Esok Pagi Saya Tak Putih Lagi

Posted: Juli 8, 2014 in Opini

Pagi ini semilir angin meremas remas rambutku yang memutih.Bisa jadi ini adalah pertanda saya akan meninggalkan habitat saya yang selalu putih dan putih dalam setiap Pemilu sejak tahun 1992. Sejak kecil saya telah melihat dan mengalami euphoria Pemilu.Pada usia 8 tahun di tahun 1971 saat saya masih duduk di bangku SD di Medan, saya begitu takjub melihat barisan pawai yang meriah dengan yel yel yang seragam :”Pokok e Beringin Pokoknya Golkar”.Pokok adalah pohon dalam bahasa yang dipergunakan di Medan. Sebagai anak kecil saya sangat terpukau dengan perhelatan yang meriah.Dan yang saya ingat saat itu hanyalah Partai yang bergambar pohon beringin. Lalu ketika saya duduk di bangku SMP di Makasaar (saat itu masih bernama Ujung Pandang), meskipun masih bocah ingusan,saya mulai paham sedikit tentang Pemilu yang kala itu diikuti 3 kontestan, Golkar,Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia.Itu terjadi di tahun 1977 saat saya berumur 14 tahun.Jika melihat warna dasar yang menjadi symbol ketiga partai, memang mirip traffic light, ada kuning,hijau dan merah.

Baru pada Pemilu 1982 di saat saya berusia 19 tahun dan memasuki tahun pertama sebagai mahasiswa Ekonomi di Universitas Hasanuddin Ujung Pandang, barulah saya ikut untuk pertama kali mencoblos di arena Pemilu.Di usia itu,kesadaran berpolitik saya mulai tumbuh.Apalagi sebagai mahasiswa baru saya tak habis-habisnya menimba dan menggali pengetahuan tentang seluk beluk politik yang kerap distabilloboskan sebagai kotor.Banyak tersirat pernyataan bahwa politik itu menghalalkan segala upaya dan cara.Saat itu partai berlambang pohon beribngin itu memang memukau siapa saja, tapi tidak untuk kalangan yang kritis .Banyak peristiwa-peristiwa yang tak fair yang dilakukan pemerintah pada partai-partai diluar Golkar.Yang masih terekam dalam benak saya,saat Pemilu tahun 1977 banyak seniman baik musik maupun film yang dicekal saat memperlihatkan dukungan kepada partai diluar pohon beringin,misalnya Rhoma Irama,Soultan Saladin atau Mat Solar dan banyak lagi yang saat itu mendukung kampanye Partai Persatuan Pembangunan. Alhasil,arogansi dan diskriminasi politik yang terpampang di depan mata,membuat saya jengah dan muak.Teman-teman sepergaulan di kampus saat itu juga sudah mengkritisi total perihal permainan dan maneuver politik pohon beringin. Di tahun 1982, saya akhirnya terpanggil untuk bersimpati terhadap Partai Persatuan Pembangunan, sebuah partai yang seolah selalu disudutkan. Saat pertama saya mencoblos dalam Pemilu 1982 saya pergunakan memilih partai yang menggunakan symbol Ka’bah. Ada rasa puas tak terhingga ketika di bilik Pemilu saya mencoblos tanda gambar Ka’bah itu.

pemilu-690x375

Walaupun saat itu, seperti yang diduga ,Golkar pasti menang di Makassar.Namun saat menyaksikan berita perolehan suara di layar TVRI, ada perasaan lega dan bangga ketika terbetik kabar bahwa perolehan suara Partai Persatuan Pembangunan di Aceh berhasil mengungguli Golkar. Jakarta yang di tahun 1977 dimenangkan oleh Partai Persatuan Pembangunan akhirnya diambil Golkar juga pada tahun 1982 itu. Golkar sejak tahun 1971 selalu menjadi pemenang, sedangkan PPP dan PDI menjadi pelengkap penderita atau ornament belaka. Keadaan ini secara langsung dan tidak langsung membuat kekuasaan eksekutif dan legislatif berada di bawah kontrol Golkar. Pendukung utama Golkar adalah birokrasi sipil dan militer. Di tahun 1987,saya ikut mencoblos lagi meskipun dengan ogah-ogahan,karena sudah yakin siapa yang akan muncul jadi pemenang.Dan Pemilu 1987 adalah pemilu yang ketiga dan terakhir kalinya saya ikut mencoblos dalam peristiwa yang kerap disebut sebagai Pesta Demokrasi. Ketimpangan-ketimpangan pun mulai tumbuh subur dimana-mana.Rekayasa politik pun kian memuakkan.Kesemuanya menggumpal menjadi satu hingga akhirnya saya saat itu bertekad tidak berminat lagi untuk ikut serta dalam Pesta Demokrasi 5 tahun kedepan ,yaitu tahun 1992, saat saya mulai menetap di Jakarta. Sejak tahun 1992 saya mulai menjadi anggota Golongan Putih atau Golput, istialh yang konon kabarnya telah merebak sejak Pemilu 1971.Saya abstain.Saya memasrahkan hak saya kosong.Saat itu banyak yang menasehati :”Jangan Golput,suara anda bisa dipergunakan orang lain lho”.

Tapi tekad saya bulat, menjadi orang putih yang tak sudi untuk mencoblos partai apapun bahkan ketika jumlah partai tak lagi tiga tapi beranak pinak dalam jumlah yang begitu banyak.Saya pun kian menjauh dari hiruk pikuk Pesta Demokrasi.Saya tenggelam dalam aptisme berkepanjangan, apalagi ternyata memang sangat sulit untuk mencari pemimpin Negara yang benar-benar amanah ,jujur dan mengutamakan rakyat. Kadang terbersit dalam benak saya,mencari sososk pemimpin ideal merupakan sebuah utopia yang tak berwujud hingga kapan pun.Rasa-rasanya sangat sulit untuk menemukan seorang pemimpin yang mampu memayungi rakyatnya dengan rasa aman dan tenteram. Apalagi dalam tahun tahun terakhir,Negara ini seperti terhempas dalam kancah perpecahan yang sedikit demi sedikit akan meruntuhkan sendi-sendi persatuan dan kebangsaan.Masalah Korupsi hingga peristiwa anti keberagaman selalu mencuat seolah tanpa jeda. Bahkan dalam perilaku perilaku yang terpampang dalam masa kampanye Pilpres justru lebih menohok lagi, mulai dari isu SARA dan fitnah menyergap laksana putting beliung.

Namun saya tetap tak melakukan apa-apa, bahkan minggu lalu ketika badai fitnah yang saling serang sudah seperti nukilan kisah Bharatayudha yang mengerikan.Jujur, dua minggu lalu saya masih diliputi keraguan, apakah tahun ini saya akan tetap melanjutkan hidup saya sebagai orang putih yang tetap tak melakukan aksi coblos sama sekali.Hampir semua media seperti tergelincir mengikuti arus perang Bharatayudha antara Kubu No.1 dan Kubu No.2. Mungkin ini adalah masa kampanye terpanas dalam sejarah Pemilu di negeri ini. Tapi akhirnya keraguan itu pun sirna setelah melihat pelbagai perkembangan yang terlihat secara jelas baik di media media hingga ke social media yang sarat hiruk pikuk.Ini adalah saat yang tepat untuk memilih pemimpin yang tepat untuk kurun waktu 5 tahun ke depan. Saya pun telah melihat sosok pemimpin yang akan saya coblos besok di bilik pemilihan.Besok pagi adalah saat bersejarah bagi saya untuk meninggalkan hibernasi yang bernama Golongan Putih. Esok pagi saya takkan putih lagi.Salah satu jari saya akan berwarna ungu.Dan saya pun telah siap dan mantap untuk memilih satu diantara dua calon pemimpin yang akan menakhodai kapal besar bernama INDONESIA.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s