45 Tahun Perjalanan Musik Ian Antono

Posted: April 28, 2014 in Kisah, Tinjau Album
Saya baru saja menyimak album solo Ian Antono bertajuk “Ian Antono Song Book 1” yang dirilis menandai perjalanan musik gitaris dan komposer asal Malang ini yang ke  45 tahun.Album yang digarap Ian Antono bersama beberapa cameo musik lintas genre ini bagaikan otobiografi musikal .Karena di album ini lelaki kelahiran Malang, 29 Oktober 1950 melakukan revisited atau kunjung ulang terhadap pusparagam karya-karyanya dari era 70an hingga sekarang ini.
Ian Antono (Foto Drigo Tobing)

Ian Antono (Foto Drigo Tobing)

Lagu “Uang” yang pertamakali dibawakan Pretty Sisters pada sekitar tahun 1984,lalu didaur ulang lagi oleh Nicky Astria di tahun 1988, kini diinterpretasikan kembali oleh penyanyi yang cenderung bernyanyi dengan aksen jazz Syaharani.Lirik lagu yang tampaknya masih relevan hingga sekarang ini ,ditangan Syaharani cenderung memiliki jiwa blues rock yang ekspresif. Di album solo debutnya ini Ian Antono terlihat teliti memilih penyanyi dalam membawakan karya-karyanya. Jatidiri dan ekspresi penyanyi agaknya menjadi pilihan utama Ian Antono.Simak saja kekuatan vokal mantan vokalis band rock Boomerang Roy Jeconiah yang mereka-ulang lagu “Kepada Perang” dari album Gong 2000 maupun “Neraka Jahanam” dari album Duo Kribo (1977).Roy memang cukup akrab dengan lagu-lagu karya Ian Antono.Saat masih bergabung dengan Boomerang, Roy Jeconiah pernah menyanyikan lagu “Neraka Jahanam”  dalam album “Segitiga” (Boomerang,1998).Dalam album “Tribute To Ian Antono” (Sony Music,2004),bersama Boomerang Roy Jeconiah justru menginterpretasikan lagu dangdut karya Ian Antono itu menjadi sajian rock yang menggelegar. Mungkin dengan interpretasi rock yang khas dari Roy Jeconiah inilah membuat Ian Antono memilihnya sebagai salah satu vokalis di album solonya ini. Koming Surya penyanyi yang ditemukan oleh Ian Antono di sebuah café di Seminyak, Bali, dipercaya membawakan lagu “Gersang”, karyan Ian Antono, (dari album Nicky Astria) dan lagu “Saksi Gitar Tua” (dari album Gong 2000), karya Ian Antono dengan  lirik yang ditulis oleh Areng Widodo.
Lalu ada Rezi Pratomo, berduet bersama  Ian Antono, yang setelah sekian lama berkarya, untuk pertama kalinya dalam sebuah album,menyanyikan sendiri lagunya,lagu baru yang kali ini diberi judul“Suara Cinta”, liriknya ditulis Areng Widodo.  Selain lagu tersebut, Rezi juga menyanyikan lagu “Tertipu Lagi”,  dari album debut Duo Kribo tahun 1977,karya Ian Antono yang liriknya ditulis Ahmad Abar.
Jemari Ian Antono Menelusuri Dawai Gitar (Foto Drigo Tobing)

Jemari Ian Antono Menelusuri Dawai Gitar (Foto Drigo Tobing)

Ada juga lagu  “Lari”, karya Ian Antono yang liriknya ditulis Fajar Budiman dibawakan Anindimas, vokalis 21st Night. “Lari” diangkat  dari soundtrack film “Alangkah Lucunya Negeri Ini” yang sempat mengantarkan Ian Antono meraih Piala Citra Festival Film Indonesia  2010 sebagai Penata Musik Terbaik. Ada dua karya Ian Antono di album ini  yang disajikan dalam bentuk instrumental yaitu ,“Kepada Perang” (Gong 2000)   dan “Setan Jalanan” (God Bless) .
 
Selama hampir 45 tahun Ian Anton  mendedikasikan diri terhadap musik rock. Meskipun Ian, yang nama kompletnya Jusuf Antono Djojo, juga terlibat dalam penggarapan album-album di luar genre rock. Entah pop atau dangdut, sentuhan rock, terutama dari riff-riff gitarnya, tetap terasa. Hebatnya, Ian menafsirkan rock yang bercita rasa western dengan rasa Melayu. Sepintas saja, orang awam bisa menebak musik yang ditata Ian Antono. Artinya, Ian Antono telah menemukan jati dirinya sebagai seorang pemusik. Tapi, hal ini tidak diperolehnya dalam sekejap. Band demi band dimasukinya. Berbagai rekaman telah digarapnya sejak tahun 1969 hingga sekarang. Musik adalah kehidupan  Ian Antono. Dan  Ian memperlihatkan konsistensi. Perjalanan musiknya yang panjang dimulai saat  bergabung dalam sebuah band bocah saat kanak-kanak di era 60an . Instrumen yang dipegangnya adalah bongo dan sering memainkan lagu-lagu bernuansa Melayu seperti yang dibawakan Orkes yang bernuansa Latin.
Lalu, bersama kakaknya, Ian Antono membentuk Zodiacs. Saat itu ia sedang mengagumi gitaris Hank Marvin dari grup The Shadows (Inggris) serta pasangan gitaris Don Wilson dan Bob Bogle dari kelompok instrumental Amerika The Ventures. Kedua grup itu menonjolkan permainan gitar elektrik. Ketika bergabung ke Irama Abadi (Abadi Soesman) pada 1969, mulailah Ian bermain profesional di Marco Polo Hotel Menteng, Jakarta, selama dua tahun.
Di awal 1970, Ian balik ke Malang memperkuat kelompok Bentoel, yang dibiayai perusahaan rokok Bentoel. Di grup ini Ian sempat bermain drum sebelum akhirnya memetik gitar. Bentoel Band sempat rekaman mengiringi beberapa penyanyi pop seperti Trio The Kings,Emillia Contessa,Benyamin S,Inneke Kusumawati dan banyak lagi. Namun saat tampil di panggung,Bentoel Band justru memainkan musik rock.
Pada 1971-1973 Bentoel adalah grup musik yang aktif melakukan tur ke berbagai kota di Indonesia. Tahun 1975 dua personil Bentoel Band yaitu Ian Antono dan Teddy Sujaya direkrut menjadi anggota God Bless.
Di  era 1970-an, musik rock hanya laku sebagai tontonan panggung. Perusahaan rekaman besar seperti Remaco, Metropolitan, Yukawi atau Purnama menganggap sebelah mata jenis musik ini. Kalaupun ada grup yang merekam album, dipastikan mereka dituntut membawakan lagu-lagu  pop yang mendayu-dayu.. Tak heran God Bless baru merilis album perdana pada 1976 pada label idealis  Pramaqua. Di album ini, God Bless menulis lagu sendiri yang sebagian besar ditulis Donny Fattah dan Ian Antono, di samping menyanyikan lagu Friday on My Mind (The Easybeats) dan Eleanor Rigby (The Beatles).
 Era kreativitas Ian Antono mulai kokoh  justru pada 1980 setelah  sebelumnya berhasil menjadi penata musik untuk beberapa album pop rock seperti Biarawati (Sylvia Saartje, 1977) dan proyek Duo Kribo (Achmad Albar-Utjok Harahap, 1976-1978).
Ian Antono kemudian menjadi peñata musik sederet penyanyi pop,mulai dari  Berlian Hutauruk, Happy Pretty, Dewi Puspa, Angel Pfaff, Hetty Koes Endang,  Grace Simon hingga Ebiet G Ade.. Dengan cerdas Ian membalut sentuhan rock dalam lagu-lagu pop mereka.. Mungkin lewat tangan Ian jugalah musik rock yang sempat terpinggirkan berubah menjadi tambang emas. Lihat saja sukses yang diraih Nicky Astria sebagai penyanyi rock wanita di pertengahan 1980-an lewat album Jarum Neraka, Tangan Setan, dan Gersang. Sukses Nicky lalu menjadi tren munculnya istilah lady rockers, ditandai oleh Anggun C. Sasmi, Nike Ardilla, Jossy Lucky, Mel Shandy, Ayu Laksmi, Lady Avisha, Cut Irna, Ita Purnamasari, dan Mayangsari.
Bukan hanya itu, Ian Antono mulai menangani album penyanyi rock pria yang berawal Achmad Albar, Ikang Fawzy, Freddy Tamaela, Gito Rollies,Deddy Stanzah,Dolf Wemay  dan lainnya. Tangan dinginnya terlibat dalam memoles dua album fenomenal Iwan Fals 1910 dan Mata Dewa. Ian meraih  penghargaan Penata Musik Terbaik album Mata Dewa dalam BASF Award 1992.Ian juga ikut membina regenerasi grup rock dengan menuntun sederet grup rock ke dunia rekaman, seperti Grass Rock, El Pamas, Whizz Kid, U-Camp, Sket, Geger, dan Jaque Mate. Menurut Ian, jika tidak ikut langsung dalam membina mereka niscaya sejumlah grup rock senior justru tak akan memiliki pengganti. Alhasil rock di negeri ini bakal pupus. Dalam album Tribute to Ian Antono yang dirilis oleh Sony Music Indonesia, Ian malah tampil bersama grup rock baru Gallagasi yang didukung dua putranya, Stefan Antono dan Rocky Antono. Setelah membubarkan grup Gong 2000 secara resmi pada acara tutup tahun 2000 dalam sebuah konser perpisahan di Ancol, Ian Antono tetap bertahan dengan  God Bless Selain memiliki aktivitas dan kreativitas tinggi, tak bisa disangkal jika Ian Antono sebagai pemusik yang berpengaruh dalam gugus musik di negeri ini. Tradisi menulis lagu, terutama musik rock dengan syair Indonesia, bisa jadi ditularkan oleh Ian Antono dan grupnya, God Bless. Upaya God Bless menembus rekaman dengan idealisme musik rock  pada paruh era  1970-an hasilnya dirasakan oleh para pemusik rock hingga sekarang.
Bertutur tentang perjalanan musik rock Indonesia tanpa menyebut sosok Ian Antono merupakan sebuah kekeliruan besar. 
 
 
Komentar
  1. Asriat Ginting mengatakan:

    Sedikit ralat, mas Denny.Tanggal lahir Ian Antono bukanlah 29 Maret melainkan 29 Oktober. Lalu penulis lyric Syair Gitar Tua adalah Areng Widodo, bukan Ali Akbar seperti yang tercantum dalam CD tersebut. Ini adalah salah satu penyebab keterlambatan edar CD Ian Antono – Songbook 1, karena hendak merevisi kesalahan itu terlebih dahulu.

    Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s