Obituari Murry (1949 – 2014)

Posted: Februari 2, 2014 in Obituari

Gara gara Murry saya mendapat hukuman dari guru wali kelas saat duduk di bangku SD sekitar tahun 1972.Pasalnya saya kepergok memukul-mukul meja belajar di kelas mengikuti beat dan fill in drum ala Murry drummer Koes Plus yang memenuhi benak saya .Saat itu,saya berusia 9 tahun dan tergila-gila dengan lagu-lagu Koes Plus.Saya hafal luar kepala lagu-lagu Koes Plus mulai dari album debut Dheg Dheg Plas yang dirilis tahun 1969 hingga album Koes Plus Volume  5 yang dirilis tahun 1972, yang memuat lagu Nusantara dengan pola drumming yang energik dan agak menyimpang dari cara bermain drum para drummer band pop saat itu.Saya ingin menjadi seorang  drummer gara-gara terkesima menyimak pukulan drum Murry yang penuh dinamika.Betul,ini gara gara Murry.

Murry (Foto Mesra Record)

Murry (Foto Mesra Record)

Kegilaan saya yang masih bau kencur terhadap Koes Plus terutama Murry makin menjadi manakala ayah saya mengajak kami sekeluarga nonton konser Koes Plus pada tahun 1972 di Gedung Olahraga Mattoanging Makassar.Saat itu ayah saya ikut sebagai panitia penyelenggara konser Koes Plus yang pertamakali manggung di Makassar.Kami sekeluarga duduk di kursi paling depan.Hal ini membuat perasaan jadi tidak karuan.Bayangkan band yang selama ini dikagumi dan hanya dinikmati lewat piringan hitam, kini bermain tepat dihadapan saya. Aura Koes Plus memang menebar ke seluruh ruangan yang selama ini dipergunakan untuk kegiatan olahraga.Semua sudut ruangan Gedung Olahraga disesaki oleh para penggemar Koes Plus.  Mata saya tak berkejap memandang gerakan tangan Murry yang menghajar tom tom dan cymbal secara akurat.Kadang Murry memainkan rimshot yang bernuansa perkusif.Sinkopasi Murry kadang tak terduga dan membaur dengan bass line Yok Koeswoyo.Pola permainan drum Murry kadang menyeruak dalam sukat ganjil.Kedua tangannya secara atraktif menyentuh permukaan cymbal serta mengetuk cowbell.
Setelah beranjak dewasa,saya akhirnya menyadari bahwa pola permainan drum Murry ini mengingatkan saya pada drummer-drummer rock seperti Ringo Starr,Keith Moon,Charlie Watts  maupun Ginger Baker yang motif permainan drummnya bisa melebar tak hanya rock and roll tapi juga memiliki kandungan motif jazz.Pola drumming semacam ini terdeteksi dalam beberapa lagu Koes Plus misalnya lagu Kisah Sedih Di Hari Minggu, sebuah pop ballad yang pada bahagian interludenya tiba-tiba menjejal pola swing jazz atau betapa nekadnya Murry saat menyusupkan beberapa birama solo drum pada bridge lagu “Tiba Tiba Kumenangis”.
Dan saya kembali terkaget-kaget ketika menyimak karakter permaianan drum Murry yang berubah menjadi hard rock pada lagu Pentjuri Hati yang ditulis oleh Tonny Koeswoyo,Yok Koeswoyo dan Murry pada album Koes Plus Volume 2 (Mesra Record,1970).Pentjuri Hati jelas ditulis sebagai sebuah komposisi rock.Yok Koeswoyo  menyanyikan lagu ini dengan teriakan melengking seolah ingin membayangi Robert Plant.Lalu simaklah pola drumming Murry seperti terpaut pada bayangan dua drummer rock Inggris yang tengah dielu-elukan di Indonesia saat itu yaitu John Bonham dari Led Zeppelin serta Ian Paice dari Deep Purple.
Tahun 1972 bagi saya adalah tahun musik yang tak terlupakan sepanjang masa.Setelah nonton konser Koes Plus,keesokan paginya ayah saya mengajak saya untuk bertemu Koes Plus yang saat itu dijadwalkan akan makan Coto Makassar di Kios  Daeng Sangkalla di Jalan Ranggong Makassar pas disamping bioskop Istana.Saya gelagapan karena bertemu langsung dengan Koes Plus, band yang saya kagumi.Tonny Koeswoyo adalah orang yang paling ramah diantara mereka.Saya pun akahirnya menyalami Tonny,Yon,Yok dan Murry.Murry pun tak kalah ramah.Ketika bersalaman dengan Murry, dalam hati tekad saya bulat untuk menjadi anak band, jadi drummer.Keinginan itu pun kian menguat.Saat duduk di bangku kelas 3 SMP saya telah bermain drum dalam lingkungan sekolah.Saat kuliah di tahun 1982 saya mulai bermain drum secara professional diberbagai band sampai akhirnya memutuskan diri berhenti bermain band di tahun 1993.Semua ini gara-gara Murry, drummer Koes Plus yang saya kagumi sejak usia 6 tahun.
Pilihan almarhum Tonny Koeswoyo terhadap Kasmuri,demikian nama lengkap Murry,untuk menggantikan Nomo Koeswoyo yang mengundurkan diri di tahun 1968 adalah pilihan tepat.Karena ,bagi saya, Murry bukan hanya seorang drummer saja,melainkan seorang pemusik yang memiliki visi musik yang kuat .Sejak album Koes Plus Volume 2,Murry diberi peluang untuk menulis lagu yaitu lagu Djandjimu dan untuk pertamakali pula Murry bernyanyi melatari vokal utama Yon Koeswoyo . Bahkan di album ini Murry diajak menulis lagu bersama Tonny Koeswoyo dan Yok Koeswoyo seperti lagu Pentjuri Hati dan Hanya Pusaramu .
Murry mulai tampil bernyanyi secara solo lewat lagu yang ditulisnya “Bertemu dan Berpisah”  dalam Koes Plus sejak album Koes Plus Volume 4 (Bunga Di Tepi Djalan) (Mesra Record,1972).
Pada akhirnya Murry tak hanya seorang drummer pengganti Nomo Koeswoyo dalam Koes Bersaudara, dia memiliki kontribusi yang tak bias diremehkan dalam tubuh Koes Plus.Mulai dari karakter permainan drumnya yang unik hingga lagu-lagu yang ditulisnya untuk Koes Plus.

Penampilan terakhir Kasmuri a.k.a Murry bersama Koes Plus di Balai Kartini 27 September 2013

Penampilan terakhir Kasmuri a.k.a Murry bersama Koes Plus di Balai Kartini 27 September 2013

Dalam catatan saya,banyak lagu karya Murry yang menjadi hits diantaranya adalah Pelangi yang ditulisnya bersama Tonny Koeswoyo,lalu ada ,Bujangan ,Buat Apa Susah ,Desember,Ayah dan Ibu, Mari Berjoget,Mobil Tua hingga Cubit-Cubitan yang kemudian dipopulerkan kembali oleh penyanyi dangdut Elvy Sukaesih.Murry pada akhirnya dikenal pula sebagai seorang hitmaker seperti halnya Tonny Koeswoyo,A.Riyanto,Bartje van Houten,Benny Panjaitan atau Is Haryanto.Salah satu lagu karya Murry yang menjadi hits besar di tahun 1977 adalah lagu “Mama” yang dinyanyikan Eddy Silitonga.
Di tahun 1977 sebetulnya Koes Plus mulai meredup, dan Remaco sebagai label yang mengontrak Koes Plus menawarkan sebuah gimmick yaitu membuat reuni Koes Bersaudara dengan mengajak Nomo Koeswoyo kembali bergabung sebagai drummer.Murry lalu rehat dari Koes Plus dengan membentuk Murry’s Group yang didukung personil band rock Surabaya Yeah Yeah Boys seperti Pius,Ukky dan Bian Assegaf.Album debut Murry’s Group diberi judul Sweet Melody yang covernya hanya menampilkan wajah Murry saja.Disepanjang tahun 1977 Murry’s Group selain merilis album Sweet Melody,juga merilis album Besi Tua,Pop Jawa dan Pop Melayu. Polanya memang hampir sama dengan Koes Plus. Meskipun tak mampu melebihi sukses yang pernah diraih Koes Plus,namun Murry’s Group tetap bertahan dan kerap merilis album.Tahun 1978 Koes Plus dihidupkan kembali lewat album “Bersama Lagi”.Murry jadi pemusik yang sibuk saat itu karena bermain di dua band sekaligus,Koes Plus dan Murry’s Group.
Dan Murry hingga akhir hayatnya,tetap berkiprah sebagai seorang musisi.Murry tetap konsisten.Tanggal 27 September 2013 merupakan terakhir kalinya Murry bermain bersama Yon dan Yok Koeswoyo sebagai Koes Plus dalam acara Konser Reuni Koes Plus 2013.  Bahkan tanggal 25 Januari 2014 Murry sempat tampil dalam sebuah acara di bilangan Blok S.Ketika kabar Murry telah menghembuskan nafas terakhir pada jam 5:00 1 Februari banyak yang terperanjat seolah tak percaya.Namun Murry telah pergi untuk selamanya.Karya-karyanya masih berkumandang hingga detik ini.
Sayup-sayup suara Murry bersenandung :
Ku akan pergi jauh dan tak mungkin kembali untuk selama-lamanya
(“Bertemu dan Berpisah” Koes Plus Volume 4 Mesra Record 1972).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s