Ketika Rekaman Fisik Menolak Punah

Posted: April 21, 2014 in Opini

Masih segar ingatan kita ketika akhir tahun 2013 gerai musik terbesar dan terlengkap di Jakarta Aquarius tutup untuk selamanya.Beberapa tahun sebelumnya sebetulnya sudah banyak gerai musik yang tutup, bukan hanya di Indonesia tapi di negara-negara yang industri musiknya telah mapan seperti Amerika Serikat atau Jepang juga mengalami hal yang sama.Sebut saja gerai musik raksasa seperti Tower Record maupun Virgin Music Store yang akhirnya membubarkan diri.

Rusty Gordon pemilik Canterbury Record di Pasadena California (Foto Mark Spitz)

Rusty Gordon pemilik Canterbury Record di Pasadena California (Foto Mark Spitz)

Penyebabnya adalah pergeseran paradigma dalam industri musik dengan menyeruaknya teknologi digital dimana format era lalu seperti compact disc,kaset dan piringan hitam mulai ditinggalkan konsumen musik.Pembelian produk musik kini lebih popular dilakukan secara digital.

Record Store Day 2013 di Amoeba Record,Los Angeles California (Foto Mike Spitz)

Record Store Day 2013 di Amoeba Record,Los Angeles California (Foto Mike Spitz)

Namun beberapa pihak mulai melakukan semacam gerakan untuk kembali melakukan sosialisasi menghidupkan penggunaan format fisik seperti piringan hitam yang dimulai pada tahun 2008.Beberapa pemilik gerai musik independen seperti Eric Levin, Michael Kurtz, Carrie Colliton, Amy Dorfman, Don Van Cleave and Brian Poehner lalu melakukan pertemuan di Baltimore .Tercetuslah gagasan Record Store Day yang kemudian dirayakan setiap tahun pada minggu ketiga April yang didukung oleh gerai musik independen ,label rekaman ,artis musik dan penikmat musik.Dalam acara Record Store Day ini berlangsung jual beli piringan hitam dan cd,meet and greet,diskusi serta pertunjukan musik .

Suasana Record Store Day Indonesia di Jakarta sabtu 19 April 2014 (Foto Agus WM)

Suasana Record Store Day Indonesia di Jakarta sabtu 19 April 2014 (Foto Agus WM)

Sekitar 300 gerai musik termasuk Waterloo Record,Vintage Vinyl dan School Kids Records ikut mendukung Record Store Day yang pertamakali diadakan pada 19 April 2008 di Amerika Serikat serta di Inggris yang didukung Picadilly Records,Jumbo Records serta Avalanche Records.Tercatat sekitar 10 album baru yang diluncurkan dalam Record Store Day ini.
Pada penyelenggaraan berikutnya 18 April 2009, tercatat sekitar 85 album dirilis dalam Record Store Day serta sekitar 500 artis musik berpartisipasi dalam pertunjukan musik. Di tahun ini Record Store Day juga diadakan di Jepang,Kanada,Irlandia,Italia,Belanda,Jerman ,Norwegia dan Swedia.
Di tahun 2010 ,Record Store Day diikuti lebih dari 1400 gerai musik independen ,sekitar 1000 gerai berasal dari Amerika.
Dari tahun ke tahun Record Store Day memperlihatkan grafik yang meningkat mulai dari jumlah album yang dirilis serta artis musik yang tampil di pentas.Di tahun 2012 sekitar 400 judul album dirilis di acara ini mulai dari album baru hingga reissue atau rilis ulang.
Di Indonesia sendiri,Record Store Day mulai digelar sejak tahun 2013 oleh komunitas musik independen di Jakarta .Tahun ini Record Store Day tak hanya di Jakarta tapi juga dibeberapa daerah mulai dari Bandung,Malang,Makassar  hingga ke Purwokerto. Jumlah rilisan album yang mencakup piringan hitam dan cd tercatat lebih dari 20 judul album. Ini tentunya sangat menggembirakan.Karena kelesuan dalam produksi rekaman fisik yang dialami oleh label-label besar justru berbanding terbalik dengan produksi rekaman fisik yang dihasilkan oleh label maupun penggiat musik independen.

Selebrasi Record Store Day di Jakarta (Foto Agus WM)

Selebrasi Record Store Day di Jakarta (Foto Agus WM)

Event Record Store Day ini pada akhirnya seolah menjadi ajang selebrasi kembalinya rekaman musik dalam format piringan hitam di tengah berlangsungnya paradigma musik digital . Dalam kurun waktu 4 tahun belakangan penjualan piringan hitam naik 300 persen dengan penjualan di tahun 2006 sebesar 858.000, menjadi 2,5 juta di tahun 2009. Menurut data yang dikeluarkan oleh Nielsen SoundScan tahun 2010, penjualan piringan hitam telah mencapai 2,8 juta keping .

Agus pemilik gerai musik Warung Musik Blok M Square dan Majemuk Record bersama Denny Sakrie dan David Tarigan.

Agus pemilik gerai musik Warung Musik Blok M Square dan Majemuk Record bersama Denny Sakrie dan David Tarigan.

Bahkan data per juni 2011 penjualan album vinyl terjual 40 persen melebihi tahun sebelumnya.
Dan Record Store Day yang berlangsung di Indonesia pada 19 dan 20 April 2014 dan diikuti 16 gerai musik independen dan 11 label musik independen ini setidaknya bisa dianggap sebagai salah satu upaya penggerak untuk mengatasi kelesuan dalam industri musik di Indonesia.

 

Tulisan ini dimuat di Koran Tempo edisi Minggu 20 April 2014

Iklan
Komentar
  1. rheza berkata:

    malam om,,,,om denny saya mahasiswa akhir institut kesenaian jakarta.saya sedang nyusun tugas akhir tentang media piringan hitam. kira- kira om denny bisa bantu ga ya?kalo berkenan sya boleh minta email atau nmr telfon om denny g untuk keterangan lebih lanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s