Sang Trubadur

Posted: Februari 14, 2014 in Sosok

Ketika hampir semua anak band  Indonesia di awal era 70an berlomba mematut-matutkan diri dengan sederet pemusik rock mancanegara, mulai dari The Rolling Stones,Led Zeppelin,Black Sabbath hingga Deep Purple.Erros Djarot malah terobsesi ingin membentuk band yang hanya mau memainkan karya sendiri dengan menggunakan bahasa Indonesia. Jelas ini adalah perilaku menyimpang saat itu.Tolok ukur pergaulan saat itu memang cenderung kebarat-baratan. Tapi toh Erros berontak, tetap ingin mengedepankan sebuah jatidiri dalam berkarya : menulis lagu dalam bahasa Indonesia. Periksalah karya-karya musik Erros Djarot mulai dari era Barong’s Band hingga album soundtrack Badai Pasti Berlalu yang fenomenal itu, niscaya anda tak menemukan satu lagu pun yang ditulis dalam bahasa Inggris. Sebuah nasionalisme agaknya mulai tertatah dalam kredo berkesenian seorang Erros Djarot, tak hanya lewat medium musik tapi merambah hingga ke dunia sinema.

Saya dan Erros Djarot (Foto Asra Nur)

Saya dan Erros Djarot (Foto Asra Nur)

Obsesi Erros Djarot untuk membuat album rekaman dengan menggunakan lirik berbahasa Indonesia terwujud dalam album soundtrack “Kawin Lari” (1976).Bahkan dalam album ini Erros bahkan meminta Titi Qadarsih dan Slamet Rahardjo untuk menyanyikan lagu dengan gaya langgam keroncong.Sementara di pentas pentas pertunjukan sederet pemusik Indonesia berbangga diri disebut sebagai Mick Jagger Indonesia,Deep Purple Indonesia hingga Led Zeppelin Indonesia.

Menarik untuk dicatat bahwa ketika Erros Djarot bersama band yang dibentuknya Barong’s Band akan merekam album Kawin Lari, Erros Djarot sengaja membeli sejumlah kaset-kaset pop Indonesia yang tengah beredar saat itu seperti Koes Plus,Panbers,The Mercy’s Bob Tutupoly,Eddy Silitonga,Ade Manuhutu,Arie Koesmiran dan masih banyak lagi.

“ Kaset-kaset itu kami dengarkan dan pelajari.Kami telaah melodinya dan menyimak tema tema syairnya.Ini merupakan referensi sebelum kami melangkah lebih jauh lagi bersama Barong’s band” kisah Erros Djarot suatu ketika. Hingga akhirnya,Eros Djarot berkesimpulan bahwa pemusik pemusik Indonesia banyak yang terjebak dalam komersialisasi belaka.Kreativitas bermusik terkuras dengan begitu banyaknya karya-karya pesanan yang seringkali mengatasnamakan selera pasar atau selera masyarakat.”Ini menyedihkan,karena pada akhirnya terjadilah yang namanya pendangkalan.Dan ini pun mulai terlihat lagi di zaman sekarang ini” ucap Eros Djarot. Di saat proses penggarapan album Barong’s Band,Erros bahkan berbuat sesuatu yang agak ekstrem.”Setiap anggota Barong’s tidak boleh mendengarkan rekaman pemusik Barat.Agar musikalitas mereka tak terganggu.Jadi saya memang menginginkan karya-karya kami lebih orisinal” ujar Erros Djarot.

Di awal era 70an Erros Djarot mengenyam pendidikan di Jerman sambil membentuk band bersama anak-anak Indonesia yang juga tengah bersekolah di Koeln Jerman.Mereka memainkan lagu-lagu Barat. Namun Erros justeru merasa kian gelisah saat bergabung dengan Kopfjaeger demikian nama bandnya  yang kerap hanya tampil sebagai band pembawa lagu-lagu orang saja.Diam diam Erros menyimpan obsesi besar yaitu membuat band yang bernuansa Indonesia. “Saya merasa gelisah  .Nasionalisme saya seolah tertantang untuk diwujudkan.Perasaan cinta bangsa rasanya memang baru terasa berkobar-kobar jika kita tengah merantau di negeri orang.Saat di Jerman saya selalu merasa diperlakukan sebagai warga kelas dua.Sehebat apa pun anda,secerdas apa pun atau sejenius apapun.Anda tetap dianggap sebagai warga kelas dua.Ini tentu menyakitkan.Saat itu nurani saya berontak.Saya bersama anak-anak Indonesia yang kebetulan sedang bersekolah di Jerman berinisiatif membentuk band yang namakan Barong’s Band”  ungkap Erros lagi. Barong’s Band terbentuk 40 tahun yang silam.Tahun 1974 merupakan langkah pertama Erros dalam dunia musik.Di tahun itu Erros juga mulai menulis lagu sendiri.

Dalam penulisan lagu,wilayah kreatif Erros Djarot terbelah dua antara penulisan lagu-lagu beratmosfer romansa serta kritik sosial. Erros Djarot memang selalu meletup-letup disatu sisi,akan tetapi di sisi lain Erros bisa terkesan luar biasa romantis.Eros memang mengakui hal itu.”Jika saya tergerak secara intelektual maka akan berhamburan lah lirik bertema kritik sosial.Tapi jika impuls emosional saya bekerja maka tertuanglah lagu-lagu yang romantik seperti isi sebagian besar album Badai Pasti Berlalu” jelas Eros Djarot.

Kita pun mulai mendengarkan kegeraman Erros yang tertuang dalam lagu yang sarat kritik terhadap republik ini mulai dari Negara Kita,Negeriku Cintaku maupun Superstar Tango.Simaklah lirik lagu yang lugas dari lagu Negeriku Cintaku :

Hai kaum muda masakini kita berantaslah korupsi

Jangan kau biarkan mereka menganiayai hati kita .

Tapi kita pun terbuai dengan lirik-lirik lagu  bernuansa romansa seperti Bisikku,Andai Bulan,Angin Malam hingga Merpati Putih serta sederet lagu lainnya dalam album Badai Pasti Berlalu.Termasuk lagu “Rindu” yang ditafsir ulang Agnes Monica.

Ketika terjadi kerusuhan besar di tahun 1998, Erros menuliskan lagu dengan lirik yang menyesakkan dada : Jangan Menangis Indonesiaku. Lagu ini memang tidak pernah dirilis secara resmi tapi hanya dibagi-bagikan kepada kerabat terdekat saja.Saat itu media cetak yang dipimpin Erros dibreidel aparat.Ruang gerak Erros yang dibebat membuat Erros berontak yang diekspresikan dalam 8 karya lagu.Tapi album ini tak boleh edar karena Erros masih dianggap sosok berbahaya.Beberapa lagu tersebut akhirnya ditampilkan dalam konser 40 tahun Erros Djarot Berkarya 14 Februari di Jakarta Convention Center.

Dimata saya Erros Djarot  adalah trubadur yang mengungkap peristiwa-peristiwa dalam lirik-lirik yang menyentuh , jujur tanpa pupur kata.

Di tahun 2014,saat tahun berkarya Erros Djarot memasuki 40 tahun,dia masih menulis  lagu diantaranya “Indonesiaku” yang bertutur tentang mimpi-mimpinya tentang negerinya serta “Tuhan Ampuni Dosa Kami” yang merupakan renungan tentang bencana.” Mungkin bencana ada karena kesalahan kita sendiri. Kita penuh dengan dosa Alamnya murka, mungkin dosa terhadap manusia lain, alam, dan diri sendiri.” , urai Erros Djarot. Seorang seniman sejati memang tak pernah jeda dalam berkarya. Erros adalah trubadur yang tetap melakukan penyaksian. Saya pun teringat dengan ungkapan bijak yang bertutur bahwa seniman dan karyanya  adalah saksi peradaban.   

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s