Menerjemahkan Lagu Tanpa Izin

Posted: Juli 17, 2014 in Opini

Beberapa waktu lalu dalam kampanye Pilpres banyak sekali ditemukan pelanggaran Hak Cipta terutama penggunaan lagu-lagu yang tanpa izin dari penulis lagu maupun publishingnya.Dan yang paling menyita perhatian adalah ketika Ahmad Dhani dengan tanpa merasa bersalah secara membabi buta memperkosa lagu We Will Rock You milik Queen yang ditulis oleh gitaris Brian May menjadi Indonesia Bangkit.Perilaku konyol Ahmad Dhani yang tanpa izin memakai lagu Queen tersebut pada akhirnya menuai malu terutama kita sebagai orang Indonesia.Apalagi Brian May dalam akun twitternya mengatakan bahwa penggunaan lagu We Will Rock You tanpa sepengatahuan dia dan tanpa izin dari publishing musicnya.
Masalah jiplak menjiplak lagu hingga mengganti lirik lagu milik karya orang lain sepertinya memang telah menjadi bagian dari sejarah musik Indonesia dari jaman dahulu kala hingga saat sekarang ini.Masih ingat ketika Ismail Marzuki hanya mengganti lirik komposisi Black Eyes atau Dark Eyes karya  komposer Russia bertajuk Очи чёрные, Ochi chyornye  menjadi Panon Hideung yang menggunakan lirik berbahasa Sunda ? Dark Eyes liriknya ditulis dalam bahasa Russia oleh penyair bernama Yeven Hebrinka dari Ukraina. Nah ini adalah satu dari sekian banyak contoh kasus tentang pelanggaran hak cipta di dalam dunia musik yang telah berlangsung bertahun-tahun lamanya.

Kaset Indonesia lagu-lagu terjemahan Barat (Foto Galeri Malang Bernyanyi)

Kaset Indonesia lagu-lagu terjemahan Barat (Foto Galeri Malang Bernyanyi)

Saat itu boleh jadi kita belum begitu memahami mengenai Hak Cipta Lagu, hingga seenaknya mengganti lirik lagu tanpa izin sama sekali.Ini juga terjadi dalam musik dangdut yang saat itu,terutama mulai akhir era 50an hingga 70an, banyak sekedar menggnati lirik lagu, contohnya Boneka Dari India yang dipopulerkan Ellya Khadam hingga Pandangan Pertama yang diadaptasi oleh A.Rafiq.

Di tahun 1970 misalnya,Titiek Sandhora mengadapatsi lagu milik  Jane Birkin dan Serge Gainsbourg  ” J’etaime…moi non plus” berubah menjadi Mimpi Diraju. Remaco, adalah label terbesar di Indonesia yangh kerap kali merilis lagu-lagu dengan dalih adaptasi yang menampilkan lirik berbahasa Indonesia.Hebatnya, semua dilakukan tanpa ada izin dari baik dari komposer maupun publishingnya sama sekali.

Disekitar paruh era 80an, muncul sebuah kaset kompilasi bertajuk Heavy Slow Rock Of The Year Versi Indonesia.Kaset ini dirilis oleh Remaco tanpa ada keterangan siapa artis penyanyi atau band yang menyanyikannya.Sampul kaset hanya menuliskan judul lagu setelahb diterjemahkan atau diganti dengan lirik bahasa Indonesia serta judul lagu asli dalam bahasa Inggris.

Misalnya lagu Three Dog Night “Cowboy” berubah menjadi Kau,lalu ada Always Somewhere nya Scorpion yang diubah menjadi Akhirnya Aku Kembali atau I’d Rather Go Blind-nya Chicken Shack dipelintir  menjadi Lebih Baik Mataku Buta.Tak ada keterangan yang dicantumkan pada kredit album ini.Belakangan saya baru tahu bahwa yang menyanyikan lagu di album ini adalah Johan Oentoeng.

Rupanya kesadaran untuk menghormati karya cipta musik di negeri ini sangatlah minim bahkan bisa dibilang tak ada sama sekali.Dan kejadian itu terulang lagi beberapa waktu lalu saat berlangsungnya Kampanye Pilpres 2014.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s