OM PMR Perusak Musik Rock ?

Posted: Maret 11, 2014 in Kisah, Opini
Orkes Moral Pengantar Minum Racun saat meluncurkan single terbaru "Topan" di Rolling Stone Cafe 6 Maret 2014

Orkes Moral Pengantar Minum Racun saat meluncurkan single terbaru “Topan” di Rolling Stone Cafe 6 Maret 2014

Kamis 6 Maret 2014 saya diminta jadi narasumber untuk peluncuran single terbaru kelompok musik era 80an Orkes Moral Pengantar Minum Racun yang diberi judul “Topan (Tato Atau Panu ?)”. Selain saya,konperensi pers yang dipandu Rudolf Dethu ini juga menampilkan narasumber yang sangat dekat dengan OM PMR yaitu Indro Warkop dari kelompok lawak legendaris Warung Kopi.

Sore itu saya diminta bercerita tentang fenomena musik dangdut era 80an yang berkaitan dengan dunia komedi.Bermula dari kelompok lawak mahasiswa yang menamakan diri sebagai Warung Kopi Prambors dimana dalam setiap pemunculannya baik saat siaran di radio Prambors Rasisonia di Jalan Borobudur Menteng Jakarta maupun di pentas-pentas pertunjukan termasuk tampil di TVRI, mereka selalu menyertakan kelompok musik, mulai dari Orkes Keroncong Rindu Order,Warkop Jazz Band yang didukung penyanyi jazz sungguhan Aska Daulika hingga Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks yang terdiri atas para mahasiswa Universitas Indonesia.

Konser mini OM PMR di Rolling Stone Venue 6 Maret 2014 (Foto Sumarlin Putra/Rolling Stone)

Konser mini OM PMR di Rolling Stone Venue 6 Maret 2014 (Foto Sumarlin Putra/Rolling Stone)

Ketika OM PSP mulai dikenal luas, Warkop lalu mencari penggantinya.Kasino lalu meminta pada salah satu penyiar Prambors Rasisonia untuk mencari kelompok musik yang bisa memainkan musik apa saja terutama dangdut.

lalu muncul  Wre Munindra,  penyiar radio Prambors, yang menemukan bakat mereka. Kemampuan mereka merusak atau memparodikan lagu-lagu popular pada masa itu menarik perhatian Wre Munindra yang atas permintaan Kasino Warkop tengah mencari band pengiring untuk siaran Warkop DKI (Dono, Kasino, Indro) di Prambors waktu itu. Kasino  yang melihat sekelompok anak muda itu bermain dangdut mengiringi orang-orang yang lagi teler kemudian  memberikan nama Orkes Moral Pengantar Minum Racun .

Dengan naluri humornya,Kasino lalu memberikan  nama-nama berbau India kepada para  personil OM PMR  mulai dari  Johnny Madumatikutu (vokal), Aji Cetti Bahadursyah (perkusi), Yuri Mahipal (mandolin ), Budi Padukone (gitar), Ima Maranaan (bass), dan Hari “Muke Kapur” (mini drum). Sejak itu OM PMR diajak oleh Warkop Prambors melakukan pertunjukan keliling Indonesia .

Vokalis Orkes Moral Pengantar Minum Racun Johnny Madumatikutu (Foto Sumantri Putra/Rolling Stone)

Vokalis Orkes Moral Pengantar Minum Racun Johnny Madumatikutu (Foto Sumantri Putra/Rolling Stone)

“Warkop itu yang ngebimbing PMR, sepuluh tahun kite jalan bareng. Banyak pelajaran dari situ. Mulai dari kite-kite masih pade sekole sampe bener-bener dianggap bisa bediri sendiri baru deh mereka lepasin kite; udah waktunya lu berkarya sendiri sekarang. Begitu kata mereka (Warkop) waktu itu” ungkap  Budi Padukone.

OM PMR atau Orkes Melayu Pengantar Minum Racun meluncurkan single terbarunya, "Topan (Tato atau Panu", di Rolling Stone Cafe, Jakarta Selatan. Diawali dengan konferensi pers di sore hari bersama narasumber Rudolf Dethu, Denny Sakrie, dan Indro Warkop, malam harinya OM PMR menggelar konser hangat dan meriah. Single baru ini diambil dari album baru OM PMR, 'Orkeslah Kalau Bergitar', memuat sejumlah lagu parodi dari antara lain Efek Rumah Kaca, Seringai, Naif, dan The Flowers.(Foto Rolling Stone)

OM PMR atau Orkes Melayu Pengantar Minum Racun meluncurkan single terbarunya, “Topan (Tato atau Panu”, di Rolling Stone Cafe, Jakarta Selatan. Diawali dengan konferensi pers di sore hari bersama narasumber Rudolf Dethu, Denny Sakrie, dan Indro Warkop, malam harinya OM PMR menggelar konser hangat dan meriah. Single baru ini diambil dari album baru OM PMR, ‘Orkeslah Kalau Bergitar’, memuat sejumlah lagu parodi dari antara lain Efek Rumah Kaca, Seringai, Naif, dan The Flowers.(Foto Rolling Stone)

Tahun 1987 Orkes Moral Pengantar Minum Racun yang telah berdiri sendiri dan memisahkan diri dari kegiatan Warkop Prambors lalu merilis album debut bertajuk “Judul-Judulan” yang berhasil meraup sukses besar.Kabarnya album ini berhasil terjual lebih dari 2 juta kaset di seluruh Indonesia.Selain menampilkan lagu original karya Kuntet Mangkulangit “Judul-Judulan”, dalam album debut OM PMR yang dirilis MSC Record ini juga memparodikan banyak lagu-lagu hits baik pop maupun dangdut seperti “Antara Cinta dan Dusta” (Obbie Messakh),”Bintangku Bintangmu”,Istilah Cinta” (Obbie Messakh) hingga “Gubuk Derita (Muchtar B) dan “Pergi Tanpa Pesan” (Ellya Khadam).

Sukses OM PMR di album perdana berlanjut dengan memparodikan lagu-lagu milik kelompok Bill & Brod seperti “Astaga” dan “Singkong dan Keju” karya Arie Wibowo.Mulai tahun 1987 hingga memasuki era 90an Orkes Moral Pengantar Minum Racun telah merilis sekitar 15 album rekaman.

Memasukkan anasir music dalam pola lawakan sebetulnya bukan ditemukan atau digagas secara orisinal oleh Warung Kopi.jauh sebelum Warkop menjadi isu nasional saat itu,Bing Slamet telah melakukan hal yang sama : memintal lawakan dalam sepotong music.Itu fakta manakala Bing Slamet bersama Drs Purnomo a.k.a mang Udel melawak sambil sesekali bernyanyi .Bing memetik gitar sembari bernyanyi dengan vocal baritonenya,ditingkahi permainan ukulele dari Mang Udel.Lagu “Keroncong Moritsko” hingga “Love Is A Many Splendored Thing” pun mengalun tapi tetap dalam koridor humor yang segar.
Hal semacam ini pun terulang ketika Bing Slamet bersama Eddy Sud,Ateng dan Iskak membentuk Kwartet Jaya.Bing yang kerap meniru aksen cadel bule biasanya menyanyikan lagu yang tengah hits semisal “Hey Jude” nya The Beatles tapi dengan gaya crooner yang menggelitik.
Jadi sebetulnya dalam penampilan sketsa humor yang mencuat dari sebuah ritual lawak,unsur music memang seolah menjadi simbiose mutualisme.Musik jadi jodoh dengan lawak yang serba gerrrrr…..

PMR-10

Orkes Moral Pengantar Minum Racun akhirnya berhasil mensejajarkan diri dengan ketenaran Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks. Dan saat itu wabah Orkes Moral mulai menandai industri musik Indonesia.Tak kurang dari 15 kelompok musik muncul mengikuti jejak OM PSP dan OM PMR dengan warna yang dimirip-miripkan.

Setelah hibernasi cukup lama, akhirnya OM PMR muncul lagi di pentas pertunjukan dan bikin album baru.Bermula dari tawaran Dokter Abie yang meminta OM PMR untuk tampil dalam sebuah pertunjukan musik di Borneo BeerHouse yang berada di kawasan Jeruk Perut Jakarta Selatan, diluar dugaan OM PMR mendapat sambutan hangat dari banyak pengunjung Borneo Beerhouse. Hingga akhirnya Dokter Abie malah menawarkan agar OM PMR bikin album baru lagi.OM PMR tetap diminta rekaman dengan konsep parodi dengan lirik yang bernuansa humor dan jenaka.Namun kali ini OM PMR malah diminta untuk “merusak” lagu-lagu dari Seringai,Efek Rumah Kaca,The Upstairs hingga The Flowers termasuk membongkar ulang lirik lagu Naif “Posesif” menjadi “Topan (Tato atau Panu ?)”.Semuanya dikemas lewat tajuk “Okelah Kalo Bergitar” yang merupakan  plesetan dari Okelah Kalo Begitu.

Dan saya pun tersenyum mendengar bagaimana OM PMR dengan semangat musik humor yang tinggi merusak lagu-lagu rock dari Seringai “Mengadili Persepsi” terutama ketika mereka dengan enteng mengubah cara bernyanyi growl ala Seringai dengan gaya dangdut yang jenaka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s