Arsip untuk Maret, 2014

Demajors tampaknya memiliki kepedulian terhadap dokumentasi musik Indonesia diantaranya merilis beberapa album jazz misalnya album Bubi Chen Kuartet yang pernah dirilis tahun 1963 oleh perusahan milik Negara Lokananta Solo, direstorasi serta direissue dalam bentuk CD pada tahun 2006.

Album Rekam Jejak Vol.1 Benny Likumahuwa rilisan Demajors (Foto Denny Sakrie)

Album Rekam Jejak Vol.1 Benny Likumahuwa rilisan Demajors (Foto Denny Sakrie)

Kini Demajors berupaya membuat serial rekaman jazz dengan tajuk Rekam Jejak yang diawali dengan merilis Rekam Jejak Vol.1 featuring Benny Likumahuwa Jazz Connection yang menampilkan pemusik multi bakat Benny Likumahuwa.Di album Rekam Jejak ini Benny Likumahuwa memainkan trombone didampingi Indra Aziz (vokal,alto saxophone),Jordy Warlauwuru (trumpet),Doni Joesran (piano,keyboards),Dimas Pradipta (drums) dan putranya Barry Likumahuwa (bass elektrik).Juga ikut mendukung dua bintang tamu gitaris jazz legendaris Oele Pattiselanno dan pianis muda Joey Alexander.

Like Father Like Son, Benny Likumahuwa dan Barry Likumahuwa (Foto Bob Rose)

Like Father Like Son, Benny Likumahuwa dan Barry Likumahuwa (Foto Bob Rose)

Di album ini Benny Likumahuwa menulis sebuah komposisi Jack & Bubi yang didedikasikan ke mitra bermainnya dalam Jack Lesmana Combo dan Indonesian All Stars yaitu almarhum Jack Lesmana dan Bubi Chen.Benny juga menuliskan komposisi yang diberi tajuk Like Father Like Son dengan ikhwal kisah ayah dan anak yang disatukan oleh bakat bermusik,yakni antara Benny Likumahuwa dan Barry Likumahuwa putranya.Komposisi komposisi lainnya adalah Not A Jazz Tune,Naik Naik Ke Gunung Nona yang mengetengahkan petikan gitar Oele Pattiselanno serta Glory,Glory yang menampilkan dialog gitar dan piano antara Oele Pattiselanno dan Joey Alexander serta Show Them What You Got. Album Rekam, Jejak Vol.1 ini seperti menyinambungkan dua generasi jazz, dari yang dulu dan sekarang dalam satu sajian music jazz yang ekspresif dan apresiatif.
Lalu siapakah sosok Benny Likumahuwa ini ? Coretan ini moga moga bisa pula menjembatani antara generasi muda dan generasi masa lalu yang terkadang mengalami missing link atau putus mata rantai.

Di album Rekam Jejak Vol.1 Benny Likumahuwa memainkan instrumen trombone (Foto Bob Rose)

Di album Rekam Jejak Vol.1 Benny Likumahuwa memainkan instrumen trombone (Foto Bob Rose)

Benny Likumahuwa dilahirkan di Kediri 18 Juni 1946.Seorang multi-instrumentalis yang mampu memainkan instrumen bass,gitar,piano,trombone,saxophone,flute,klarinet hingga trombone.Lelaki berdarah Maluku ini juga pernah tinggal di Ambon pada era 60an.Tahun 1965 Benny Likumahuwa meninggalkan Ambon dan bermukim di Bandung.
Di tahun 1966,Benny Likumahuwa yang juga menguasai teori musik dengan baik mulai bergabung dengan kelompok Crescendo.

Benny Likumahuwa di era 70an saat bergabung dengan band jazz rock The Rollies

Benny Likumahuwa di era 70an saat bergabung dengan band jazz rock The Rollies

Ada pergeseran besar yang terjadi pada tahun 1968 manakala Benny Likumahuwa diajak bergabung dalam band rock The Rollies. Benny Likumahuwa lalu melontarkan gagasan untuk menambahkan instrumen tiup dalam formasi The Rollies.Benny lalu mengajarkan cara meniup instrumen tiup pada seluruh personil The Rollies tanpa terkecuali mulai dari Deddy Stanzah sang pendiri The Rollies hingga Delly Djoko Alipin,Tengku Zulfiyan Iskandfar,Iwan Krisnawan,Bangun Sugito serta Bonnie Nurdaya .
Di tahun 1969 The Rollies mulai memasuki industry rekaman dengan merilis sekaligus dua album pada label Pop Sounds di Singapore.Kemampuan Benny Likumahuwa sebagai arranger sangat membekas dalam corak musik The Rollies saat itu terutama ketika The Rollies mulai mengibarkan jatidiri sebagai jazz rock band dengan dominasi horn section seperti Chicago maupun Blood Sweat and Tears..
Di awal 1970an Benny Likumahuwa kerap mondar mandir di beberapa kota Asia Tenggara untuk bermain musik diberbagai klab.Saat itu dia membentuk band bernama The Augersindo yang merupakan akronim dari Australia,German,Singapore dan Indonesia.Karena pendukungnya berasal dari keempat negara tersebut.

Benny Likumahuwa menguasai semua instrumen tiup

Benny Likumahuwa menguasai semua instrumen tiup

Di awal 70an Benny diajak Jack Lesmana bergabung dalam The Indonesian All Stars menggantikan posisi bassist Jopie Chen.Benny Likumahuwa pun bergabung dalam Jack Lesmana Combo.Di era 80an Benny Likumahuwa tergabung dalam Abadi Soesman Jazz Band serta Ireng Maulana All Stars. Benny Likumahuwa juga membentuk kelompok musiknya sendirti yang diberinama Benny Likumahuwa Jazz Connection.
Jika anda belum mengenal sosok Benny Likumahuwa dalam khazanah musik jazz, maka menyimak album Rekam Jejak Vol.1 Benny Likuamhuwa ini seperti sebuah risalah yang mengetenghkan perjalanan musiknya dari era 60an hingga saat sekarang ini.

 

Rudi Gagola Bassist Yang Terlupakan

Posted: Maret 24, 2014 in Sosok

Mungkin banyak yang tidak mengetahui sepak terjang pemusik yang bernama Rudi Gagola.Rudy Gagola adalah adik kandung Donny Fattah Gagola.Sama-sama jago main bass dan bikin lagu.

Rudi Gagola bersama Vina Panduwinata di studio Golden Handa saat rekaman album debut Vina Panduwinata "Citra Biru" di tahun 1981

Rudi Gagola bersama Vina Panduwinata di studio Golden Handa saat rekaman album debut Vina Panduwinata “Citra Biru” di tahun 1981

The Steel adalah band yang pernah didukung Rudy Gagola di paruh era 70an. Di paruh era 70an Rudi Gagola pun ikut mendukung band rock Brotherhood dengan formasi Fadil Usman (gitar),Yoyong (keyboard),Tommy (drums),Rudi Gagola (bass) serta Farid Hardja (vokalis).Lalu di tahun 1976 bersama Donny,Rudy membentuk proyek D&R pada label Pramaqua yang dirilis tahun 1977 dan menghasilkan hits “Mimpi” yang dibawakan Ida Noor.”Cindy” oleh Keenan Nasution dan “Bawalaj Aku Bersamamu” oleh Achmad Albar.

Setahun kemudian D&R merilis album “Episode” (Jackson Records & Tapes 1978) dan “Sesuatu yang Indah” (Irama Tara,1981). Tahun 1978 Rudy Gagola berperan sebagai Music Supervisor pada label Jackson Records & Tapes milik almarhum Jackson Arief.

D & R adalah proyek yang digagas Donny Fattah Gagola dan Rudi Gagola sejak tahun 1976 (Foto Firman Ichsan)

D & R adalah proyek yang digagas Donny Fattah Gagola dan Rudi Gagola sejak tahun 1976 (Foto Firman Ichsan)

Saat itu Rudi juga terlibat sebagai music director dan session player artis-artis musik yang dikontrak Jackson Records seperti Iis Soegianto,Vina Panduwinata,Farid Hardja,Priyo Sigit dan banyak lagi.Rudi  Gagola juga tercatat sebagai bassist kelompok  bernuansa jazz rock Drakhma bersama Dodo Zakaria,Dani Mamesah,Gideon Tengker  dan Wawan Tagalos yang sempat menghasilkan 3 album yaitu “Hari Esok” (1980,Sky Record),”Citra Bahagia” (1982) dan “Tiada Kusadari” (1984).

Rudi Gagola pun sempat mengisi posisi bass dalam God Bless menggantikan Donny Fattah Gagola kakak kandungnya yang sempat cuti dari God Bless di awal era 80an.

Di tahun 1984 Rudi Gagola merilis debut album solonya yang dikemas dalam musik rock bertajuk “Indonesian Rock ’84” (Jackson Records & Tapes 1984).
Sayangnya setelah tahun 1985 nama Rudi Gagola menghilang begitu saja tanpa kabar yang pasti.Saat itulah mungkin khalayak mulai melupakan Rudi Gagola dalam arti sesungguhnya.

Menelisik Suara Danilla

Posted: Maret 17, 2014 in Opini, Tinjau Album

Ketika menyimak lagu “Buaian” dari Danilla saya seperti dejavu pada nuansa musik Indonesia era Irama yang diperkenalkan Mas Yos atau Soejoso Karsono di awal era 50an.Suara Danilla meneduhkan,agak berat,tak bersulam pernak pernik yang rumit.Tak syak lagi,saat menyimak lagu yang disenandungkan Danilla, maka yang tak terbayang adalah suara Nien Lesmana dalam beberapa rekaman di Irama pada era 50an hingga 60an.

Dan ketika Danilla bersenandung dalam gaya Bossanova, maka bayangan Astrud Gilberto meretas dipendengaran saya.Agaknya Danilla memang sengaja melumuri balutan musiknya dengan suasana masa lampau.Ini pun terlihat jelas saat menatap sampul albumnya yang didominasi warna hitam putih, Danilla yang mengenakan kebaya  duduk di beranda diatas kursi beranyam rotan.

AS

Suara alto yang dimiliki Danilla yang kadang menelisik indra pendengaran saya pada gaya laid back dari Diana Krall  secara pasti telah mendapuk jatidiri musiknya dalam pengaruh jazz, mulai dari bossanova,swing dan ballad yang ekspresif. Tapi yang menarik bahwa Danilla memiliki karakter vokal yang kuat.Danilla berhasil mengaduk pengaruh-pengaruh musik yang disimaknya seperti Rumer menjadi sebuah bunyi yang signatural.

Agak kurang bijak jika kemudian kita menyematkan label penyanyi jazz pada Danilla.Namun kecenderungan-kecenderungan yang telah tersimak mulai dari struktur komposisi lagu,tata aransemen musik dan gaya bernyanyi Danilla, memang telah mengarah kesana.

Danilla di Coffe War Kemang 26 Maret 2014 (Foto Ahmad Syafiq)

Danilla di Coffe War Kemang 26 Maret 2014 (Foto Ahmad Syafiq)

Mood ballad menyeruak dari lagu Ada Disana,Terpaut Oleh Waktu  dan Reste Avec  Moi   , lalu buaian bossanova dalam Senja Di Ambang Pilu.Kemudian dengan imbuhan siulan Danilla seperti menyeret kita ke  musik pop era 50an lewat lagu Wahai Kau maupun Berdistraksi.

Lirik-lirik lagu dalam album Danilla ini tampaknya bercermin pada lirik-lirik lagu Indonesia masa silam pada era 50an hingga 60an yang tertata santun ,romantis dan puitis.Simak petilan lirik lagu Buaian :

Akan kucatat dalam ingatan yang tak ternilai, buaian 
Sementara waktu kan merekam jejak kisah kita .

Dan pemilihan kata yang memikat untuk sebuah idiom kasmaran dalam lagu “Terpaut Oleh Waktu” :

Tenggelam aku di rupamu
Ke palung rindu yang tersemu
Tak ada ruang yang tersisa dalam sendu
Tersimpan batas saat sayu mengadu
Kuingin kepadamu

Namun Danilla pun menulis lagu tentang seorang wanita Jepang yang mengalami penyiksaan dan perkosaan hingga mati terbunuh.Tragedi dramatis ini dituturkan Danilla dalam strutktur melodi yang terkadang berbelok ke arah blues :

I’ve read your November, tortured by saboteurs 
Ended from wounds and buried underground 

Seconds of frightened wouldn’t be forgotten, 
Happiness was fainted by soreness that painted 

Bahkan Danilla pun menghasilkan sebuah tata arrasemen yang agak menyimpang dalam Oh No (Trembling Theory) dengan menyusupkan distorsi gitar meski tipis namun menyusupkan sebuah gelegak.

Danilla memang tak sendiri dalam menghasilkan Telisik, ia dibantu oleh Lafa Green yang nyaris menulis seluruh komposisi di album ini.Lafa juga menata arransemen musik yang melumuri vokal Danilla.

Album Telisik ini memberikan sesuatu yang agak berbeda, dan kredo musik seperti ini layak untuk dipuji secara ikhlas. Dan belakangan saya baru mengetahui bahwa Sumiati penyanyi kroncong era 60an adalah neneknya,Dian Pramana Poetra dan Henry Restoe Poetra adalah dua orang pamannya serta Ika Ratih Puspa adalah ibunya.Jadi tak perlu ditelisik lagi  dari mana darah seni Danilla menitis.

 eTelisik,album debut Danilla
Telisik,album debut Danilla

RIP Reggy Tielman (1933 – 2014)

Posted: Maret 13, 2014 in Obituari

Reggy Tielman salah satu dari The Tielman Brothers band Belanda yang personilnya berasal dari Indonesia telah meninggalkan kita 12 Maret 2014. The Tielman Brothers adalah band yang menggagas konsep musik indorock yang berkembang di Belanda dan negara-negara Eropah lainnya.

Gitaris The Tielman Brothers Reggy Tielman

Gitaris The Tielman Brothers Reggy Tielman

Wayang Orang Bersulam Rock

Posted: Maret 13, 2014 in Uncategorized

Wayang Orang  bersanding dengan aura musik rock ? Tentunya ini bukan hal pertama dilakukan di negeri ini.Anak muda era 70an,dalam catatan saya, cukup keranjingan memadukan dan mematut-matutkan dua gugus budaya yang berbeda yaitu memempelaikan kesenian berbasis tradisional dengan musik rock. Di tahun 1975 pemusik Harry Roesli dengan kreativitas yang tampak seperti bercanda mengangkat legenda Ken Arok  sosok bad boy yang merebut Ken Dedes isteri Tunggul Ametung,raja Tumapel.Ken Arok bahkan membunuh Tunggul Ametung dengan sebilah keris yang dibuat Mpu Gandring.Akhirnya Ken Arok menjadi raja di Tumapel yang kemudian berubah menjadi Kerajaan Singosari.

Sophie Muller sebagai Anggraeni dan Stevie Item sebagai Ekalaya (Foto WayangOrangRock)

Sophie Muller sebagai Anggraeni dan Stevie Item sebagai Ekalaya (Foto WayangOrangRock)

Sosok Ken Arok ini kemudian dibalut dengan dinamika musik rock yang berpadu dengan tabuhan gamelan oleh Harry Roesli yang tampaknya ingin memikat perhatian anak muda terhadap sejarah atau budaya bangsa dengan menyuntikkan gairah musik rock.Lakon ini kemudian diberi tajuk Opera Rock Ken A Rock dengan tulisan Ken Arok yang sengaja dibikin bernuansa rock.

Stevie Morley Item gitaris Dead Squad sebagai Ekalaya dan Otong Koil vokalis Koil sebagai Arjuna (Foto WayangOrangRock)

Stevie Morley Item gitaris Dead Squad sebagai Ekalaya dan Otong Koil vokalis Koil sebagai Arjuna (Foto WayangOrangRock)

Harry Roesli agaknya ingin membelokkan kekaguman anak muda terhadap kultus budaya pop Barat yang terwakili oleh sajian opera rock seperti yang dimulai dengan musical rock  “Hair” yang ditulis oleh Galt McDermot,James Rado  dan Gerome Ragni di tahun 1967 , Tommy” (1969) yang dibikin oleh grup rock Inggris The Who, kemudian muncul ”Jesus Christ Superstars” (1970) yang ditulis Andrew Lloyd Webber dan Tim Rice , maupun “serta David Bowie yang menghasilkan opera rock “The Rise and Fall Of Ziggy Stardust and The Spiders of Mars” di tahun 1972.  

Tiga tokoh utama Wayang Orang Rock Ekalaya, Arjuna (Otong Koil),Ekalaya (Stevie Morley Item) dan Durna (Jikun /rif) (Foto WayangOrangRock)

Tiga tokoh utama Wayang Orang Rock Ekalaya, Arjuna (Otong Koil),Ekalaya (Stevie Morley Item) dan Durna (Jikun /rif) (Foto WayangOrangRock)

Selanjutnya Harry Roesli mengerjakan beberapa opera rock berlatar kisah legenda Indonesia seperti opera rock Sangkuriang yang berasal dari Jawa Barat.

Gagasan opera rock yang dilontarkan Harry Roesli ini ternyata menjadi inspirasi bagi sebagian anak muda saat itu.Satu diantaranya adalah Operette Cikini, kelompok opera berbasis musik rock yang digagas alumni Yayasan Perguruan Cikini di Jakarta antara tahun 1977-1979.Operette Cikini mengangkat khazanah pewayangan sebagai setting cerita dan dilumuri musik rock yang gegap gempita lewat lakon seperti Ramayana dan Mahabharata.Salah satu pemusik yang ikut mendukung musik dari Operette Cikini adalah Iwan Madjid keyboardis yang kemudian dikenal saat membentuk band rock progresif Abbhama dan Wow serta gitaris Eet Sjahranie.

Jopie Reinhard Item dan Stevie Morley Item (Foto WayangOrangRock)

Jopie Reinhard Item dan Stevie Morley Item (Foto WayangOrangRock)

Di tahun 1978 para mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia juga mengangkat legenda Roro Jongrang dengan balutan musik rock.

Kenapa harus bersimbiose dengan musik rock ? Karena rock dengan kredo kebebasan dan falsafah anti kemapanan serta perangai bunyi yang cenderung dinamis dan agresif, tak pelak lagi sangat lekat dengan gairah dan jiwa anak muda.Musik rock, sepakat atau tidak sepakat merupakan cerminan harkat anak muda sejak rock n’roll ditemukan pada era 50an dan menjadi supremasi gelegak semangat anak muda lewat ikon-ikonnya seperti Chuck Berry,Bill Halley maupun Elvis Presley.Ada nilai-nilai pemberontakan dan pembangkangan dalam letupan music rock.

Walhasil rock pun menjadi inspirasi dalam gerakan musik lain terutama dalam konteks pencerahan jati diri musikal sebuah genre musik Rock menjadi idiom untuk gagasan “peremajaan”, kita ambil contoh ketika pemusik jazz Miles Davis terpesona dengan penampilan musik rock gitaris Jimi Hendrix yang dielu –elukan para pemujanya dalam setiap pertunjukannya.Di tahun 1969 Miles Davis lalu memetik aura musik rock yang kemudian disusupkan dalam formula musik jazz rock lewat album “In A Silent Way” dan “Bitches Brew”.

Oma Irama merasa musik dangdut kerap dilecehkan sebagai musik kampungan dan hanya menjadi konsumsi masyarakat kelas bawah.Di tahun 1973 Oma Irama melakukan evolusi dalam tatanan musik dangdutnya dengan “meminjam” sound ala Deep Purple yang saat itu merupakan band rock dengan jutaan penggemar di Indonesia.Oma Irama melihat betapa anak muda sangat tergila-gila dengan musik rock mulai dari The Rolling Stones,Led Zeppelin,Black Sabbath,Uriah Heep hingga Deep Purple.Dengan cerdik Oma Irama lalu mengadopsi riffing gitar rock ala Ritchie Blackmore dari Deep Purple.Lengkingan vokal ala Ian Gillan dalam “Child In Time” pun diserapnya dalam teknik bernyanyinya.Sejak saat itu,atas gagasan Oma Irama,musik  dangdut pun bersenyawa dengan rock bahkan di tahun 1979 vokalis God Bless Achmad Albar bersama musik yang ditata gitaris Ian Antono menghasilkan  “Zakia” sebuah lagu dangdut bernuansa rock.

Dan tanggal 15 Maret 2014 ini sebuah gagasan berkesenian yang menggabungkan gugus budaya Barat dan Timur kemba lagi digelar di Tennis Indoor Senayan  dalam bentuk Wayang Orang Rock Ekalaya yang didukung sekitar 70 pemusik rock dalam sebuah lakon yang diangkat dari khazanah pewayangan   dengan sutradara Arie Dagienkz.      

Interpretasi Gamelan terhadap musik Rock (Foto WayangOrangRock)

Interpretasi Gamelan terhadap musik Rock (Foto WayangOrangRock)

Secara harafiah, Ekalaya dalam bahasa Sansekerta memiliki makna tentang konsentrasi satu ilmu atau pelajaran. Sosok Ekalaya yang tak letih berlatih di hadapan sebuah patung merupakan simbolis dari kegigihan dalam mencari ilmu tiada henti. Dalam Wayang Orang Rock ini seperti dalam pakem lakon pewayangan juga ada sosok-sosok seperti Arjuna,Anggareni hingga Durna.

Pola kreativitas dalam Wayang Orang Rock Ekalaya’ ini memang dikhitiarkan tampil dalam wujud kontemporer, misalnya  ada beberapa properti dalam cerita wayang yang dikolaborasikan dengan unsur musik, seperti panah diganti dengan gitar. Ekalaya dan Arjuna akan bertarung yang dalam pementasan ini diibaratkan dengan jamming gitar. Beberapa elemen multimedia pun ditambahkan seperti hologram agar pementasan ini terwujud sebagai pementasan yang mengusung unsur kekinian dengan menggabungkan kesenian tradisi dan teknologi digital.

Otong Sang Arjuna dalam Wayang Orang Rock Ekalaya

Otong Sang Arjuna dalam Wayang Orang Rock Ekalaya

Upaya-upaya yang terlihat dalam konsep Wayang Orang Rock Ekalaya ini justru banyak mengingatkan saya akan karya-karya yang menyandingkan konsep “east meet west” dalam pertunjukan yang dilakukan oleh Harry Roesli dan beberapa nama alin di era 70an. Misalnya saja dalam beberapa adegan terdengar interpretasi karya-karya rock klasik seperti “RockN’Roll” (Led Zeppelin),”Shine On You Crazy Diamond” (Pink Floyd) termasuk “Heartbreak Hotel” (Elvis Presley) dalam tata musik gamelan.Hal serupa pernah dilakukan Harry Roesli  di tahun 1976-1977 ketika menafsir ulang karya-karya rock and roll seperti “Walking The Dog” atau “Route 66” dalam laras gamelan yang eksotis.Seperti pula upaya Guruh Sukarnoputra yang memadukan gerakan-gerakan disko dengan tata busana tradisional Indonesia serta musik yang memadukan jatidiri musik tradisional dan Barat dalam pementasnnya di Balai Sidang Senayan pada Januari 1979 atau saat Guruh bersama kelompok musik Gipsy melakukan eksperimen mengawinkan musik rock dengan gamelan Bali dalam proyek “Guruh Gipsy” di tahun 1977.

Bisa jadi ini sebuah upaya atau gimmick yang menetaskan sebuah hibrida untuk menarik minat anak muda terhadap berkesenian terutama mencintai dan merawat seni budaya warisan bangsa dengan menyertakan bingkai pernak pernik yang cenderung kontemporer.     

PainKillers salah satu penampil dalam Hard Rock Rising The Global Battle Of Bands yang diselenggarakan Hard Rock Cafe Jakarta 11 Maret 2014 (Denny Sakrie).

PainKillers salah satu penampil dalam Hard Rock Rising The Global Battle Of Bands yang diselenggarakan Hard Rock Cafe Jakarta 11 Maret 2014 (Denny Sakrie).

Setiap tahun Hard Rock Cafe mengadakan kompetisi band Hard Rock Rising The Global Battle Of Bands termasuk pula Indonesia tentunya.Ini sebuah ajang bagus yang mendeteksi band-band rock dan memberikan peluang terhadap para pemenangnya untuk tampil dalam konser kelas dunia yang banyak didamba-dambakan anak band Indonesia.

Inilah juri Hard Rock Rising The Global Battl Of Band 2014 yang diadakan oleh Hard Rock Cafe Jakarta terdiri atas Denny Sakrie (pengamat musik),Ariyo Wahab (penyanyi,Rya Karina (Hard Rock FM Jakarta) dan Andre O Sumual (Majalah Trax Indonesia).

Inilah juri Hard Rock Rising The Global Battl Of Band 2014 yang diadakan oleh Hard Rock Cafe Jakarta terdiri atas Denny Sakrie (pengamat musik),Ariyo Wahab (penyanyi,Rya Karina (Hard Rock FM Jakarta) dan Andre O Sumual (Majalah Trax Indonesia). Untuka

Untuk penyelenggaraan di tahun 2014 ini Hard Rock Rising telah menyiapkan perhelatan puncak bertempat di Piazza Del Popolo yang terdapat di Roma,Italia.Para pemenang lomba band ini akan tampil dihadapan sekitar 40 ribu penonton, dan sudah pasti merupakan pengalaman tak terlupakan sepanjang zaman. Ajang yang menguak peluang anak band main di mata internasional ini didukung oleh 82 Hard Rock Cafe yang tersebar di seluruh dunia termasuk Jakarta,Indonesia tentunya.

Dari Hard Rock Cafe Jakarta event Hard Rock Rising The Global Battle of Bands yang mulai dilakukan sejak tahun 2011 ini telah menetaskan band-band yang sempat bermain unjuk kemampuan di mata dunia internasional yaitu Gugun Blues Shelter (tahun 2011) serta FOS (tahun 2012).Di tahun 2013 lalu Sandhy Sondoro tercatat keluar sebagai pemenangnya, namun urung di kirim ke luar negeri.

Untuk tahun 2014 ini saya bersama Ariyo Wahab (Vokalis FOS),Andre O Sumual (majalah TRAX) danm Rya Karina (HardRock Cafe Jakarta) d

OM PMR Perusak Musik Rock ?

Posted: Maret 11, 2014 in Kisah, Opini
Orkes Moral Pengantar Minum Racun saat meluncurkan single terbaru "Topan" di Rolling Stone Cafe 6 Maret 2014

Orkes Moral Pengantar Minum Racun saat meluncurkan single terbaru “Topan” di Rolling Stone Cafe 6 Maret 2014

Kamis 6 Maret 2014 saya diminta jadi narasumber untuk peluncuran single terbaru kelompok musik era 80an Orkes Moral Pengantar Minum Racun yang diberi judul “Topan (Tato Atau Panu ?)”. Selain saya,konperensi pers yang dipandu Rudolf Dethu ini juga menampilkan narasumber yang sangat dekat dengan OM PMR yaitu Indro Warkop dari kelompok lawak legendaris Warung Kopi.

Sore itu saya diminta bercerita tentang fenomena musik dangdut era 80an yang berkaitan dengan dunia komedi.Bermula dari kelompok lawak mahasiswa yang menamakan diri sebagai Warung Kopi Prambors dimana dalam setiap pemunculannya baik saat siaran di radio Prambors Rasisonia di Jalan Borobudur Menteng Jakarta maupun di pentas-pentas pertunjukan termasuk tampil di TVRI, mereka selalu menyertakan kelompok musik, mulai dari Orkes Keroncong Rindu Order,Warkop Jazz Band yang didukung penyanyi jazz sungguhan Aska Daulika hingga Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks yang terdiri atas para mahasiswa Universitas Indonesia.

Konser mini OM PMR di Rolling Stone Venue 6 Maret 2014 (Foto Sumarlin Putra/Rolling Stone)

Konser mini OM PMR di Rolling Stone Venue 6 Maret 2014 (Foto Sumarlin Putra/Rolling Stone)

Ketika OM PSP mulai dikenal luas, Warkop lalu mencari penggantinya.Kasino lalu meminta pada salah satu penyiar Prambors Rasisonia untuk mencari kelompok musik yang bisa memainkan musik apa saja terutama dangdut.

lalu muncul  Wre Munindra,  penyiar radio Prambors, yang menemukan bakat mereka. Kemampuan mereka merusak atau memparodikan lagu-lagu popular pada masa itu menarik perhatian Wre Munindra yang atas permintaan Kasino Warkop tengah mencari band pengiring untuk siaran Warkop DKI (Dono, Kasino, Indro) di Prambors waktu itu. Kasino  yang melihat sekelompok anak muda itu bermain dangdut mengiringi orang-orang yang lagi teler kemudian  memberikan nama Orkes Moral Pengantar Minum Racun .

Dengan naluri humornya,Kasino lalu memberikan  nama-nama berbau India kepada para  personil OM PMR  mulai dari  Johnny Madumatikutu (vokal), Aji Cetti Bahadursyah (perkusi), Yuri Mahipal (mandolin ), Budi Padukone (gitar), Ima Maranaan (bass), dan Hari “Muke Kapur” (mini drum). Sejak itu OM PMR diajak oleh Warkop Prambors melakukan pertunjukan keliling Indonesia .

Vokalis Orkes Moral Pengantar Minum Racun Johnny Madumatikutu (Foto Sumantri Putra/Rolling Stone)

Vokalis Orkes Moral Pengantar Minum Racun Johnny Madumatikutu (Foto Sumantri Putra/Rolling Stone)

“Warkop itu yang ngebimbing PMR, sepuluh tahun kite jalan bareng. Banyak pelajaran dari situ. Mulai dari kite-kite masih pade sekole sampe bener-bener dianggap bisa bediri sendiri baru deh mereka lepasin kite; udah waktunya lu berkarya sendiri sekarang. Begitu kata mereka (Warkop) waktu itu” ungkap  Budi Padukone.

OM PMR atau Orkes Melayu Pengantar Minum Racun meluncurkan single terbarunya, "Topan (Tato atau Panu", di Rolling Stone Cafe, Jakarta Selatan. Diawali dengan konferensi pers di sore hari bersama narasumber Rudolf Dethu, Denny Sakrie, dan Indro Warkop, malam harinya OM PMR menggelar konser hangat dan meriah. Single baru ini diambil dari album baru OM PMR, 'Orkeslah Kalau Bergitar', memuat sejumlah lagu parodi dari antara lain Efek Rumah Kaca, Seringai, Naif, dan The Flowers.(Foto Rolling Stone)

OM PMR atau Orkes Melayu Pengantar Minum Racun meluncurkan single terbarunya, “Topan (Tato atau Panu”, di Rolling Stone Cafe, Jakarta Selatan. Diawali dengan konferensi pers di sore hari bersama narasumber Rudolf Dethu, Denny Sakrie, dan Indro Warkop, malam harinya OM PMR menggelar konser hangat dan meriah. Single baru ini diambil dari album baru OM PMR, ‘Orkeslah Kalau Bergitar’, memuat sejumlah lagu parodi dari antara lain Efek Rumah Kaca, Seringai, Naif, dan The Flowers.(Foto Rolling Stone)

Tahun 1987 Orkes Moral Pengantar Minum Racun yang telah berdiri sendiri dan memisahkan diri dari kegiatan Warkop Prambors lalu merilis album debut bertajuk “Judul-Judulan” yang berhasil meraup sukses besar.Kabarnya album ini berhasil terjual lebih dari 2 juta kaset di seluruh Indonesia.Selain menampilkan lagu original karya Kuntet Mangkulangit “Judul-Judulan”, dalam album debut OM PMR yang dirilis MSC Record ini juga memparodikan banyak lagu-lagu hits baik pop maupun dangdut seperti “Antara Cinta dan Dusta” (Obbie Messakh),”Bintangku Bintangmu”,Istilah Cinta” (Obbie Messakh) hingga “Gubuk Derita (Muchtar B) dan “Pergi Tanpa Pesan” (Ellya Khadam).

Sukses OM PMR di album perdana berlanjut dengan memparodikan lagu-lagu milik kelompok Bill & Brod seperti “Astaga” dan “Singkong dan Keju” karya Arie Wibowo.Mulai tahun 1987 hingga memasuki era 90an Orkes Moral Pengantar Minum Racun telah merilis sekitar 15 album rekaman.

Memasukkan anasir music dalam pola lawakan sebetulnya bukan ditemukan atau digagas secara orisinal oleh Warung Kopi.jauh sebelum Warkop menjadi isu nasional saat itu,Bing Slamet telah melakukan hal yang sama : memintal lawakan dalam sepotong music.Itu fakta manakala Bing Slamet bersama Drs Purnomo a.k.a mang Udel melawak sambil sesekali bernyanyi .Bing memetik gitar sembari bernyanyi dengan vocal baritonenya,ditingkahi permainan ukulele dari Mang Udel.Lagu “Keroncong Moritsko” hingga “Love Is A Many Splendored Thing” pun mengalun tapi tetap dalam koridor humor yang segar.
Hal semacam ini pun terulang ketika Bing Slamet bersama Eddy Sud,Ateng dan Iskak membentuk Kwartet Jaya.Bing yang kerap meniru aksen cadel bule biasanya menyanyikan lagu yang tengah hits semisal “Hey Jude” nya The Beatles tapi dengan gaya crooner yang menggelitik.
Jadi sebetulnya dalam penampilan sketsa humor yang mencuat dari sebuah ritual lawak,unsur music memang seolah menjadi simbiose mutualisme.Musik jadi jodoh dengan lawak yang serba gerrrrr…..

PMR-10

Orkes Moral Pengantar Minum Racun akhirnya berhasil mensejajarkan diri dengan ketenaran Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks. Dan saat itu wabah Orkes Moral mulai menandai industri musik Indonesia.Tak kurang dari 15 kelompok musik muncul mengikuti jejak OM PSP dan OM PMR dengan warna yang dimirip-miripkan.

Setelah hibernasi cukup lama, akhirnya OM PMR muncul lagi di pentas pertunjukan dan bikin album baru.Bermula dari tawaran Dokter Abie yang meminta OM PMR untuk tampil dalam sebuah pertunjukan musik di Borneo BeerHouse yang berada di kawasan Jeruk Perut Jakarta Selatan, diluar dugaan OM PMR mendapat sambutan hangat dari banyak pengunjung Borneo Beerhouse. Hingga akhirnya Dokter Abie malah menawarkan agar OM PMR bikin album baru lagi.OM PMR tetap diminta rekaman dengan konsep parodi dengan lirik yang bernuansa humor dan jenaka.Namun kali ini OM PMR malah diminta untuk “merusak” lagu-lagu dari Seringai,Efek Rumah Kaca,The Upstairs hingga The Flowers termasuk membongkar ulang lirik lagu Naif “Posesif” menjadi “Topan (Tato atau Panu ?)”.Semuanya dikemas lewat tajuk “Okelah Kalo Bergitar” yang merupakan  plesetan dari Okelah Kalo Begitu.

Dan saya pun tersenyum mendengar bagaimana OM PMR dengan semangat musik humor yang tinggi merusak lagu-lagu rock dari Seringai “Mengadili Persepsi” terutama ketika mereka dengan enteng mengubah cara bernyanyi growl ala Seringai dengan gaya dangdut yang jenaka.