Iwan Madjid (1957 – 2014) : Jabat Tanganku Untuk Terakhir Kali

Posted: Juli 18, 2014 in Obituari

Jabat tanganku untuk terakhir kali

Kita berpisah di dalam liang kubur yang sama

 

Tanpa sadar saya mengingat bait awal lirik lagu “Armageddon” dari kelompok Wow yang dinyanyikan Iwan Madjid dalam album Produk Hijau yang dirilis Musica Studio tahun 1983,ketika tadi siang saya mendapat kabar bahwa sahabat saya Iwan Madjid telah berpulang kerahmatullah.Saya tercenung sejenak terutama menelusuri momen-momen terakhir bersama Iwan Madjid yang bernama lengkap Iwan Sutritjondro Madjid  dikenal sebagai anggota beberapa band bernuansa rock progresif seperti Abbhama,Wow,Cynomadeus dan Shagi.

Lirik lagu “Armageddon “ walaupun temanya bertutur tentang hancurnya peradaban sebuah bangsa karena peperangan, terasa seperti isyarat kepergian Iwan Madjid yang lahir 27 Maret 1957,.

Saya terakhir bersua dengan Iwan Madjid di kediamannya di bilangan Ciracas pada 10 Juni 2014.Saat itu saya bersama Agus dan Ridwan dari Majemuk Records bertandang menemui Iwan Madjid untuk memberikan album “Alam Raya” milik Abbhama yang dirilis ulang dalam format compact disc dan vinyl oleh Strawberry Rain (Kanada) dan Majemuk Record (Indonesia).Album yang pertamakali dirilis dalam bentuk kaset oleh Tala & Co Studio pada tahun 1979 ternyata mendapat respon yang bagus dari penikmat musik dunia.Ini terlihat jelas jika melihat berbagai review yang memuji-muji kualitas musik Abbhama band underrated Indonesia yang memiliki konsep musik cemerlang.  .\

Ketika ngobrol panjang lebar dengan Iwan Madjid terbersit kenyataan baru bahwa Iwan mulai memperlihatkan kegairahan untuk kembali menerjuni musik setelah sekian lama vacuum dari ingar bingar dunia musik.Beberapa tahun belakangan ,Iwan memang memperlihatkan perubahan dengan menekuni dunia spiritual dan religius.Saya melihat Iwan mulai sholat 5 waktu kembali.

“Gua mulai bikin lagu lagi nih.Kebanyakan lagu itu gua bikin bareng Fariz.tapi sekarang gua lebih cenderung menulis lagu dengan tempo upbeat.Yang agak bernuansa dance” tutur Iwan Madjid bulan lalu sambil memperdengarkan demo tape lagunya  yang masih belum berlirik.

“Rencananya kalo lagu-lagu sudah jadi, ada niat gua dan Fariz untuk menghidupkan lagi Wow” urainya.Wow adalah band prog-rock berbentuk trio yang dibentuk Iwan Madjid bersama Darwin B.Rachman,bassist yang juga ikut mendukung Abbhama, serta Fariz RM.

Iwan Madjid mengakui bahwa gairah musiknya tercetus saat menyimak karya-karya band progresif seperti Yes,King Crimson,Emerson ,Lake and Palmer dan Genesis.Jadi tak heran jika kita akan menemui benang merah pengaruh musik band band tadi dalam karya-karya Iwan Madjid pada Abbhama,Wow maupun Cynomadeus. Selain menggandrungi rock,Iwan pun menyukai musik klasik terutama dari karya-karya Bach hingga Debussy. Iwan yang pernah mengenyam pendidikan musik di Institut Kesenian Jakarta pada paruh era 70an terampil bermain piano hingga flute dan memiliki suara yang bening saat bernyanyi.tak sedikit review yang bisa kita baca di dunia maya yang memuji suara Iwan sebagai angelic voice.

Ketika saya memaparkan perihal kekagaman penikmat musik mancanegara terhadap materi album Alam Raya Abbhama,Iwan tergelak seolah tak percaya.”Masak sih ?” sergahnya tak percaya.

Dengan adanya respon yang bagus seperti akhirnya membuat Jason Connoy dari Strawberry Rain Record di Kanada tertarik dan berminat merilis ulang album milik Abbhama tersebut.

Abbhama adalah band yang digagas Iwan di lingkungan kampus IKJ Jalan Cikini Raya.”Saat itu saya ingin memberikan semacam wadah pelampiasan para mahasiswa IKJ jurusan musik untuk bermain musik” ungkap Iwan Madjid.

Sebelum membentuk Abbhama,Iwan Madjid sudah sering terlibat dalam penggarapan operette berbasis musik rock yang mengangkat tema-tema hikayat seperti Ramayana dan Mahabarata bersama kelompok Operette Cikini yang digagas para alumnus SMA Perguruan Cikini pada sekitar tahun 1976-1979.

Sayangnya Abbhama hanya sempat merilis satu album saja, setelah itu para personilnya berpencar entah kemana kecuali Iwan dan Darwin yang kemudian melanjutkannya dengan membentuk Wow bersama Fariz RM pada dasawarsa 80an.

Niat mereka baru terwujud pada tahun 1983 setelah bersua dengan multi-instrumentalis, Fariz RM. Iwan menganggap Fariz adalah sosok yang tepat untuk mengakomodasikan warna musik mereka. ”Kami satu selera dalam bermusik” ujar Iwan Madjid . Tak lama berselang, mereka bertiga Iwan (vokal, piano, keyboard), Darwin (bas), dan Fariz (drum) mendeklarasikan terbentuk Wow yang merilis album bertajuk Produk Hijau. Popularitas Fariz RM rasanya banyak pula membantu. Terutama ketika Wow harus berhadapan dengan khalayak. Wow tetap menghadirkan nuansa rock progresif lewat lagu-lagu seperti Pekik Merdeka, Armageddon hingga Purie Dhewayani.

Di tahun 1988, Iwan Madjid menggarap album solo bertajuk Pesta Reuni yang didukung Fariz RM (drum, keyboard), Uce Haryono (drum), Darwin B Rachman (bass, keyboard), dan Eet Syahrani (gitar). Lirik-lirik lagu di album ini terasa ringan. Cenderung ngepop. Iwan Madjid malah menyanyikan kembali lagu Asmara, yang pernah dibawakan pada album Abbhama.

Ketika menggarap album solo Iwan Madjid ini, Fariz RM, ternyata tertarik untuk bergabung lagi bersama Wow yang ditandai dengan merilis album Rasio dan Misteri. Salah satu lagu di album ini yakni ‘Lapangan Merah’ sempat menjadi hit di radio-radio Jakarta, seperti di Prambors Rasisonia. Saat itu, Wow diberi kepercayaan untuk menggarap soundtrack film remaja Lupus IV yang dibintangi Ryan Hidayat.

Sejak merilis album soundtrack Lupus IV, Wow kembali vakuum panjang. Namun, Iwan Madjid telah siap dengan sebuah band baru dengan nama Cynomadeus yang terdiri dari Iwan Madjid (keyboard), Todung Panjaitan (bas), Eet Syahrani (gitar), Fajar Satriatama (drum), dan Arry Safriadi (vokal). Kelompok yang juga berkonsep menautkan elemen musik klasik dan rock ini pun usianya tak panjang. Cynomadeus hanya merilis sebuah album saja. Fajar dan Eet lalu membentuk grup bernuansa metal bernama E dan E. Iwan Madjid masih terus berkutat di dunia musik, antara lain mendukung proyek solo mantan vokalis Cynomadeus, Ary Safriadi bertajuk Mercurius (1992).

 

Iwan Madjid sendiri juga melebarkan kegiatannya dengan membuat music score film-film layar lebar seperti “Lupus IV” (1990),”Olga dan Sepatu Roda” (1991) dan “Ojek” (1991) termasuk membuat musik tema serial sinetron “Rumah Masa Depan” di TVRI.

Tahun 2014 ini Iwan Madjid memang telah berupaya kembali ke musik, ini terlihat ketika ikut mendukung album solo Baruna,penyanyi rock yang pernah menjadi vokalis El Pamas dan Jagat .Iwan pun sangat bangga ketika album Abbhama yang masuk dalam daftar 150 Album Indonesia Terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia itu dirilis secara internasional, termasuk betapa bersemangatnya Iwan untuk kembali menyentuh piano tua yang teronggok di sudut kamarnya sembari menulis lagu-lagu baru serta persiapan untuk reuni Wow bersama Fariz RM. Namun saying rencana-rencana itu tak jadi terwujud, karena Sang Khalik telah memanggilnya. Selamat Jalan Iwan  Madjid.

 

 

Kenang kenangan bersama almarhum Iwan Madjid

Kenang kenangan bersama almarhum Iwan Madjid

Iklan
Komentar
  1. admin berkata:

    Reblogged this on My Daily and commented:
    Baru tauuu…baru baca… Innalillahi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s