Lagu Ini Milik Siapa ?

Posted: September 23, 2014 in Opini

Beberapa waktu lalu saya menyambangi sebuah gerai musik di Plasa Senayan Jakarta.Perhatian saya tertumbuk pada sebuah album bertajuk Symphonic Tales Of Indonesia dari pianis jazz Tjut Nja Deviana yang isinya menginterpretasi ulang lagu-lagu tradisional Indonesia.Sebagian besar lagu yang ditampilkan dalam album tersebut memang tidak menyertakan kredit penciptaan lagu.Karena sebagian besar lagu tradisonal memang tak diketahui siapa pencipta lagunya .Penggagas album ini hanya mencantumkan kode Copyright Control untuk pengganti nama pencipta lagu yang tak diketahui termasuk lagu berbahasa Makassar Anging Mammiri.

MK

Padahal lagu yang sejak dahulu kerap dianggap mewakili kultur Sulawesi Selatan itu sebetulnya pencipta lagunya bukan tidak diketahui.Pencipta lagu Anging Mammiri adalah Borra Daeng Ngirate.Jadi sangat tidak beretika jika karya yang diketahui penciptanya hanya ditulis NN atau Copyright Control saja.Ini menunjukkan perilaku malas dari penggagas album ini mulai dari pemusik hingga label yang merilisnya,untuk memeriksa atau mencari info tentang lagu-lagu yang akan dibawakan dalam sebuah produksi rekaman.Karena tidak semua lagu-lagu yang lazimnya dianggap lagu tradisional itu tak memiliki kredit penciptaan sama sekali.Misalnya lagu Manuk Dadali karya Sambas,Rek Ayo Rek karya Is Haryanto,Tul Jaenak karya Yok Koeswoyo atau Warung Pojok karya H.Abdul Ajib.Seringkali kita menemukan album rekaman yang merilis lagu-lagu yang saya sebut tadi tanpa menyebutkan nama pencipta lagunya sama sekali.Dengan gampang kolom pencipta lagu hanya ditulis NN saja.

Demikian pula dengan para pengelola TV yang seringkali tak menyertakan penulisan nama pencipta lagu.Mereka hanya menuliskan lagu ini dipopulerkan oleh.Contoh lagu Andeca Andeci dipopulerkan oleh Warkop DKI,padahal jika mereka memang mempunyai itikad baik dan mau bersusah payah untuk mencari sumber tentang siapa pencipta lagu tersebut niscaya pasti akan menemukan bahwa lagu Andeca Andeci adalah lagu karya almarhum Oslan Husein yang terdapat dalam soundtrack film Kasih Tak Sampai (1968).
Penulisan nama pencipta lagu dianggap hal remeh yang tak penting oleh kebanyakan para pelaku di dunia hiburan seperti pemusik,perusahaan rekaman,film. TV hingga Karaoke.Memang tak semuanya berperilaku seperti itu.Sheila Timothy produser film Tabularasa yang banyak menggunakan lagu-lagu Indonesia lama era 50an dan 60an bersikukuh mencari informasi mengenai penyanyi,pencipta lagu dan perusahaan rekaman yang terkait pada lagu Iseng Bersama dan Mak Inang Pulau Kampai untuk kemudian meminta izin penggunaan lagu-lagu tersebut dalam filmnya.Tentunya ini sebuah itikad baik yang patut diteladani.Karena seyogyanyalah lagu bukanlah barang yang jatuh begitu saja dari langit tanpa ada yang menciptakan.
Seperti yang kita ketahui, Revisi Undang Undang No.19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta yang terdiri atas 19 Bab dan 126 pasaal baru saja disahkan sebagai Undang Undang pada 16 September lalu. Semestinya kita tak lagi serampangan dalam menggunakan karya-karya seni terutama lagu dalam pelbagai keperluan dan kepentingan.Perlindungan hak cipta menjadi sebuah kebutuhan yang mesti diwujudkan. Semoga apa yang termaktub dalam Revisi UU No.19 Tahun 2002 yang baru disaahkan tersebut bisa meningkatkan perlindungan terhadap pemilik hak cipta .

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s