Arsip untuk Juni, 2014

Berbincang Dengan Andrew Weintraub

Posted: Juni 30, 2014 in Kisah

Jumat 27 Juni Andrew N Weintraub sahabat saya penulis buku Dangdut Stories menelpon saya.Ternyata telah dua minggu Andrew yang dikenal sebagai peneliti dan professor musik dari Pittsburg University tengah berada di Indonesia.Saat menelpon saya Andrew sedang berada di Bandung.”Saya lagi berkunjung ke STSI.Mau bikin kerjasama kultural antara Pittsburg University dengan STSI” urainya.

David Tarigan,Denny Sakrie dan Andrew N Weitraub

David Tarigan,Denny Sakrie dan Andrew N Weitraub

 

Andrew lalu membuat janji ketemu saya pada hari minggu 29 Juni 2014.”Saya juga ingin bertemu dengan David (maksudnya Tarigan) ingin membicarakan soal musik populer Indonesia” tukas Andrew Weintraub (52 tahun).

Minggu malam jam 19.00 seusai buka puasa akhirnya saya bertemu dengan Andrew beserta David Tarigan di lobi hotel nCemara Menteng Jakarta.”Saya ingin meneliti tentang musik populer di Indonesia terutama tentang keberadaan perusahaan rekaman besar seperti Irama dan Remaco” Andrew membuka pembicaraan.

Ternyata Andrew diam diam sering membaca isi blog saya ini.”Saya tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang label Remaco setelah membaca tulisan anda di blog tentang Remaco” tutur Andrew dalam bahasa Indonesia yang fasih dan lancar. Andrew juga mengaku telah membaca situs Irama Nusantara yang dikelola David Tarigan dan kawan kawan dalam upaya pendokumentasian dan database industri rekaman musik populer dari era ke era.

Kami bertiga lalu berbagi cerita tentang industri musik populer Indonesia yang ditandai dengan munculnya label rekaman Irama yantg didirikan penerbang AURI Soejoso Karsono pada tahun 1951.Setelah itu  pada paruh era 50an mulai muncul dua label lainnya yaitu Mesra yang didirikan Dick Tamimi seorang penerbang yang memiliki hobi elektronikb dan suka musik serta berdirinya label Remaco yang didirikan Mustari lalu dilanjutkan secara sukses oleh almarhum Eugene Timothy sejak awal 60an.

TSW

Tanpa terasa malam telah menunjukkan jam 10.30, kami bertiga  mengakhiri percakapan tentang perjalanan musik Indonesia.Andrew yang pertamakali menginjakkan kaki di Indonesia pada tahun 1984 ternyata telah banyak melakukan penelitian dan pencatatan terhadap musik Indonesia, mulai dari musik tradisional,musik dangdut dan kini musik populer.Hal yang sangat jarang diminati oleh bangsa kita sendiri.

Iklan

Groovie Record dengan logo membajak logo Mesra Record milik almarhum Dick Tamimi merilis sebuah album vinyl yang isinya merupakan kompilasi lagu-lagu band wanita pertama Indonesia Dara Puspita dengan tajuk The Garage Years.Label Groovie Record ini dimiliki oleh seseorang bernama Edgar dari Portugal.Konon,Edgar ini telah menghubungi Dara Puspita untuk izin reissue album tersebut, tapi karena nilai nominalnya terlalu mahal,Edgar dari Groovie Records tetap ngotot merilis album ini tanpa peduli sama sekali.

Album Dara Puspita yang dibajak oleh label asal Portugal

Album Dara Puspita yang dibajak oleh label asal Portugal

Ternyata lagu lagu milik Dara Puspita yang dirilis oleh label Irama dan Mesra pada dasawarsa 60an yang masih dilumuri gaya rock n’roll membuat sebagian penggemar musik di luar Indonesia jatuh cinta.Dalam blog-blog bisa kita lihat mereka dengan antusuias memperbincangkan dan mereview karya-karya dari band wanita yang berasal dari Surabaya itu.Bahkan entah bagaimana mereka menyebut Dara Puspita sebagai band wanita bergaya garage.Garage rock saat itu memang tak dikenal di Indonesia. Dara Puspita saat itu yang banyak menyimak lagu-lagu karya The Beatles dan hingga The Rolling Stones (coba simak intro lagu Marikah Kemari yang menggunakan introduksi lagu The Rolling Stones Under My Thumb).Dengan teknik rekaman yang masih primitif, rekaman rekaman musik Dara Puspita pada label Irama memang terkesan lebih raw.Mungkin dengan asumsi inilah banyak music enthusiast di belahan bumi sana melabelkan Dara Puspita sebagai band garage dari Indonesia.

Di tahun 2010 Alan Bishop dari  Sublime Frequencies pernah merilis ulang sejumlah lagu-lagu Dara Puspita dari era 1966-1968 dalam sebuah CD kompilasi yang ternyata mendapat respon bagus dari dunia internasional.Album Dara Puspita ini direview oleh berbagai media online dsan cetak bahkan situs musik Allmusic.Com menempatkan album kompilasi Dara Puspita ini sebagai salah satu album terbaik.Allmusic.com pun  menulis : Overall the sense is of an accomplished band whose members know everything that’s happening around them and then twist it to create something inspiring, both utterly familiar and totally unexpected.  

Dua seniman besar Indonesia dan Malaysia Bing Slamet dan P.Ramlee bernyanyi bersama dalam sebuah album piringan hitam bertajuk Semalam Di Malaysia.Ada persamaan antara Bing Slamet dan P Ramlee, keduanya adalah seniman yang dicintai di negaranya masing-masing.Mereka berdua sama sama dikenal sebagai crooner atau penyanyi bersuara emas di negaranya masing masing.Bahkan keduanya pun memiliki kemampuan akting yang diperlihatkan dalam pelbagai film layar lebar.

Sampul Depan piringan hitam Semalam Di Malaysia Bing Slamet dan P.Ramlee (Foto Denny Sakrie)

Sampul Depan piringan hitam Semalam Di Malaysia Bing Slamet dan P.Ramlee (Foto Denny Sakrie)

Bergabungnya kedua penyanyi berbakat ini tentunya menarik perhatian.Dengan diiringi oleh Orkes pimpinan Sjaiful Bachri, pemusik Indonesia yang kemudian hijrah ke Malaysia,keduanya memadu harmoni suara .Bing Slamet dan P Ramlee menyanyikan lagu-lagu Melayu serta lagu-lagu daerah serta kroncong.

Inilah tracklist album Semalam Di Malaysia tersebut

Muka 1

1.Serunai Malam

2.Tudong Periuk

3.Sayang, Si Patokaan

4.Bahtera Merdeka

5.Kroncong Kemayoran

 

Muka 2

1.Joget Norlela

2.Oh Mengapa

3.Cendering

4.Lenggang Mak Limah

5.Pantai Nan Sejarah

6.Geylang Si Paku Geylang

Sampul belakang album Semalam Di Malaysia Bing Slamet dan Puteh Ramlee (Foto Denny Sakrie)

Sampul belakang album Semalam Di Malaysia Bing Slamet dan Puteh Ramlee (Foto Denny Sakrie)

 

Jenderal Bernyanyi ?

Posted: Juni 8, 2014 in Kisah

Mungkin Kapolri era 70an almarhum Hoegeng yang mempelopori the Singing General,dimana saat itu Hoegeng bersama kelompok musiknya The Hawaian Seniors menyanyi di TVRI dan merekam album.Di era 90an ada Basofi Sudirman yg menyanyikan lagu dangdut karya Leo Waldy Tak Semua Laki Laki atau Togar Sianipar yg menyanyikan lagu2 karya Rinto dan jgn lupa ada Jenderal Wiranto yang sempat merilis dua album pada label Jk Record diiringi Rico Manangsang,Embong Rahardjo dan Jopie Item.

Kau Selalu Dihatiku - Jenderal Wiranto dirilis JK Record di era 90an (Foto Denny Sakrie)

Kau Selalu Dihatiku – Jenderal Wiranto dirilis JK Record di era 90an (Foto Denny Sakrie)

Hal utama yang paling menggelitik dalam benak saya, kenapa Peter Cetera, mantan bassist dan vokalis Chicago ini seperti tak mau melakukan reuni dengan grup musik yang diperkuatnya sejak tahun 1968 itu. Padahal,belakangan, banyak sekali band-band seangkatan Chicago yang melakukan reuni.Satu diantaranya adalah The Beach Boys,dimana saat merayakan 50 tahun usia The Beach Boys setahun silam,Brian Wilson mastermind dari Beach Boys akhirnya ikhlas dan rela bergabung lagi dengan band yang membesarkannya.

Bersama mantan vokalis dan bassist Chicago,Peter Cetera (Foto Denny Sakrie)

Bersama mantan vokalis dan bassist Chicago,Peter Cetera (Foto Denny Sakrie)

Dan ketika dapat kabar dari Hendy Liem promotor yang mendatangkan Peter Cetera dalam sebuah konser yang berlangsung di Kota Kasablanca Concer Hall jumat 6 Juni 2014 lalu, saya pun tak sabar ingin bertemu dan mewawancarai Peter Cetera yang kini telah berusia 68 tahun itu.

Kamis siang Jakarta dilanda kemacetan yang bikin saya ketar-ketir.Karena jam 14.00 saya telah buat janji untuk mewawancara Peter Cetera  di Kota Kasablanka Mall.Akhirnya saya memang telah sekitar 20 menit.Tapi untunglah Peter orangnya baik dan banyak becanda.Lalu saya mulai ngobrol dengan Peter dimulai dengan bertutur saat saya melihat lagu-lagu The Exceptions, band-nya Peter Cetera di sekitar tahun 1967 yang diunggah entah siapa di kanal Youtube.Peter Cetera terbahak mendengar cerita saya seraya bercerita tentang kelompok musiknya itu.

Jam 15.00 Peter Cetera harus melakukan pers conference di depan awak media.Saya lalu mengeluarkan vinyl Chicago VI yang dirilis tahun 1973 milik saya untuk ditandatangani Peter.Peter sempat membolak balik kemasan vinyl bermedium gatefold.Dari sorot matanya seperti terkuak kenangan2 tak terlupakan saat bergabung dengan Chicago dari tahun 1968 hingga 1985.

Bersama Peter Cetera

Bersama Peter Cetera

Saat itu,saya merasa ini adalah saat yang tepat untuk menanyakan kenapa dia tidak mau melakukan reuni dengan Chicago .

“Reuni dengan Chicago ? Wow, Bobby (maksudnya Robert Lamm) pernah menghubungi saya dan meminta saya untuk melakukan reuni dalam beberapa konser sebagai guest star menyanyikan beberapa hits Chicago.Saya suka dengan tawaran Bobby.Tapi saya merasa tidak mampu melakukannya.Aapalgi dengan tur tur yang melelahkan.You know, I just don’t want to work that hard.’” timpal Peter Cetera .

Peter Cetera lagi memandangi piringan hitam album Chicago VI yang dirilis tanggal 25 Juni 1973 (Foto Denny Sakrie)

Peter Cetera lagi memandangi piringan hitam album Chicago VI yang dirilis tanggal 25 Juni 1973 (Foto Denny Sakrie)

Lalu sebetulnya apa yang membuat anda keluar dari Chicago ?.Peter diam sejenak.Lalu menenggak air mineral dari botol plastik dan dengan lirih berujar :”Main band itu mirip dengan perkawinan.Pasti akan selalu timbul perbedaan atau ketidaksepakatan.Saya mau begini, tapi mereka ingin begitu.dan akhirnya muncullah perceraian”.

 

Jumat 6 Juni 2014 mulai jam 17.00 hingga 19.00 WIB saya diminta untuk berbagi kisah maupun wacana seputar musik dalam sebuah workshop yang dinamakan Gebyar Asyik. Tema besar dari acara Gebyar Asyik ini adalah “Kebersamaan Unik Dalam Keceriaan”.Menurut penggagas sekaligus pendukung utama Gebyar Asyik ini yaitu rokok kretek Sampoerna, bahwa tradisi kebersamaan belakangan ini cenderung memudar dan mereka,konon, ingin menyemangati lagi tradisi kebersamaan yang pada akhirnya memiliki keterkaitan dengan kreativitas terutama dikalangan anak muda.

Komunitas Musik KRESIPAH dari mahasiswa IISIP Jakarta

Komunitas Musik KRESIPAH dari mahasiswa IISIP Jakarta

Ini adalah sebuah upaya yang bagus, batin saya, ketika ditawari untuk menjadi speaker atau pembicara di acara Gebyar Asyik yang melibatkan sebuah komunitas musik bernama KRESIPAH yang merupakan akronim dari Kreasi Musik Sampah.Kresipah ini terbentuk dilingkungan kampus IISIP Jakarta.Mereka menamakan kegiatan musiknya Musik Sampah karena perangkat musik yang mereka mainkan berasal dari barang-barang bekas yang dikategorikan sampah mulai dari gallon air mineral,velg mobil,ember hingga panci  bekas.Lalu alat alat yang biasa kita lihat dan pergunakan tiap hari itu ditabuh sebagaimana layaknya instrumen perkusi   .Kresipah ini terbentuk tahun 2012 di kampus IISIP Jakarta oleh beberapa mahasiswa berbagai angkatan dan jurusan yang ingin mengekspresikan hasrat bermusik dengan menggunakan alat-alat non musik.

Dari pihak Sampoerna sendiri menjelaskan bahwa Gebyar Asyiiik merupakan salah satu sarana bagi komunitas lokal untuk memperhatikan hal-hal unik yang dapat dijadikan alasan untuk menjalin kebersamaan .

Melalui Gebyar Asyiiik, Sampoerna Kretek berupaya melestarikan kebersamaan sebagai nilai khas masyarakat Indonesia yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat saat ini

. Melalui beragam komunitas lokal yang berkumpul di Gebyar Asyiiik, kegiatan ini akhirnya dapat memberikan pencerahan yang dapat menginspirasi orang banyak untuk menemukan cara-cara baru dalam merayakan kebersamaan – menciptakan ‘masyarakat yang berdaya’ untuk meningkatkan kehidupan sosial yang lebih baik.

Suasana usai workshop Gebyar Asyik di payon Kemang 6 Juni 2014 bersama Komunitas Musik KRESIPAH (Foto Prodigy)

Suasana usai workshop Gebyar Asyik di payon Kemang 6 Juni 2014 bersama Komunitas Musik KRESIPAH (Foto Prodigy)

Jika dilihat dari gagasan atau wacana yang dikembangkan perusahaan rokok ini, saya berkesimpulan acara semacam ini memiliki dampak yang bagus, entah itu untuk mahsiswa yang tengah berkegiatan atau setidaknya bagi para pemusik yang galibnya selalu berseteru atau berbeda pendapat ketika melakukan kegiatan bermusik.Nah, kebersamaan seperti yang ingin dicapai oleh penyelenggara ini tentunya merupakan modal bagus untuk anak muda atau pemusik yang ingin mencecap kehidupan bermusik (secara) professional kelak.

Motivasi-motivasi yang bertendensi kearah menggairahkan semangat berkarya termasuk menghasilkan karya orisinal adalah beberapa segmen yang saya sampaikan kepada komunitas musik Kresipah ini.Mengingatkan juga kepada mereka bahwa dalam satu komunitas atau kelompok musik perlu digarisbawahi masalah visi dan konsep.Dua elemen ini mutlak ditelaah secara mendalam dan dijalani sebagai sebuah konsekuensi.

Acara Gebyar Asyik yang berlangsung di Payon Kemang , sebuah gerai kuliner dengan nuansa alam pedesaan di kawasan Kemang ini berlangsung dengan santai tapi menelaahnya dalam sudut yang serius.

Di akhir pembicaraan saya menggarisbawahi bahwa sebuah kreativitas jika dijalankan dengan kredo dan pakem kebersamaan akan senantiasa menghasilkan sebuah hasil atau karya yang maksimal, karena semua yang terlibat memiliki kontribusi dalam membentuk sebuah pola yang nantinya akan tampil secara utuh.

Gebyar Asyik bersama Komunitas Musik KRESIPAH IISIP Jakarta (Foto Prodigy)

Gebyar Asyik bersama Komunitas Musik KRESIPAH IISIP Jakarta (Foto Prodigy)