Menelisik Suara Danilla

Posted: Maret 17, 2014 in Opini, Tinjau Album

Ketika menyimak lagu “Buaian” dari Danilla saya seperti dejavu pada nuansa musik Indonesia era Irama yang diperkenalkan Mas Yos atau Soejoso Karsono di awal era 50an.Suara Danilla meneduhkan,agak berat,tak bersulam pernak pernik yang rumit.Tak syak lagi,saat menyimak lagu yang disenandungkan Danilla, maka yang tak terbayang adalah suara Nien Lesmana dalam beberapa rekaman di Irama pada era 50an hingga 60an.

Dan ketika Danilla bersenandung dalam gaya Bossanova, maka bayangan Astrud Gilberto meretas dipendengaran saya.Agaknya Danilla memang sengaja melumuri balutan musiknya dengan suasana masa lampau.Ini pun terlihat jelas saat menatap sampul albumnya yang didominasi warna hitam putih, Danilla yang mengenakan kebaya  duduk di beranda diatas kursi beranyam rotan.

AS

Suara alto yang dimiliki Danilla yang kadang menelisik indra pendengaran saya pada gaya laid back dari Diana Krall  secara pasti telah mendapuk jatidiri musiknya dalam pengaruh jazz, mulai dari bossanova,swing dan ballad yang ekspresif. Tapi yang menarik bahwa Danilla memiliki karakter vokal yang kuat.Danilla berhasil mengaduk pengaruh-pengaruh musik yang disimaknya seperti Rumer menjadi sebuah bunyi yang signatural.

Agak kurang bijak jika kemudian kita menyematkan label penyanyi jazz pada Danilla.Namun kecenderungan-kecenderungan yang telah tersimak mulai dari struktur komposisi lagu,tata aransemen musik dan gaya bernyanyi Danilla, memang telah mengarah kesana.

Danilla di Coffe War Kemang 26 Maret 2014 (Foto Ahmad Syafiq)

Danilla di Coffe War Kemang 26 Maret 2014 (Foto Ahmad Syafiq)

Mood ballad menyeruak dari lagu Ada Disana,Terpaut Oleh Waktu  dan Reste Avec  Moi   , lalu buaian bossanova dalam Senja Di Ambang Pilu.Kemudian dengan imbuhan siulan Danilla seperti menyeret kita ke  musik pop era 50an lewat lagu Wahai Kau maupun Berdistraksi.

Lirik-lirik lagu dalam album Danilla ini tampaknya bercermin pada lirik-lirik lagu Indonesia masa silam pada era 50an hingga 60an yang tertata santun ,romantis dan puitis.Simak petilan lirik lagu Buaian :

Akan kucatat dalam ingatan yang tak ternilai, buaian 
Sementara waktu kan merekam jejak kisah kita .

Dan pemilihan kata yang memikat untuk sebuah idiom kasmaran dalam lagu “Terpaut Oleh Waktu” :

Tenggelam aku di rupamu
Ke palung rindu yang tersemu
Tak ada ruang yang tersisa dalam sendu
Tersimpan batas saat sayu mengadu
Kuingin kepadamu

Namun Danilla pun menulis lagu tentang seorang wanita Jepang yang mengalami penyiksaan dan perkosaan hingga mati terbunuh.Tragedi dramatis ini dituturkan Danilla dalam strutktur melodi yang terkadang berbelok ke arah blues :

I’ve read your November, tortured by saboteurs 
Ended from wounds and buried underground 

Seconds of frightened wouldn’t be forgotten, 
Happiness was fainted by soreness that painted 

Bahkan Danilla pun menghasilkan sebuah tata arrasemen yang agak menyimpang dalam Oh No (Trembling Theory) dengan menyusupkan distorsi gitar meski tipis namun menyusupkan sebuah gelegak.

Danilla memang tak sendiri dalam menghasilkan Telisik, ia dibantu oleh Lafa Green yang nyaris menulis seluruh komposisi di album ini.Lafa juga menata arransemen musik yang melumuri vokal Danilla.

Album Telisik ini memberikan sesuatu yang agak berbeda, dan kredo musik seperti ini layak untuk dipuji secara ikhlas. Dan belakangan saya baru mengetahui bahwa Sumiati penyanyi kroncong era 60an adalah neneknya,Dian Pramana Poetra dan Henry Restoe Poetra adalah dua orang pamannya serta Ika Ratih Puspa adalah ibunya.Jadi tak perlu ditelisik lagi  dari mana darah seni Danilla menitis.

 eTelisik,album debut Danilla
Telisik,album debut Danilla
Iklan
Komentar
  1. rendijamz@gmail.com berkata:

    Asik, Om.

    Saya sudah dengar seluruh track-nya. Sudah lama tidak mendengar penyanyi dengan suara seadanya namun enak untuk didengar. Jika di Inggris, ia mengingatkan saya pada sosok Rumer. Tak macam-macam, nyaris minim gimmick, porsinya pas namun sekali memutarnya hingga akhir track, selalu ada kecenderungan tindakan untuk memutarnya kembali mengulang seisi CD.

    Sudah lama juga tidak mendengar musik yang cenderung manis namun “gelap”.

    Mungkinkah ia bisa menjadi Ikon Pelantun Kesyahduan di masa mendatang??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s