Membedah Dangdut di Salihara

Posted: Mei 25, 2014 in Kisah, Opini

Mungkin diantara kita masih ada yang melihat dangdut sebagai jenis musik kelas bawah,disharmonis dan kampungan.Namun seiring pergeseran zaman justru musik dangdut lah yang mendapat apresiasi yang bagus dikalangan orang asing terutama dalam berbagai penelitian aspek musik yang bertautan dengan aspek sosial serta politik. Sebagai salah satu representasi konkret  musik yang paling populer dan unik di Indonesia, dangdut mengalami perjalanan yang penuh warna yang menyikut berbagai aspek . Dangdut, yang namanya berasal dari bunyi khas gendang, “dang” dan “dut”, sejak awal pemunculannya kerap  dilecehkan sebagai bentuk rendah budaya populer pada 1970-an, dikomersialkan pada 1980-an, dimaknai-ulang sebagai ragam musik pop nasional dan global pada 1990-an, dan terlokalisasi dalam komunitas-komunitas etnik pada era 2000-an. Namun peneliti-peneliti asing inilah yang pada akhirnya membuka mata kita tentang bagaimana dangdut itu sebetulnya merupakan bentukan musik populer yang mendapatkan respons terbesar dari masyarakat Indonesia, suka atau tidak suka. Adalah Andrew N Weintraub yang melakukan penelitian secara akurat dan tekun tentang musik dangdut yang kemudian dibukukan dalam tajuk “Dangdut Stories”.

Bersama Andrew N Weintraub (Foto Denny Sakrie)

Bersama Andrew N Weintraub (Foto Denny Sakrie)

Buku tersebut lalu diterjemahkan menjadi  Dangdut: Musik, Identitas dan Budaya Indonesia .Buku musik ilmiah karya Andrew N. Weintraub adalah sejarah musik dan sosial tentang genre dangdut, dalam sederet narasi yang lebih luas tentang kelas, gender, etnisitas dan bangsa di Indonesia pasca-kemerdekaan (1945 sampai kini). Memakai pendekatan interdisipliner baru yang memadukan etnomusikologi, antropologi media dan kajian budaya, profesor musik di University of Pittsburgh, Amerika Serikat, ini menautkan berbagai properti estetik, penggunaan dan efek musik dangdut, pada kondisi sosial dan material di Indonesia modern. Buku inimemuat khazanah materi sumber musikologis yang orisinal dan baru, dalam bentuk wawancara dengan bintang-bintang dangdut; informasi dari sumber daya jurnalistik terpendam; dan analisis mendalam tentang standar-standar dangdut, digabung dengan pembacaan kembali yang tajam terhadap pustaka yang telah ada.

Setelah buku dangdut karya Andrew Weintraub ini dicetak oleh KPG, saya bersama sang penulis Andrew N Weintraub lalu diundang untuk membahas dangdut berdasarkan buku yang ditulis Andrew Weintraub tersebut.Diskusi dangdut ini berlangsung di Teater Salihara pada hari kamis tanggal 19 April 2012 jam 16.00 hingga selesai saat maghrib tiba.

Acara diskusi yang dipandu penulis dan novelis Ayu Utami berlangsung seru dan dihadiri banyak peminat, mulai dari penggemar dangdut,para jurnalis,penggiat seni dan berbafai komunitas lainnya.

Peserta diskusi Dangdut di Teater Salihara (Foto salihara)

Peserta diskusi Dangdut di Teater Salihara (Foto salihara)

Saya lalu menguraikan perihal munculnya dsangdut secara historis di republik ini yang merupakan sebuah subgenre musik hasil hibirida dari berbagai kecenderungan bermusik mulai dari musik Melayu,musik Timur Tengah dan musik India.Perpaduan ketiga elemen inilah yang secara telak membentuk musik dangdut.Saya juga menguraikan sedikit inovasi-inovasi yang dilakukan pemusik dangdut agar musik dangdut bisa diterima secara luas oleh khalayak, antara lain Oma Irama yang memnasukkan unsur rock dalam racikan musik dangdutnya.Upaya-upaya ini terus berlangsung hingga saat sekarang ini.

Andrew Weintraub sebagai penulis dan peneliti dangdut lalu memaparkan ikhwal ketertarikannya meneliti fenomena dangdut di Indonesia.Disamping itu Andrew Weintrab mengambil gitar dan mencontohkan beberapa lagu-lagu dangdut antara lain karya dari Rhoma Irama.

Andrew Weintraub menyanyikan lagu dangdut karya Rhoma Irama (Foto Salihara)

Andrew Weintraub menyanyikan lagu dangdut karya Rhoma Irama (Foto Salihara)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s