Arsip untuk Mei, 2014

Secara gak sadar saya sebetulnya telah mendengarkan pola permainan bass yang unik dan energik dari Jimmy Haslip sejak tahun 1978, saat saya duduk dibangku kelas 3 SMP.Saat itu saya baru saja membeli kaset Gino Vannelli yang berjudul “Brother To Brother” yang hampir semua lagu-lagunya ciamik terutama lagu epic bertajuk “Brother To Brother” yang meramu jazz rock dengan pendekatan artistik nan memukau.Nah di lagu ini hanya memasukkan bass gitar elektrik di bagian interlude saja,selebihnya adalah bunyi-bunyian synthebass yang dimainkan Joe Vannelli, kakak Gino Vannelli sang arsitek musik sekaligus pemain keyboardnya.Nah,di bagian interlude lagu ini menyeruak solo bass yang sangat luar biasa dan berpadu dengan gebukan drum Mark Craney, seperti sebuah dialog yang responsif. Beberapa tahun kemudian saya baru tahu pencabik bass di interlude lagu “Brother To Brother” itu adalah Jimmy Haslip, pemusik kidal  yang sejak paruh era 70an telah menjadi session player sederet album-album pop maupun rock hingga jazz.

Dalam obrolan dengan Jimmy Haslip, saya akhirnya tahu bahwa Jimmy mulai bermain drums di usia 7 tahun.Kemudian beralih meniup tuba serta trumpet.hingga akhirnya menemukan keseriusan saat memetik dawai bass gitar.

 

Kesukaan saya terhadap karakter permainan bass Jimmy Haslip berlanjut di era 80an saat membeli kaset Yellowjackett yang ternyata pemain bassnya adalah Jimmy Haslip.Ada dua album awal Yellowjackett yang saya suka saat itu yaitu album debut yang dirilis tahun 1981 dan album Mirage A Trois yang dirilis tahun 1983.

Saya saat bertemu Jimmy Haslip di Brobodubur Hotel Maret 2014 (Foto Denny Sakrie)

Saya saat bertemu Jimmy Haslip di Brobodubur Hotel Maret 2014 (Foto Denny Sakrie)

Kekaguman saya terhadap Jimmy Haslip yang berdarah Puerto Rico ini kian menjadi setelah mengetahui bahwa Jimmy Haslip ikut mendukung penggarapan album solo internasional Indra Lesmana di label Zebra/MCA  tahun 1986 “For Earth And Heaven”. Secara langsung saya melihat penampilan Jimmy Haslip saat tampil di Jakarta bersama Yellowjackett di tahun 1994. Setelah itu Yellowjackets datang lagi ke Jakarta menggelar konser di Tennis Indoor Senayan tahun 2006 serta di Surabaya,Bandung  dan juga Medan , lalu tahun 2008 muncul di arena Jak Jazz Festival di Istora Senayan tahun 2008. Saat tampil di Jak Jazz 2008 penampilan Yellowjackets disertai bintang tamu gitaris Indonesia Tohpati.

Lalu bulan April 2014 lalu Jimmy Haslip bersama drummer Chad Wackerman ikut mendukung album solo Tohpati “Tribal Dance” yang dirilis Moonjune Record New York.

Jimmy Haslip,saat saya menanyakan komentarnya mendukung album solo Indra Lesmana dan Tohpati, mengatakan bahwa di Indonesia ternyata banyak pemusik yang memiliki karya-karya bagus dalam musik jazz.”Saya sangat menikmati saat melakukan rekaman dengan Indra juga Tohpati” ungkap pemusik bertubuh tinggi besar kelahiran 31 Desember 1951 di Bronx New York.

Dan Jimmy Haslip saat penyelenggaraan Java Jazz Festival 10th Anniversary juga ikutan tampil dalam sebuah proyek kolaborasi dengan gitaris Chuck Loeb,keybaordis Jeff Lorber ,drummer Lionel Cordew dan saxophonis Everette Harp.

Jimmy Haslip memang sudah tak asing lagi dengan atmosfer Jazz di Indonesia

Londoner dari Yogya

Posted: Mei 31, 2014 in Opini, Tinjau Album

Sebuah hibrida musik pop yang rasanya berat untuk dikonsumsi kuping pop.Tapi toh kreativitas semacam
ini justeru tak sepantasnya dihindari.Karena album “The Place I wannaGo” yang dirilis kelompok Risky Summerbee & The Honeythief yang bermuasal dari Yogyakarta ini layak untuk diapresiasi .

CD Risky Summerbee & The Honeythieft (Foto Denny Sakrie)

CD Risky Summerbee & The Honeythieft (Foto Denny Sakrie)

Meskipun saya tak tahu mengapa sang konseptor utama kelompok ini Risky Summerbee begitu terobsesi ingin menjadi Londoner ? Cara bertutur,ekspresi vokal dan pelbagai elemen pendukung musiknya sangat menyiratkan ke arah itu.Sebelas lagu yang termaktub di albuim ini,semuanya ditulis dalam bahasa Inggeris.
Walau terkadang dibeberapa bagian lagu Risky seolah tak kuasa juga untuk mernyuspkan pengaruh musik tradisi tempat dia dilahirkan : Indonesia.
Simaklah komposisi bertajuk “I Walk The Country Mile”,Risky menyeluspkan rhythm Jawa lewat tiruan ritme Gamelan dengan struktur nada pentatonik.Dia memang tak bermaksud bergenit-genit atau upaya sok eksotik untuk memukau penyimak musik dari belahan bumi sana.Tapi seolah sebuah spontanitas.Nuansa Jawa ini menggeletar bersamaaan dengan gaya sub-genre RIO (Rock In Oposition) seperti yang diusung grup seperti Henry Cow misalnya.
Penyuka rock progresif pasti akan bergirang jika mernyimak track-track pungkasan album ini seperti “The Seagull” yang kuat karakter rock progresifnya.Tak jelas apakah Risky pernah melumuri kupingnya dengan torehan-torehan Robert Fripp dengan King Crimson-nya.
Dan penyuka geletar psychedellia pun terwakili lewat komposisi komposisi seperti “Flight To Amsterdam” atau “The Place I Wanna Go”.Corak petikan gitar hingga susupan organ Hammond yang menjejal di kedua lagu ini menyiratkan bahwa Risky memang tengah terseret arus pschedelic yang di era 60-an kabarnya merupakan pengejawantahan ritual mind expanding yang trippy.
Dan lagu “Flight To Amsterdam” menjadi kian berkilau karena ternyata makna yang ditakwilkan dari barisan larik lagunya yang metaforik itu tengah bertutur tentang tragedi mengerikan yang dialami aktivis kemanusiaan Munir dalam perjalanan terbang ke Amsterdam.
Busana arransemen yang dijelujur Risky seoalh menjadikan kita tengah dalam sebuah perjalanan penerbangan.Permaianan Hammond Nadya di bagian introduksi serta kian menggelegak pada bagian interlude mengingatkan kita pada absurditas organ Ray Manzarek dari The Doors.Lirik lagunya bahkan memintal quote tajuk dari dua lagu The Beatles :Lucy In The Sky With Diamond dan Magical Mystery Tour .
Risky pun tak urung mengimbuh dua lagu dengan pengaruh folk rocvk yang kuat dalam “Fireflies” maupun “On A Bus” yang membidik lanskap sosial.Bayangan Robert Zimmerman a.k.a Bob Dylan mencuat manakala menyimak lagu ini.Risky mencoba berminimalis lewat “Make It Print of Me” yang kontemplatif.
Risky mengakui banyak terpengaruh pada idiom musik pop yang menggelegak antara tahun 1966-1974,yang oleh sementara orang sering disebut sebagai era emas musik pop dunia.Dia menyimak The Beatles,Them,Traffic,Pink Floyd hingga Paul Weller yang pernah mengukir nama lewat The Jam maupun Style Council.
Malam ini jika anda belum pernah menyimak musik Risky Summerbee & The Honeythieft seyogyanyalah kudu meluangkan waktu untuk mengapresiasi penampilan band Yogyakarta ini di Teater Salihara Jakarta mulai jam 8 malam.

Tracklist

1.She Flies Tomorrow
2.Love Affair No.9
3.With You
4.Flight To Amsterdam
5.Slap & Kiss
6.On A Bus
7.Fireflies
8.Make A Print Of Me
9.The Place I Wanna Go
10.I Walk The Country Mile
11.The Seagull

Pesona Laya Pesulima

Posted: Mei 25, 2014 in profil

Saya pertama kali bertemu dengan putri kandung almarhum Broery Pesulima ini pada hari minggu 18 Agustus 2013 di Assembly Hall Jakarta Convention Center di event Kongres Diaspora Indonesia yang digagas Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

Malam itu, Laya yang bernama lengkap Nabila Methaya Pesulima Putri bernyanyi diiringi permainan piano Abadi Soesman.”Saya sangat bangga malam ini diiringi oleh Om Abadi Soesman, teman papa dalam kelompok The Pro’s”. Putri Broery Pesulima ini tampaknya memang mewarisi bakat tarik suara dari sang ayah.Suaranya berkarakter.Laya memang layak diperhitungkan karirnya di masa depan.

Laya Pesulima Putri (Foto Denny Sakrie)

Laya Pesulima Putri (Foto Denny Sakrie)

Suara khas laya memang telah menghiasi soundtrack film layar lebar O My God karya sutradara Rako Prijanto lewat lagu Hilang yang ditulis oleh pianis jazz Nial Djuliarso dengan lirik yang digurat Venna Anissa.Menurut Laya, itulah debut nyanyi yang dilakukannya dalam bentuk rekaman.

Laya menetap di Bethesda, Maryland, Amerika Serikay , bersama saudara lelakinya, Indonesia Pesulima yang kerap dipanggil Don , dan ibunya, Wanda Irene Latuperisa. Di Amerika,Laya  kerap menyanyi di ajang-ajang amatir. Di sekolahnya, Walt Whitman High School, siswa tahun kedua tersebut menjuarai lomba tarik suara Walt Whitman Idol.

 

Dalam percakapan singkat dengan saya.Laya Pesulima mengaku, tertarik  berkecimpung di dunia musik terutama olah vokal, lantaran terilhami  oleh sepak terjang sang ayah  Broery Pesulima .

 

 

Sosok Hits Maker 80an, Cecep AS

Posted: Mei 25, 2014 in Opini

Coba kalian buka cover kaset pop era 80an ,niscaya akan kalian temukan banyak lagu-lagu hits era tersebut yang ditulis oleh seseorang dengan nama Cecep AS.Mulai dari Rafika Duri hingga Atiek CB.

Album solo Cecep AS yang kurang sukses dibanding lagu-lagu karyanya (Foto Denny Sakrie)

Album solo Cecep AS yang kurang sukses dibanding lagu-lagu karyanya (Foto Denny Sakrie)

Peruntungan Cecep AS sebagai seorang hit maker berawal saat lagu karyanya Tirai berhasil dipopulerkan oleh Rafika Duri. Lagu pop melankolia ini langsung diputar terus menerus di radio-radio swasta.dan lagu Tirai pun menjadi hits besar saat itu.

Sejak itu, lagu-lagu karya Cecep AS mulai banyak dinyanyikan sederet panjang penyanyi populer mulai dari Atiek CB,Ramona Purba,Harvey Malaihollo,Andi Meriem Mattalatta,Ermy Kullit,Jayanti Mandasari,Djatu Parmawati  dan banyak lagi.

Penikmat musik pop pun mulai menggemari karya-karya Cecep AS seperti Tirai (Rafika Duri),Terlena (Ramona Purba) dan Risau (Atiek CB).

Beberapa waktu lalu Melly bahkan meremake lagu Risau karya Cecep AS tersebut.

 

 

Sewaktu  masih duduk dibangku SD pada era 70an saya selalu menonton penampilan Zulkarnai pemusik tuna netra yang bernyanyi sambil bermain gitar di  layar kaca TVRI. Penampilan Zulkarnain yang berdarah Minangkabau ini cukup memukau dan unik karena dia menyanyi selalu dibumbui dengan menghadirkan semacam efek suara dari mulutnya serta memukul-mukul tubuh gitar untuk memperoleh efek bunyi  perkusi.Terkadang Zulkarnain pun meniup harmonika.Jadilah Zulkarnain sebagai one man band yang memikat pemirsa televisi.

Piringan Hitam Zulkarnain yang dirilis label PopSound Phillips Singapore (Foto Denny Sakrie)

Piringan Hitam Zulkarnain yang dirilis label PopSound Phillips Singapore (Foto Denny Sakrie)

Penampilan Zulkarnain ternyata tak hanya memikat penonton Indonesia melainkan juga ke negeri jiran Malaysia dan Singapore.Tak heran jika perusahaan rekaman Phillips PopSound di Singapore tertarik untuk merekam album Zulkarnain yang saat itu diiringi oleh Zaenal Combo pimpinan Zaenal Arifin lewat album bertajuk Aneka Minang.

Album "Keajaiban" Zulkarnain pada label PopSound Singapore

Album “Keajaiban” Zulkarnain pada label PopSound Singapore

Dilahirkan di Bukit Tinggi tanggal 16 Juli 1938 dari keluarga Muhammad Zain.Di usia 4 tahun Zulkarnain mengalami panas dan demam. Menurut sang ayah Zulkarnain terkena penyakit stuip., dimana akan mengurangi daya penglihatan seseorang.Di saat memasuki usia 12 tahun,Zulkarnai mengalami kebutaan.

Sejak kecil bakat Zulkarnain memang telah terlihat jelas.Pada usia 5 tahun,Zulkarnain mulai suka meniru-niru lagak orang bernyanyi..Setahun setelah mengalami kebutaan,Zulkarnain untuk pertamakali tampil menyanyi di depan corong RRI Bukit Tinggi Sumatera Barat sambil memetik gitar akustik.Saat itu Zulkarnain mulai dikenal dengan sebutan Band Tunggal.Apalagi Zulkarnain memang anak semata ayang alias anak tunggal.

Untuk ketrampilan memetik gitar,Zulkarnain yang berzodiak Cancer ini belajar pada guru gitar yang bernama Adnil Moeis.Seterusnya Zulkarnain belajar sendiri termasuk mempeljari banyak repertoar lagu mulai dari lagu-lagu Indonesia,Mandarin,Inggris,India,Jepang hingga ke lagu-lagu daerah.Prestasi yang pernah dicapai Zulkarnai adalah pernah menjadi juara Bintang Radio RRI Bukit Tinggi sebanyak 11 kali serta merekam album di Singapore.

Akhirnya Zulkarnain memutuskan untuk mencari peruntungan dalam dunia hiburan ke Jakarta ditemani kedua orang tuanya setelah sebelumnya selama sekitar 2 bulan lebih berada di Yogyakarta untuk belajar huruf Braille Arab agar bisa mengaji dan ikut dalam lomba mengaji Musabaqah Tilawtil Qur’an (MTQ).

Di Jakarta Zulkarnain numpang di rumah penyanyi pop wanita asal Padsang Elly Kasim.Melalui bantuan Elly Kasim, Zulkarnain memperoleh peluang untuk tampil di layar kaca TVRI. Sejak itulah sosok Zulkarnain mulai dikenal luas dimana-,mana.

Sayangnya, rekam jejak Zulkarnain seperti hilang ditelan zaman.Hampir tak satu pun orang yang mengetahui atau setidaknya mengingat kiprah Zulkarnain dalam dunia hiburan.

Mus Mualim, Mualim Musik

Posted: Mei 25, 2014 in Sejarah, Sosok

Jika musik itu kapal, maka Mus Mualim tak syak lagi adalah mualim musik yang mengarahkan musik ke pelbagai penjuru mata angin.Tamsil kata yang saya paparkan ini mungkin tepat untuk menggambarkan posisi seorang Mus Mualim dalam konstelasi musik populer di negeri ini.

Mus Mualim mengarahkan musik Tiga Dara Sitompul di era 60an

Mus Mualim mengarahkan musik Tiga Dara Sitompul di era 60an

Lalu siapakah sosok Mus Mualim ?

Mari kita telusuri hikayat kehidupannya.

Mus  Mualim saat masih berusia belia pernah menjadi guru mengaji di kampungnya, Cirebon. Ayah Mus Mualim  adalah pedagang barang bekas.

Lelaki yang memiliki bakat musik ini dilahirkan dengan nama Muslim di Bandung 12 Februari 1935.

Suatu ketika  Mus Mualim  menemukan sebuah gitar tua di atas tumpukan barang bekas dagangan ayahnya. Berbekal Dengan gitar usang  itulah Mus Mualm a mulai mempelajari musik dengan tekun. Setelah pandai memetik gitar, kemudian ia beralih belajar bermain bass dan bergabung dengan sebuah grup orkes keroncong yang sering tampil di RRI Cirebon. Mus juga  sempat belajar piano secara gratis dengan seorang guru berkebangsaan Belanda, Namun tidakk berlangsung lama karena saat itu Mus Mualim tidak memiliki piano dan sang guru keburu balik ke negaranya.

Menjelang penyelenggaraan kompetisi  Bintang Radio di Cirebon, pemain piano yang bertugas mengiring lomba tersebut menghilang dan pimpinan orkes langsung memilih Mus Mualim  sebagai pemain piano pengganti. Setelah dilatih secara spartan selama dua bulan, akhirnya Mus Mualim tampil juga sebagai pianis. Sejak saat itu memperdalam ketrampilannya memainkan piano.Sejak itu pula  khalayak mulai mengenalnya sebagai seorang pianis.

Pada awal tahun 1950-an, Mus Mualim  pindah ke Jakarta atas ajakan gitaris  Sadikin Zuchra  . Mendengar berita bahwa  pianis jazz bernama Nick Mamahit akan tampil di sebuah konser yang diselenggarakan di RRI Jakarta, dengan semangat yang melup-luap Mus Mualim datang ke tempat pertunjukkan tersebut dengan tujuan  agar dapat melihat langsung  gerakan jari  jemari “jagoan” gaya progresif lulusan sekolah musik Belanda itu.

Mus Mualim yang mengidolakan pianis jazz  Duke Ellington ini kemudian mulai tekun  memperdalam jazz sejak tahun 1961 dan mulai tampil sebagai aranger Orkes Simfoni Radio Jakarta. Bersama Bubi Chen, ia membuat rekaman jazz, dan bersama Benny Mustapha membentuk band populer dengan nama Mus Mustapha, sempat juga membuat album rekaman mengiringi Sitompul Bersaudara dibawah label Irama milik komodor Soejoso Karsono atau dikenal dengan panggilan Mas Jos.

Memasuki dasawarsa 60an, Mus Mualim mulai berkubang dalam industri rekaman musik . Bermula  sebagai musical supervisor Studio Piringan Hitam Irama pada tahun 1963 dan menjadi music director sederet rekaman musik populer yang dirilis label Irama.

Mus Mualim juga pernah menyelenggarakan acara-acara jazz beberapa kali di ITB pada tahun yang sama. Berturut-turut membuat piringan hitam sendiri, serta menghasilkan banyak album rekaman dalam kurun waktu 1962-1969.

Pada tahun 1965, membentuk Badan Kerjasama Artis dengan Kostrad bernama BKS-Kostrad dan ia memangku jabatan Wakil Ketua.

Pada masa Orde Lama, musik jazz menjadi salah satu kesenian yang dibantai oleh PKI/Lekra. Namun Mus Mualim malah tak gentar  membuat konser jazz pertama pada tahun 1965, di kampus Universitas Indonesia.

Dalam Expo 1970 di Osaka, Jepang, Mus dipercaya memimpin grup Indonesia Enam yang terdiri dari Maryono (saksofon), Sadikin Zuchra (gitar), George “Tjok”  Sinsoe (bass), Benny Mustapha (drum), Munir Mus, Idris Sardi (biola), dan Mus Mualim sendiri sebagai pianis sekaligus sebagai penata musik.Penampilan Indonesia Enam mencuri perhatian penonton terutama saat membawakan lagu Bajing Luncat dalam ramuan jazz yang memikat.

Ketika TVRI baru lahir, di sekitar tahun 1962, Mus Mualim  memegang jabatan sebagai koordinator artis musik. Juga bertugas menyiapkan aransemen musik bagi musisi yang akan tampil.

Bersama Jack Lesmana, Mus  Mualim menggelar acara yang diberi judul Pojok Jazz. Selain memainkan musik jazz, ia pernah menjadi sutradara film Bawang Putih serta membuat music score beberapa film nasional seperti  Pelabuhan, The Big Village, Hidup, Bintang Kecil (1963), Di Balik Cahaya Gemerlapan, Minah Gadis Dusun, Menyusuri Jejak Berdarah (1965), Cinta dan Air Mata (1970), Ambisi (1973), Inem Pelayan Seksi (1976) dan masih banyak lagi lainnya.

Mus Mualim tak hanya berkutat dengan musik pop dan jazz, tapi juga sempat melampiaskan obsesinya manggung bersama kelompok musik rock asal Pegangsaan Menteng Gipsy di Taman Ismail Marzuki pada tahun 1971.Kolaborasi itu mendapat pujian terutama saat Mus Mualim dan Gipsy membawkan lagu tradisonal “Es Lilin”.

Di paruh era 70an,Mus Mualim bersama sang isteri Titiek Puspa menggarap operette Lebaran di TVRI.

Perkenalkan…… Yanti Bersaudara

Posted: Mei 25, 2014 in profil

Yanti Bersaudara adalah 3 gadis bersaudara dari keluarga Hardjakusumah dari Bandung. Terdiri atas Yani,Tina dan Iin.Mereka ditemukan oleh Hamid Gruno seorang pengarah acara TVRI di paruh era 60an.

Yanti Bersaudara

Yanti Bersaudara

Yanti Bersaudara kemudian muncul di acara musik TVRI bertajuk Gaja dan Irams dengan diiringi band Medenaz yang dipimpin Dimas Wahab. Saat itu Yanti Bersaudara membawakan lagu Abunawas dan Kisah Setangkai Daun karya Yessy Wenas. Soejoso Karsono atau Mas Jos lalu mengajak Yanti Bersaudara rekaman album debutnya di labelnya Irama. Di album debutnya Yanti Bersaudara diiringi kembali oleh Orkes Medenasz pimpinan Dimas Wahab.

Di album debutnya sang kakak Samsudin Hardjakudumsh menuliskan lagu2 seperti Pesan Ibu,Purnama dan Irama,Badju Merah Muda dan Lembajung.Lagu di trackv1 adalah karya Koswara bertajuk Gumbira..Yessy Wenas juga menulis lagu Lampu Aladin,Tiada,Bilakah,Menuai Padi.