Mengenang Anto Praboe

Posted: Mei 24, 2014 in Obituari

Ini adalah peristiwa yang terjadi sekitar empat tahun silam. Sekitar jam 19.00 lebih pada hari  Minggu 23 Mei 2010 saya mendapat pesan singkat yang betul-betul singkat dari Iwan Hasan,gitaris dan leader kelompok progresive rock Discus : Den,Anto Praboe telah meninggal jam 7 tadi.Belum habis rasa kaget saya ,mulailah masuk bertubi tubi info mengenai berpulangnya sahabat saya Anto Praboe,pemusik yang menguasai hampir semua jenis alat musik tiup baik western maupun maupun tradisional..Ternyata Anto Praboe yang belakangan terlihat beraura religius meninggal dunia karena serangan jantung.Oh my God !.

Anto Praboe

Anto Praboe

Terbayang lagi wajahnya yang selalu terlihat serius,bagai pejabat.Dulu,Krisna Prameswara,keyboardis Discus sering bercanda menyebut almrhum mirip mantan Mensekneg Moerdiono.Tapi sesungguhnya Anto Praboe juga gemar bercanda.Dia tak seserius tampangnya.
Pertamakali mengenal Anto Praboe di tahun 1999,saat itu saya masih menjadi penyiar di radio “sontoloyo” M97FM The Classic Rock Station.Anto datang ke studio yang berada di flat Jalan Borobudur 10 Menteng Jakarta bersama seluruh kurawa Discus.Saat itu saya tengah ngebahas Discus yang baru saja merilis album pertamanya “Discus 1st” yang dirilis Chicoira Production.
Setelah itu saya memang sering menulis tentang Discus di beberapa media cetak seperti Kompas maupun majalah dan koran Tempo.
Saya pun akhirnya mengetahui bahwa nama Discus justeru diberikan oleh Anto Praboe yang ikut membangun band gokil ini di paruh era 90-an bersama Iwan Hasan dan Fadhil Indra.

Kalau mau dirunut secara kronologis maka Discus berembrio dari dari pertermuan antara Iwan Hasan dan Anto Praboe .Saat itu Iwan Hasan didapuk menjadi conductor sebuah orkestratra yang dibentuk secara khusus untuk membawakan komposisi karya musikolog Franki Raden “Simfoni Merah Putih” dalam perayaan HUT SCTV ke 5 di 1995.
Anto Praboe ternyata adalah principal clarinettist dalam orkestra tersebut. Ternyata lagi ,Iwan Hasan yang juga gitaris dan komposer itu kepincut dengan musikalitas Anto Praboe .Iwan lalu mengajaknya membentuk sebuah band bersama teman lamanya Fadhil Indra, yang telah bermain band bersama Iwan selama 25 tahun sejak keduanya duduk di bangku sekolah dasar. Pada 1996 ketiganya membentuk sebuah band yang kemudian akan bernama Discus,spesies ikan yang gagasannya justeru datang dari benak Anto Praboe.

Anto Praboe (Foto Komunitas Salihara)

Anto Praboe (Foto Komunitas Salihara)

Kredo musik Discus l adalah menciptakan musik yang tidak mengenal batas, melintasi sebanyak mungkin batas pengkotakan genre musik dan menciptakan sebuah style yang original dengan influences yang luas dan berbeda-beda. Tanpa bermaksud menjadi band berlabel “Progressive Rock” maupun “Jazz Fusion”, ternyata album pertama Discus dirilis oleh sebuah perusahaan rekaman Progressive di Italia, sekaligus sebuah label Jazz di Indonesia. Discus tak mengklaim diri sebagai pengusung genre atau subgenre apapun.

Dengan diterimanya musik Discus untuk dirilis oleh sebuah label progressive Italia (dan suksesnya Discus diundang dan tampil di berbagai festival musik progressive mancanegara), maka menjadi sah apabila Discus disebut sebagai group musik Progressive, karena karakter musiknya yang memang “progressive”. Namun dirilisnya album yang sama oleh sebuah label jazz di tanah air (dimana belakangan, enam tahun setelah rilisnya album tersebut disebut sebagai sebuah album JAZZ yang penting oleh Denny Sakrie di majalah Rolling Stone), menunjukkan bahwa Discus tidaklah terikat pada pembatasan apapun dalam mengolah musiknya sehingga menjadi sesuatu yang original sehingga sulit dikotakkan.
Yang khusus dari DISCUS adalah resistensinya untuk sejauh mungkin menjaga intensitas perpaduan pola-pola komposisi yang unik dan inovatif, ketimbang duplikatif. Sebuah penjelajahan ke dalam “percampuran” berbagai elemen seperti jazz, rock, klasik, pop, kontemporer/eksperimental mau pun tradisional ke dalam musiknya.
Bersama Discus Anto memainkan pelbagai instrument tiup,mulai dari klarinet,oboe,flute,saxophones,seruling hingga pui-pui.Yang disebut terakhir adalah sejenis instrumen tiup tradisional khas dari Makassar,Sulawesi Selatan.
Siapakah Anto Praboe ?

Kelompok musik prog-rock Discus tampil di Saligara 5 November 2008 (Foto Salihara)

Kelompok musik prog-rock Discus tampil di Saligara 5 November 2008 (Foto Salihara)

Dia adalah pemusik yang meraih gelar sarjana musik di ISI Yogyakarta.Anto pPernah aktif bermain di berbagai orkestra klasik dan pop serta big band jazz antara lain Twilite Orchestra, Nusantara Chamber Orchestra, Jamz Matra Big Band, Orkes Simfoni Jakarta serta Erwin Gutawa Orchestra. Dalam orkestra-orkestra klasik,Anto Praboe beberapa kali tampil sebagai soloist dalam sejumlah concerto dan selalu menjadi principal clarinetist atau peniup klarinet utama.

Tak syak lagi.alamrhum Anto Praboe merupakanh salah satu clarinetist klasik dan jazz terbaik negeri ini yang kemampuan teknisnya diakui oleh hampir semua peniup kclarinet. Anto juga seorang pengajar dengan banyak murid. Seorang improviser handal dengan ciri permainan yang berteknik tinggi, permainan Anto tidak dapat dipisahkan dari warna musik Discus.
Kita akhirnya memang kehilangan seorang pemusik handal.
Selamat jalan saudaraku Anto Praboe.Tuhan selalu memilihkan jalan terbaik untuk ummatNYa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s