Mengenang Idris Sardi (1938 – 2014)

Posted: April 28, 2014 in Obituari
Tadi pagi sekitar jam 8 saya mendapat BBM dari Sys NS yang mengabarkan bahwa maestro musik Indonesia Idris Sardi telah meninggal dunia senin 28 April 2014 jam 07:20 WIB di Rumah Sakit Meilia Cibubur .Idris Sardi,penggesek biola,pianis,bassist,komposer,arranger dan actor, yang dilahirkan pada tanggal 7 Juni 1938 ,berpulang dalam usia 75 tahun.
Saya merasakan penyesalan yang teramat dalam, karena beberapa waktu lalu selalu tidak sempat mengunjungi almarhum yang tengah terbaring sakit di kediamannya di kawasan Beji Depok. Terakhir saya mendengar Idris Sardi masuk Rumah Sakit Meilia Cibubur.Setahun ini Idris Sardi telah beberapa kali keluar masuk Rumah Sakit .
Saya terakhir bersua dengan Idris Sardi pada hari jumat 30 Agustus 2013 saat menghadiri Pameran Gitar Lukis “Dawai Dawai Budjana” gitaris Dewa Budjana yang berlangsung di Museum Nasional Jakarta.Karena tempat pameran yang ramai saya hanya sempat ngobrol sebentar dengan Idris Sardi.
Saya juga masih ingat ketika Idris Sardi melalui putrid sulungnya Santi mengundang saya untuk hadir dalam peluncuran buku biografinya yang disusun Fadli Zon “Perjalanan Musik Maestro Indris Sardi” yang berlangsung di Ballroom Kartika Chandra selasa 23 Oktober 2012.
“Ada beberapa tulisan anda yang dimasukkan dalam buku biografi saya tuh” ucap Idris Sardi lirih.
Idris Sardi memang sosok lelaki yang tegas dan lugas.Namun sesungguhnya Idris yang telah tampil bersama orkes simfoni dalam usia dini adalah sosok humoris yang bisa diajak ngobrol apa saja.
Enam tahun silam saya bermaksud untuk mewawancarai Idris Sardi  untuk keperluan penulisan buku saya “100 Tahun Musik Indonesia” dan “Jejak Musik Anak Pegangsaan”
Mulanya saya menghubungi Santi Sardi.Lalu Santi mengatur pertemuan dengan Idris Sardi yang lebih suka dipanggil Mas Idris Sardi.Jadwal dan tempat pertemuan lalu diarancang oleh Santi Sardi.
Mas Idris Sardi seperti biasa tepat waktu.Dia ditemani puterinya Santi Sardi,penyanyi dan aktris cilik era 70-an.Dan saya datang bersama dedengkot pemusik Pegangsaan Keenan Nasution.Kita bertemu di Cinere Mall jam 13:00 WIB kamis 6 November 2008
Bersama Idris Sardi dan Keenan Nasution di Cinere Mall kamis 6 November 2008 (Foto Denny Sakrie)

Bersama Idris Sardi dan Keenan Nasution di Cinere Mall kamis 6 November 2008 (Foto Denny Sakrie)

Mas Idris Sardi siang itu mengenakan “seragam” kebesarannya : sarung, serta  membawa setumpuk  album foto masa silam  diantaranya foto saat bersama Orkes Simphony-nya tampil di TVRI pada tahun 1976 mengiringi kelompok vokal Saka Suara yang terdiri atas Chrisye,Keenan Nasution,Berlian Hutauruk,Rugun Hutauruk dan Bornok Hutauruk.
Lantas mas Idris Sardi,memperlihatkan foto-foto lainnya yaitu saat di studio bersama pemusik Orkestra Jepang dan Orkestra Australia tengah menggarap music score film-film layar lebar Indonesia.
“Saya sejak tahun 1969……luar biasa sibuk.Mondar mandir antara main musik rekaman,musik untuk film dan orkes simfoni.Pipi saya jadi kempot he he…..Di Pesawat pun saya gunakan untuk bikin partitur…..Anda bayangkan itu ” kata Idris Sari penuh semangat.
Daya ingat Idris Sardi masih tajam.Idris Sardi yang wajahnya tak pernah berubah itu kemudian  bercerita bahwa di tahun 70-an selain dikenal sebagai Idris Sardi,dia juga lebih dikenal sebagai Idris Simfoni.
Mas Idris Sardi juga bercerita tentang bagaimana dia berupaya agar Orkes Simfoni itu bisa memasyarakat.
”Anda ingat gak ?…..di tahun 70-an ada acara musik klasik yang ditampilkan di TVRI menampilkan Orkes Simfoni NHK Jepang yang memainkan repertoar klasik seperti Mozart,Schubert,Beethoven dan lain lain.Acara ini disponsori oleh Astra International.Tapi tau gak……begitu acara ini ditayangkan…..kebanyakan penonton langsung mematikan TV.Mereka gak ngerti.Mereka merasa musik klasik  berat.Jadi momok.Dan ini perlu waktu untuk ke arah itu” cerita Idris Sardi perihal musik klasik di Indonesia.
“Lalu saat itu saya ditantang oleh Drs Sumadi sebagai Dirjen RTF untuk tiap bulan menampilkan orkestra di TVRI.Saya pun mengajukan konsep ……Tau gak apa konsepnya.Saya ingin mengedukasi penonton…..tidak serta merta langsung musik klasik yang kelotokan.Caranya ? saya membongkar lagu-lagu daerah,lagu-lagu perjuangan,keroncong hingga lagu-lagu Barat yang lagi ngetop kayak Feeling-nya Morris Albert.Itu saya sajikan dengan orkestra.Sudah barang tentu dengan arransemen yang disesuaikan.Responnya ternyata baik.Ketika saya memainkan Walang Kekek dan Es Lilin,penonton terbawa dan terhanyut,karena mereka kenal dengan lagu-lagu ini” tukas Idris Sardi.
Jadi,kata Idris,konsep saya adalah menghidangkan makanan gado-gado dengan menggunakan piring,garpu,sendok dan serbet,tidak beralaskan daun pisang.Itu tamsil kata Idris Sardi.Namun Idris toh banyak menuai kritik dari kritikus musik.”Saya ingat bener Franki Raden hingga Suka Hardjana mengecam saya.Bahwa orkes simfoni ya…..musik klasik.Dan menurut saya anggapan itu keliru besar” ujar Idris Sardi.Karena akhirnya memang terbukti bahwa musik pop bahkan rock pun juga tetap afdol berbalut orkestra.
Dan saat itu Idris Sardi pun dekat dengan anak muda.”Saya sempat membagi ilmu dengan 10 pemusik muda yaitu tentang teori Harmoni Musik.Belajarnya di beranda rumah Keenan Nasution di Pegangsaan.Mereka adalah Keenan,Addie MS,Raidy Noor,Marusya Nainggolan,Candra Darusman,Ikang Fawzy,Yockie,Riza Arshad ……..” tukas Idris Sardi.
Yockie pun ikut melibatkan Idri Sardi dan Orkes Simfoninya dalam acara “Musik Saya Adalah Saya” di Balai Sidang Senayan Jakarta pada tahun 1979.
Di paruh 80-an Idris Sardi dan orkestranya bahkan tampil bersama sederet grup rock seperti SAS hingga Giant Steps termasuk Sylvia Saartje.Jauh sebelum Erwin Gutawa menampilkan “Rockestra” di tahun 2000 di Jakarta Convention Center.
Idris Sardi dari era k era memang selalu tampil dengan berderet pemusik yang jauh lebih muda usianya dari dirinya. Tahun 2005 Idris Sardi ikut menyumbangkan gesekan biolanya yang khas dalam lagu “Masih Tetap Tersenyum” yang terdapat pada album Padi.
Tahun 2012 Idris Sardi ikut mendukung penampilan Peterpan tanpa Ariel dalam album bertajuk “Suara Lainnya” dan “Konser Tanpa Nama” .
Jika membolak-balik sejarah musik popular Indonesia dari era akhir 50an hingga sekarang ini, maka tak syak lagi sosok Idris Sardi selalu ada.
Selamat jalan Mas Idris ! 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s