Jazz Bersulam Puisi

Posted: Mei 25, 2014 in Konser, Opini

Denise Jannah (53 tahun) menyapa sekitar 250 penonton yang memenuhi Teater Salihara selama dua malam 24 dan 25 Juli 2009 bersama kuartetnya yang terdiri atas Wolf Martini (gitar),Lesley Joseph (bass), Gilbert Breuer (perkusi) dan Walter Muringen (drum) lewat sajian jazz bersulam puisi.Penyanyi jazz bertubuh gempal kelahiran Suriname Amerika Selatan ini juga tampil di Erasmus Huis Jakarta 26 Juli dan di Yogyakarta 27 Juli 2009.

Konser Denise Jannah di Teater Salihara (Foto Salihara)

Konser Denise Jannah di Teater Salihara (Foto Salihara)

Denise Jannah memang berhasil menyita simpati penonton dengan keramahannya yang tak jarang berbumbu canda.Suaranya mungkin bisa dipadankan dengan songstress seperti Ella Fitzgerald atau Sarah Vaughn.Artikulasinya jelas.

Malam itu Denise tampil dengan multi-lingual.Dia tampaknya memang terampil menyanyikan lagu dalam berbagai bahasa mulai dari Inggeris,Belanda, Prancis , Suriname termasuk Indonesia .

Bukan hanya itu,wanita kulit hitam yang memiliki nama asli Denise Johanna Zeefuik ini juga seorang komposer yang cenderung mengaduk-aduk berbagai gaya musik seperti blues,funk,samba,bossanova termasuk kaseko ,sebuah polar item dari Suriname,dalam bingkai jazz.

Selain mengedepankan berbagai lagu jazz standar seperti “Nature Boy”,”Teach Me Tonight”,”Autumn Leaves”,”How Do You Keep Music Playing”,”Turn Out The Stars” maupun Caravan. Denise yang telah merilis 6 album (3 diantaranya dirilis Blue Note Amerika) ini pun menyajikan sederet lagu lagu yang tercerabut dari karya puisi.

Mungkin disini sisi menarik dari penampilan Denise Jannah.

Inilah Denise Jannah (Foto Salihara)

Inilah Denise Jannah (Foto Salihara)

Memusikalisikan puisi mulai dilakukannya sejak awal 2002 yang ditampilkannya dalam beberapa festival di Belanda , Suriname ,Afrika Selatan,Aruba serta Indonesia . Di tahun 2004 muncullah albumnya yang ke 6 “Gedicht Gezongen” yang diproduserinya sendiri. Berisikan 22 lagu yang semuanya diangkat dari sebuah puisi. Dengan telaten Denise mengumpulkan sejumlah puisi dari berbagai penyair dari Belanda (M.Vasalis,Neeltje Maria Min,Gerrit Komrij,Hans Andreus),Suriname (Shrinivasi,Margo Morrison,Trefossa,Orlando Emmanuels,Celestine Raalte,Michael Siary),Aruba (Ernesto Rosenstand), Curacao (Frank Martinus Arion ,Eis Juliana),Afrika Selatan (C.Louis Leopoldt),St,Maarten (Ruby Bute) dan Indonesia (Sitok Srengenge).

Memusikalisasikan puisi dalam tekstur jazz memang bukan sesuatu yang baru.Di era 60-an saxophonis Stan Getz pernah berkolaborasi dengan penyair Lawrence Ferlinghetti.Di era 70-an Gil-Scott Heron pun melakukan jazz poetry .

Denise Jannah sebelum menyanyikan lagunya,selalu bertutur tentang penyair dan puisi yang dinyanyikannya.

Dia bercerita tentang penyair Ruby Bute dari St Maarten yang menulis “She Walks The Streets.”Ini kisah tentang seorang wanita.Mungkin tuna wisma.Selalu melintas di jalanan dengan wajah yang sedih,tapi ternyata tak mau dikasihani”.

Dengan pola blues Denise pun berdendang :

No one knows what made her fail

What desperation made her walk the streets

She gazes beyond the passing crowds

While her secret cry silentyly

Within her hearts shattered life

Leans up against a wall

Denise lalu menyanyikan puisi karya Frank Martinus Arion,penyair asal Curacao bertajuk “Mi Tin Gana Di Mirabu”,sebuah penafsiran romansa dengan mengambil idiom metaforik.”Dalam bahasa Inggeris artinya When I See You” imbuhnya menjelaskan.

Hanya diiringi petikan gitar Wolf Martini,Denise Jannah kemudian menyanyikan “Voor Een Dag Van Morgen” karya penyair Belanda Hans Andreus.

Lalu dengan gaya samba Denise menyanyikan puisi karya penyair Suriname Celestine Raalte Sondongo.”Sondongo itu artinya sunset” tukas Denise Jannah sembari tersenyum.

Denise Jannah mendaulat penyair Sitok Srengenge (Foto Salihara)

Denise Jannah mendaulat penyair Sitok Srengenge (Foto Salihara)

Kemudian Denise mendaulat penyair Sitok Srengenge ke pentas untuk membacakan puisi “Osmosa Asal Usul” yang ditulis Sitok tahun 1995.

Setelahnya Denise lalu melantunkan puisi Sitok.Notasi yang dibuatnya berdasarkan rima puisi Sitok bagai sebuah senyawa meski lagu ini bergulir tanpa refrain.Dengan introduksi suara ghatam dan saron yang disampling Gilbert Breuer lewat perkusi elektroniknya serta disusul petikan gitar Wolf Martini,maka lagu ini seolah memberi keteduhan pada penikmatnya.Sepintas ada nuansa Indonesia yang menyembul.

Aku bertanya kepada angin

Dari mana asalnya angan

Angin menggoyangkan pucuk pucuk daun

Dan kusaksikan pohon pohon

Melukis lingkaran tahun

Dan Denise Jannah malam itu , seolah melepas sekat sekat budaya,bahasa dan ras lewat musik jazz.

Denny Sakrie,pengamat musik

(Tulisan ini dimuat di Majalah Tempo edisi 3-9 Agustus 2009)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s