tigapagi dan Pandai Besi Memberi Jiwa Pada Lagu

Posted: April 13, 2014 in Konser
tigapagi di @atamerica 12 April (foto @atamerica)

tigapagi di @atamerica 12 April (foto @atamerica)

Tajuk yang saya gurat diatas mungkin terkesan agak serius.Tapi saya tak menemukan tajuk yang tepat untuk menyimpulkan tontonan bertajuk “Sound Of Saturday” yang berlangsung di @atamerica sabtu 12 April kemarin. Sejak beberapa minggu sebelum acara digelar saya dihantui rasa waswas, moga moga kali ini tak ada lagi halangan untuk menyaksikan dua kelompok musik yang mampu menggoyang khalwat jiwa saya yaitu Pandai Besi dan tigapagi.

Penonton konser Sounds Of Saturdat di @atamerica (Foto @atamerica)

Penonton konser Sounds Of Saturdat di @atamerica (Foto @atamerica)

Beberapa waktu sebelumnya,ketika Pandai Besi maupun tigapagi menggelar konser di Jakarta maupun Bandung, selalu ada saja halangan untuk datang menikmati konser musik mereka yang gurih.Dari album Daur Baur yang digarap Pandai Besi di studio Lokananta dengan memberdayakan crowfunding hingga album “Roekmana’s Repertoire” nya kelompok folk tigapagi ini sesungguhnya saat itu saya penasaran ingin melihat bagaimana jadinya konsep musik mereka jika dipindahkan dari album rekaman ke pentas pertunjukan. Secara kebetulan, baik Pandai Besi dan tigapagi, merupakan dua kelompok musik dari paguyuban bebas merdeka (baca :indie) telah terpilih sebagai dua kandidat Album Pilihan Majalah Tempo 2013.Dua kelompok musik yang mencuatkan harmoni musik secara cerlang cemerlang ini seolah saling bersaing ketat untuk menjadi Album Of The Year versi majalah berita berwibawa di negeri ini.

Kebetulan lagi, saya dan David Tarigan diundang oleh majalah yang digagas oleh Goenawan Mohamad itu sebagai tim penilai bersama tim redaksi seni budaya Tempo. Jam 18.30 saya menginjakkan kaki di lantai 3 Pacific Place dimana @atamerica berada.Ruangan pertunjukan yang berkapasitas sekitar 250 penonton itu mulai terlihat menyemut. Agaknya pesona dua kelompok musik ini mampu menyeret perhatian mereka ,para penikmat music dari berbagai usia untuk datang menyaksikan mereka . Ada satu ketentuan mutlak jika sebuah kelompok musik atau pemusik menggelar konser di @atamerica yaitu diharuskan untuk mengcover atau meremake sebuah karya musik dari khazanah musik popular di Amerika Serikat. Dan malam itu Sigit dari tigapagi berhasil mereka ulang lagu milik Nirvana Something In The Way yang ditulis dan dinyanyikan oleh sang frontman Kurt Cobain dari album fenomenal “Nevermind” (1991) yang menandai lanskap grunge, mazhab yang berkecambah di Seattle. Pandai Besi diluar dugaan mengcover lagu anthem era hippies di penghujung dasawarsa 60an yaitu California Dreaming yang dipopulerkan The Mamas and The Papas.kelompok folk rock pada tahun 1965.Sebuah era yang diwarnai menyeruaknya counterculture di kalangan anak muda terutama lewat idiom musik bernafas psikedelik.Pandai Besi memberi nafas baru dari lagu yang di eranya menjadi salah satu jatidiri dari generasi bunga. Entah kenapa saya tiba-tiba teringat dengan gaya Mama Cass atau Cass Elliot salah satu personil dari The Mamas and The Papas yang bertubuh subur saat melihat gaya Nastasha Abigail salah satu vokalis Pandai Besi .Abigail terlihat ekspresif dan lepas saat menginterpretasikan lagu yang menceritakan kehangatan California disaat musim dingin tiba. Menyaksikan tigapagi dan Pandai Besi di konser “Sounds Of Saturday” ini seperti menyaksikan sebuah festival folkrock dengan bingkai psikedelia. Saya sangat menikmati konser kedua paguyuban musik yang menyulam benang folk dalam rajutan musiknya. Dibuka dengan tigapagi yang seperti album cakram padatnya bermain tanpa jeda dari lagu ke lagu.Tigapagi yang terdiri atas Eko Sakti Oktavianto (gitar,Bass), Prima Dian Febrianto (gitar), dan Sigit Agung Pramudita (gitar,vokal) didukung chamber music yang terdiri atas cello dan dua biola. Sayangnya microphone yang dipakai Sigit agak kurang memadai, bahkan sound strings terutama biola terlalu kencang. Saya duduk paling depan berdampingan dengan Eric Wirjanatha dari Death Rock Star disebeklah kiri saya, serta di kanan saya ada Hasief Rolling Stone dan Ade Firza Paloh dedenngkot Sore.Saya membatin, agaknya Ade Paloh pasti akan diajak ke panggung untuk berduet dengan Sigit terutama karena di album “Roekamana’s Repertoire”,Ade Paloh jadi penyanyi tamu pada lagu “Alang-Alang”. Dan ternyata memang benar.Sigit lalu mengajak Ade paloh untuk ke panggung berduet lirih pada lagu Alang Alang. Sebuah komposisi yang sangat folkie.Tigapagi menyuntikkan rasa Indonesia dalam olahan musik folknya yang terbingkai dari bunyi-bunyian akustik dari gitar dan seksi strings.Ditengah-tengah tata musiknya tiba-tiba kita bisa tersodorkan dengan ritme kroncong hingga notasi Sunda yang cenderung minor. Sigit pun mengajak Paramita Sarasvati dari kelompok Nadafiksi untuk berduet.Sayangnya,sekali lagi disayangkan sound yang terdengar dari tata suara sangat buruk.Bukan penyanyinya lho, tapi dari tata suara. Padahal tigapagi telah memberikan sentuhan baru pada lagu Interpol “NYC”.Sebuah penafsiran yang pantas dipuji. Di konser ini tigapagi seolah mempertemukan Roekmana dalam aura peristiwa di Indonesia sekitar tahun 1965 dengan Kurt Cobain yang bunuh diri di tahun 1994 dalam bingkai tutur yang gelap tentunya lewat lagu cover Nirvana “Something In The Way”.Seminggu sebelum konser “Sounds Of Saturday”,para penggemar Nirvana memperingati tragedi meninggalnya Kurt Cobain pada 5 April 1994.

Abigail Pandai Besi terlihat seperti Mama Cass Elliot dari The Mamas and The Papas (Foto @atamnerica)

Abigail Pandai Besi terlihat seperti Mama Cass Elliot dari The Mamas and The Papas (Foto @atamnerica)

Panggung lalu berganti ke Pandai Besi yang malam itu tampil tanpa Cholil Machmud sang vokalis yang saat ini tengah menuntut ilmu di Amerika Serikat.Tapi Cholil tetap hadir menyapa penonton lewat skype bersama isterinya.Pasangan suami isteri ini bahkan menyanyikan lagu “Hujan Jangan Marah” lewat petikan gitarlele Cholil.Lagu ini pun menjadi lagu pembuka konser Pandai Besi yang terdiri atas Akbar Akbar Bagus Sudibyo (drum), Muhammad Asranur (keyboard), Andi “Hans” Sabarudin (gitar), Airil ”Poppie” Nurabadiansyah (bas), Agustinus Panji Mahardika (terompet), dan Natasha Abigail serta Monik (vokal) .Mereka juga dibantu dua pemusik additional. Pandai Besi seperti yang mereka perdengarkan pada album Daur Baur, mereka menginterpretasikan ulang sebagian besar lagu-lagu dari Efek Rumah Kaca seperti Insomnia,Laki Laki Pemalu hingga Desember serta Menjadi Indonesia dalam balutan aransemen yang eklektik. Baik tigapagi maupun Pandai Besi terlihat ligat dan terampil memberi jiwa pada lagu yang mereka bawakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s