Mendokumentasikan Karya Musik

Posted: Mei 24, 2014 in Opini

Gitaris dan komposer Ian Antono mengumpulkan seluruh karya-karyanya yang selama ini tersebar dalam berbagai rekaman yang pernah dilakukannya sejak tahun 1976 lalu karya-karyanya itu diinterpretasi ulang dalam serial rekaman dengan tajuk Ian Antono Song Book. Ini merupakan sebuah kesadaran yang dilakukan oleh Ian Antono sendiri sebagai kreator dalam industri musik.
Tak banyak pemusik kita yang memiliki kesadaran seperti yang dilakukan Ian Antono dalam serial rerkaman Ian Antono Song Book.Kesadaran mendokumentasikan karya jelas merupakan akar penting dalam melestarikan khazanah musik Indonesia.

b-1

Ketika banyak pihak seolah melupakan pencatatan atau pendokumentasian karya musik , upaya yang dilakukan Ian Antono yang baru saja meluncurkan album Ian Antono Song Book 1 ini patut didukung atau setidaknya diteladani.
Begitu banyak karya-karya pemusik Indonesia yang hilang ditelan zaman tanpa adanya pencatatan yang runut dan rapi sejak dahulu kala.Mungkin hanya sebagian yang sempat tercatat, tapi menurut dugaan saya masih begitu banyak yang hilang musnah tanpa bekas.
Jika kita kembali menengok sejarah industri rekaman di Indonesia, dimulai pada tahun 1905 ketika seorang saudagar Tionghoa bernama Tio Tek Hong mendirikan perusahaan rekaman Tio Tek Hong Record di kawasan Pasar Baru pada zaman pemerintahan Hindia Belanda yang merekam berbagai aspek musik bernuansa Indonesia saat itu seperti Gamelan,Stamboel,Gambus dan musik popular dalam medium piringan hitam 78 RPM.

Setelah itu bermunculan label-label rekaman asing seperti BeKa Record dari Jerman yang juga melakukan hal serupa seperti Tio Tek Hong Record.Namun yang jadi pertanyaan,apakah generasi sekarang pernah mendengar atau menyimpan dokumentasi karya-karya pemusik Indonesia di masa lampau itu ?.Jangankan rekaman yang pernah terjadi sekitar 100 tahun yang silam itu, rekaman-rekaman musik Indonesia di era setelah Proklamasi Kemerdekaan hingga ke era 70an maupun 90an bahkan sangat sulit untuk ditemukan secara utuh.Karya-karya rekaman musik Indonesia masa lalu kini hanya menjadi milik para kolektor saja.Sangat memprihatinkan.
Upaya-upaya merilis ulang katalog musik Indonesia era 60an hingga 70an misalnya, justru datang dari orang-orang asing.Beberapa label rekaman asing seperti Strawberry Rain (Kanada),Sublime Frequencies (Amerika Serikat) atau Shadoks (Jerman) merilis ulang album-album rekaman musik popouler Indonesia era 60an hingga 70an seperti Dara Puspita,Koes Bersaudara,Ariesta Birawa,Koes Plus,Sharkmove,Guruh Gipsy,Kelompok Kampungan,AKA,Benny Soebardja dan masih sederet panjang lainnya.
Kita sendiri malah nyaris tak melakukan upaya apa-apa untuk melestarikan khazanah musik Indonesia.Entah kenapa inisiatif selalu muncul dari orang-orang asing.

IA
Tapi kesadaran dan kepedulian seorang Ian Antono yang berupaya menyelamatkan karya-karyanya dalam sebuah album tafsir ulang tentunya patut ditiru oleh insan-insan musik Indonesia lainnya.

Apalagi dalam tafsir ulang karya Ian Antono yang dilakukan sendiri oleh Ian Antono dalam album Ian Antono Song Book 1 ini juga melibatkan kontribusi para pemusik generasi sekarang.Jelas ini merupakan upaya untuk menghindarkan missing link atau putus mata rantai yang terjadi dalam generasi musik Indonesia. Dan kita tak perlu lagi seperti kebakaran jenggot manakala lagu asli karya pemusik Indonesia Rasa Sayange diklaim sebagai karya musik Negara tetangga. .

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s