Keluarga Widjaja, Dinasti Industri Rekaman Indonesia

Posted: Agustus 2, 2014 in Kisah, Sejarah

Tak berlebihan barangkali jika saya menyebut bahwa keluarga Widjaja adalah dinasti industri musik Indonesia yang telah merengkuh lebih dari 5 dekade konstelasi musik popular di Indonesia.Semuanya berawal dari gagasan dan kerja keras Jamin Widjaja yang telah merintis uasaha dibidang rekaman musik Indonesia sejak akhir 50an dan berkembang terus melalui era 60an,70an,80an,90an hingga era millennium ini.Dimulai dengan label Bali Record,Canary Record pada akhir era 50an hingga era 60an.Berlanjut dengan Metropolitan Studio pada akhir 60an hingga awal 70an,lalu berganti nama menjadi Musica Studios hingga saat sekarang ini. Ini merupakan prestasi tersendiri,dimana kesinambungan usaha industri musik yang mereka jalani tak lekang digerogoti waktu, serta menghadapi begitu banyak badai,kemelut serta ,pasang surut  industri musik itu sendiri.Ketika sebagian besar bisnis keluarga dalam industri mulai bertumbangan, keluarga Widjaja masih tetap mampu mempertahankan eksistensi.Pun ketika sekarang ini industri music tengah didera kesulitan paling dalam, mulai dari menggelegaknya pembajakan serta transisi paradigm musik dari era fisik hingga digital sekarang ini.

Jamin Widjaja atau kerap dikenal dengan panggilan Amin Cenglie tengah di studio Musica pada paruh era 70an bersama almarhum Idris  Sardi dan Grace Simon (Foto dokumentasi Musica Studios)

Jamin Widjaja atau kerap dikenal dengan panggilan Amin Cenglie tengah di studio Musica pada paruh era 70an bersama almarhum Idris Sardi dan Grace Simon (Foto dokumentasi Musica Studios)

Sebetulnya usaha niaga keluarga Widjaja adalah kopi, namun salah satu yang menyempal adalah Jamin Widjaja yang ternyata memiliki hobi elektronik dan menyukai musik. Amin memulai usaha dengan membuka gerai

elektronik dan distributor album rekaman yang berada  di kawasan Pasar Baru.Dari sinilah cikal bakal, dimulainya  sejarah panjang industri rekaman terbesar di Indonesia. Gerai  elektronik tersebut berdiri pada awal tahun 1961 dengan nama toko Eka Sapta.Sebelum membuka gerai elektronik,pada akhir era 60an Amin sebetulnya telah membuka usaha distributor rekaman musik dengan nama Bali Record dan Canary Recording.

Jamin Widjaja sejak kecil telah bersahabat dengan seniman serba bisa Bing Slamet.Dari Bing Slamet pula Amin lalu berkenalan dengan sederet pemusik papan atas lainnya seperti  Ireng Maulana, Enteng Tanamal dan Idris Sardi. Pergaulan di seputar orang musik itulah yang pada akhirnya menjadi inspirator lahirnya nama band Eka Sapta. Sebagai pemilik toko elektronik dan distributor rekaman yang ikut membangun band Eka Sapta, Amin bergerak lebih jauh dengan mendirikan perusahaan rekaman sendiri. Pada awalnya ia meminjam alat rekaman milik perusahaan Remaco, membuat rekaman di Singapura dan membangun studio rekaman sendiri dengan nama PT Warung Tinggi di kawasan Warung Kopi Jakarta. Perusahaan ini pada awalnya memproduksi sejumlah rekaman, satu diantaranya adalah album Titiek Puspa. PT Warung Tinggi inilah yang merupakan embrio berdirinya PT Metropolitan Studio pada tahun 1968. Hoki Amin Cengli – ayah 6 anak dan istri Lanni Djajanegara itu – kian berkembang. Pada awalnya memproduksi rekaman band Eka Sapta, karya lagu dan suara almarhum Bing Slamet, A. Riyanto dan sejumlah rekaman lain dalam bentuk piringan hitam (PH) dan kaset. Seiring dengan sukses debut rekaman tersebut, pada Oktober tahun 1971, Amin mengubah nama PT Metropolitan Studio menjadi PT Musica Studio’s dalam bentuk akte pendirian perusahaan rekaman formal.

Sejak saat itulah berlangsung pembenahan perangkat lunak dan perangkat keras perusahaan rekaman ini, misalnya dari jumlah studio rekaman yang hanya 2 buah dengan masing-masing 4 tracks pada tahun 1968 menjadi 8 tracks pada tahun 1979, berkembang lagi menjadi 16 tracks pada 1981 dan 24 tracks pada tahun 1983.

Logo khas Musica Studios

Logo khas Musica Studios

Saat sekarang  terdapat sekitar 5  studio rekaman yang terletak di kompleks PT Musica Studio Jl. Perdatam Pasar Minggu Jakarta Selatan . Sebagai perusahaan rekaman terbesar di Indonesia, Musica Studio’s segera melakukan inovasi dalam pola kerja manajemen produksi. Sumber daya manusianya ditingkatkan, kualitas produksi album rekaman diperbesar. Sewaktu Jamin Widjaja meninggal dunia pada bulan Agustus 1979, istrinya Ny. Lanni Djajanegara bersama 4 dari 6 anaknya – mengambil alih kendali, menjadi tulang punggung ‘kerajaan bisnis’ rekaman PT. Musica Studio’s. Empat orang putera-puterinya itu adalah Sendjaja Widjaja, Indrawati Widjaja, Tinawati Widjaja dan Effendy Widjaja. Di bawah kuartet pekerja rekaman bertangan dingin ini, PT Musica Studio’s berkembang bagai kerajaan musik raksasa di Indonesia, yang berhasil mengantar orang-orang musik muda menjadi artis tenar di bumi Indonesia. Sebelum itu, PT Musica Studio’s juga didukung oleh keluarga Widjaja lainnya, yaitu Seniwati Widjaja dan Sundari Widjaja.

Sendjaja Widjaja kemudian didapuk menjadi pengganti asang ayah sejak tahun 1979.Kini, tampuk Musica Studios dikendalikan oleh Indrawati Widjaja yang memulai karirnya di dalam perusahaan keluarga ini sebagai manajer marketing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s