Improvisasi Peter Gontha

Posted: Maret 7, 2014 in Opini

Sabtu 1 Maret 2014 jam 19.30- 20.30 selama 1 jam di panggung JavaJazz Stage muncul sesuatu yang beda dari para penampil yang mendukung event tahunan Java Jazz Internasional Festival yaitu munculnya kelompok musik pop yang menampilkan puluhan penyanyi remaja cantik dengan nama JKT48. Komentar pun bertebaran,saat JKT48 tampil dihadapan penonton, ada yang mencemooh,ada yang menikmati dan ada yang menganggapnya wajar wajar saja.Di social media celotehan terlontar mempertanyakan apakah JKT48 layak disebut sebagai penampil jazz ? Bahkan mempertanyakan kredibilitas JavaJazz Festival yang digagas Peter Gontha sejak tahun 2005 itu dengan memasukkan kelompok pop seperti JKT48 dalam line up festival musik yang digelar sepanjang 3 hari berturut-turut itu.Bahkan dalam daftar acara JavaJazz Festival yang tahun ini merayakan tahun penyelenggaraan yang ke 10 juga menampilkan konser Agnes Monica yang kini menulis namanya dengan Agnez Mo.Kritik bernada sinis mengangkasa dengan menuding Java Jazz Festival hanya ingin mengeduk keuntungan bisnis semata tanpa memperhitungkan filososfi dan estetika dari musik jazz itu sendiri.

Peter Gontha penggagas Java Jazz International Festival sejak tahun 2005

Peter Gontha penggagas Java Jazz International Festival sejak tahun 2005

Saya sendiri menanggapi hal ini dengan kacamata pragmatis, bahwa Java Jazz Festival yang telah berusia satu dasawarsa ini memang penuh dengan pergulatan dan pergumulan antara mewujudkan apresiasi yang sudah tentu bertautan dengan idealisme serta bagaimana mempertahankan keberadaan dengan menautkannnya pada kredo komersialisme yang antara lain harus bersikap welcome dengan dukungan dari elemen musik yang kerap dianggap tak memiliki keterkaitaan secara langsung dengan jazz : musik pop. Munculnya ikon-ikon industri musik pop dalam event festival jazz ini logikanya memang agar event ini bias tetap berlangsung. Toh jumlah penampil musik pop tetap tidak menjadi dominan dalam even musik jazz ini.

Newport Jazz Festival yang berlangsung di Rhode Island Amerika Serikat pernah melakukan hal yang sama ketika pada tanggal 6 Juli 1969 menampilkan band rock Inggris Led Zeppelin sebagai line up dari festival yang juga berlangsung selama 3 hari itu.Pro dan kontra pun bermunculan.Dari para purist jazz kehadiran Led Zeppelin adalah nila setitik yang merusak susu sebelanga.Tapi penampilan Led Zeppelin yang ditonton sekitar 25.000 penonton pada jumat malam itu justru mengangkat nama Newpoort Jazz Festival itu sendiri.Newport Jazz Festival yang telah dirintis sejak tahun 1954 itu mengalami kesulitan financial dalam penyelenggaraannya ketika memasuki era 60an.George Wein sang penggagas festival lalu berimprovisasi untuk mempertahankannya dengan melakukan eksperimen memasukkan genre dan subgenre musik lain seperti rock,soul dan funk.Di tahun 1969 Festival Jazz tertua di dunia itu menampilkan banyak band-band rock seperti Jethro Tull,Ten Years After,Jeff Beck,Blood Sweat & Tears hingga Led Zeppelin.Dan festival jazz yang mulai lesu darah itu terlihat bergairah kembali dan tetap bertahan hingga kini.Konsep yang dipakai George Wein dalam memasarkan festival jazznya ini lalu menjadi inspirasi oleh banyak festival jazz lain semisal Montreux Jazz Festival yang pernah memasukkan the Rolling Stones hingga band disko Chic dalam line upnya. Improvisasi semacam ini pun dilakukan Peter Gontha dalam menjalankan Java Jazz Festival.Pada penyelenggaraan Java Jazz Festival yang pertama,Gontha mengundang James Brown sebagai headliner bahkan di tahun 2008 Gontha mengundang Slank untuk tampil di Java Jazz Festival bersanding dengan pemusik jazz seperti Tony Monaco dan Michael Paulo.  Di tahun 2010 Peter Gontha menghadirkan hitmaker dunia Diane Warren yang sama sekali tak memiliki konten jazz.Namun toh penyusupan-penyusupan semacam ini,menurut saya sah-sah saja,sepanjang tak sampai mengaburkan konten utama festival jazz tersebut.Musik-musik diluar jazz itu bisa dianggap sebagai pernah-pernik yang pada galibnya ikut mendukung eksistensi dari musik jazz tersebut.

Bisa dibayangkan jika Java Jazz Festival hanya menampilan pemusik-pemusik jazz murni saja, saya yakin usia festival ini tak berlangsung lama.Yang jelas sebuah Festival Jazz memang tetap membutuhkan mitra dalam koridor simbiose mutualisme.Dan Peter Gontha telah melakukannya selama satu dasawarsa.

Tulisan ini dimuat di rubrik Kolom, Koran Tempo 3 Maret 2014

Iklan
Komentar
  1. febrianto putra berkata:

    Keren deh pokok nya … ilove jaz… visit and comment back 🙂 thanks salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s