Jejak Musik Rick Wakeman di Indonesia

Posted: Februari 20, 2014 in Kisah, Sosok

12 tahun silam tepatnya 21 Februari 2002 seorang keyboard wizzard asal Inggris Rick Wakeman menggelar konser tunggal di Plennary Hall Jakarta Convention Center.Saat itu banyak yang tak percaya Rick Wakeman keyboardis kelompok rock progresif yang flamboyant itu tampil bersama kelompok musiknya The English Rock Ensemble.Pemusik bertubuh jangkung ini kerap mengenakan jubah bak seorang raja jika beraksi di pentas pertunjukan baik saat bersama Yes maupun saat melakukan konser solo. Apalagi kedatangan Rick Wakeman ke Jakarta nyaris tanpa promosi sama sekali.Saya sendiri ketika mendengar kabar bahwa Rick Wakeman akan konser di Jakarta hampir menganggapnya sebagai sebuah hoax belaka.Apalagi setelah mengecek disitus milik Rick Wakeman, ternyata Rick memang tengah rehat alias tidak lagi mengadakan tur konser.Disitusnya tertera turn konser terakhir Rick Wakeman adalah “Rick Wakeman Back Again” yang berlangsung antara 10 Maret hingga 8 April 2001 dinegaranya sendiri Inggris Raya.Bahkan saya sama sekali tak mengenal promoter yang nekad menghadirkan Rick Wakeman dalam keadaan tidak melakukan tur konser. Ternyata promoter yang menghadirkan Rick Wakeman and The English Rock Ensemble adalah seorang pengusaha yang sangat low-profile dan penggemar berat Rick Wakeman dan Yes.Menghadirkan Rick Wakeman salah satu maestro keyboard dunia ini ternyata merupakan obsesi sang pengusaha tersebut.

Saya dan Rick Wakeman di Studio M97FM Classic Rock Station

Saya dan Rick Wakeman di Studio M97FM Classic Rock Station

Rick Wakeman sendiri hampir sepekan berada di Jakarta.Selain tampil Jakarta Convention Center, Rick Wakeman bahkan bermain piano di depan para pejabat, tampil disebuah acara music di  RCTI hingga siaran di Radio M97FM Classic Rock Station. Rick Wakeman yang kerap tampil bagaikan raja atau ksatria Inggris diatas panggung  justru mau berbaur dengan siapa saja.Orangnya ramah dan down to earth. Sehari setelah konser, 22 Fewbruari 2002,Rick Wakeman menjamu kedatangan para penggemarnya yang bergerombol di lobi Hilton Hotel.Rick bahkan memainkan piano yang ada dilobi hotel mengiringi para penggemarnya yang menyanyikan lagu “Wonderous Stories” milik Yes.

Rick Wakeman sama sekali menepiskan kesan rock star yang galibnya kerap berjarak dengan penggermarnya.Saya yang mewawancara Rick Wakeman sempat memberikan album Guruh Gipsy dalam bentuk CDR. ”Ini adalah kelompok prog-rock Indonesia di era 70an” urai saya memperkenalkan karya pemusik Indonesia tersebut kepada  Rick Wakeman.

”Wow….I’ll be appreciate it” ujar Rick seraya memberikan kepada saya album solonya bertajuk “Rick Wakeman – Two Side Of Yes” (2001).

Saat itu,Rick Wakeman juga berbincang-bincang dengan Iwan Hasan,gitaris dari kelompok musik prog-rock Indonesia Discus.Iwan Hasan yang ternyata telah berkenalan dengan Rick Wakeman pada akhir era 90an terlihat akrab dengan Rick Wakeman.

Keramahan Rick Wakeman ini terbukti lagi,ketika akhir tahun 2013 Iwan Hasan yang sedang menginterpretasikan ulang komposisi Guruh Gipsy bertajuk “Indonesia Maharddhika” karya Roni Harahap dan Guruh Sukarnoputra, meminta kesediaan Rick untuk mengisi solo synthesizers dengan menggunakan miniMoog.Tanpa banyak prosedur berbelat belit,Rick Wakeman,menurut Iwan Hasan langsung menyetujui untuk mengisi part solo di lagu “Indonesia Maharddhika”.”Ketika saya mengirim email ke Rick untuk meminta kesediaannya mengisi solo synthesizer,Rick langsung menyetujui tanpa bertanya lagu apa,untuk rekaman apa.Dia tampaknya begitu percaya pada saya.Ini yang membuat saya kagum dan segan sama Rick” ungkap Iwan Hasan. Rick Wakeman,seperti yang dituturkan Iwan Hasan,lalu segera booking studio dan melakukan rekaman di Inggris.”Dalam waktu tak begitu lama Rick kemudian mengirim dua versi solo synthesizernya via email,padahal saat itu belum ada kontrak dengan dia.Tapi Rick percaya terhadap permintaan saya” imbuh Iwan Hasan lagi.

Generasi sekarang boleh jadi tak banyak yang mengenal sosok Rick Wakeman yang di tahun 1969 memainkan keyboard untuk lagu “Space Oddity” nya David Bowie atau memainkan piano untuk “Morning Has Broken” nya Cat Stevens di tahun 1971 juga memainkan keyboard untuk lagu “Sabbath Bloody Sabbath” dari Black Sabbath di tahun 1973.Rick Wakeman memang seorang session player sejati yang tidak memilah-milih genre musik  saat diminta untuk mengkontribusikan permainan keyboardnya. Hal yang sama pun dilakukan Rick Wakeman ketika Iwan Hasan meminta kesediaannya mengisi solo synthesizers.

Sosok Rick Wakeman di era 70an dengan rambut menjuntai panjang serta jubah ala Raja yang disematkan di punggungnya sangat dikenal anak muda Indonesia saat itu.Majalah musik seperti Aktuil  yang terbit di Bandung kerap kali menampilkan foto-foto Rick Wakeman yang khas  saat bersama Yes maupun dalam solo karirnya.

Bahkan salah satu bagian dari komposisi Rick Wakeman di album “Journey To The Center of The Earth” (1974)  yang diangkat dari novel fiksi ilmiah Jules Verne pernah menjadi hits di Radio Prambors Jakarta.Bagian komposisi bertajuk “The Journey” itu oleh Prambors di edit menjadi lagu dengan  durasi sekitar 3 menit lebih lalu direkam dalam kaset kompilasi “Prambors Hits” di sekitar tahun 1975 .Lagu Rick Wakeman ini kemudian kerap di putar di radio-radio anak muda tak hanya Jakarta, tapi juga di Bandung,Malang,Surabaya maupun Medan.

Ketika Rick Wakeman membawakan “Journey To The Center of the Earth” lengkap dengan jubah kebesarannya 21 Februari 2002 di Jakarta Convention Center, sebagian besar penonton meresponnya penuh antusias.   

Dalam catatan saya, The Rollies dari Bandung dalam salah satu konsernya yang  fenomernal di Taman Ismail Marzuki selama dua malam pada tahun 1976 juga membawakan karya Rick Wakeman “King Arthur”  yang diambil dari album solo Rick Wakeman di tahun 1975 bertajuk “The Myths and Legends of  King Arthur and the Knights of  The Round Table”.

 

Pengaruh Rick Wakeman terutama pada pola permainan piano berkarakter klasik serta synthesizer yang meliuk dalam nuans portamento bisa dirasakan pada karya-karya Yockie Surjoprajogo di album “Jurang Pemisah” (1977) atau karya musikal “Musik Saya Adalah Saya” (1979).Dalam “Musik Saya Adalah Saya” agaknya Yockie mengikuti pola yang diterapkan Rick Wakeman pada album “Journey To The Center Of The Earth” yang menyertakan simfoni orkestra serta narrator.J ejak musik Rick Wakeman juga terasa pada komposisi prog-rock Fariz RM dalam lagu “Panggung Perak” (1981).

Jika berbicara sejarah musik rock di Indonesia,tanpa disadari ternyata ada sosok Rick Wakeman didalamnya, mulai dari era 70an hingga di tahun 2014 ini ketika Rick Wakeman ikut mengisi remake lagu Indonesia Maharddhika.

Komentar
  1. Belbuk mengatakan:

    I’m fans Rock Never say Never ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s