Musik dan Kampanye Politik

Posted: Juli 9, 2014 in Opini

45 tahun silam, tepatnya 1 Juni 1969, John Lennon menuliskan sebuah lagu bernuansa politik. Lagu tersebut ditulis Lennon khusus untuk kampanye politik Dr. Timothy Leary yang saat itu head to head dengan mantan aktor Hollywood, Ronald Reagan untuk meraih kursi Gubernur California.

Saat menulis lagu itu John Lennon bersama Yoko Ono tengah melakukan kampanye perdamaian yang diberi nama Peace Bed In yang berlangsung di Montreal. Dr. Tim Leary ikut bergabung pula dalam kampanye damai John Lennon tersebut. Lalu Tim Leary menulis slogan kampanyenya “Come Together, join the party!”

Tim Leary yang kehidupannya banyak tersangkut paut dengan penyalahgunaan narkotika akhirnya kalah. Pada 21 Januari 1970, Dr. Timothy Leary dijebloskan ke dalam penjara selama 10 tahun lamanya. Namun, lagu kampanyenya “Come Together” menjadi hit besar The Beatles dan tak pernah mati.

Jadi sesungguhnya keterlibatan atau keterkaitan seniman musik dalam agenda politik bukanlah sesuatu yang aneh.

Dalam pilpres Republik Indonesia tahun 2014 ini musik memang menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kampanye politik para capres dan cawapresnya. Bahkan mungkin kali ini merupakan Pilpres paling panas dalam sejarah politik Indonesia, dimana perang fitnah dan perang lagu menjadi bagian dari kampanye politik yang kian hari kian memanas.

Sebuah fenomena luar biasa dari para pendukung Jokowi JK di Gelora Bung Karno 5 Juli 2014 (Foto Jay Subiyakto)

Sebuah fenomena luar biasa dari para pendukung Jokowi JK di Gelora Bung Karno 5 Juli 2014 (Foto Jay Subiyakto)

Termasuk menghangatnya kasus Ahmad Dhani yang tanpa seizin Brian May sebagai komposer lagu “We Will Rock You” dari album News Of The World (Queen, 1977) langsung mengganti liriknya dengan judul “Indonesia Bangkit” yang diunduh di sosial media termasuk Twitter dan merebaklah kasus konyol di mata dunia. Apalagi kemudian Brian May lalu berkicau melalui akun Twitter resminya bahwa penggunaan lagu “We Will Rock You” tersebut tanpa sepengetahuan dan izin darinya.

Dan setelah itu Ahmad Dhani kembali merilis lagu bertajuk “Ojo Kuwi” yang sepintas terdengar seperti menyebut nama Jokowi dan yang mengejutkan kembali menggunakan melodi lagu orang lain. Kali ini adalah lagu “Gendjer Gendjer” karya M. Arief, salah satu seniman LEKRA asal Banyuwangi yang lagunya oleh rezim Orde Baru sempat dilarang keras karena dianggap menjadi simbol dari kegiatan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Bahkan konon dalam sejarah versi Orde Baru lagu “Genjer Genjer” yang awalnya dinyanyikan oleh Bing Slamet dalam album Mari Bersuka Ria dalam Irama Lenso (dirilis Irama pada tahun 1965) dinyanyikan oleh para anggota Gerwani dalam ritual penyiksaan para jenderal Korban Gerakan 30 September di Lubang Buaya. Sejak saat itu lagu “Genjer Genjer” yang liriknya bertutur tentang sayur mayur itu termasuk lagu yang diharamkan untuk diputar atau dinyanyikan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Dan sekarang ketika lagu “Ojo Kuwi” dengan berlatar melodi “Genjer Genjer” yang dinyanyikan Ahmad Dhani seolah ingin menyindir akan isu bahaya laten komunis yang sesungguhnya sudah kadaluawarsa itu kepada kubu capres dan cawapres yang lain.

Musik pada akhirnya mewarnai hiruk pikuk ritual politik.

Sejak Pemilu yang dilakukan rezim Orde baru pada 1971, bisa jadi merupakan fenomena baru dimana sederet partai politik meminang sejumlah artis untuk dijajakan di garda depan mulai mencuat. Karena mereka mahfum kalangan selebritas ini memiliki massa kuat. Lewat nyanyian mereka yang mencandu khalayak atau tampilan wajah yang good looking akan menyihir benak khalayak untuk memilih partai partai mereka.

Dan formula semacam ini masih terus dipergunakan hingga detik ini. Bahkan sekarang, para selebritas tak lagi dipakai sebagai pajangan namun diberi peluang menjadi caleg walau dengan kapasitas intelektual yang sering dipertanyakan. Ini sebuah simbiose mutualisme yang sarat dengan aroma kekonyolan.

Musik pada galibnya, akhirnya justru merupakan komoditas yang luar biasa laris hingga menjadi bagian dari sebuah kegiatan ekonomi berskala raksasa di seluruh dunia. Patut pula dicatat bahwa selain berfungsi ekonomis, secara politis musik berfungsi pula sebagai medium yang jitu untuk menggalang solidaritas komunitas atau kelompok yang mengajak orang untuk bersatu padu menjadi sebuah kesatuan.

Jadi semakin yakinlah kita bahwa sebuah lagu kebangsaan yang anthemic menjadi media untuk mengingatkan rakyat agar setia terhadap negara dan bangsanya serta memompa nasionalisme.

Mari kita telaah sebuah artikel bertajuk ”Why Music ?” yang dimuat oleh The Economist edisi 18 Desember 2008:

Nah, fakta-bahwa dia, atau dia, adalah seorang remaja-mendukung satu hipotesis tentang fungsi musik. Sekitar 40% dari lirik lagu-lagu populer berbicara tentang asmara, hubungan seksual dan perilaku seksual. Teori Shakespeare, musik yang setidaknya salah satu makanan cinta, memiliki klaim yang kuat untuk menjadi kenyataan. Semakin merdu penyanyi, semakin terampil pemain harpa, semakin banyak pasangan yang menarik. Ide kedua yang banyak disebut-sebut adalah bahwa musik mengikat sekelompok orang bersama-sama. Solidaritas yang dihasilkan, pendukungnya menyarankan, mungkin telah membantu band manusia purba untuk berkembang dengan mengorbankan orang-orang yang kurang musikal.

Di Amerika Serikat sendiri sejak jaman kampanye presiden yang dilakukan Andrew Jackson pada 1824 memang telah berlangsung tradisi membuat lagu kampanye untuk presiden. Saat itu Andrew Jackson menggunakan lagu “The Hunters of Kentucky” karya Samuel Woodworth sebagai bagian dari kampanyenya. Lagu-lagu yang dipakai sebagai lagu kampanye pada galibnya menggunakan irama yang upbeat dan memiliki unsur unsur pengulangan atau repetitive dan cenderung sing along. Ada yang menggali dari lagu-lagu rakyat maupun tradisional serta lagu-lagu yang pernah yang menjadi hits.

Lalu yang cukup fenomenal adalah pada 1960 ketika John F. Kennedy menggunakan lagu “High Hopes” (1959) karya Jimmy ban Heusen dan Sammy Cahn dan dipopulerkan oleh penyanyi Frank Sinatra menjadi lagu kampanye presiden. Lirik “High Hopes” lalu digantinya sesuai dengan kepentingan kampanye John F. Kennedy.

Pada 1992 kandidat presiden Bill Clinton malah menggunakan lagu “Don’t Stop” milik band Inggris, Fleetwood Mac, sebagai lagu kampanye. Uniknya, lagu “Don’t Stop” tersebut liriknya bertutur tentang perceraian. Namun Bill Clinton mengambil sari pati optimisme dari lirik tersebut sebagai bagian dari kampanyenya: Don’t stop, thinking about tomorrow/ Don’t stop, it’ll soon be here/ It’ll be, better than before/ Yesterdays gone, yesterdays gone.

George H. W. Bush dalam kampanye kepresidenan tahun 1988 untuk memikat para pendukungnya malah menggunakan lagu folk protes karya Woody Guthrie “This Land Is Your Land”. Pada 2012 Bruce Springsteen menuliskan lagu bertajuk “We Take Care Of Our Own” untuk kampanye presiden Barack Obama. Lirik lagu ini merupakan bentuk kegeraman dan kegelisahan Bruce Springsteen terhadap problematika politik dan ekonomi yang semakin memburuk di Amerika Serikat.

I’ve been stumblin’ on good hearts turned to stone
The road of good intentions has turned dry as a bone.

Beberapa pemusik di Indonesia dengan kesadaran yang tulus dan tinggi bergabung dalam Revolusi Mental mendukung pasangan Jokowi – Jusuf Kalla. Mereka, di antaranya Slank dan Jogja Hip Hop Foundation malah tergerak menuliskan lagu kampanye untuk Jokowi dan Jusuf Kalla secara sukarela tanpa imbal bayaran. Ini merupakan sebuah fenomanena baru, jika mau dibandingkan dengan kejadian atau peristiwa yang pernah terjadi pada masa lalu di saat kampanye Pemilu tahun 1971.

Saat itu Bing Slamet dan para seniman musik yang tergabung dalam Artis Safari binaan Golkar mulai menyanyikan puji-pujian dalam bentuk lagu. Bing Slamet lalu menyanyikan lagu “Pohon Beringin” yang dikemas dalam piringan hitam bertajuk Souvenir Pemilu 1971.

Dan pada akhirnya, musik tak bisa dicegah lagi sebagai alat kampanye dalam sebuah perhelatan politik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s