Apa Makna Hari Musik Nasional ?

Posted: Maret 8, 2014 in Opini

Setiap tanggal 9 Maret kita merayakan Hari Musik Nasional. Masyarakat ada yang sudah tahu, tapi yang tidak tahu pun banyak jumlahnya.Termasuk yang mungkin tidak tahu apakah makna hari Musik Nasional yang konon diangkat dari tanggal lahir komposer lagu kebangsaan kita Indonesia Raya Wage Rudolf Supratman.Sekedar seremonialkah ? Lalu apa yang ingin dicapai dengan dicanangkannya Hari Musik Nasional ini.

Seingat saya,meski banyak juga yang tak mengetahuinya, selama ini dikenal ada International Music Day yang dicanangkan oleh pihak UNESCO.Gagasan International Music Day berasal dari pemusik Yehudi Menuhin pada tahun 1975.Saat itu bersama International Music Council,konduktor dan penggesek biola Yehudi Menuhin mengusulkan agar tanggal 1 Oktober 1975 mulai ditetapkan sebagai International Music Day dengan berlandaskan pada asumsi untuk mempromosikan seni musik dalam berbagai lapisan masyarakat,mempromosikan kegiatan-kegiatan International Music Council .mulai dari pendidikan musik,seminar musik,kompetisi musik hingga eksibisi musik secara keseluruhan baik dalam koridor industri music rekaman maupun apresiasi musik  yang melibatkan media-media seperti radio,TV dan press termasuk pula kegiatan yang diberinama Musician’s International Mutual Aid Fund. Tapi sayangnya hingga sekarang ini kegiatan International Music Day ini tak pernah tersosialisasi ke negara kita.

Nah,kembali ke Hari Musik Nasional yang sebetulnya telah dicanangkan sejak masa Pemerintahan Presiden Megawati Sukarnoputri tepatnya pada tanggal 10 Maret 20, atas usulan dari Persatuan Artis Penyanyi ,Pencipta Lagu dan Penata Rekaman Indonesia (PAPPRI) yang saat itu diketuai Dharma Oratmangun.Walaupun Presiden Megawati Sukarnoputri tidak mengeluarkan Keppres yang menandai resminya peringatan Hari Musik Nasional, namun tanggal 9 Maret sejak itu diperingati setiap tahun sebagai Hari Musik Nasional. Satu dasawarsa setelah dicanangkan Megawati baru pada pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono Hari Musik Nasional ditetapkan secara resmi dengan keluarnya Keppres No.10 Tahun 2013.

Tujuan diadakannya Hari Musik Nasional ini adalah untuk menghargai karya-karya musik anak bangsa serta menunjukkan rasa hormat dan rasa memiliki karya musik bangsa sendiri. Ini tentunya merupakan upaya mulia terhadap musik Indonesia terutama khazanah musik Indonesia sebagai heritage yang harus dijaga dan dilestarikan keberadaannya dari era terdahulu hingga sekarang.

Namun apakah setelah masa 10 tahun mencanangkan 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional problematika musik Indonesia telah mendapat perhatian dari kita semua, mulai dari masyarakat hingga pemerintah ?. Rasanya sangat berat untuk menyebut pencanangan Hari Musik Nasional memiliki dampak secara langsung terhadap persoalan-persoalan yang muncul dalam dunia musik Indonesia yang terlanjur kompleks sejak beberapa dasawarsa terdahulu. Misalnya saja perihal tentang pendokumentasian musik Indonesia dari ranah tradisional hingga ke ranah industri musik nyaris tak berbekas.Ironisnya data-data tentang musik Indonesia mulai dari era kolonialisme hingga pasca kemerdekaan justru ditemukan secara runut dan rapi di negara lain seperti Belanda.Penelitian-penelitian musik secara komprehensif dilakukan bangsa asing seperti Jepang hingga Amerika Serikat. Negara kita bahkan tak memiliki Museum Musik sama sekali, yang terlihat justru adalah pendokumentasian musik Indonesia terutama era rekaman musik yang dilakukan oleh komunitas-komunitas penikmat dan pencinta musik Indonesia secara parsial. Dan masalah yang paling krusial dan nyaris tanpa solusi dan perhatian yang serius dari Pemerintah kita adalah masalah Pembajakan dan Pelanggaran terhadap Karya Cipta Musik.Lihatlah betapa merana masa depan pemusik Indonesia dalam menjalani masa depan mereka yang tak jelas karena tak adanya kepedulian terhadap penerapan royalty terhadap karya-karya yang mereka hasilkan.Pemerintah pun agaknya setengah hati dalam memberantas dan menuntaskan praktek pembajakan musik terutama semakin meningkat ketika platform teknologi musik digital kian marak dipergunakan masyarakat. Kita hanya bisa marah ketika Malaysia pernah mengklaim lagu Rasa Sayange sebagai lagu milik mereka.Justru kita tak pernah peduli dengan khazanah musik kita yang begitu kaya dan beragam mulai dari Sabang hingga Merauke.Sebuah paradoks  yang terus berkepanjangan dari dahulu hingga sekarang.

Sebetulnya masalah-masalah besar dalam dunia musik Indonesia seperti yang saya paparkan diatas itulah yang patut menjadi titik perhatian kita semua dalam merayakan Hari Musik Nasional.Momentum Hari Musik Nasional inilah yang tepat dipergunakan untuk mengadakan gerakan perubahan yang signifikan, bukan hanya melakukan perayaan seremonial seperti Lomba Lagu-Lagu Daerah atau kegiatan  hanya memutar lagu-lagu Indonesia saja di radio-radio maupun stasiun televisi  pada tanggal 9 Maret. Karena sejak 10 tahun terakhir ini dalam kenyataannya toh musik Indonesia harus diakui telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri.Semoga mulai tahun 2014 ini Hari Musik Nasional tak hanya berhenti sebagai seremonial belaka, tapi munculnya kesadaran kita bersama untuk merawat dan menjaga musik karya bangsa sendiri.  Selamat Hari Musik Nasional.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s