami ,Paramitha Rusady,Ruth Sahanaya hingga ke penyanyi penyanyi rock seperti  Nicky Astria, Ikang Fawzi ,Gito Rollies dan Achmad Albar .Dalam menulis lirik lagu-lagunya Younky Soewarno yang dilahirkan 15 Mei 1957 ini sering melibatkan Maryati isterinya maupun Deddy Dhukun.

Lagu-lagu karyaYounky Soewarno yang menjadi hits antara lain “Terserah Boy” (Atiek CB),”Hanya Satu Kamu” (Fariz RM dan Deddy Dhukun),”Jerat Jerat Cinta”,(Trio Libels),”Cintaku Padamu” (Ita Purnamasari),”Harus Kumiliki” (Ruth Sahanaya),”Shame On Me” (Jacky), termasuk “Akhirnya “ yang dinyanyikan Oddie Agam serta GIGI  dan menjadi lagu bernuansa religius belakangan ini.

 

Benny Soebardja

Sosok gitaris,penyanyi dan komposer Benny Soebardja yang di era 70an tergabung dalam beberapa band rock seperti The Peels,Sharmove dan Giant Step belakangan jadi perbincangan penikmat musik dunia, karena album “Gede Chokra’s” (Sharkmove) dirilis ulang oleh label Jerman Shadoks pada tahun 2006 dan label Strawberry Rain Kanada merilis ulang album-album solo Benny Soebardja “Gimme The Piece of Gut Rock” dan “Night Train” pada tahun 2012.Dari hasil rilis ulang tersebut,sosok Benny Soebardja dipuji dalam berbagai review di media cetak dan online secara internasional sebagai sosok pemusik rock dengan karya yang rock yang menginspirasi.Nama Benny Soebardja mulai dikenal saat bergabung dengan The Peels di tahun 1966.Ketika The Peels bubar tahun 1969,Benny Soebardja kemudian membentuk Sharkmove di tahun 1970 yang hanya sempat merilis album “Gede Chokra’s” yang dirilis Sharkmove Record.Tahun 1971 Benny Soebardja mulai berupaya membentuk band baru dengan nama Giant Step.Sejak membentuk Sharkmove,Benny Soebardja selalu mementingkan penulisan lagu sendiri.Kebiasaan ini pun berlanjut saat membentuk Giant Step.Selain menulis lagu sendiri, Benny Soebardja yang dilahirkan 4 Juli 1949 juga kerap meminta bantuan Bob Dook,orang Inggris yang saat itu kulaih di Bandung sebagai penulis lirik dalam bahasa Inggris.Lagu-lagu yang ditulis Benny Soebardja dan Bob Dook antara lain adalah Evil War,My Life,Fortunate Paradise,Pensive,Someday hingga Decision .Graham Reid dari Elsewhere Magazine bahkan menyebut Benny Soebardja sebagai the godfather of the Indonesian prog-rock underground.

 

            Oppie Andaresta

Singer/songwriter kelahiran 20 Januari 1973 ini sebelum merilis album “Albumnya Oppie” (1993) dengan hits “Cuma Khayalan” sebetulnya telah malang melintang dalam industri musik Indonesia   yaitu dengan merilis single Satu Macam Saja (1990).Saat itu sosok Oppie dipersiapkan sebagai lady rocker istilah untuk penyanyi-penyanyi rock wanita seangkatan Nicky Astria dan Anggun C.Sasmi.Oppie bahkan tergabung dalam trio bersama dua penyanyi rock wanita lainnya yaitu Lady Avisha dan Mayangsari..Tapi sejak “Cuma Khayalan” melejit,Oppie mulai menentukan sikap dalam bermusik.Dia tak hanya menyanyikan lagu-lagu cinta tapi mulai memasuki ranah kritik sosial, tak jauh beda dengan konsep musik yang diperlihatkan pemusik yang menjadi inspirasi musiknya : Tracy Chapman.Oppie mulai memperlihatkan jatidiri yang jelas dan lugas lewat lagu-lagu seperti    Cuma Khayalan”, “Na Na Na”, “Untung VS Buntung”, “Ingat-Ingat Pesan Mama”, dan “Cuma Karena Aku Perempuan“.

Oppie sendiri pertama kali menulis lagu di awal tahun 1990, salah satu lagu karya ciptanya bertajuk “Bersama Kita” akhirnya dibawakan oleh boyband 90an Hit Hot pada tahun 1992.Selain itu beberapa lagu karya Oppie juga pernah dinyanyikan Kris Dayanti dan Sania.

 

Wedhasmara

Wedhasmara adalah komposer lagu-lagu pop Indonesia era 60an hingga 70an .Karya-karyanya dikenal luas seperti Sendja Di Batas Kota,Berpisah Di St Carolous, Kau Selalu Di Hatiku dan masih banyak lagi. Penyanyi penyanyi yang menyenandungkan lagu-lagu Wedhasmara antara lain Ernie Djohan,Titiek Sandhora,Tetty Kadi,Deasy Arisandi hingga Lilies Surjani.

Sejak kecil lelaki kelahiran Denpasar 10 September 1932 ini telah menyukai dan memiliki bakat musik yang kuat.Setelah menyelesaikan jenjang pendidikan SMP di Denpasar Bali.Wedhasmara kemudian pindah ke SMA St.Thomas di Daerah Istimewa Yogyakarta. Antara tahun 1956 – 1963 Wedhasmara bekerja di Jawatan Pertanian Jakarta.

Bakat musiknya tersalurkan ketika ikut tergabung dalam berbagai kelompok musik seperti Orkes Gabungan Denpasar,Orkes Keroncong Denpasar,Kuartet Mulyana/Sutedja Yogyakarta,Orkes Kerontjong pimpinan Sukmini Yogyakarta,Orkes Melayu Ria Bluntas,Zaenal Combo hingga Empat Nada..

 

 

 

 

 

 

Harry Roesli

Saat terjadi kerusuhan nasional dan berakhir dengan munculnya gerakan Reformasi di tahun 1998, tiba-tiba lagu “Jangan Menangis Indonesia” karya Harry Roesli yang ditulis tahun 1974 dan direkam pada album “L.T.O” (1978) berkumandang lagi, baik di radio,televisi maupun panggung-panggung orasi di berbagai kampus. Sebetulnya lagu itu dulu ditulis Harry Roesli saat menjadi aktivis mahasiswa di ITB yang ikut menentang kebijakan pemerintah pada tahun 1974 dan menimbulkan kerusuhan nasional dan kerap disebut Malaria atau Malapetaka 15 Januari 1974.

Kebanyakan lagu-lagu karya Harry Roesli bertema gugat dan sindiran terhadap ketimpangan-ketimpangan yang berada disekitar kita baik dalam dimensi sosial maupun politik.Namun lelaki kelahiran 10 September 1951 dengan nama lengkap Djauhar Zaharsjah Fachrudin Roesli kerap membungkus lirik-lirik lagunya dengan metafora yang mengambil idiom cerita rakyat,legenda maupun sejarah diantaranya adalah kisah tentang Ken Arok ataupun tentang perang saudara dalam hikayat Mahabarata.Tak jarang banyak yang tak memahami idiom yang ditulis oleh Harry Roesli misalnya pada lagu “Peacock Dog” sebuah lagu dengan judul yang aneh.”Peacock Dog itu sebetulnya kiasan kata untuk Negara ini.Indonesia itu kan mempesona seperti burung merak tapi menyebalkan seperti anjing” demikian tutur Harry Roesli dalam wawancara bersama saya di tahun 1997.Di tahun 1974 saat ikut demonstrasi mahasiswa Harry Roesli sempat mendekam dalam penjara. Ha rry Roesli mementaskan pemutaran perdana film dokumenter Tragedi Berdarah Trisakti  dan  panggung seni dalam acara “Gelora Reformasi” di Universitas Parahyangan Bandung. Dalam acara ini Harry Roesli  kembali menyanyikan lagu Jangan Menangis Indonesia.

 

Elfa Secioria

Menulis lagu bagi Elfa Secioria bisa dimana saja termasuk ketika tengah berada diatas pesawat terbang seperti yang terjadi di tahun 1983, selama 7 jam dalam pesawat Elfa menulis lagu serta membuat arransemen 17 lagu.

Elfa  mulai bermain piano ketika berusia 5 tahun. Ketika berusia delapan tahun , ia pemain piano  dan vibraphone dalam Trio Jazz  IVADE. Kemudian Elfa Secioria mengikuti Piano Privat 1 dan 2 di Bandung (1970-1974), mempelajari musik Simfoni di Bandung (1971-1978) dan belajar Aransemen Orkestra di Bandung (1974-1978).

Kebanyakan lagu-lagu Elfa Secioria menjadi finalis serta menjadf juara dalam event Festival Lagu Populer Indonesia sejak era 1980an termasuk juga di ajang World Popular Song Festival di Jepang,ASEAN Songs Festival maupun Golden Kite Songs Festival.Untuk penulisan lirik Elfa Secioria banyak mempercayakannya pada Wieke Gur.”Saya memang tidak mampu menulis lirik lagu makanya saya selalu meminta bantuan orangh” jelas Elfa Secioria yang dilahirkan 20 Februari 1959.Elfa juga pernah meminta bantuan penulisan lirik pada Mira Lesmana saat menulis lagu-lagu untuk soundtrack film “Petualangan Sherina”. Lagu lagu karya Elfa Secioria dinyanyikan oleh Harvey Malaiholo,Elfa’s Singer,Ferina Zubeir,Andien,Sherina dan sederet lainnya.

 



Adjie Bandy

 

Komposer  Adjie Bandy yang dilahirkan di Blitar, 10 Januari 1947, menguasai dengan baik berbagai instrumen musik mulai dari gitar, keyboard, hingga biola. Musik klasik adalah dasar musik yang digelutinya sejak kecil. Adjie menimba ilmu musik klasik di Akademi Musik Yogya yang diselesaikannya pada 1969.Selanjutnya Adjie ikut bergabung dalam berbagai band pop dan rock  seperti C’Blues,Cockpit,Gipsy dan Contrapunk.

Di tahun 1976, lagu ciptaannya, “Puteri Mohon Diri”, berhasil meraih juara  kedua “Festival Lagu Pop Indonesia 1976″. Setahun berselang Adjie Bandy  kembali memasukkan karyanya bertajuk “Damai Tapi Gersang”  pada Festival Lagu Pop Indonesia 1977.  yang kemudian terpilih mewakili Indonesia  untuk  berlaga dalam ajang Yamaha World  Popular Songs Festival  yang berlangsung  di Nippon Budokan Hall, Tokyo, pada tanggal  11-13 November 1977. Lagu yang dinyanyikan Adjie Bandy berduet dengan Hetty Koes Endang  bercerita mengenai makna kehidupan ini berhasil menyabet Outstanding Song Award.,sebuah penghargaan atas karya lagu.

 

 

 

Aryono Huboyo Djati

Sebetulnya lelaki berkacamata minus inilah yang pantas disebut Si Burung Camar.Kenapa ? Karena Aryono Hubojo Djati inilah yang menuliskan komposisi dan notasi lagu Burung Camar yang dipopulerkanh Vina Panduwinata sebagai penyanyinya. Memang banyak yang tak mengetahui sepak terjang Aryono sebagai pemusik atau komposer.Profesi yang paling banyak diketahui orang adalah seorang fotografer profesional yang memiliki jam terbang tinggi.Lagu Burung Camar itu sebetulnya dibikin dalam komposisi piano klasik dan tak berlirik.Aryono yang terampil bermain piano dan keyboard itu lalu tertarik mengikutsertakan lagu ciptaannya itu ke Festival Lagu Populer Nasional Tahun 1985.Aryono lalu meminta kesediaan Iwan Abdurachman, penulis lagu yang pernah tergabung dalamBimbo, untuk menuliskan lirik lagunya.Menjelmalah lagu Burung Camar .Tak diduga  lagu ini berhasil menjuarai Festival Lagu Populer Indonesia 1985 dan mewakili Indonesia dalam Yamaha  World Popular Songs Festival Tokyo dengan judul “The Song of The Seagulls” . Burung Camar memperoleh penghargaan Kawakami Award di ajang ini.Aryono memang memiliki bakat musik yang luar biasa.Aryono pernah menjuarai Festival Electone Se Indonesia yang beralngsung di tahun 1985.Dia pun pernah membentuk band fusion dengan nama Warimoo dan ikut berlomba dalam kompetisi band Light Music Contest. Lulusan The University of Tokyo yang meraih gelar doktor dalam bidang marine biology ini juga  menulis lagu berjudul “Lirih” untuk almarhum Chrisye.

Arie  Wibowo

 

Madu dan Racun adalah lagu karya Arie Wibowo yang luar biasa populer dan dinyanyikan oleh setiap orang pada tahun 1985..Album “Madu dan Racun” yang terjual lebih dari 1 juta keping itu ternyata bukan hits sesaat pada zamannya saja..Tahun 2009  J-Rock meremake lagu ini dengan gaya yang lebih fresh.“Madu dan Racun” sebetulnya telah dibawakan oleh Prambors Vokal Group dalam kaset yang dirilis Pramaqua tahun 1975 tapi dengan judul “Bingung”. Sebelum diubah judulnya menjadi “Madu dan Racun”,lagu yang ditulis oleh Arie Wibowo dan Jonathan Purba ini sering dinyanyikan pula oleh almarhum Kasino saat melawak di panggung bersama Warung Kopi Prambors.Bahkan penyanyi cantik Nanin Sudiar pun pernah  menyanyikan lagu ini I dengan judul lain pula yaitu  “Dilema”.

Arie Wibowo adalah penulis lagu pop yang sangat produktif.Dia menulis hampir semua lagu dalam album Bill & Brod,kelompok yang dibentuknya di paruh era 80an. Saat tergabung dalam Prambors Vokal Group dan Topan Group, Arie Wibowo selain tampil sebagai penyanyi juga menulis semua lagu-lagunya

 

 

Ikang Fawzi

Sebetulnya Ikang Fawzi awal karirnya di dunia musik bukan sebagai penyanyi tapi seortang drummer dan penulis lagu.Tahun 1979 salah satu lagu karya Ikang bertajuk “Cahaya Kencana” berhasil menjadi finalis Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors.Ketika lagu tersebut akan direkam dalam album yang diberi judul Dasa Tembang Tercantik 1979, pihak Prambors lalu memilih penyanyi rock Achmad Albar sebagai penyanyinya.”Saya gembira dan bangga, karena Achmad Albar adalah penyanyi rock idola saya “ tutur lelaki kelahiran 23 Oktober 1959 dengan nama Achmad Zulfikar Fawzi.Ikang kemudian menulis lagu untuk beberapa penyanyi diantaranya Louise Hutauruk,Candra Darusman dan Raidy Noor. Bersama Addie MS dan Raidy Noor sahabatnya saat tergabung dalam Vokal Grup SMA 3 Setiabudi Jakarta,Ikang lalu membentuk band dengan nama AIR di tahun 1979.Di tahun 1982 AIR berubah nama menjadi Staff dan merilis album di tahun 1981.”Nah di band Staff itulah saya mulai memberanikan diri tampil sebagai penyanyi” cerita Ikang lagi.  Di tahun 1985 barulah Ikang terjun sebagai penyanyi solo dengan merilis album “Selamat Malam”.Dalam album-album solonya,Ikang hampir menulis semua lagu-lagunya.

 

             Sawung Jabo

 

Sebagian besar lagu-lagu yang ditulis Sawung Jabo berpijak pada kritik sosial dan narasi kemanusiaan.Penyebanya mungkin karena latar belakang Sawung Jabo yang bergabung dengan kelompok teater Bengkel yang dipimpin WS Rendra di Yogyakarta pada paruh era 70an.Dari komunitas teater ini pemilik nama Mohammad Djohansjah ini lalu membentuk Kelompok Kampungan bersama Bram Makahekum yang kerap mendukung pertunjukan teater Bengkel seperti pada pementasan lakon drama “Sekda” di tahun 1975. Tahun 1976 Sawung Djabo mendirikan kelompok musik Sirkus Barrock .Akhir era 80an Sawung Jabo membentuk kelompok Swami bersama sebagian pendukung Sirkus Barock serta Iwan Fals dan juga Yockie Surjoprajogo.Tahun 1990 personil Swami lalu melebur kedalam Kantata Takwa yang digagas maesenas Setiawan Djody bersama WS Rendra.Sawung Jabo juga membentuk beberapa kelompok musik lainnya seperti Dalbo dan Genggong.   Konsep musik yang  dipaparkan Sawung Jabo dalam  Sirkus Barock, Swami dan Kantata Takw dikenal penuh pendewasaan, kepolosan,lugas dan apa adanya.

Dengan berlatar tata  musik yang dinamis. Sawung  Jabo juga dikenal lewat ekspresi musikalnya yang khas seperti teriakan-teriakannya yang garang, liar, dan nyeleneh dalam berbagai pentas    pertunjukannya.Namun memasuki dasawarsa 2000, lagu-lagu Jabo condong  bernuansa religious,menggali makna hidup,kisah kasih  dan permenungan.

 

Bebi Romeo

 

Di akhir 90an hingga masuk ke era 2000an nama Bebi Romeo adalah hitmaker yang paling banyak dicari para penyanyi yang ingin membawakan lagu-lagu karya Bebi yang saat itu memang bertebaran sebagai hits mulai dari “Bunga Terakhir” yang dinyanyikannya sendiri bersama bandnya Romeo hingga “Mencintaimu” yang dipopulerkan Kris Dayanti,Selamat Jalan Kekasih (Rita Effendy),Perbedaan (Ari Lasso) serta “Andai Aku Bisa” yang dinyanyikan oleh Chrisye di tahun 2001.Nama Bebi Romeo kembali jadi jaminan sukses ketika di tahun 2007 lagu karya ciptanya “Bukan Cinta Biasa” mengangkat ketenaran penyanyi pendatang baru Afgan.

Karir musik lelaki kelahiran 6 September 1974 dengan nama lengkap Virdy Megananda ini dalam industri musik Indonesia bermula ketika membentuk kelompok Bima yang hanya sempat merilis satu album bertajuk “Sebuah Awal” (1997).Dua tahun kemudian Bebi bersama Bimo dan Yudha membentuk band Romeo yang menghasilkan 3 album “Romeo (1999),”Wanita” (2002) dan “Lelaki Untukmu” (2006)  

 

 

Deddy Dores

 

Di era 70an,Deddy Dorres yang bernama asli Deddy Setiadi Prayitno  adalah pemusik rock yang berkelebat diberbagai band rock papan atas sebagai gitaris dan pemain keyboard mulai dari Freedom Of Rhapsodia,Giant Step,The Road,Fantastique,God Bless hingga Superkid.Tapi memasuki era 80an Deddy Dorres malah dikenal sebagai seorang hitmaker dengan sederet hits yang laris manis di pasaran musik Indonesia.Kehadiran Deddy Dorres dalam industri musik Indonesia  tampaknya membayangi Rinto Harahap dan Pance Pondaag sebagai komposer lagu-lagu pop yang kebanyakan dinyanyikan oleh penyanyi wanita.Mereka itu antara lain Nike Ardilla,Conny Dio,Nafa Urbach,Ria Angelina,Lady Avisha ,Yessy Gasela,Inka Christy,Twin Sisters,Lydia Natalia,Annie Carera dan masih banyak lagi.Tapi yang paling sukses adalah ketika Deddy Dorres menulis lagu-lagu untuk Nike Ardilla seperti Seberkas Sinar dan Bintang Kehidupan yang kabarnya terjual hingga dua juta kopi kaset.  

 

Adriyadie

Saat Bob Tutupoly tengah melakukan rekaman album di studio Remaco bersama iringan De Meicy,tiba-tiba muncul seorang lelaki mendatangi Bob Tutupoly seraya menawarkan kepadanya agar mau membawakan lagu ciptaannya. Namun kehadiran lelaki bertubuh gelap itu dianggap mengganggu suasana rekaman oleh pihak Remaco yang meminta kepada Bob agar jangan menghiraukan lelaki yang tak dikenal itu.Tapi Bob bersikeras ingin membawakan lagu yang disodorkan sang lelaki itu padanya.Akhirnya pihak Remaco mau menerima lagu dari sang lelaki tadi sebagai lagu terakhir dalam album Bob Tutupoly.Diluar dugaan ternyata lagu yang berjudul Widuri itu meledak dipasaran.Insting Bob Tutupoly ternyata berbuah hasil.Lelaki yang bernama lengkap Slamet Adriyadie itu lalu mashur dengan nama Adriyadie.Sejak itu lagu-lagu karya Adriyadie dinyanyikan banyak penyanyi lain seperti Arie Koesmiran,Nur Afni Octavia,Ade Manuhutu,Broery Marantika , Purnama Sultan hingga Ria Restu Fawzy.

Slamet mengaku membutuhkan waktu enam bulan menyelesaikan lagu Widuri lengkap dengan notasinya. Inspirasi  lagu Widuri, diperoleh di saat rehat  sebagai buruh kapal di Pelabuhan Tanjungpriok. Saati itu,Adriyadie  menyendiri di tepi pantai memandangi Laut Jawa sembari memetik i gitar kesayangan,lalu  menuliskan notasi dan liriknya sekaligus.Kini Adriyadie bekerja di Yayasan Karya Cipta Indonesia.

 

Dorie Kalmas

Di era 80an pernah muncul istilah Pop Kreatif, sebuah genre yang dianggap mewakili lagu-lagu pop  dengan perpaduan warna rhythm and blues,jazz serta rock.Salah satu pencipta lagu yang kerap menulis lagu dengan gaya semacam itu adalah Dorie Kalmas.Penyanyi-penyanyi yang membawakan lagu karya Dorie Kalmas mulai dari Fariz RM,Neno Warisman,Utha Likumahuwa,Mus Mudjiono,Yana Julio,Andi Meriem Mattalatta,Asti Asmodiwati,Fryda,Irma June,Ronny Sianturi,Dian Pramana Putra,Warna dan Titi DJ.Adapun lagu-lagu Dorie Kalmas yang menjadi hits antara lain Nada Kasih yang dinyanyikan secara duet oleh Fariz RM dan Neno Warisman,”Selamanya Cinta” (Yana Julio),”Keagungan Cinta” (Mus Mujiono),”Mengapa Terpilih” (Warna) serta “Bahasa Kalbu” yang dipopulerkan Titi DJ.Lagu “Bahasa Kalbu” ditulis Dorie Kalmas bersama Andi Riyanto dan Titi DJ.

 

Dadang S Manaf

 

Dadang S Manaf adalah salah satu komposer musik pop yang produktif melahirkan sederet lagu pada era paruh 80an hingga awal 90an.Gaya penulisan lagu Dadang S Manaf bisa disebut beragam, artinya dia mampu menulis lagu dengan target pendengar dengan strata menengah kebawah maupun menengah keatas. Lagu-lagu Dadang S Manaf antara lain dibawakan oleh Endang S Taurina,Angel Pfaff,Iis Soegianto,Paramitha Rusady hingga Uci Bing Slamet dengan tema yang agak mendayu, tapi disisi lain Dadang toh mampu menulis lagu yang lebih berkelas seperti yang dinyanyikan Tika Bisono ,Ramona Purba,,Yana Julio,Ermy Kullit hingga Chrisye.Dadang S Manaf pernah meraih prestasi dalam Festival Lagu Populer Indonesia ke XII tahun 1984 saat lagu ciptaannya “Senyum Dalam Duka” yang dinyanyikan Bornok Hutauruk masuk dalam 10 Besar lagu Terbaik Di tahun 1987 kembali lagu karya Dadang bertajuk “Anugerah” terpilih dalam 12 Besar Lagu Terbaik Festival Lagu Populer Indonesia ke XV .Kakak tiri Ahmad Dhani ini pun pernah merilis sebuah album solo bertajuk Reuni SMA yang dirilis Akurama Record pada tahun 1987.  

 

Cecep AS

 

Meskipun banyak karya-karya Cecep AS yang dibawakan Atiek CB seperti “Risau”,”Maafkan” ,”Benci Sendiri” dan “Berhentilah”, namun sebetulnya lagu-lagu Cecep AS juga menjadi hits saat dinyanyikan Rafika Duri (Tirai),Harvey Malaiholo (Dara),Ramona Purba (Terlena),Jayanthi Mandasari (Ingkar),Andi Meriem Mattalatta (Pasrah),Novia Kolopaking (Kuserahkan) dan Ermy Kullit (Sesal). Lagu “Risau” juga dibawakan Melly Goeslaw dalam album “Mindsoul” di tahun 2007.

 Sebagian besar lagu yang ditulis Cecep AS bertema romansa asmara dengan nuansa melankolia walau tak berkesan cengeng dan mendayu-dayu.Cecep AS dalam menuliskan lirik-lirik lagunya kerap menggunakan gaya metafora seperti misalnya pada lagu Tirai yang dipopulerkan Rafika Duri.

Cecep AS pun merilis album solo yaitu album “Gusar” ditahun 1985 dengan musik  yang digarap Younky Soewarno serta album “Jatuh Cinta” di tahun 1987 dengan musik yang digarap Bambang B dan Cecep AS sendiri.  

Tulisan ini diambil dari artikel 100 Pencipta Lagu Indonesia Terbaik – Rolling Stone Indonesia edisi Februari 2014, dimana 60 entry merupakan tulisan saya

 

 

Dewa Budjana Adalah Surya

Posted: Januari 30, 2014 in Sosok

Dewa Budjana ,dimata saya,laksana surya, seperti matahari – yang berbuat banyak tanpa banyak gembar gembor.Layaknya surya atau matahari,Dewa Budjana seolah tak letih memancarkan sinar musik setiap pagi,menyurut di malam hari,untuk kemudian bersinar lagi di keesokan paginya.Musik, jelas adalah dunia Dewa Budjana,musik juga adalah takdir bagi Dewa Budjana yang dengan mengambil medium jazz menjejakkan cermin budaya bangsanya lewat gitar,perangkat musik yang telah disukainya dan dimainkannya sejak kecil.

DB

Saya tak terkejut dan heran ketika,para penikmat musik diseberang negeri ini memuja-muji karya-karya Dewa Budjana yang dirilis secara internasional oleh label kecil dengan idealis berskala besar MoonJune yang ada di New York,Amerika Serikat. Passionate musik yang dimiliki dan bersemayam dalam raga Budjana inilah sesungguhnya yang bertutur jujur tanpa pupur rekayasa.Maka terbaca begitu banyak review memikat dari para pengantusias musik di berbagai belahan dunia sana.Wakaupun demikian,Dewa Budjana tak berubah pongah dan berlaku lajak.Budjana tetap menampilkan sosok kesenimanan yang tegar dan tetap berkarya.

Semangat dan konsistensi seorang Dewa Budjana inilah yang membuat saya terperangah,kagum.Disela-sela jadwal yang padat bersama kelompok musiknya Gigi yang mengalir dalam arus besar, toh Dewa Budjana masih menyisakan ruang idealis dalam kredo bermusiknya.Agaknya ini merupakan kelangkaan yang pantas diteladani.

DB

Kemudian terbetik warta bahwa lDewa Budjana akan merilis album solo terbarunya, masih  lewat label MoonJune New York AS menyusul album Joged Kahyangan yang dirilis tahun 2013 lalu.Album yang didukung drummer Vinnie Colaiuta (Frank Zappa,Sting,Jeff Beck) dan bassist Jimmy Johnson (Flim & The BB’s) ini diberi judul Surya Namaskar. Dan inilah liner note nya yang ditulis oleh John Kellman :

“Thank whatever deity you believe in, then, for Leonardo Pavkovic and MoonJune Records; while, as a small independent label, MoonJune continues to struggle for existence in the landscape of a new millennium music business, Pavkovic still believes in the music with a passion, and provides his artists the freedom to do what they want, when they want it. Recorded in Los Angeles during two sessions in 2013, Surya Namaskar (Salute to the Sun, in Balinese language) represents a significant change from Joged Kahyangan. While bassist Jimmy Johnson (Allan Holdsworth, James Taylor, Flim & the BB’s) is back from that session, this time the drummer is the much in-demand powerhouse Vinnie Colaiuta (Herbie Hancock, Jeff Beck, Sting), with ubiquitous guitar session ace Michael Landau (James Taylor, Renegade Creation) and drummer turned drummer/keyboardist Gary Husband (John McLaughlin, Allan Holdsworth) making valuable guest appearances on one track each. The sum total of Surya Namaskar is most definitely greater than its individual parts. Together with his two previous MoonJune recordings – Dawai in Paradise (January, 2013) and Joged Kahyangan (October, 2013) – Surya Namaskar paints the ongoing portrait of a guitarist who may be a superstar in the Indonesian pop-rock world as a founding member of the multi-million selling Gigi (celebrating this year their 20th anniversary), but whose lesser-known credibility and, more importantly, visibility as a jazz guitarist is slowly but surely on the ascendance, as more and more international progressive jazz fans discover the depth, the heart, and the profound spirituality of Dewa Budjana, at fifty a new guitar hero of strength, creativity and significance.

Saya setuju dengan torehan impresi Kellman tentang pola karya Dewa Budjana diatas.Karya adalah kekuatan utama Budjana.Karya adalah surya yang membagi-bagi cerah dan kehangatan.Jadi izinkanlah saya untuk bertamsil kata : Dewa Budjana adalah Surya.

Mendadak Major Tom

Posted: Januari 24, 2014 in Opini

Gara-gara film The Secret Life of Walter Mitty yang dibintangi dan disutrdarai Ben Stiller, lagu “Space Oddity” karya David Bowie kembali ditoleh orang.Mendadak bayak yang menyenandungkan lagu yang bernaunsa gitar akustik tersebut.

Di twitter,banyak yang mengquote penggalan lirik lagu yang kerap diinterpretasikan dalam dua sudut pandang yang berbeda.Lagu Space Oddity yang menampilkan sosok Major Tom ini memang divisualisasikan dalam film yang menceritakan tokoh Walter Mitty,editor foto  majalah Life yang kerap melamun dalam situasi apapun.salah satunya adalah ketika Cheryl Melhoff (diperankan aktris Kristen Wiig)  wanita yang didambakannya  menyeruak memainkan gitar akustik dan menyenandungkan Space Oddity lalu disambung dengan versi original dari David Bowie.

GEDSC DIGITAL CAMERA

Ground Control to Major Tom
Ground Control to Major Tom
Take your protein pills and put your helmet on
Ground Control to Major Tom (Ten, Nine, Eight, Seven, Six)
Commencing countdown, engines on (Five, Four, Three)
Check ignition and may God’s love be with you (Two, One, Liftoff)

This is Ground Control to Major Tom
You’ve really made the grade
And the papers want to know whose shirts you wear
Now it’s time to leave the capsule if you dare
“This is Major Tom to Ground Control
I’m stepping through the door
And I’m floating in a most peculiar way
And the stars look very different today
For here
Am I sitting in a tin can
Far above the world
Planet Earth is blue
And there’s nothing I can do

Though I’m past one hundred thousand miles
I’m feeling very still
And I think my spaceship knows which way to go
Tell my wife I love her very much she knows
Ground Control to Major Tom
Your circuit’s dead, there’s something wrong
Can you hear me, Major Tom?
Can you hear me, Major Tom?
Can you hear me, Major Tom?
Can you “Here am I floating round my tin can
Far above the Moon
Planet Earth is blue
And there’s nothing I can do.”

Lagu “Space Oddity” ini memang banyak diremake atau ditafsir ulang oleh banyak pemusik termasuk diantaranya Saigon Kick hingga Smashing Pumpkins. Seingat saya dijaman pertunjukan musik rock tengah memwabah Indonesia pada era 70an, Achmad Albar pernah menginterpretasikan Space Oddity secara menawan.Bahkan Deddy Stanzah di akhir era 70an dengan mendekap gitar akustik menyanyikan Space Oddity yang kuat nuansa folk psychedelicknya itu.

Lagu “Space Oddity” terdapat pada album solo David Bowie bertajuk “Space Oddity” yang pertamakali diluncurkan pada November 1969.  Album ini memang banyak tersita lewat lagu bernuansa psychedelic dengan aksentuasi spacey yang kental”Space Oddity”.Lagu ini menumpahkan riffing gitar akustik yang berpadu dengan alat tabuh stylophone (sejenis marimba dan xylophone).

Pada layer belakang Rick Wakeman melatarinya dengan tekstur mellotron yang imajinatif.Banyak yang menyindir,saat itu bagaikan seorang opportunis yang mendompleng ketenaran pendaratan astronot Amerika Neil Armstrong dan Buzz Aldrindi bulan bersama Apollo 11 pada tanggal 20 Juli 1969.Tapi Bowie jelas menampik hal tersebut seraya mengatakan bahwa inspirasi utama penulisan lagu Space Oddity itu berasal dari film fenomenal Stanley Kubrick 2001 :  A Space Oddysey.

BBC sendiri bahkan menggunakan lagu David Bowie ini sebagai lagu yang melatari pemberitaan tentang berita mendaratnya astronaut di bulan.
Tapi lagu “Space Oddity” ini lalu menuai banyak tafsir yang ditakwilkan sejumalh orang dari berbagai angle dan interpretasi.Ada yang menyebut lagu ini hanya lah sebuah rekayasa dari ritual penggunaan psikotropika ala Dr Timothy Leary.Ada yang menyebut perihal obsesi Bowie menembus ruang angkasa dan banyak ragam versi yang bermunculan ke permukaan.Penokohan Major Tom dalam lagu ini pun menjadi bahan perbincangan yang tiada putus-putusnya.Dalam situs tentang makna dan fakta lagu “SongsFact” terlihat begitu banyak posting orang yang memiliki penafsiran berbeda-beda satu sama lain tentang makna lirik dari lagu “Space Oddity” tersebut.
Album beratmosfer kosmik yang digarap produser Tony Visconti ini memang merebak me njadi sebuah fenomena dalam industri musik pop saat itu.
Sesungguhnya di album ini Bowie telah memperlihatkan perangai musiknya yang bagaikan sosok phantom.Berubah ubah.Ada tendensi eklektik yang menggelitik.Simaklah warna vokal yang bisa menjadi apa saja.Dia bagai bunglon yang siap mengecoh musuhnya.Simak lagu “Unwashed and Somewhat Slightly Dazed” yang mengasosiaikan penikmatnya pada sosok Rolling Stones dengan dominasi Mick Jaggernya.Pada “Letter To Hermione” Bowie merunduk ke pola tradisional folkie yang bernuansa akustik.Pada “An Occasional Dream” kuping kita pun seolah tergerus dengan bunyi orkestra yang dimainkan oleh 50 pemusik.Dan perjalanan Bowie bermuara pada sebuah lagu beraroma hippies “Memory of A Free Destival” yang berkesan anthemic.
Bowie jelas banyak melakukan eksplorasi di album ini.Bowie seperti halnya para inovator yang liar berkarya di tahun 1969 seperti Miles Davis atau Bob Dylan dan seterusnya,memang menancapkan sebuah landmark dalam budaya pop yang tak pernah luntur di tiap era :

Candra Darusman,seorang mahasiswa Ekonomi Universitas Indonesia bernama resah.Saat itu, di tahun 1977,setiap membaca koran seolah ada sesuatu yang mengganjal benaknya.”Maklum mahasiswa kan selalu kritis tuh” ungkap Candra yang kini bermukim di Geneva.” Lalu saya pun tergerak untuk bikin laguLagu tersebut tercipta tahun 1977. Baiklah saya buka rahasia, setelah 4 dekade lebih tersimpan baik dalam ingatan saya” tukas Candra Darusman.

” Tadinya (lucu mungkin), ditujukan untuk wartawan Indonesia ! Ketika itu teman-teman  wartawan sangat-sangat  ‘partisan’ dengan pendapat masing-masing sehubungan dengan situasi politik. Memang ada yang murni partisan, tetapi banyak yang hanya mengadu-domba masyarakat, agar ‘koran kuningnya laku’. Jadi kalau anda bayangkan lagunya, setiap muncul kata Pemuda, harusnya dinyanyikan Wartawan..kemana langkahmu menuju..bahkan bait kedua : dengan pena yang bertinta belang…. Maaf ya jangan tersinggung” tambah Candra yang kini bertugas di Singapore. Rupanya Candra mengkritik wartawan lewat lagu yang diciptakannya.

Bersama Candra Darusman tahun 2010

Bersama Candra Darusman tahun 2010

Lagu “Pemuda” ini menurut Candra dibikin dalam beberapa hari.

” Lalu, kenapa jadinya Pemuda. Yah, karena pemuda dapat mencakup semua profesi, jadi lebih netral dan saya ingin angkat menjadi lagu yang menegur generasi muda sebagai penerus bangsa agar kompak gitu lo, termasuk tapi tidak terbatas hanya wartawan. Heheh, jangan tersinggung ya” imbuh Candra sembari tersenyum.

Tema lagu “Pemuda” ini pun kerap pula dikaitkan dengan suasana kampus yang tengah memberlakukan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK).”Mahasiswa tidak boleh berpolitik saat itu” kenang Candra Darusman.

Kaset Pemuda Chaseiro dirilis Musica Studios tahun 1979

Kaset Pemuda Chaseiro dirilis Musica Studios tahun 1979

Di tahun 1978,lagu “Pemuda” direkam dan dijadikan judul album perdana Chaseiro yang terdiri atas 7 mahasiswa itu.Di luar dugaan,lagu “Pemuda” kemudian menjadi hit karena sering diputar di radio-radio.Hingga kini lagu “Pemuda” masih sering terdengar berkumandang.”Apalagi isu perpecahan sekarang sering mencuat.Jadi lagu ini masih relevan” kata Candra Darusman.

Dan inilah lirik lengkap lagu “Pemuda”

Pemuda, kemana langkahmu menuju

Apa yang membuat engkau ragu

Tujuan sejati menunggumu sudah

Tetaplah pada pendirian semula
Dimana artinya berjuang

Tanpa sesuatu pengorbanan

Kemana arti rasa satu itu
Bersatulah semua seperti dahulu

Lihatlah kemukaKeinginan luhur kan terjangkau semua
Pemuda, mengapa wajahmu tersiratDengan pena yang bertinta belang ?

Cerminan tindakan akan perpecahan.

Bersihkanlah nodamu semua
Masa depan yang akan tiba.

Menuntut bukannya nuansa.

Yang selalu menabirimu pemuda

Di paruh dasawarsa 70-an, Jopie Item tampil terdepan sebagai gitaris yang banyak memainkan warna jazz rock baik di panggung maupun rekaman. Pengaruh gitaris Jeff Beck dan Tommy Bolin yang saat itu cenderung menghasilkan album album bermotif jazz rock, sangat terasa pada pola permainan gitar Jopie Reinhard Item ini.

Dengan distorsi gitar yang meraung-raung tapi berada dalam cengkeraman beat dan akord yang bermuara dalam zona jazz, menjadikan sub-genre jazz rock ini lebih banyak membelai kuping pendengar usia belia.

Konsep musik jazz rock itulah yang dimainkan Jopie Item (gitar), Abadi Soesman (keyboard,moog synthesizers), almarhum Wempy Tanasale (bass elektrik) dan Karim Suweileh (drum) berkolaborasi dengan si biola maut Idris Sardi.

Jopie Item dan Idris secara kebetulan pernah tergabung dalam band Eka Sapta yang digagas almarhum Amin Widjaja, pendiri Musica Studio’s.

Kaset jazz rock Jopie Item & Idris sardi (Foto Denny Sakrie)

Kaset jazz rock Jopie Item & Idris sardi (Foto Denny Sakrie)

Menariknya, album ini direkam secara live ketika mereka tampil di Taman Ismail Marzuki Cikini Jakarta pada tahun 1977. Sound engineer Alex Kumara menggotong seperangkat mixer studio untuk mengabadikan pertunjukan ini.
Ini upaya yang patut diberi jempol, mengingat betapa susahnya mencari hasil rekaman yang kualifaid untuk sebuah album live pada zaman itu. Pada akhirnya album live ini pun masih harus dibenahi lagi di studio Tri Angkasa Kebayoran oleh Yongky Mamahit.

Dalam repertoar yang dimainkan Jopie Item dan Idris Sardi memang tak satupun menyertakan komposisi orisinal. Namun toh,mereka seolah memberi baju baru terhadap sederet lagu-lagu pop dan standar yang dimainkan. Mulai dari lagu tradisional Jali Jali dan Es Lilin,”Layu Sebelum Berkembang” karya A.Riyanto yang dipopulerkan Tetty Kadi hingga lagu dangdut “Rindu” nya Achmad Vadaq yang tengah populer saat itu. Selebihnya adalah karya standar seperti “My Funny Valentine” hingga “Black Is Black”.

Idris Sardi memberikan respon yang imbang terhadap solo maupun riffing gitar yang dimainkan Jopie Item. Kesan mellow yang merintih-rintih ala Idris sardi dalam gesekan biolanya tak terdengar disini. Sepintas gesekan biola Idris sardi justeru mengingatkan kita pada Jerry Goodman (violinis the Flock dan Mahavishnu Orchestra) atau Jean Luc Ponty. Dalam beberapa bagian Abadi Soesman tampil segahar Jan Hammer, yang berpindah pindah dari piano elektrik Fender Rhodes Stage 73 ke liukan glissando yang dihasilkan perangkat minimoog synthesizers. Simak solo synthesizers Abadi Soesman pada interlude lagu “Rindu”. Saya pun yakin, jika Karim sang drummer banyak mengadopsi karakter drumming dari Billy Cobham (juga dari Mahavishnu Orchestra).

Ketika album ini dirilis pada tahun 1977 , pihak Pramaqua mengirimkan album live Jopie Item dan dris Sardi ini ke BBC London. Ternyata pihak BBC London tertarik dengan penyajian musik Jopie Item dan Idris Sardi ini. Album ini lalu diputar di BBC London. Bahkan kritikus musik Inggris memuji album ini dalam Sunday Telegraph. Dalam review, Idris Sardi disbanding-bandingkan dengan penggesek biola jazz India L.Subramaniam

Album yang patut jadi referensi bagi penyuka jazz rock dan salah satu tonggak dalam konstelasi musik jazz di Indonesia.

Track List
1.Layu Sebelum Berkembang
2.Es Lilin
3.Jali Jali
4.Rindu
5.Crosswind
6Black Is Black
7.Medley (My Funny Valentine+ Feeling).

Khazanah lagu -lagu rakyat Maluku diinterpretasikan dalam gaya folkie jazz yang menawan oleh Boi Akih yang terdiri atas Monica Akihary (vokal), Niels Brouwer (gitar,mandolin), Sean Bergin (penny whistle), Victor de Boo (drums), Eric Calmes (double bass) dan Ernest Reijsger (cello) dan dikemas dalam album bertajuk “Lagu Lagu”.

Lagu lagu rakyat seperti “Ole Sioh”, “Lembe Lembe”, “Panggayo” hingga “Tanase” disajikan dalam atmosfer yang unik. Tanpa harus menghilangkan nuansa Maluku yang konotatif dengan suasana pantai, dan diimbuh nuansa folk dan jazz. Sebuah proses interpretasi yang yang tak harus saling mengintimidasi.

Boi Akih di Belanda

Boi Akih di Belanda

Boi Akih ini merupakan medium ekspresi bermusik yang ditumpahkan pasangan suami isteri Monica Alihary, penyanyi yang berdarah Ambon Maluku serta Neil Brouwer sang suami yang berdarah Belanda. Jadi tak heran jika penggarapan album ini terasa sangat intens.

Dalam liner notenya Monica Akihary menulis, “Pada musim panas tahun 2002 saya dan Niels Brouwer diberikan sebuah kotak penuh dengan kaset, direkam di lapangan, di Maluku pada tahun 1948. Berikutnya suara rekaman kami bersihkan sampai keretak-keretaknya hilang, hingga akhirnya kami sempat mendengrkan musiknya. Kebanyakan lagu masih saya masih ingat dari masa kecil saya. Tapi ada yang berbeda karena teks yang saya dengarkan di kaset adalah teks asli, dimana keindahan kepulauan Maluku dilukiskan, teks tentang kehidupan sehari-hari orang nelayan dan tentunya cinta”.

Niels Brouwer pun mulai menata musiknya. Dia piawai membaurkan dua kultur musik yang berbeda. Ini jelas terdengar ketika anda mulai mendengarkan “Naik Naik Ke Puncak Gunung” sebuah folklore kanak-kanak yang menghadirkan musik minimalis yaitu penny whistle yang ditiup Sean Bergin serta perpaduan gitar dan mandolin yang dimainkan Brouwer. Monica Akih pun bersenandung. Sepintas mengingatkan kita pada karakter vokal Joni Mitchell, singer/songwriter Amerika yang kerap menyatukan folk dan jazz.

Dalam “La Apa Apa” Brouwer secara cerdik menyusupkan warna tribal music yang terwakili lewat ketukan perkusi yang ritmik dan repetitif dan ditabuh Victor de Boo, dibayangi tiupan penny whistle Sean Bergin seolah menyembulkan sebuah ritual yang digelar kepala suku.

Suasana pantai terekam nyata pada lagu “Lembe Lembe”, terdengar dominasi hembusan penny whistle dari Sean Bergin yang berkesan seperti piccollo. Menyimak lagu ini secara tak sadar kita tak bisa lagi membedakan musik musik Maluku dan Trinidad.

Brouwer memang ingin menumpahkan nuansa musik musik kepulauan dengan aura pasir pantai yang membentang. Eksotisme ini pun tertangkap kuping kita saat menyimak lagu “Pangayo” sebuah lagu tentang semangat para nelayan mengarungi samudera yang oleh Brouwer diberi ritme reggae berimbuh elektrik blues lewat petikan gitar elektrik pada beberapa birama serta tiupan saxophone yang impulsif.
Lewat “Tanase”, Brouwer malah meminjam irama Samba yang eksotik, bagai perpaduan pantai Natsepa dan pantai Ipanema. Irama ini membingkai rapat aksentuasi vokal Monica yang jernih dan bulat.

Boi Akih di Tong Tong Fair

Boi Akih di Tong Tong Fair

Lalu menyelusup pula pengaruh musik gospel dalam lagu “Buane A”, dimana Monica Akihary, Sean Bergin, Niels Brouwer,Victor de Boo,Eric Calmes dan Ernest Reijsger membentuk sebuah choir gerejani yang khidmat.

Sungguh album yang sepatutnya anda simak. Sebuah perpaduan musik yang chemistry antara Maluku dan Eropa, antara folk dan jazz.

Tracklist
1. Naik-Naik Ke Puncak Gunung
2. Hitam Manis
3. Ole Sioh
4. Potong Kayu
5. Lembe Lembe
6. La Apa Apa
7. Pangayo
8. Pantai Silale

9.Waktu Hujan Sore Sore

10.Buane A