Memandu Konser Kecil White Shoes and The Couples Company

Posted: April 29, 2014 in Liputan, Opini

Untuk kesekian kali saya diminta untuk memandu konser musik Orkes White Shoes and The Couples Company.Kenapa Orkes ? Aha….ini sebetulnya hanya mencoba mengangkat istilah yang pernah dipakai pada era 50an dan 60an dalam khazanah dunia musik Indonesia, dimana sebuah kelompok musik masih disebut dengan istilah Orkes.Saat itu memang belum dikenal istilah band. Jadi saat saya memandu konser kecil White Shoes and the Couples Company pada 27 April 2014 di Kopi Tiam Tan yang berada di area SCBD Sudirman saya menyebut mereka sebagai Orkes White Shoes and The Couples Company.

Inilah Orkes White Shoes and The Couples Company

Inilah Orkes White Shoes and The Couples Company

Santai dan separuh becanda adalah atmosfer yang kerap saya rasakan jika memandu konser White Shoes and The Couples Company.Apalagi mereka,Sari,Mela,Rio,Ale,Ricky dan John, kesemuanya memang selalu bersikap santai.Walhasil konser White Shoes and The Couples Company yang dikaitkan dengan peluncuran vinyl Menyanyikan Lagu2 Daerah bisa berlangsung penuh keintiman.

Saat membuka penampilan White Shoes and The Couples Company sore itu saya memperkenalkan mereka sebagai kelompok musik yang didukung oleh 3 etnis besar yang memiliki kemampuan berdagang yaitu etnis Arab,Cina dan Melayu sembari memanggil Ale sang gitaris yang turunan Arab,drummer John yang berdarah Tionghoa serta keempat lainnya Rio,Sari,Mela dan Ricky yang mewakili etnik Melayu.Saya menyebut mereka sebagai saudagar yang bermusik,tentunya ini sekedar canda untuk mencairkan suasana.Kenapa saya menyebut mereka saudagar dengan intuisi berniaga yang tinggi, karena ternyata sore itu sekitar 100 keping vinyl White Shoes and The Couples Company Menyanyikan lagu2 Daerah habis terjual.Laris manis.Fantastis.Harga yang dibandrol Rp 280.000 sepertinya bukan kendala bagi para penggemar  White Shoes and The Couples Company.

GG

Sore itu,konser Orkes White Shoes and The Couples Company dibagi dalam dua sesi.Sesi pertama mereka membawakan lagu-lagu dari album debut serta Album Vakansi termasuk saat mengcover lagu milik Jimi Hendrix Crosstown Traffic.Tak lupa juga mereka menginterpretasikan lagu karya Fariz RM di tahun 1979 “Selangkah Ke Seberang”.

Orkes White Shoes and The Couples Company di Kopi Tiam Tan SCBD 27 April 2014 (Foto Denny Sakrie)

Orkes White Shoes and The Couples Company di Kopi Tiam Tan SCBD 27 April 2014 (Foto Denny Sakrie)

White Shoes and The Couples Company dimata saya adalah Orkes yang termapil melakukan interpretasi terhadap lagu-lagu milik pemusik lain dengan menjadikannya sebagai signatural mereka sendiri.Artinya White Shoes mampu menjadikan lagu orang lain seolah menjadi karya mereka dengan jatidiri yang khas.

Interpretasi mereka terhadap khazanah lagu-lagu daerah yang pernah mencapai tingkat kejayaan di Indonesia pada akhir 50an hingga era 60an pun merupakan satu catatan khusus terutama bagaimana upaya mereka melestarikan karya-karya seniman musik era masa lalu ke dalam penyajian yang terasa kekiniannya.

Di dasawarsa itu ,50an dan 60an, sebagian besar pemusik Indonesia menebar karya dalam bahasa daerah masing masing mulai dari bahasa Jawa,Sunda,Minang,Kalimantan,Minahasa,Ambon,Bugis Makassar hingga Papua.Dan bisa populer contoh misalnya ketenaran lagu Ayam Den Lapeh,Lembe Lembe Lembe,Anging Mamiri hingga O  Ina Ni Ke Ke dan masih banyak lagi.

Vinyl Orkes White Shoes and The Couples Company Menyanyikan Lagu2 Daerah

Vinyl Orkes White Shoes and The Couples Company Menyanyikan Lagu2 Daerah

Kenapa lagu-lagu daerah bisa mengangkasa saat itu.Ini mungkin merupakan dampak dari maklumat presiden Soekarno yang bersikap anti Barat dan berinisiatif mengangkat budaya bangsa sendiri.Itu jelas termaktub dalam Manipol Usdek.Musik Barat bagi Bung Karno dianggap sebagai musik ngak ngik ngok yang tak sesuai dengan jatidiri bangsa.

Sebetulnya ini upaya bagus dari seorang pemimpin negeri yang menaruh perhatian luar biasa dalam seni dan budaya.

Momen ini kemudian ditangkap dan diolah lagi oleh White Shoes and The Couples Company yang lalu menggagas untuk merekam Lima lagu-lagu daerah yang pernah ngetop pada masanya di Studio rekaman milik Pemerintah Lokananta Solo.

Sebelum memasuki sesi kedua dimana White Shoes and The Couples Company akan menyanyikan lagu-lagu daerah, saya sengaja memutar kembali piringan hitam EP 45 RPM yang memuat lagu berbahasa Sunda karya Koko Koswara “Tjangkeurileung” yang di era 60an dinaynyikan oleh Jules Fiole bersama Orkes Simanalagi pada label Irama milik Soejoso Karsono.Sejenak penonton menyimak dengan takzim versi Jules Fiole yang dipengaruhi aura rock n’roll.

White Shoes and The Couples Company (Foto Denny Sakrie)

White Shoes and The Couples Company (Foto Denny Sakrie)

Usai pemutaran vinyl Jules Fiole saya memanggil personil Orkes White Shoes And The Couples Company untuk berbincang-bincang perihal album Menyanyikan Lagu2 Daerah yang ternyata mendapat respon bagus dari anak muda yang menggemari White Shoes and The Couples Company.

Setelah itu Orkes White Shoes and The Couples Company kembali tampil dalam sesi dua yang membawakan lagu-lagu daerah mulai dari Tjangkeurileung hingga Tam Tam Buku.

Apa yang dilakukan Orkes White Shoes and The Couples Company yang membongkar ulang khazanah lagu-lagu daerah jelas merupakan upaya terpuji membingkai mahakarya musik Indonesia yang selama ini kerap terabaikan bahkan terlupakan oleh generasi-generasi setelahnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s