Arsip untuk Februari, 2014

Jejak Musik Rick Wakeman di Indonesia

Posted: Februari 20, 2014 in Kisah, Sosok

12 tahun silam tepatnya 21 Februari 2002 seorang keyboard wizzard asal Inggris Rick Wakeman menggelar konser tunggal di Plennary Hall Jakarta Convention Center.Saat itu banyak yang tak percaya Rick Wakeman keyboardis kelompok rock progresif yang flamboyant itu tampil bersama kelompok musiknya The English Rock Ensemble.Pemusik bertubuh jangkung ini kerap mengenakan jubah bak seorang raja jika beraksi di pentas pertunjukan baik saat bersama Yes maupun saat melakukan konser solo. Apalagi kedatangan Rick Wakeman ke Jakarta nyaris tanpa promosi sama sekali.Saya sendiri ketika mendengar kabar bahwa Rick Wakeman akan konser di Jakarta hampir menganggapnya sebagai sebuah hoax belaka.Apalagi setelah mengecek disitus milik Rick Wakeman, ternyata Rick memang tengah rehat alias tidak lagi mengadakan tur konser.Disitusnya tertera turn konser terakhir Rick Wakeman adalah “Rick Wakeman Back Again” yang berlangsung antara 10 Maret hingga 8 April 2001 dinegaranya sendiri Inggris Raya.Bahkan saya sama sekali tak mengenal promoter yang nekad menghadirkan Rick Wakeman dalam keadaan tidak melakukan tur konser. Ternyata promoter yang menghadirkan Rick Wakeman and The English Rock Ensemble adalah seorang pengusaha yang sangat low-profile dan penggemar berat Rick Wakeman dan Yes.Menghadirkan Rick Wakeman salah satu maestro keyboard dunia ini ternyata merupakan obsesi sang pengusaha tersebut.

Saya dan Rick Wakeman di Studio M97FM Classic Rock Station

Saya dan Rick Wakeman di Studio M97FM Classic Rock Station

Rick Wakeman sendiri hampir sepekan berada di Jakarta.Selain tampil Jakarta Convention Center, Rick Wakeman bahkan bermain piano di depan para pejabat, tampil disebuah acara music di  RCTI hingga siaran di Radio M97FM Classic Rock Station. Rick Wakeman yang kerap tampil bagaikan raja atau ksatria Inggris diatas panggung  justru mau berbaur dengan siapa saja.Orangnya ramah dan down to earth. Sehari setelah konser, 22 Fewbruari 2002,Rick Wakeman menjamu kedatangan para penggemarnya yang bergerombol di lobi Hilton Hotel.Rick bahkan memainkan piano yang ada dilobi hotel mengiringi para penggemarnya yang menyanyikan lagu “Wonderous Stories” milik Yes.

Rick Wakeman sama sekali menepiskan kesan rock star yang galibnya kerap berjarak dengan penggermarnya.Saya yang mewawancara Rick Wakeman sempat memberikan album Guruh Gipsy dalam bentuk CDR. ”Ini adalah kelompok prog-rock Indonesia di era 70an” urai saya memperkenalkan karya pemusik Indonesia tersebut kepada  Rick Wakeman.

”Wow….I’ll be appreciate it” ujar Rick seraya memberikan kepada saya album solonya bertajuk “Rick Wakeman – Two Side Of Yes” (2001).

Saat itu,Rick Wakeman juga berbincang-bincang dengan Iwan Hasan,gitaris dari kelompok musik prog-rock Indonesia Discus.Iwan Hasan yang ternyata telah berkenalan dengan Rick Wakeman pada akhir era 90an terlihat akrab dengan Rick Wakeman.

Keramahan Rick Wakeman ini terbukti lagi,ketika akhir tahun 2013 Iwan Hasan yang sedang menginterpretasikan ulang komposisi Guruh Gipsy bertajuk “Indonesia Maharddhika” karya Roni Harahap dan Guruh Sukarnoputra, meminta kesediaan Rick untuk mengisi solo synthesizers dengan menggunakan miniMoog.Tanpa banyak prosedur berbelat belit,Rick Wakeman,menurut Iwan Hasan langsung menyetujui untuk mengisi part solo di lagu “Indonesia Maharddhika”.”Ketika saya mengirim email ke Rick untuk meminta kesediaannya mengisi solo synthesizer,Rick langsung menyetujui tanpa bertanya lagu apa,untuk rekaman apa.Dia tampaknya begitu percaya pada saya.Ini yang membuat saya kagum dan segan sama Rick” ungkap Iwan Hasan. Rick Wakeman,seperti yang dituturkan Iwan Hasan,lalu segera booking studio dan melakukan rekaman di Inggris.”Dalam waktu tak begitu lama Rick kemudian mengirim dua versi solo synthesizernya via email,padahal saat itu belum ada kontrak dengan dia.Tapi Rick percaya terhadap permintaan saya” imbuh Iwan Hasan lagi.

Generasi sekarang boleh jadi tak banyak yang mengenal sosok Rick Wakeman yang di tahun 1969 memainkan keyboard untuk lagu “Space Oddity” nya David Bowie atau memainkan piano untuk “Morning Has Broken” nya Cat Stevens di tahun 1971 juga memainkan keyboard untuk lagu “Sabbath Bloody Sabbath” dari Black Sabbath di tahun 1973.Rick Wakeman memang seorang session player sejati yang tidak memilah-milih genre musik  saat diminta untuk mengkontribusikan permainan keyboardnya. Hal yang sama pun dilakukan Rick Wakeman ketika Iwan Hasan meminta kesediaannya mengisi solo synthesizers.

Sosok Rick Wakeman di era 70an dengan rambut menjuntai panjang serta jubah ala Raja yang disematkan di punggungnya sangat dikenal anak muda Indonesia saat itu.Majalah musik seperti Aktuil  yang terbit di Bandung kerap kali menampilkan foto-foto Rick Wakeman yang khas  saat bersama Yes maupun dalam solo karirnya.

Bahkan salah satu bagian dari komposisi Rick Wakeman di album “Journey To The Center of The Earth” (1974)  yang diangkat dari novel fiksi ilmiah Jules Verne pernah menjadi hits di Radio Prambors Jakarta.Bagian komposisi bertajuk “The Journey” itu oleh Prambors di edit menjadi lagu dengan  durasi sekitar 3 menit lebih lalu direkam dalam kaset kompilasi “Prambors Hits” di sekitar tahun 1975 .Lagu Rick Wakeman ini kemudian kerap di putar di radio-radio anak muda tak hanya Jakarta, tapi juga di Bandung,Malang,Surabaya maupun Medan.

Ketika Rick Wakeman membawakan “Journey To The Center of the Earth” lengkap dengan jubah kebesarannya 21 Februari 2002 di Jakarta Convention Center, sebagian besar penonton meresponnya penuh antusias.   

Dalam catatan saya, The Rollies dari Bandung dalam salah satu konsernya yang  fenomernal di Taman Ismail Marzuki selama dua malam pada tahun 1976 juga membawakan karya Rick Wakeman “King Arthur”  yang diambil dari album solo Rick Wakeman di tahun 1975 bertajuk “The Myths and Legends of  King Arthur and the Knights of  The Round Table”.

 

Pengaruh Rick Wakeman terutama pada pola permainan piano berkarakter klasik serta synthesizer yang meliuk dalam nuans portamento bisa dirasakan pada karya-karya Yockie Surjoprajogo di album “Jurang Pemisah” (1977) atau karya musikal “Musik Saya Adalah Saya” (1979).Dalam “Musik Saya Adalah Saya” agaknya Yockie mengikuti pola yang diterapkan Rick Wakeman pada album “Journey To The Center Of The Earth” yang menyertakan simfoni orkestra serta narrator.J ejak musik Rick Wakeman juga terasa pada komposisi prog-rock Fariz RM dalam lagu “Panggung Perak” (1981).

Jika berbicara sejarah musik rock di Indonesia,tanpa disadari ternyata ada sosok Rick Wakeman didalamnya, mulai dari era 70an hingga di tahun 2014 ini ketika Rick Wakeman ikut mengisi remake lagu Indonesia Maharddhika.

Musik Berjiwa MataJiwa

Posted: Februari 19, 2014 in profil

Dengan ekspresi jiwa yang jujur tanpa rekayasa sudah pasti akan mencuatkan sajian dan gagasan musik yang berjiwa.Pernyataan ini saya sematkan pada Mata Jiwa,kelompok musik yang digagas oleh Anda Perdana (vokal,gitar) dan Reza Achman (perkusi). Saya telah mendengar nama MataJiwa sejak tahun 2012.

Mata Jiwa saat tampil di @atamerica

Mata Jiwa saat tampil di @atamerica

Bahkan saat itu saya sempat melihat penampilan mereka di layar kaca lewat acara RadioShow TVOne.MataJiwa main dengan segenap rasa.Mereka bermain lepas, hampir tanpa beban.Elemen inilah yang membuat saya terkejap melihat penampilan mereka.Namun saya belum sempat juga menyaksikan MataJiwa dalam sebuah konser hidup.Sampai suatu hari akhirnya saya bisa memiliki kesempatan untuk menyaksikan konser hidup mereka yang berlangsung di @atamerica pada 6 Juni 2013. Saat itu MataJiwa tampil bersama Payung Teduh.

Kedua kelompok musik ini memang memnbangkitkan semangat saya untuk menyimak karya-karya pemusik sekarang yang berupaya tampil dengan jatidiri yang kuat rasa Indonesianya.Keduanya bertolak dari filosofi folk namun dikembangkan secara berbeda.

Reza Rahman,perkusionis Mata Jiwa yang menyemaikan filosofi perkusi khas Indonesia (Foto Denny Sakrie)

Reza Rahman,perkusionis Mata Jiwa yang menyemaikan filosofi perkusi khas Indonesia (Foto Denny Sakrie)

Tapi rasa Indonesia sangat lekat dalam sakian musiknya. Anda Perdana meskipun bisa ditelisik memiliki pengaruh yang kuat dari sosok Jeff Buckley tapi dia telah menjadi dirinya sendiri bahkan sajian musiknya merupakan perbenturan folk psikedelik dengan elemen etnikal yang kukuh mencengkeram. Simaklah pola permainan drum Reza Achman  yang berlatar filosofi perkusi khas Indonesia.Reza Achman pernah mendukung kelompok etnikfolk GengGong yang dibentuk Sawung Djabo beberapa tahun silam.

Reza Rahman dan Anda Perdana dari Mata Jiwa di @atamerica 6 Juni 2013 (Foto Denny Sakrie)

Reza Achman dan Anda Perdana dari MataJiwa di @atamerica 6 Juni 2013 (Foto Denny Sakrie)

Mereka,MataJiwa, tampaknya sadar dengan pentingnya sebuah jati diri yang membalut konsep musik mereka. MataJiwa lalu menyebut musik mereka EthnoPsychedeliaRock.

Tahun 2006 saya ditawari untuk siaran radio oleh Jaringan Delta FeMale Indonesia (JDFI) di radio FeMale dan Delta  yang saat itu melakukan siaran di Gedung Perkantoran  Ratu Plaza Jalan Jenderal Sudirman Jakarta. Disepakati saya siaran dari hari minggu hingga jumat mulai jam 22.00 hingga 24.00 WIB. Jadi saya rehat siaran hanya pada hari sabtu saja.

Saya siaran di FeMale radio Jakarta yang berada di lantai 20 Gedung Perkantoran Ratu Plaza Sudirman Jakarta dan di relay via satelit oleh Radio Delta yang berada di Jakarta,Bandung,Medan,Surabaya,Makassar dan Manado serta FeMale Radio yang bearada di Bandung ,Semarang dan Yogyakarta.

Disepakati acara radio yang saya pandu ini  100 persen membahas musik dan  diberi nama  Musical Box, yang diambil dari judul lagu progressive rock milik Genesis pada era 70an.Ella Su’ud dari JDFI yang mengusulkan untuk memakai nama tersebut.Alasannya, acara yang saya bawakan ini menampilkan musik yang berasal dari sebuah kotak musik.

Saat siaran Musical Box JDFI dengan tema  Musik Indonresia yang menghadirkan photographer dan penulis lagu "Burung Camar" Aryono Huboyo Djati

Saat siaran Musical Box JDFI dengan tema Musik Indonresia yang menghadirkan photographer dan penulis lagu “Burung Camar” Aryono Huboyo Djati

Musical Box memang menampilkan lintas genre musik dari lintas generasi, dari era 60an hingga 2000an. Ada tema Soundtrack Film yang membahas tentang soundtrack-soundtrack film.Lalu ada Musik Jazz yang mengetengahkan musik jazz dari era ke era, juga ada Classic Disco yang mengedepankan lagu-lagu disko-disko klasik mulai dari era 70an hingga 90an. Ada tema Soul R&B,Evergreen Hits dan yang tak boleh dilupakan adalah Khazanah Musik Indonesia.

Dalam setiap siaran Musical Box, saya diberi keleluasaan untuk mengundang narasumber dari berbagai kalangan yang memiliki wawasan yang kuat terhadap tema-tema yang telah disepakati. Talk show berbalut sajian musik ini bagi saya merupakan acara yang menarik, karena selain menyajikan musik dari berbagai angle yang berbeda juga berpeluang untuk melakukan sharing berupa insight dan wawasan terhadap musik.

Setidaknya acara Musical Box ini memang ingin membagi bunga rampai maupun pernak-pernik yang ada dan terjadi dalam musik populer.

Ketika ingin membahasa tentang orkestra, maka saya pun mengundang Addie MS dari Twilite Orchestra untuk berbincang-bincang dan mengulik serta mengupas habis tentang dunia orkestra.Begitu pun ketika saya membahas tentang keterkaitan sebuah produksi film dengan soundtrack lagu-lagunya, maka saya pun mengajak Mira Lesmana  untuk menjadi tamu saya.

Termasuk ketika saya membahas musiki iklan atau jingle iklan, maka yang ada dalam benak saya adalah Triawan Munaf,pakar periklanan yang di era 70an pernah tergabung dalam sebuah grup rock di Bandung.

Lalu ketika membahas kecenderungan life style disko,saya pun mengundang beberapa disc jockey atau DJ  legendaris seperti Sanny Djohan sebagai narasumber.

Dalam catatan saya .banyak juga tamu yang telah saya undang di Musical Box seperti Sys NS,Ari Tulang,Yockie Surjoprajogo,Helmie Chaseiro,Peter Gontha, Sekar Ayu Asmara,Jazz Pasay,Harry DeFretes,Prima Rusdi,Tantowi Yahya,Harry Sabar,Noor Bersaudara, EQ Puradiredja,Paul Dankmayer, Benny Soebardja,Dewa Budjana,Titik Hamzah, Glenn Fredly,I Wayan Balawan,Sore,Indra Aziz,Aghi Narottama,David Tarigan,Akmal N Basral, White Shoes and The Couples Company,The Upstairs,Dewi Lestari,Marcell Siahaan,Ekki Soekarno,Jelly Tobing,Petty Tunjung Sari,Sam Bimbo  termasuk berbagai komunitas musik seperti Komunitas Jazz di beberapa kota seperti Makassar,Semarang,Surabaya dan Yogyakarta,juga komunitas penggemnar Koes Plus Jiwa Nusantara,Komunitas The Beatles   dan masih banyak lagi lainnya.

Siaran Musical Box bersama singer/songwriter Dian Pramana Poetra

Siaran Musical Box bersama singer/songwriter Dian Pramana Poetra

Saya kian bersemangat membawakan acara Musical Box ini,terutama karena respon yang masuk lewat SMS yang sangat responsif perihal tema apapun yang tengah saya bahas.Apalagi respon dari pendengar ini justru berdatangan dari 10 kota yang menjadi bagian siaran dari sindikasi program JDFI ini.

Sayangnya Musical Box hanya bertahan sekitar 1 tahun dua bulan.Menurut para pengelola JDFI,meskipun respon acara ini cukup besar tapi pemasukan iklannya seret alias kering.Apa boleh buat, acara yang menurut saya cukup  lumayan membangun wawasan atau sedikit bernilai edukasi untuk dunia musik ini harus terkubur selamanya.Februari 2007 adalah terakhir kalinya Musical Box bergaung di radio-radio Jaringan Delta FeMale Indonesia.

Sang Trubadur

Posted: Februari 14, 2014 in Sosok

Ketika hampir semua anak band  Indonesia di awal era 70an berlomba mematut-matutkan diri dengan sederet pemusik rock mancanegara, mulai dari The Rolling Stones,Led Zeppelin,Black Sabbath hingga Deep Purple.Erros Djarot malah terobsesi ingin membentuk band yang hanya mau memainkan karya sendiri dengan menggunakan bahasa Indonesia. Jelas ini adalah perilaku menyimpang saat itu.Tolok ukur pergaulan saat itu memang cenderung kebarat-baratan. Tapi toh Erros berontak, tetap ingin mengedepankan sebuah jatidiri dalam berkarya : menulis lagu dalam bahasa Indonesia. Periksalah karya-karya musik Erros Djarot mulai dari era Barong’s Band hingga album soundtrack Badai Pasti Berlalu yang fenomenal itu, niscaya anda tak menemukan satu lagu pun yang ditulis dalam bahasa Inggris. Sebuah nasionalisme agaknya mulai tertatah dalam kredo berkesenian seorang Erros Djarot, tak hanya lewat medium musik tapi merambah hingga ke dunia sinema.

Saya dan Erros Djarot (Foto Asra Nur)

Saya dan Erros Djarot (Foto Asra Nur)

Obsesi Erros Djarot untuk membuat album rekaman dengan menggunakan lirik berbahasa Indonesia terwujud dalam album soundtrack “Kawin Lari” (1976).Bahkan dalam album ini Erros bahkan meminta Titi Qadarsih dan Slamet Rahardjo untuk menyanyikan lagu dengan gaya langgam keroncong.Sementara di pentas pentas pertunjukan sederet pemusik Indonesia berbangga diri disebut sebagai Mick Jagger Indonesia,Deep Purple Indonesia hingga Led Zeppelin Indonesia.

Menarik untuk dicatat bahwa ketika Erros Djarot bersama band yang dibentuknya Barong’s Band akan merekam album Kawin Lari, Erros Djarot sengaja membeli sejumlah kaset-kaset pop Indonesia yang tengah beredar saat itu seperti Koes Plus,Panbers,The Mercy’s Bob Tutupoly,Eddy Silitonga,Ade Manuhutu,Arie Koesmiran dan masih banyak lagi.

“ Kaset-kaset itu kami dengarkan dan pelajari.Kami telaah melodinya dan menyimak tema tema syairnya.Ini merupakan referensi sebelum kami melangkah lebih jauh lagi bersama Barong’s band” kisah Erros Djarot suatu ketika. Hingga akhirnya,Eros Djarot berkesimpulan bahwa pemusik pemusik Indonesia banyak yang terjebak dalam komersialisasi belaka.Kreativitas bermusik terkuras dengan begitu banyaknya karya-karya pesanan yang seringkali mengatasnamakan selera pasar atau selera masyarakat.”Ini menyedihkan,karena pada akhirnya terjadilah yang namanya pendangkalan.Dan ini pun mulai terlihat lagi di zaman sekarang ini” ucap Eros Djarot. Di saat proses penggarapan album Barong’s Band,Erros bahkan berbuat sesuatu yang agak ekstrem.”Setiap anggota Barong’s tidak boleh mendengarkan rekaman pemusik Barat.Agar musikalitas mereka tak terganggu.Jadi saya memang menginginkan karya-karya kami lebih orisinal” ujar Erros Djarot.

Di awal era 70an Erros Djarot mengenyam pendidikan di Jerman sambil membentuk band bersama anak-anak Indonesia yang juga tengah bersekolah di Koeln Jerman.Mereka memainkan lagu-lagu Barat. Namun Erros justeru merasa kian gelisah saat bergabung dengan Kopfjaeger demikian nama bandnya  yang kerap hanya tampil sebagai band pembawa lagu-lagu orang saja.Diam diam Erros menyimpan obsesi besar yaitu membuat band yang bernuansa Indonesia. “Saya merasa gelisah  .Nasionalisme saya seolah tertantang untuk diwujudkan.Perasaan cinta bangsa rasanya memang baru terasa berkobar-kobar jika kita tengah merantau di negeri orang.Saat di Jerman saya selalu merasa diperlakukan sebagai warga kelas dua.Sehebat apa pun anda,secerdas apa pun atau sejenius apapun.Anda tetap dianggap sebagai warga kelas dua.Ini tentu menyakitkan.Saat itu nurani saya berontak.Saya bersama anak-anak Indonesia yang kebetulan sedang bersekolah di Jerman berinisiatif membentuk band yang namakan Barong’s Band”  ungkap Erros lagi. Barong’s Band terbentuk 40 tahun yang silam.Tahun 1974 merupakan langkah pertama Erros dalam dunia musik.Di tahun itu Erros juga mulai menulis lagu sendiri.

Dalam penulisan lagu,wilayah kreatif Erros Djarot terbelah dua antara penulisan lagu-lagu beratmosfer romansa serta kritik sosial. Erros Djarot memang selalu meletup-letup disatu sisi,akan tetapi di sisi lain Erros bisa terkesan luar biasa romantis.Eros memang mengakui hal itu.”Jika saya tergerak secara intelektual maka akan berhamburan lah lirik bertema kritik sosial.Tapi jika impuls emosional saya bekerja maka tertuanglah lagu-lagu yang romantik seperti isi sebagian besar album Badai Pasti Berlalu” jelas Eros Djarot.

Kita pun mulai mendengarkan kegeraman Erros yang tertuang dalam lagu yang sarat kritik terhadap republik ini mulai dari Negara Kita,Negeriku Cintaku maupun Superstar Tango.Simaklah lirik lagu yang lugas dari lagu Negeriku Cintaku :

Hai kaum muda masakini kita berantaslah korupsi

Jangan kau biarkan mereka menganiayai hati kita .

Tapi kita pun terbuai dengan lirik-lirik lagu  bernuansa romansa seperti Bisikku,Andai Bulan,Angin Malam hingga Merpati Putih serta sederet lagu lainnya dalam album Badai Pasti Berlalu.Termasuk lagu “Rindu” yang ditafsir ulang Agnes Monica.

Ketika terjadi kerusuhan besar di tahun 1998, Erros menuliskan lagu dengan lirik yang menyesakkan dada : Jangan Menangis Indonesiaku. Lagu ini memang tidak pernah dirilis secara resmi tapi hanya dibagi-bagikan kepada kerabat terdekat saja.Saat itu media cetak yang dipimpin Erros dibreidel aparat.Ruang gerak Erros yang dibebat membuat Erros berontak yang diekspresikan dalam 8 karya lagu.Tapi album ini tak boleh edar karena Erros masih dianggap sosok berbahaya.Beberapa lagu tersebut akhirnya ditampilkan dalam konser 40 tahun Erros Djarot Berkarya 14 Februari di Jakarta Convention Center.

Dimata saya Erros Djarot  adalah trubadur yang mengungkap peristiwa-peristiwa dalam lirik-lirik yang menyentuh , jujur tanpa pupur kata.

Di tahun 2014,saat tahun berkarya Erros Djarot memasuki 40 tahun,dia masih menulis  lagu diantaranya “Indonesiaku” yang bertutur tentang mimpi-mimpinya tentang negerinya serta “Tuhan Ampuni Dosa Kami” yang merupakan renungan tentang bencana.” Mungkin bencana ada karena kesalahan kita sendiri. Kita penuh dengan dosa Alamnya murka, mungkin dosa terhadap manusia lain, alam, dan diri sendiri.” , urai Erros Djarot. Seorang seniman sejati memang tak pernah jeda dalam berkarya. Erros adalah trubadur yang tetap melakukan penyaksian. Saya pun teringat dengan ungkapan bijak yang bertutur bahwa seniman dan karyanya  adalah saksi peradaban.   

Untuk kedua kalinya Strawberry Rain meminta saya untuk menuliskan liner notes dari band Indonesia yang direissue, yang pertama adalah Kelompok Kampungan dengan album “Mencari Tuhan” (1980) yang dirilis ulang tahun 2013 silam.Kini, Jason Connoy,pemilik label Strawberry Rain yang telah merilis sederet back catalogue album dari band-band rock Indonesia seperti AKA hingga Benny Soebardja itu, akan merilis ulang album “Alam Raya” dari kelompok musik Abbhama yang pernah dirilis Tala & Co di tahun 1979.

Dan inilah tulisan liner notes saya untuk “Alam Raya” milik Abbhama yang akan dirilis pada pertengahan April 2014 nanti.

Kaset Abbhama "Alam raya" pertamakali dirilis Tala & Co tahun 1979

Kaset Abbhama “Alam raya” pertamakali dirilis Tala & Co tahun 1979

Abbhama were underrated progressive rock short-lived band from Jakarta Indonesia.If you asked what’s the meaning of Abbhama ? The rest of the band  didn’t know the meaning yet.”I don’t know the meaning of Abbhama exactly.The word came suddenly when we prepared to recording our material at Tala & Co studio” said Iwan Madjid, leader of the band.But some says the band name was coined by Iwan Dharsono  the owner of Tala & Co 24 Tracks Studio.And still with no meaning.

Abbhama founded in 1977 by the music  students at Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (Jakarta Art College).They’re Iwan Madjid (lead vocalist,piano,mellotron,flute ),Darwin B.Rachman (bass,keyboard),Cok Bagus (gitar),Hendro (oboe),Robin Simangunsong (drums),Oni (mini Moog synthesizers,keyboard),Dharma (flute) and Ivan (viola).
Mostly the  songs in Abbhama’s one and only album called Alam Raya was written by Iwan Madjid with the lyrics by provided  the lyricist Tubagus Benny.
Before Abbhama was formed, Iwan Madjid, a classically trained player  and Tubagus Benny a lyricist with some theater experience  had played together ini Operette Cikini with the  experience to create some rock opera adapted  from Mahabarata epic like “Ramayana” and “Mahabarata” in the mid 70s.
When Abbhama formed, the music scene in Indonesia is a change in the trend of music that is the emergence of record albums-style progressive rock such as “Barong’s Band” – Barong’s Band (Nirwana Record, 1976), Titik Api – Harry Roesli (Aktuil Musicollection.1976), Guruh Gipsy – Guruh Gipsy  (Dela Rohita,1977), Giant On The Move – Giant Step (SM Recording, 1976), Putri Mohon Diri – Contrapunk (Pramaqua, 1977) and the film’s soundtrack album Badai Pasti Berlalu (1977) which brought Erros Djarot of Barongs Band, Chrisye of Guruh Gipsy  and Yockie Surjoprajogo from God Bless.
Abbhama often appeared in several small performances on campus and arts venues such as the TIM Jakarta around their campus LPKJ in Cikini Raya Street Jakarta.
The rest of  band members  love the classics repertoire such as Johann Sebastian Bach and Claude Debussy works.And of course, they were inspired by the works of progressive rock bands in 70s era like King Crimson, Yes, Genesis and Emerson,Lake and Palmer (ELP).

Iwan Madjid tokoh utama Abbhama

Iwan Madjid tokoh utama Abbhama

Abbhama first appearance in front of an audience in as an opening act for  a Keenan Nasution concert called  Negeriku Cintaku held at Taman Ismail Marzuki, Jakarta November 1978.
Keenan Nasution was one of  Guruh Gipsy’s mastermind. With the support of chamber music line up, Abbhama  played one long compositions by Vangelis, entitled Heaven and Hell Part 1 and 2  from Greek lectronic composer  Vangelis .Abbhama  did not played  the songs of their work for fear of the audience won’t recognised their own songs.

Bersama Iwan Madjid

Bersama Iwan Madjid

In 1979 Tala & Co was released Abbhama debut album titled “Alam Raya” (The Universe) .Abbhama music core was based  on a format of eccentric pop songs and complex instrumentals with some pseudo classical flavor.
Iwan Madjid has  a god enchantment .He does a very proficient work with the piano and mellotron including flute. And the most impressive fact is the angelic  voice of Iwan Madjid,, something like Jon Anderson (Yes) meets  Roger Hodgson (Supertramp).Abbhama  have combined aspects of many musical forms to create a great work.The arrangements are very solid  and  enriched with  folk,classical and rock emphasis.
Here listen for  an extremely beautiful folkie acoustic  tune guided by the flute,oboe  and  later viola in a surface of song called  Indonesia.There such a chamber music with easy poppy touches.  Dharma (flute),Hendro (oboe) and Ivan (viola) were presents a dazzling musical harmonization.
Abbhama even experimented deliver the kind of order the sound of chamber music through the flute and oboe sounds in instrumental composition called Terlena. In some other songs featuring acoustic guitar and flute harmonization which overshadowed mellotron sound which is reminiscent of the heyday of prog rock music in the late 60s to 70s.
One year after releasing their debut album,Abbhama disbanded.Iwan Madjid with bassist Darwin B Rachman   then formed a new band  Wow  with muliti instrumentalist Fariz RM in 1983.
In  November 2007 Rolling Stone Indonesia  was chosen Alam Raya  Abbhama in  100 Greatest Indonesia Albums All Time. Alam Raya was at number  70.
If you’re a fan of progressive rock music, then you must listening this rare album from Indonesia.Enjoy this reissue album.
Jakarta  February 5,2014.

Denny Sakrie
Rock Critics and Rolling Stone Indonesia contributor.

Obituari Murry (1949 – 2014)

Posted: Februari 2, 2014 in Obituari

Gara gara Murry saya mendapat hukuman dari guru wali kelas saat duduk di bangku SD sekitar tahun 1972.Pasalnya saya kepergok memukul-mukul meja belajar di kelas mengikuti beat dan fill in drum ala Murry drummer Koes Plus yang memenuhi benak saya .Saat itu,saya berusia 9 tahun dan tergila-gila dengan lagu-lagu Koes Plus.Saya hafal luar kepala lagu-lagu Koes Plus mulai dari album debut Dheg Dheg Plas yang dirilis tahun 1969 hingga album Koes Plus Volume  5 yang dirilis tahun 1972, yang memuat lagu Nusantara dengan pola drumming yang energik dan agak menyimpang dari cara bermain drum para drummer band pop saat itu.Saya ingin menjadi seorang  drummer gara-gara terkesima menyimak pukulan drum Murry yang penuh dinamika.Betul,ini gara gara Murry.

Murry (Foto Mesra Record)

Murry (Foto Mesra Record)

Kegilaan saya yang masih bau kencur terhadap Koes Plus terutama Murry makin menjadi manakala ayah saya mengajak kami sekeluarga nonton konser Koes Plus pada tahun 1972 di Gedung Olahraga Mattoanging Makassar.Saat itu ayah saya ikut sebagai panitia penyelenggara konser Koes Plus yang pertamakali manggung di Makassar.Kami sekeluarga duduk di kursi paling depan.Hal ini membuat perasaan jadi tidak karuan.Bayangkan band yang selama ini dikagumi dan hanya dinikmati lewat piringan hitam, kini bermain tepat dihadapan saya. Aura Koes Plus memang menebar ke seluruh ruangan yang selama ini dipergunakan untuk kegiatan olahraga.Semua sudut ruangan Gedung Olahraga disesaki oleh para penggemar Koes Plus.  Mata saya tak berkejap memandang gerakan tangan Murry yang menghajar tom tom dan cymbal secara akurat.Kadang Murry memainkan rimshot yang bernuansa perkusif.Sinkopasi Murry kadang tak terduga dan membaur dengan bass line Yok Koeswoyo.Pola permainan drum Murry kadang menyeruak dalam sukat ganjil.Kedua tangannya secara atraktif menyentuh permukaan cymbal serta mengetuk cowbell.
Setelah beranjak dewasa,saya akhirnya menyadari bahwa pola permainan drum Murry ini mengingatkan saya pada drummer-drummer rock seperti Ringo Starr,Keith Moon,Charlie Watts  maupun Ginger Baker yang motif permainan drummnya bisa melebar tak hanya rock and roll tapi juga memiliki kandungan motif jazz.Pola drumming semacam ini terdeteksi dalam beberapa lagu Koes Plus misalnya lagu Kisah Sedih Di Hari Minggu, sebuah pop ballad yang pada bahagian interludenya tiba-tiba menjejal pola swing jazz atau betapa nekadnya Murry saat menyusupkan beberapa birama solo drum pada bridge lagu “Tiba Tiba Kumenangis”.
Dan saya kembali terkaget-kaget ketika menyimak karakter permaianan drum Murry yang berubah menjadi hard rock pada lagu Pentjuri Hati yang ditulis oleh Tonny Koeswoyo,Yok Koeswoyo dan Murry pada album Koes Plus Volume 2 (Mesra Record,1970).Pentjuri Hati jelas ditulis sebagai sebuah komposisi rock.Yok Koeswoyo  menyanyikan lagu ini dengan teriakan melengking seolah ingin membayangi Robert Plant.Lalu simaklah pola drumming Murry seperti terpaut pada bayangan dua drummer rock Inggris yang tengah dielu-elukan di Indonesia saat itu yaitu John Bonham dari Led Zeppelin serta Ian Paice dari Deep Purple.
Tahun 1972 bagi saya adalah tahun musik yang tak terlupakan sepanjang masa.Setelah nonton konser Koes Plus,keesokan paginya ayah saya mengajak saya untuk bertemu Koes Plus yang saat itu dijadwalkan akan makan Coto Makassar di Kios  Daeng Sangkalla di Jalan Ranggong Makassar pas disamping bioskop Istana.Saya gelagapan karena bertemu langsung dengan Koes Plus, band yang saya kagumi.Tonny Koeswoyo adalah orang yang paling ramah diantara mereka.Saya pun akahirnya menyalami Tonny,Yon,Yok dan Murry.Murry pun tak kalah ramah.Ketika bersalaman dengan Murry, dalam hati tekad saya bulat untuk menjadi anak band, jadi drummer.Keinginan itu pun kian menguat.Saat duduk di bangku kelas 3 SMP saya telah bermain drum dalam lingkungan sekolah.Saat kuliah di tahun 1982 saya mulai bermain drum secara professional diberbagai band sampai akhirnya memutuskan diri berhenti bermain band di tahun 1993.Semua ini gara-gara Murry, drummer Koes Plus yang saya kagumi sejak usia 6 tahun.
Pilihan almarhum Tonny Koeswoyo terhadap Kasmuri,demikian nama lengkap Murry,untuk menggantikan Nomo Koeswoyo yang mengundurkan diri di tahun 1968 adalah pilihan tepat.Karena ,bagi saya, Murry bukan hanya seorang drummer saja,melainkan seorang pemusik yang memiliki visi musik yang kuat .Sejak album Koes Plus Volume 2,Murry diberi peluang untuk menulis lagu yaitu lagu Djandjimu dan untuk pertamakali pula Murry bernyanyi melatari vokal utama Yon Koeswoyo . Bahkan di album ini Murry diajak menulis lagu bersama Tonny Koeswoyo dan Yok Koeswoyo seperti lagu Pentjuri Hati dan Hanya Pusaramu .
Murry mulai tampil bernyanyi secara solo lewat lagu yang ditulisnya “Bertemu dan Berpisah”  dalam Koes Plus sejak album Koes Plus Volume 4 (Bunga Di Tepi Djalan) (Mesra Record,1972).
Pada akhirnya Murry tak hanya seorang drummer pengganti Nomo Koeswoyo dalam Koes Bersaudara, dia memiliki kontribusi yang tak bias diremehkan dalam tubuh Koes Plus.Mulai dari karakter permainan drumnya yang unik hingga lagu-lagu yang ditulisnya untuk Koes Plus.

Penampilan terakhir Kasmuri a.k.a Murry bersama Koes Plus di Balai Kartini 27 September 2013

Penampilan terakhir Kasmuri a.k.a Murry bersama Koes Plus di Balai Kartini 27 September 2013

Dalam catatan saya,banyak lagu karya Murry yang menjadi hits diantaranya adalah Pelangi yang ditulisnya bersama Tonny Koeswoyo,lalu ada ,Bujangan ,Buat Apa Susah ,Desember,Ayah dan Ibu, Mari Berjoget,Mobil Tua hingga Cubit-Cubitan yang kemudian dipopulerkan kembali oleh penyanyi dangdut Elvy Sukaesih.Murry pada akhirnya dikenal pula sebagai seorang hitmaker seperti halnya Tonny Koeswoyo,A.Riyanto,Bartje van Houten,Benny Panjaitan atau Is Haryanto.Salah satu lagu karya Murry yang menjadi hits besar di tahun 1977 adalah lagu “Mama” yang dinyanyikan Eddy Silitonga.
Di tahun 1977 sebetulnya Koes Plus mulai meredup, dan Remaco sebagai label yang mengontrak Koes Plus menawarkan sebuah gimmick yaitu membuat reuni Koes Bersaudara dengan mengajak Nomo Koeswoyo kembali bergabung sebagai drummer.Murry lalu rehat dari Koes Plus dengan membentuk Murry’s Group yang didukung personil band rock Surabaya Yeah Yeah Boys seperti Pius,Ukky dan Bian Assegaf.Album debut Murry’s Group diberi judul Sweet Melody yang covernya hanya menampilkan wajah Murry saja.Disepanjang tahun 1977 Murry’s Group selain merilis album Sweet Melody,juga merilis album Besi Tua,Pop Jawa dan Pop Melayu. Polanya memang hampir sama dengan Koes Plus. Meskipun tak mampu melebihi sukses yang pernah diraih Koes Plus,namun Murry’s Group tetap bertahan dan kerap merilis album.Tahun 1978 Koes Plus dihidupkan kembali lewat album “Bersama Lagi”.Murry jadi pemusik yang sibuk saat itu karena bermain di dua band sekaligus,Koes Plus dan Murry’s Group.
Dan Murry hingga akhir hayatnya,tetap berkiprah sebagai seorang musisi.Murry tetap konsisten.Tanggal 27 September 2013 merupakan terakhir kalinya Murry bermain bersama Yon dan Yok Koeswoyo sebagai Koes Plus dalam acara Konser Reuni Koes Plus 2013.  Bahkan tanggal 25 Januari 2014 Murry sempat tampil dalam sebuah acara di bilangan Blok S.Ketika kabar Murry telah menghembuskan nafas terakhir pada jam 5:00 1 Februari banyak yang terperanjat seolah tak percaya.Namun Murry telah pergi untuk selamanya.Karya-karyanya masih berkumandang hingga detik ini.
Sayup-sayup suara Murry bersenandung :
Ku akan pergi jauh dan tak mungkin kembali untuk selama-lamanya
(“Bertemu dan Berpisah” Koes Plus Volume 4 Mesra Record 1972).